Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu

Anakku Tak Butuh Ayah Sepertimu

Alana nyaris tewas setelah diserang tiga pemuda di Gunung Lawu hingga terperosok ke jurang. Beruntung, ia diselamatkan oleh Arga, mantan anggota Kopassus yang kini menjadi buronan dan bersembunyi di hutan. Di tengah pemulihan luka fisik dan traumanya, Alana terjebak dalam dilema antara keinginan balas dendam atau bangkit kembali. Hubungannya dengan Arga yang keras namun protektif pun kian intens, memicu emosi baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hutan Gunung Lawu pagi itu sunyi. Kabut masih menebal, menutupi pepohonan tinggi dan jurang-jurang curam. Hanya terdengar aliran sungai yang bergemuruh, dan sesekali suara ranting patah di bawah kaki hewan liar. Alana berdiri di atas batu, matanya terpaku pada jalur di bawah. Suara napasnya terdengar jelas di telinga sendiri, namun hatinya tetap fokus.

"Ini waktunya," bisik Arga, berdiri di belakangnya. Tubuhnya tegap, seperti bayangan hitam yang mengintai dari kejauhan. "Hari ini, kau akan melihat reaksi mereka. Kau akan tahu apakah latihanmu berhasil."

Alana menelan ludah. Jantungnya berdentum cepat. Hari ini adalah hari pertama ia akan benar-benar menguji jebakan dan strategi balas dendamnya secara nyata. Ia tahu, kegagalan berarti risiko tinggi-bahkan mungkin nyawanya sendiri.

Dari kejauhan, terdengar suara langkah kaki yang berat. Raka, Daffa, dan Iqbal muncul di jalur. Mereka bergerak santai, tapi tatapan mata mereka mulai waspada. Raka berjalan di depan, memimpin jalannya dengan percaya diri yang perlahan memudar saat ia melihat beberapa ranting patah di jalur mereka.

"Rasanya aneh," gumam Daffa, menatap ke tanah. "Ada sesuatu yang... berbeda."

Iqbal mengerutkan dahi, memandang sekeliling. "Mungkin hanya ilusi, atau... hutan ini berubah," katanya, mencoba menenangkan diri.

Alana menahan napas, matanya tetap fokus pada mereka. Ia menarik napas dalam, merasakan adrenalin mengalir deras. Setiap langkah ketiga lelaki itu dianalisis dengan seksama, setiap kebiasaan mereka dicatat. Alana tahu, ini bukan sekadar balas dendam fisik-ini adalah perang psikologis.

Ia menarik tali dan melepaskan jebakan pertama: ranting patah dan batu berguling ke jalur mereka. Suara itu membuat ketiganya berhenti dan menoleh.

"Ada apa dengan jalur ini?" Raka menggeram, menatap ke bawah.

Daffa terlihat gelisah. "Kau juga merasakannya, kan? Seperti ada yang mengamati kita."

Iqbal menatap sekeliling, menekan ranselnya lebih erat. "Mungkin... mungkin ada binatang liar," katanya, mencoba meyakinkan diri sendiri.

Alana tersenyum tipis di balik pepohonan, adrenalin semakin mengalir deras. Langkah pertamanya berhasil-tidak untuk melukai, tapi cukup untuk menanamkan rasa takut dan kebingungan pada mereka.

Arga menepuk bahunya, suaranya lembut tapi tegas, "Bagus. Mereka mulai merasakan ketakutan. Itu artinya latihanmu berhasil. Tapi ingat, ini baru permulaan. Kau harus tetap tenang dan fokus."

Hari berikutnya, Alana mulai menempatkan jebakan yang lebih kompleks. Kali ini, ia menggunakan ranting yang diikat dengan tali untuk menciptakan "perangkap bunyi" yang akan memicu suara keras ketika diinjak. Ia juga menaburkan dedaunan dan batu di jalur tertentu untuk memancing kesalahan langkah mereka.

Ketika Raka, Daffa, dan Iqbal melewati jalur itu, suara-suara keras dan pergerakan aneh membuat mereka panik. Raka menggeram, menatap sekeliling dengan tatapan tajam, mencoba menemukan sumber gangguan. Daffa menahan napas, ketakutan jelas terlihat di wajahnya, sementara Iqbal mulai kehilangan kesabaran, menendang batu dan ranting dengan frustrasi.

