
Anak Yang Tertukar
Bab 2
Keesokan harinya, Raya berjalan dengan langkah berat menuju ruang belajar yang terletak di lantai dua rumah besar itu. Pintu besar yang terbuat dari kayu jati terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah ruangan yang dipenuhi rak-rak buku tinggi, berisi koleksi-koleksi yang sangat mahal. Ia menelan ludah. Ini dunia yang asing, tapi terasa sangat nyata.
Di meja besar di tengah ruangan, ada sebuah dokumen yang tampaknya penting. Itu adalah catatan harian milik Selina. Raya ragu-ragu sejenak sebelum membuka halaman pertama. Setiap kata yang tertera di sana adalah keluhan Selina tentang hidupnya-tentang ketidakbahagiaannya dengan keluarga, tentang betapa ia merasa terasingkan meskipun hidup di kemewahan. Namun, ada sesuatu yang lebih gelap. Sesuatu yang lebih berbahaya.
"Selina, kau harusnya belajar lebih baik lagi," suara Darius tiba-tiba terdengar di luar ruangan. Raya terkejut dan buru-buru menutup buku harian itu.
Ia memaksa dirinya untuk tampil seperti Selina, meskipun hatinya bertanya-tanya apakah ini adalah takdir atau jebakan.
Raya tahu, dari apa yang ia baca tentang kehidupan Selina, gadis itu adalah sosok yang sangat berbeda dengan dirinya. Sifat keras kepala, manipulatif, dan penuh dendam selalu menjadi ciri khasnya. Dan Raya... Raya yang dulu selalu berusaha menjadi orang baik, merasa tak bisa mengenali dirinya lagi dalam tubuh ini.
Setelah Darius masuk, ia memberikan perintah tegas, "Selina, sudah waktunya untuk menghadapi kenyataan. Ayah sudah memutuskan, kau akan melanjutkan studi di luar negeri. Tapi jika kau terus begitu, ingatlah bahwa kita tidak bisa melindungimu selamanya."
Raya menahan napas. Semua kata-kata itu seperti memberi tekanan lebih besar padanya. Menjalani kehidupan Selina sama sekali bukan perkara mudah.
"Apakah itu keinginan Ayah?" tanya Raya dengan suara tenang, berusaha untuk berbicara seperti Selina yang angkuh dan tak pernah tunduk pada orang tuanya.
Darius hanya mengangguk, namun tatapannya tetap dingin. "Ya, itu keputusanku. Kau akan mengubah hidupmu atau kehilangan semuanya."
Kata-kata itu menggema dalam benaknya. Raya tahu ia tidak bisa memilih jalan mundur. Jika ia memilih untuk bertindak seperti Selina, ia akan semakin tenggelam dalam peran ini. Jika tidak, kemungkinan besar seluruh hidupnya akan terjerumus dalam kegelapan.
Hari-hari berlalu begitu lambat bagi Raya. Setiap langkah yang ia ambil terasa lebih berat dari sebelumnya. Dan hubungan dengan Sierra-gadis yang selama ini menjadi korban dari Selina-semakin rumit. Sierra tidak pernah memandang Raya dengan kebaikan hati. Ada kebencian yang tersembunyi di balik tatapannya yang penuh kesedihan. Dan Raya tahu, ia harus berhati-hati.
Suatu sore, setelah pelajaran selesai, Raya bertemu dengan Sierra di taman belakang rumah. Gadis itu duduk sendiri di bawah pohon besar, matanya kosong, seperti menatap ke masa lalu yang kelam. Raya mendekatinya dengan langkah hati-hati.
"Sierra," suara Raya terdengar serak, mencoba membuka percakapan.
Sierra menoleh, namun ekspresinya tidak berubah. "Kau datang untuk mengingatkan aku betapa buruknya hidupku?" tanyanya dengan nada datar.
Raya terdiam sejenak, merasa bersalah meskipun ia bukan orang yang seharusnya disalahkan. "Aku... aku ingin mencoba untuk memperbaiki semuanya."
Sierra tertawa, namun itu bukan tawa kebahagiaan. Itu adalah tawa pahit yang penuh dengan luka. "Memperbaiki apa, Selina? Kau pikir kau bisa menggantikan masa lalumu begitu saja?"
Raya merasakan setiap kata itu seperti pisau yang menusuk. Ia tahu tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan Sierra, apalagi setelah semuanya yang telah terjadi. Namun, ia juga tahu bahwa jika ia tidak bisa memperbaiki hubungan ini, ia tidak akan pernah keluar dari bayang-bayang Selina.
"Aku bukan Selina," jawab Raya dengan penuh keyakinan. "Aku... aku terperangkap dalam tubuhnya, tapi aku tidak ingin hidup seperti dia."
Sierra terdiam, matanya penuh pertanyaan. "Terperangkap? Jadi kau tahu siapa kau sebenarnya?"
Raya mengangguk perlahan. "Aku bukan orang jahat. Aku... aku ingin memperbaiki semuanya. Aku tidak ingin menyakiti siapa pun lagi."
Sierra akhirnya berdiri, berjalan menjauh tanpa berkata sepatah kata pun. Namun, sebelum ia menghilang di balik gerbang taman, ia berhenti sejenak dan berbalik.
"Selina, jika kau benar-benar ingin berubah, maka buktikan. Jangan hanya mengucapkan kata-kata kosong. Lakukan sesuatu yang nyata."
Raya hanya bisa menatapnya pergi, hatinya bergemuruh dengan perasaan cemas. Ia tahu apa yang Sierra katakan benar-perubahan bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap langkah yang ia ambil akan mengubah jalan hidupnya. Tetapi apakah ia bisa berubah, atau takdirnya akan tetap terperangkap di dunia yang gelap ini?
Anda Mungkin Juga Suka





