
Anak Untuk Kakak Iparku
Bab 3
Kinan turun dari mobil Yuan, di depan Kinan kini berdiri megahnya rumah modern. Kinan, Yuan dan Nia sudah tiba. Kinan tak banyak bawaan hanya membawa tas seadanya untuk membawa beberapa barangnya saja seperti ucapan Yuan.
"Nah, rumah di sebelah kiri itu punya Nia dan yang kanan itu akan di tinggali Kinan."
"Ooohh okee" Nia menyahut dengan santai.
"Jadi gak serumah? Syukurlah" Kinan lega.
"Oh yaa berhubung ini malam pertama pernikahan Yuan dan Kinan, malam ini Yuan sama Kinan yaa" Tambah Nia.
Kinan menoleh cepat ke arah Yuan, melihat bagaimana ekspresi pria itu, ia tampak tak begitu terkejut dan memilih mengangguk saja.
Nia berjalan menuju rumahnya dan Yuan menuju rumah yang di tunjuk akan menjadi rumah Kinan.
Rumahnya bersampingan dan hanya berbatas dinding beton.
Kinan mau tak mau berjalan mengekori Yuan. Yuan membuka pintu dan keduanya masuk. Yuan menyalakan lampu, pengelihatan Kinan semakin jelas isi rumah itu, belum terlalu lengkap dan ada bagian bagian yang kosong.
"Nanti sisa perabotannya kita beli sama sama. Eeemm mungkin besok kalau kamu setuju Nan"
"Boleh Mas" Yuan menoleh ke arah Kinan yang terus memanggilnya Mas.
"Dari mana kamu belajar panggil aku Mas?"
"Dulu, Mas Bara yang minta. Supaya aku manggil Mas Yuan. Aku pengen panggil abang atau kakak aja. Tapi Mas Bara ngotot biar aku panggil Mas. Jadi yaa keterusan Mas" jelas Kinan.
Yuan menghela napasnya panjang.
"Mas? Beneran janji'kan? Jangan bikin Kinan makin penasaran lhoo Mas" Pinta Kinan pelan pelan.
Yuan mengusap wajahnya lagi, "Nan, aku boleh jujur, suara kamu tuh ..." ucapan Yuan menggantung karena ia melipat bibirnya kedalam.
"Emang kenapa? Nada bicara Kinan memang begini Mas! Terlalu aneh yaa?"
"Bukan" Yuan menggaruk kepalanya.
"Suaramu tuh jadi racun di otakku! Terlalu menggoda Nan" Batin Yuan.
"Eeem kamu, eeeee" Yuan yang jadi bingung.
"Apa sih Mas?"
"Kita ke kamar mau?" Yuan tak ada kata kata lain.
"Ayoo" sahut Kinan bagaikan tantangan bagi Yuan.
Keduanya sudah di dalam kamar, kamar berukuran 6x8 itu sepi tanpa ada aktivitas apapun. Keduanya hanya berbaring di atas tempat tidur yang sama dan tak ada yang berani membuka kata.
Satu jam sudah mereka melakukan ini.
Akhirnya ...
"Kinan, kamu mau tau apa?"
"Semuanyalah Mas."
"Awal mula masalahnya, atau awal aku tau semua ini? Atau langsung aja ke intinya?"
"Isssh banyak banget Mas!" Kinan bangkit dari baringnya dan mengintimidasi Yuan dengan tatapan matanya.
"Yaa mau gimana lagi. Sekarang aku siap ceritakan semuanya Nan, kamu sudah setuju jadi istri aku dan bahkan kita sudah sah. Aku gak akan sembunyikan apapun dari Kinan. Silakan Kinan bertanya apa aja sama aku" Yuan duduk dan bersandar headboard tempat tidur.
Kinan menyipitkan matanya menatap Yuan, "Alasan Mas minta Kinan menikah dengan Mas apa? Kenapa Kinan? Di luar sana banyak cewek lain kalau memang Mas mau poligami? Mbak Nia juga izinkan toh"
Mendapat tatapan menyipit dari Kinan membuat Yuan terkekeh wajah wanita ini cantik saat mengintimidasinya. "Alasannya? Keterikatan janji dan emosi"
"Hah? Jangan gantung gantung gitu nah jelasinnya Mas!" Kinan memukul lengan Yuan.
"Eheh? Apanya yang di gantung?" Kekeh Yuan.
"Penjelasanmu buat aku kurang puas Mas!"
