
Anak Yang Tertukar
Bab 3
Bab 3: Bayang-Bayang yang Tak Terlihat
Hari-hari berlalu dengan cepat, namun bagi Raya, setiap detiknya terasa seperti sebuah pertarungan batin. Setiap keputusan, setiap kata yang keluar dari mulutnya, terasa seperti ujian. Tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi mereka yang ada di sekitarnya. Dan di setiap sudut rumah besar itu, ada bayang-bayang Selina yang menekan, menuntutnya untuk mengikuti jejaknya yang penuh kebencian dan manipulasi.
Pagi itu, Raya terbangun lebih awal dari biasanya. Ia memandang dirinya di cermin, merenungkan kata-kata Sierra yang masih terngiang di telinganya. "Buktikan kalau kau benar-benar ingin berubah." Tapi bagaimana caranya? Di dunia yang penuh dengan tekanan ini, apakah ia bisa menemukan jalan keluar dari peran yang dipaksakan kepadanya?
Langkah pertama menuju perubahan dimulai dengan menuruti instruksi Darius. Ia harus pergi ke sebuah pertemuan bisnis yang sangat penting. Ini adalah kesempatan Raya untuk memulai perannya sebagai Selina yang lebih baik, atau sebaliknya, semakin terjerumus dalam perangkap yang tak terlihat.
Di ruang rapat besar yang dipenuhi pria-pria berbicara dengan nada serius, Raya duduk diam, mencoba mengikuti alur percakapan yang berlangsung. Wajah-wajah mereka terlihat tajam, penuh perhitungan, seolah-olah siap memangsa. Darius duduk di ujung meja dengan ekspresi dingin, mengarahkan perhatian kepada Raya, berharap ia mengikuti aturan yang ada. Tapi Raya merasa terasingkan. Ia merasa seolah-olah tubuh ini bukan miliknya. Bahkan saat berbicara, suaranya terdengar asing di telinga sendiri.
"Selina, apa pendapatmu tentang proyek ini?" tanya seorang pria paruh baya, memecah keheningan di meja itu.
Raya menatapnya, merasa keringat dingin mengalir di tengkuknya. Semua mata tertuju padanya, menunggu jawaban. Ia tahu jika ia menjawab dengan cara yang salah, hidupnya akan lebih sulit dari sebelumnya. Apa yang akan terjadi jika ia mengungkapkan kebenaran, bahwa dia bukan Selina, melainkan seseorang yang terjebak dalam tubuhnya? Apakah mereka akan mempercayainya?
"Aku setuju dengan proyek ini," jawabnya akhirnya, berusaha berbicara dengan tegas, meskipun hatinya penuh kebingungan. "Namun, kita perlu mempertimbangkan risiko yang ada."
Suasana di ruangan itu berubah sedikit lebih rileks, namun Raya masih merasakan beratnya tekanan. Ia tahu ia hanya sekadar berperan sebagai Selina, menjalani kehidupan yang bukan miliknya, dengan segala tuntutan dan keputusan yang mengikat.
Sore harinya, ketika Raya kembali ke kamar, dia terkejut mendapati sebuah surat tergeletak di atas meja. Surat itu bukan berasal dari keluarganya, tetapi dari seseorang yang belum ia kenal. Dengan hati-hati, ia membuka surat itu, membaca setiap kata yang tertulis di dalamnya.
"Selina, aku tahu siapa dirimu. Kau tidak bisa bersembunyi dari masa lalu. Aku akan menunggu di tempat yang kita kenal baik. Datanglah jika kau ingin mengakhiri semua kebohongan ini."
Raya menggigit bibirnya, terkejut dan takut. Siapa yang menulis surat ini? Apa yang dimaksud dengan kebohongan? Apakah ini ancaman, atau hanya permainan yang dilakukan oleh seseorang yang ingin menggoyahkan posisinya?
Ia tidak tahu harus bagaimana, tetapi rasa ingin tahunya membawanya ke tempat yang disebut dalam surat itu: taman belakang rumah, tempat di mana ia pertama kali bertemu dengan Sierra. Kaki Raya terasa berat, tetapi hatinya lebih berat lagi. Setiap langkah membawanya semakin dekat dengan kebenaran yang belum ia ketahui.
Di taman itu, di bawah pohon besar yang pernah menjadi saksi bisu pertemuannya dengan Sierra, seseorang berdiri menunggu. Seorang pria dengan jas hitam, wajahnya tersembunyi sebagian oleh bayangan pohon.
"Siapa kamu?" Raya bertanya dengan suara bergetar, meskipun ia berusaha untuk tetap tenang.
Pria itu tersenyum tipis, lalu mengangkat wajahnya. "Aku adalah seseorang yang tahu tentang rahasia keluarga ini. Dan aku tahu, kamu bukan Selina."
Raya terkejut, mulutnya tercekat. "Apa maksudmu?"
Pria itu mengangguk, seolah tahu apa yang sedang dirasakan Raya. "Aku tahu kau bukan dia. Tapi kau punya kesempatan untuk memilih. Jika kau ingin hidupmu kembali, ada harga yang harus dibayar. Jika tidak, maka kau akan terus terperangkap dalam permainan yang sudah ditentukan."
Raya tidak bisa berkata apa-apa. Hatinya berdebar kencang. Apakah ini tawaran untuk keluar dari hidup Selina, ataukah hanya sebuah ancaman yang lebih berbahaya lagi?
Pria itu melangkah lebih dekat, menatapnya dalam-dalam. "Ingat, pilihan ada di tanganmu. Tapi jika kau memilih untuk melawan, semua yang kau percayai akan hancur dalam sekejap."
Dengan satu langkah mundur, pria itu menghilang di kegelapan taman, meninggalkan Raya dengan perasaan cemas dan bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa dia? Dan apa yang sebenarnya dimaksud dengan 'pilihan' yang harus ia ambil?
Raya kembali ke kamarnya dengan hati yang berat. Ia tahu bahwa kini tidak ada jalan mundur. Setiap langkah yang diambilnya akan mengubah hidupnya selamanya. Tetapi apakah ia siap untuk menghadapi konsekuensi dari pilihan yang harus ia buat?
Anda Mungkin Juga Suka