Alana mengamati semuanya dari kejauhan. Kepuasan dan rasa lega bercampur menjadi satu-untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki kendali.

Namun, di balik rasa kemenangan itu, muncul rasa takut yang lebih besar. Malam harinya, ketika duduk di dekat api unggun bersama Arga, tubuhnya masih gemetar. "Aku... aku takut kalau mereka menyadari aku ada di sini," gumamnya, suaranya pelan.

Arga menatapnya, sorot matanya tajam tapi lembut. "Itu wajar. Ketakutan itu akan selalu ada. Tapi kau harus belajar menggunakannya. Ketakutan bukan musuhmu-itu alatmu. Kau harus menjadikannya bahan bakar, bukan penghalang."

Alana menunduk, menatap api yang berkobar kecil. "Aku... aku akan belajar," katanya. Ia tahu bahwa setiap latihan, setiap jebakan, dan setiap pengamatan adalah bagian dari prosesnya. Proses yang akan membuatnya menjadi lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih berbahaya bagi mereka.

Beberapa hari kemudian, Arga membawa Alana ke lokasi yang lebih ekstrem: tebing curam dengan jurang di sisi kiri dan kanan. "Ini latihan terakhir sebelum kau benar-benar mengeksekusi rencana," katanya. "Kau harus menguasai keseimbangan, ketenangan, dan kemampuan membaca situasi. Ini akan menjadi ujian sebenarnya."

Alana menatap tebing itu, napasnya tertahan. Ia tahu, jika gagal, ia bisa terjatuh. Tapi rasa takut itu kini telah berubah menjadi fokus. Ia menarik napas panjang, mengangkat kaki, dan mulai meniti tebing dengan hati-hati. Arga mengikuti di belakangnya, selalu siap menahan jika terjadi sesuatu.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, Alana berhasil mencapai puncak. Ia menoleh ke lembah, melihat jalur yang akan dilalui Raka, Daffa, dan Iqbal. Semua tampak jelas dari sini-jalur, posisi, bahkan kemungkinan reaksi mereka terhadap jebakan yang akan dipasang.

Ketika malam tiba, Alana menyiapkan jebakan terakhir: kombinasi tali, batu, dan ranting yang dapat menimbulkan suara keras sekaligus mempersulit jalur mereka. Ia menandai setiap posisi dengan hati-hati, memastikan setiap langkah yang akan mereka ambil telah diperhitungkan.

Raka, Daffa, dan Iqbal muncul di jalur, sama sekali tidak menyadari bahaya yang menunggu. Alana menahan napas, matanya mengikuti setiap gerakan mereka. Raka melangkah pertama, Daffa mengikuti, dan Iqbal terakhir.

Ketika mereka mencapai titik pertama jebakan, suara keras meledak, ranting patah, dan batu berguling di jalur mereka. Ketiganya terhenti, menatap sekeliling dengan gelisah.

"Ini... apa?" Raka berteriak, suaranya pecah di udara malam.

Daffa menatap ke bawah, gemetar. "Kau juga merasakannya, kan? Seperti ada yang mengawasi kita."

Iqbal menelan ludah, merasa panik. "Mungkin... mungkin kita harus kembali," katanya, ketakutan jelas di wajahnya.

Alana mengintip dari balik pepohonan, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia berhasil menanamkan rasa takut yang nyata. Arga menepuk bahunya, suaranya rendah tapi tegas, "Bagus. Kau mulai menguasai psikologi musuh. Tapi ingat, ini baru tahap awal. Jangan puas dulu."

Malam itu, di persembunyian, Arga menatap Alana dengan serius. "Kau harus tahu... sekali kau memulai ini, tidak ada jalan kembali. Mereka bisa menjadi lebih berbahaya, dan hutan ini bisa menjadi musuhmu sendiri. Kau harus siap menghadapi semuanya-bukan hanya musuhmu, tapi juga konsekuensinya."