"Ya sabar dulu Nan. Nih aku jelasin. Dulu waktu aku tau semua ini, aku emosi aku marah aku gak bisa kontrol diri hingga mulut ini mengeluarkan kata kata yang gak semestinya aku ucapkan. Aku bilang ..." Yuan tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Yaa Mas? Apa?" Kinan menatap penuh harapan Yuan.
"Aku gak bisa Nan, aku gak bisa, aku bingung mau ceritakan dari mana Nan" Yuan meringkuk di atas tempat tidurnya.
Kinan terkejut melihat apa yang terjadi pada Yuan, Kinan ingin merengkuh pria itu tapi ragu. Ingin memeluknya tapi ragu juga. Akhirnya Kinan nekat dan merengkuk Yuan dalam peluknya.
"Gak apa apa kalau Mas belum siap. Kinan bisa mengerti kondisi Mas" Ujar Kinan dengan suara halusnya bisa menenangkan Yuan.
Perlahan Yuan tenang dan membalas pelukan Kinan, Yuan mengangguk mengartikan dirinya baik baik saja. Kinan rasa semua ini berat di beritahu Yuan seorang diri.
"Kita tidur yuk Mas, udah larut." Kinan mengelus elus lengan Yuan.
Yuan mengangguk pelan, "Ayo"
Kinan berbaring menghadap Yuan dan menjadikan lengan Yuan gulingnya.
Yuan menyungingkan senyuman melihat wajah cantik yang sepertinya sedikit kecewa tapi berusaha tetap sabar menanti.
"Eehh?" Tiba tiba Kinan membuka matanya dan mengangkat kepalanya.
"Kenapa?"
"Kita sah 'kan tidur gini Mas?" Tanya Kinan.
"Sah" Sahut Yuan sambil mengangguk. Ingin Yuan tertawa melihat tingkah menggemaskan Kinan.
Kinan kembali memeluk lengan Yuan, ternyata tak perlu waktu lama untuknya terlelap. Yuan menatapnya lekat lekat. Mengingat ucapan yang tak semestinya ia ucapkan saat emosi mengetahui istri dan adiknya melakukan hal yang membuahkan buah hati cinta.
"Jika nanti aku bersetubuh dengan istrimu dan menghamilinya apa boleh!? Kamu boleh melakukannya maka aku juga boleh'kan" Bentakkan Yuan itu masih sangat segar di ingatan.
"Iya lakukan saja, aku tak peduli! Karena aku sangat mencintai Nia!" Balas sosok yang paling di benci Yuan hingga saat ini.
"Kenapa aku mengatakan itu? Tenang Yuan tenang. Besok kamu harus jujur Yuan! Jujur!" Batin Yuan menguatkan tekadnya.
Kinan mengerjap matanya. Pria yang semalam tidur dengannya sudah tak ada di tempat. Kinan keluar dari kamar sambil mengucek ucek matanya, aroma masakan yang wangi dan menggugah selesai bisa di cium Kinan.
"Mas Yuan?" Kinan melongo melihat suaminya itu sedang memasak. Menggunakan celemek berwarna hijau dan sedang ememegang memegang sutil.
"Mas Yuan bangun dari jam berapa? Kok udah masak? Kenapa gak bangunin Kinan?" Deretan pertanyaan Kinan.
"Gak apa apa. Tadi cuma gak bisa tidur aja. Jadi aku masak aja di dapur. Gak salah 'kan? Mumpung gak bisa tidur kita juga berangkat pagi pagi, jadi harus sarapan dulu Nan" Imbuh Yuan.
"Waaaahhh" Kinan kagum mendengar ucapan Yuan.
"Kinan suka ayam goreng bagian pahanya 'kan? Nah ini" Yuan menyerahkan sepiring penuh dengan paha ayam yang sudah di gorengnya.
"Hhhmm wanginya. Makasih Mas"
"Sama sama. Kita sarapan bareng yaa, abis itu kita siap siap berangkat. Banyak yang harus kita beli. Perabotan dapur masih ada yang kurang. Sofa dan meja di tengah juga masih kurang. Terus nanti kamu pilihkan gorden, keset, eeemmm karpet, ya Nan. Aku kurang paham beli yang begituan, makanya barang barang itu belum di beli Nan" ungkap Yuan saat duduk di depan Kinan.