Alana menatap api unggun, bayangan wajah Raka, Daffa, dan Iqbal muncul dalam pikirannya. "Aku sudah siap. Tidak ada yang akan menghentikanku lagi," gumamnya, tekad menguat dalam setiap kata.

Arga menghela napas panjang, tidak bisa menahan kekhawatirannya, tapi ia tahu gadis ini tak bisa dihentikan. Ia hanya bisa membimbing, menyiapkan setiap langkah, dan berharap Alana siap menghadapi badai yang akan datang.

Hutan Gunung Lawu pagi itu sunyi, namun ada ketegangan yang terasa hingga di udara. Alana berdiri di puncak tebing, menatap jalur di bawah dengan mata tajam. Beberapa hari terakhir, Raka, Daffa, dan Iqbal mulai menunjukkan perubahan—tidak lagi santai seperti sebelumnya, kini mereka bergerak dengan waspada, mencurigai bahwa ada sesuatu yang mengawasi mereka.

Arga berdiri di belakangnya, tubuh tegapnya menatap jauh ke lembah. “Hari ini mereka akan mulai mencari dengan lebih agresif. Kau harus siap untuk semua kemungkinan,” katanya.

Alana menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang, tapi kali ini bukan hanya adrenalin—ada ketakutan yang nyata. Ia tahu, sekali mereka menemukan jejaknya, hutan yang selama ini menjadi sekutu bisa berubah menjadi musuh.

Dari kejauhan, terdengar suara ranting patah. Alana menegang, matanya menelusuri setiap gerakan di jalur. Raka, yang berjalan di depan, berhenti dan menatap sekeliling dengan mata tajam. “Ada yang tidak beres,” gumamnya.

Daffa dan Iqbal menoleh, wajah mereka tegang. “Kau juga merasakannya, kan?” tanya Daffa.

Iqbal mengangguk pelan. “Kita harus hati-hati. Mereka mungkin… sudah mengetahui sesuatu.”

Alana menahan napas, matanya tetap fokus. Ini adalah momen pertama di mana musuhnya mulai aktif mencari. Ia tahu bahwa jebakan sederhana tidak akan cukup—ia harus mengandalkan semua kemampuan yang telah Arga ajarkan: pengamatan, strategi, dan ketenangan.

Arga menepuk bahunya, berbisik, “Kau harus bergerak. Jangan biarkan mereka menemukanmu dulu. Ingat semua latihan—gerak diam-diam, membaca tanda, mengatur napas, mengantisipasi gerakan mereka.”

Alana mengangguk, merasakan ketegangan yang membakar dalam dadanya. Ia mulai menuruni tebing dengan hati-hati, setiap langkah diperhitungkan, setiap gerakan dibuat senyap mungkin. Ia tahu, musuh semakin waspada, dan hutan ini akan menguji setiap kemampuan yang telah ia pelajari.

Beberapa jam kemudian, Alana menemukan jalur yang aman untuk memantau ketiganya dari jarak dekat. Ia menunduk di balik semak, menatap Raka, Daffa, dan Iqbal yang berjalan berbaris, terlihat gelisah dan waspada.

Raka menghentikan langkah, menatap ke belakang. “Aku yakin ada sesuatu. Mereka mungkin masih di hutan ini, mengawasi kita.”

Daffa menatap ke tanah, wajahnya pucat. “Bagaimana kita bisa menemukan mereka?”

Iqbal menggeram, ketakutan jelas terlihat di wajahnya. “Kita harus berhati-hati. Jangan sampai mereka menjebak kita lagi.”

Alana menelan ludah, matanya menyipit. Mereka mulai curiga, tapi belum tahu siapa yang mengawasi. Ini adalah kesempatan untuk menguji jebakan berikutnya—lebih kompleks, lebih efektif, tapi juga lebih berisiko.

Malam harinya, Arga membawa Alana ke sebuah lembah tersembunyi. “Ini jalur yang akan mereka ambil besok. Kau harus menempatkan jebakan terakhir—kombinasi fisik dan psikologis. Ingat, ini bukan untuk membunuh. Tujuanmu adalah menanamkan ketakutan dan membuat mereka lengah.”

Alana menatap lembah itu, napasnya tertahan. Ia tahu, jika gagal, risiko tinggi menunggu. Namun rasa takut itu kini telah berubah menjadi fokus. Ia mulai menempatkan tali, batu, dan ranting dengan hati-hati, menciptakan jebakan yang memanfaatkan bentuk hutan, bayangan, dan suara alami untuk menciptakan efek dramatis.

Arga menatapnya, sorot matanya penuh kewaspadaan. “Setiap langkah harus dihitung. Jika mereka menemukanmu, kau harus siap untuk melarikan diri atau bertahan hidup. Ini bukan sekadar latihan—ini ujian sebenarnya.”

Alana mengangguk, menelan napas panjang. Ia tahu, malam ini akan menentukan apakah latihan dan strategi selama berminggu-minggu berhasil atau gagal.

Keesokan harinya, kabut tipis menyelimuti lembah. Raka, Daffa, dan Iqbal muncul di jalur, wajah mereka tegang. Setiap langkah mereka terlihat hati-hati, tapi mereka tetap melangkah maju.

Alana menarik napas dalam, menahan adrenalin yang naik. Ketika mereka mencapai titik pertama jebakan, suara keras terdengar—ranting patah, batu berguling, dedaunan terseret. Ketiganya terhenti, menatap sekeliling dengan panik.

“Ini… apa?” Raka berteriak, suaranya pecah di udara pagi.

Daffa menelan ludah, menatap ke tanah. “Aku tidak tahu… tapi rasanya seperti ada yang mengawasi kita,” katanya, gemetar.

Iqbal menendang batu, frustrasi. “Kita harus menemukan mereka sekarang! Tidak bisa membiarkan ini terus terjadi.”

Alana menahan napas, matanya tetap mengintip dari balik semak. Arga menepuk bahunya, berbisik, “Bagus. Kau mulai menguasai psikologi musuh. Mereka mulai panik. Tapi jangan puas dulu. Perhatian mereka akan meningkat, dan itu artinya risiko juga meningkat.”

Sore harinya, ketiga lelaki itu mulai mengubah strategi mereka. Mereka mulai menebar pengawas, membagi jalur, dan bergerak lebih berhati-hati. Alana menyadari bahwa ini adalah eskalasi—musuhnya mulai bereaksi, tidak lagi lengah seperti sebelumnya.

Arga menatapnya serius. “Sekarang mereka lebih berbahaya. Kau harus lebih pintar, lebih cepat, dan lebih tenang. Setiap kesalahan bisa fatal.”

Alana menunduk, menatap jalur di bawah. Rasa takut mulai muncul kembali, tapi kali ini berbeda. Ia belajar mengendalikannya, mengubah ketakutan menjadi fokus dan perhitungan. Ia tahu bahwa balas dendam bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi juga kecerdasan dan kesabaran.

Malam itu, di persembunyian, Alana duduk dekat api unggun, tubuhnya masih gemetar. “Aku takut kalau mereka menemukan jejakku… atau kalau aku melakukan kesalahan,” gumamnya pelan.

Arga duduk di sampingnya, tangannya menepuk bahunya lembut. “Ketakutan itu wajar. Tapi kau harus menggunakannya. Ketakutan bukan musuhmu—itu alatmu. Kau harus menjadikannya bahan bakar, bukan penghalang.”

Alana menatap api yang berkobar kecil. Ia tahu, setiap latihan, setiap jebakan, dan setiap pengamatan adalah bagian dari prosesnya. Proses yang akan membuatnya menjadi lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih berbahaya bagi mereka.

Beberapa hari kemudian, konflik semakin intens. Ketiga lelaki itu mulai mencari dengan cara lebih agresif, mengandalkan pengalaman dan insting mereka. Alana menyiapkan jebakan terakhir: kombinasi tali, batu, dan ranting yang menimbulkan suara keras sekaligus memperlambat jalur mereka.

Ketika Raka, Daffa, dan Iqbal melewati jalur itu, suara keras meledak, ranting patah, dan batu berguling. Ketiganya berhenti, menatap sekeliling dengan panik.

“Ini… apa lagi?” Raka berteriak, frustasi jelas terdengar.