"Boleh aja Mas"
Keduanya sarapan bersama. Ini sarapan pertama Kinan bersama suaminya. Ia bertanya tanya apa Nia selalu sarapan bersama pagi pagi bersama Yuan? Apa Yuan sendiri yang memasak atau di bantu Nia juga? Atau apa yang mereka lakukan di dapur jika berduaan. Kinan berpikir sembari mengunyah makanan di mulutnya. Tatapannya tertuju hanya ke arah Yuan di depannya. Pria yang masih tak sadar hanya fokus pada makananya. Hingga akhirnya Yuan merasa sedang di perhatikan, barulah ia mengangkat wajahnya dan menatap Kinan balik. Tatap mereka bertemu beberapa detik keduanya saling pandang.
"Apa?" heran Yuan.
"Hehehe gak apa apa, Mas" Kinan malu sendiri.
Selesai sarapan, Kinan bergegas mandi dan bersiap seperti yang di rencanakan Yuan tadi. Selesai dengan dandanan tipisnya, Kinan keluar dari kamar. Seolah paham, Yuan bergantian masuk kamar dan kini saatnya Yuan yang mandi dan bersiap.
Saat Kinan keluar dari rumah. Ia melirik rumah yang ada di samping rumahnya ini, yaitu rumah yang di huni Nia. Rumah itu masih sepi dan tak terlihat aktivitas di dalamnya. Kinan ingin tau apa yang tengah di lakukan Istri pertama suaminya itu, apa ia merindukan suaminya yang kini masih di rumah Kinan atau apa yang tengah di lakukannya tanpa Suaminya.
"Yuk Nan" panggil Yuan yang sedang membukakan pintu mobil.
"Eh iyaa" Kinan terkejut dan segera mendekati Yuan.
Keduanya pun berangkat. Dari sela jendela rumahnya Nia menatap kepergian mobil yang di kendarai suaminya. Nia menghela napasnya panjang lalu menggelengkan kepalanya "Jangan berharap lebih Nia, kamu melakukan kesalahan. Memang patut dan sangat sepatutnya Yuan mendapatkan yang lebih baik dari kamu. Relakan Dia untuk Kinan, Nia" Nia memberikan instruksi pada dirinya sendiri.
Kinan memilih apa yang di tugaskan Yuan. Beberapa kain gorden dan juga karpet sudah di pilih Kinan.
Tiba tiba datang seorang pelayan toko itu yang menawarkan karpet lainnya.
"Ini karpetnya halus banget lhoo Mbak, biasanya di taruh khusus di kamar si kecil" ujar pelayan itu.
Kinan langsung gugup saat pelayan itu membicarakan bayi atau si kecil.
"Aha, gak dulu. Belum punya si kecil" cicit Kinan.
Kinan segera mencari Yuan, ternyata Yuan berdiri tak jauh dari Kinan dan ia sepertinya mendengar apa yang di katakan pelayan itu tadi.
"Sudah dapat?" Tanya Yuan.
"Udah Mas."
"Ya udah, ayo kita cari bajumu"
Kinan mengangguk mengiyakan. Iya mengikuti langkah Yuan, mereka membayar di kasir dan barang yang di pesan mereka akan di kirim secepatnya.
Yuan membawa Kinan menuju mall. Karena Yuan tak tau baju seperti apa yang ingin di beli Kinan, lebih baik Kinan di bawanya ke Mall saja agar langsung memilih sendiri baju yang di inginkannya.
"Yuk Nan"
Kinan memilih beberapa baju yang menurutnya akan cocok di kenakannya di rumah rumah. Kinan tak memperhatikan Yuan yang sedang menahan rasa sakit di kepalanya. Saat Kinan agak ragu dengan pilihannya karena takut mahal, saat itulah Kinan menoleh ke arah Yuan.
"Eehh?" Kinan menemukan Yuan sedang memijat kepalanya sendiri
"Mas?" Kinan mendekati Yuan dan mengusap lengan pria itu
"Mas sakitkah? Dimana sakitnya? Mas?" Kinan tentu panik melihat kondisi Yuan seperti ini.
"Kepalaku Nan" suara Yuan terdengar berbisik karena menahan rasa sakit.
"Aku lupa minum obatku" ucap Yuan lagi.
"Obat? Dimana obatnya? Kinan ambilkan kalau ada Mas bawa"
"Di mobil Nan"
Kinan berlari ke tempat parkiran mereka tadi, Kinan mencari di mana letak obat itu. Ia menemukannya tapi jujur Kinan tak tau apa benar ini obatnya. Akhirnya Kinan membawa semua kotak obat itu kembali ke Yuan. Biarlah pria itu menunjukan mana obatnya.