Daffa gemetar, menatap tanah. “Aku tidak tahu… tapi kita harus berhati-hati. Sesuatu sedang mengintai kita.”

Iqbal menunduk, wajahnya pucat. “Kita tidak bisa terus seperti ini. Kita harus menemukan siapa yang melakukan ini,” katanya, ketakutan tapi bertekad.

Alana mengintip dari balik pepohonan, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia berhasil menanamkan ketakutan nyata. Arga menepuk bahunya, suaranya rendah tapi tegas, “Bagus. Tapi ini baru awal. Mereka akan menjadi lebih waspada, dan itu artinya risiko meningkat.”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ADA DARAH DI DALAM AIR
8.8
Seorang pemuda bertekad menuntut balas atas kematian tragis ibunya yang dibunuh secara keji oleh ayahnya sendiri. Namun, targetnya bukanlah orang biasa, melainkan pemimpin MBR, organisasi mafia paling kuat dan ditakuti di seluruh Asia. Di tengah bayang-bayang kekuasaan besar sang ayah, mampukah ia menuntaskan dendam membara tersebut? Ataukah perlawanan nekat ini justru akan berbalik menjadi bumerang mematikan yang menghancurkan hidupnya selamanya?
Sampul Novel Collateral Fate
9.5
Letnan Arya Pradipta dari pasukan khusus mengemban misi berisiko tinggi demi menyelamatkan Alana Weston, relawan yang diculik teroris internasional. Namun, operasi rahasia ini berubah menjadi perjuangan hidup mati saat mereka terjebak di zona musuh yang berbahaya. Arya segera menyadari bahwa penculikan Alana bukan sekadar aksi kriminal biasa, melainkan bagian dari konspirasi politik besar yang mengancam keselamatan mereka di tengah pelarian.
Sampul Novel Dewa Perang Terbaik
8.9
Daniel adalah sang Dewa Perang yang disegani. Dahulu, saat masa remaja yang sulit dan penuh kelaparan, seorang gadis kecil memberikan sekeping biskuit yang sangat berarti baginya. Kini, demi membalas budi atas kebaikan tersebut, Daniel memutuskan kembali ke kota asalnya. Ia bertekad melindungi sosok yang pernah menolongnya itu, yang sekarang telah tumbuh dewasa menjadi seorang wanita muda dengan paras yang sangat cantik jelita.
Sampul Novel Dia Bukan Milikku
9.3
Letnan Imam mengutamakan tugas negara, namun pengkhianatan Serda Resti menghancurkan janji suci mereka. Meski Resti telah menjadi milik orang lain, bayangannya tetap ada. Pasca kecelakaan, Imam menemukan cinta baru pada Dokter Utami. Namun, penugasan ke Lampung mempertemukannya dengan Lita, pelajar yang mirip Resti. Saat kesetiaannya diuji, Utami memilih berpisah sementara Lita sudah memiliki kekasih. Siapakah yang akhirnya akan mengisi kekosongan hati sang Letnan?
Sampul Novel En-PD154
9.0
Setelah memenangkan sepuluh laga beruntun di arena, aku justru dikhianati Roderick. Tunanganku itu malah bermesraan dengan cinta pertamanya dan membiarkan wanita itu menghinaku sebagai sosok kasar yang tak berkelas. Kelembutannya kemarin sirna, berganti pengakuan cinta untuk wanita lain di hadapanku. Dengan hati yang mendingin, aku menghubungi ayahku sang bos mafia. Aku meminta pernikahan dibatalkan karena aku ingin mencari pria lain yang jauh lebih layak.
Sampul Novel Negeri Ini Dikuasai Mafia
8.6
Basudo tumbuh dalam kemiskinan yang memicu dendam mendalam terhadap orang-orang di sekitarnya. Sejak remaja hingga dewasa, ia menempuh jalur berbahaya demi menghabisi mereka yang membuatnya menderita. Demi kekuasaan dan ambisi ekonomi, sang raja mafia ini tega membinasakan banyak nyawa tanpa ragu. Namun, kekejamannya memicu perlawanan sengit. Defian dan Telma muncul sebagai sosok pemberani yang siap mempertaruhkan nyawa untuk menghentikan Basudo dan kelompoknya.