Yuan mengambil salah satu obat yang ada di dalam kotak itu, di minumnya satu pil. Kinan memberikan Yuan air yang juga di bawanya dari mobil tadi.
"Mendingan Mas?" Kinan setia di samping Yuan bahkan beberapa kali tangan Kinan menggenggam tangan Yuan.
"Udah mendingan Nan, makasih"
"Mas itu obat apa tadi?"
"Obat penenang" Sahut Yuan membuat Kinan melongo.
"Obat penenang?"
"Hhhmmm" Yuan mengangguk lemas.
"Kalau gitu kita pulang aja Mas, kasian kondisi Mas begini." Gelisah Kinan.
"Gak apa apa Nan, udah minum obat nih gak akan sakit lagi kepalaku, kamu pilih aja baju yang kamu mau. Ambil aja. Nanti aku bayar semuanya."
"Tapi ...
"Kamu itu istriku, harus aku nafkahi juga." Yuan mengacak puncak rambut Kinan.
Kinan meyakinkan lagi jika Yuan benar benar sudah baikan, barulah Kinan lanjut mencari baju yang di perlukannya.
Tak ingin berlama lama, Kinan ambil saja mana ukuran yang cocok dengannya. Tak peduli itu kaos atau dress atau rok mini, yang penting muat di tubuh Kinan.
"Yuk Mas, bayar" Kinan menggandeng tangan Yuan.
"Okelah, yakin? Udah semua?"
"Yakin banget" sahut Kinan.
***
Kinan dan Yuan kini sudah tiba di kediaman mereka. Rupanya hampir bersamaan dengan perabotan yang di beli mereka tadi.
Setelah menandatangani kedatangan barang Kinan berulang kali meminta Yuan untuk beristirahat.
Pria itu tak peduli dan seolah dirinya sangat kuat.
"Gak apa apa Nan, kamu gantilah bajumu terus masakan sesuatu di dapur untuk makan siang kita. Aku mau bereskan perabotan ini duluan" ujar Yuan.
"Issh Mas! Gak usah harusnya Mas yang istirahat. Tadi Mas 'kan pusing pusing" Kinan menarik tangan Yuan. Di bawanya suaminya itu ke dalam kamar mereka.
Yuan menatap punggung Kinan yang ada di depannya.
"Mas istirahat, Kinan masak! Jangan protes pokoknya!" Kinan memasang wajah galaknya. Sudah terpalinga galak Kinan rasa.
Tapi Yuan malah tersenyum melihat wajahnya.
"Iya iya"
Kinan meninggalkan kamar menuju dapur. Ia memasak sayur dan juga bubur ayam. Ia tiba tiba menginginkannya karena saat pulang tadi Kinan melihat penjual bubur ayam di pinggir jalan.
Kinan menyajikan bubur ayam buatannya di atas meja makan, karena selera Kinan pedas pedas ia menambahkan sambel ke dalam mangkuknya dan semangkuk lagi rencananya untuk Yuan.
Ternyata aroma masakan Kinan sampai ke kamar, Yuan pun keluar dan menghampiri istrinya mudanya.
"Udah masak?" Tanya Yuan.
"Eeeh Udah Mas, Kinan kira Mas makan di kamar makanya Kinan mau bawa ke kamar aja mangkuk punya Mas"
"Kita makan di sini aja Nan"
Sembari makan, Kinan bertanya tanya kondisi Yuan.
Yuan pun tak ragu menceritakannya pada Kinan.
"Biasanya jarang kambuh. Kambuh bisa sih. Tapi kalau lagi banyak pikiran dan kelelahan juga. Kadang sampai pingsan, tiba tiba kepalaku sakit dan berdenyut denyut. Kalau udah gitu yaa pake obat penenang aja caranya."
"Awal mulanya gimana sih Mas bisa sakit begitu?"
"Setahun yang lalu Nan."
"Ooohh apa karena pertanyaan Kinan yaa?"
"Enggak kok. Emang kondisiku yang gak stabil. Maklumlah baru balik dari luar negeri lagi penyesuaian terus kurang istirahat. Kalau pertanyaan Kinan bukanlah alasan kambuhnya"
"Ooohh kalau gitu, malam ini Mas tidur sama Mbak Nia aja. Mbak Nia pasti udah paham dan tau banget gimana cara mengatasi Mas yang kambuh" saran Kinan.
"Tapi rencananya, malam ini aku ceritakan semuanya Nan. Aku sudah bulatkan tekad semalam. Aku janji"
"Mas janji?"
"Janji!"
###
Anda Mungkin Juga Suka





