
Anak Haram Milik Suamiku
Bab 2
"Kenapa kamu tega melakukan ini?"
Amara duduk di meja makan, memandang piring di depannya yang kosong. Meskipun perutnya keroncongan, nafsu makannya benar-benar hilang sejak pengakuan mengejutkan dari Bima semalam. Dia masih mencoba mencerna semua, seolah-olah sedang bermimpi buruk yang tak kunjung usai.
Di seberang meja, Bima duduk dengan canggung. Wajahnya tampak kusut, seperti tidak tidur semalaman. Dia berkali-kali membuka mulut untuk bicara, tetapi tak ada kata yang keluar. Suasana yang biasa penuh canda tawa kini berubah dingin dan kaku.
"Amara ..." Bima akhirnya membuka suara, meskipun terdengar ragu. "Aku tahu kamu masih marah, tapi kita harus bicara."
Amara mendongak perlahan, menatap Bima dengan mata yang berkaca-kaca. "Apa lagi yang perlu dibicarakan? Kamu sudah bilang semuanya, bukan?" Nadanya datar, tetapi penuh luka.
Bima menghela napas panjang. "Aku tahu apa yang aku lakukan salah. Aku seharusnya tidak pernah menyembunyikan hal sebesar ini darimu. Tapi, aku benar-benar takut, Amara. Aku takut kehilanganmu."
Amara menatap Bima tajam. "Takut kehilangan aku? Setelah semua ini, kamu baru merasa takut? Kamu tidak memikirkan apa yang akan aku rasakan ketika mengetahui kebenaran? Apa kamu pernah memikirkan bagaimana rasanya mencintai anak yang seharusnya aku benci, bahkan anak itu bukan siapa-siapa bagiku!"
"Raka bukan 'bukan siapa-siapa'," bantah Bima, suaranya terdengar sedikit tegang. "Dia adalah anakku, Amara. Dan kamu-kamu sudah menjadi ibu baginya. Dia mencintaimu seperti ibunya!"
"Anakmu," ulang Amara dengan pahit. "Anakmu dengan wanita lain. Selama ini aku membesarkan anak orang lain tanpa tahu siapa dia sebenarnya. Bagaimana kamu bisa membiarkan aku hidup dalam kebohongan ini, Bima?"
Bima terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia tahu semua ini salah, tetapi tak ada jawaban yang bisa memperbaiki situasi. "Aku hanya berpikir, kalau aku tidak bilang semua akan baik-baik saja. Kita bisa membesarkan Raka bersama-sama, seperti yang sudah kita lakukan."
"Dan hidup dalam kebohongan?" Amara memotong. "Apa kamu benar-benar percaya itu akan berjalan selamanya? Cepat atau lambat, semuanya akan terungkap. Kamu tidak bisa menyembunyikan kebenaran selamanya, Mas."
Bima menunduk, merasa malu. "Aku tahu. Tapi aku hanya tidak ingin menghancurkan keluarga kita."
Amara tersenyum sinis. "Keluarga? Kamu pikir ini keluarga? Bagaimana mungkin kita bisa menyebut ini keluarga setelah semua kebohongan ini? Aku bahkan tidak tahu harus memulai dari mana sekarang."
Bima mencoba mengulurkan tangannya ke arah Amara, tetapi dia menolak sentuhannya. "Amara, tolong. Aku tahu ini sulit. Aku tahu aku salah. Tapi kita harus memikirkan Raka. Dia tidak tahu apa-apa. Dia tidak bersalah."
Mendengar nama Raka disebut, hati Amara semakin hancur. Betapa dia mencintai anak itu, betapa besar kasih sayangnya selama ini. Namun, kini semua terasa asing. Amara merasa seolah-olah dia telah dirampas sesuatu yang sangat berharga.
"Aku butuh waktu," ujar Amara pelan, nadanya melemah. "Aku butuh waktu untuk berpikir. Untuk mencerna semuanya."
"Aku mengerti," Bima berujar penuh penyesalan. "Aku akan memberimu ruang, sebanyak yang kamu butuhkan. Tapi aku mohon, jangan biarkan ini menghancurkan kita."
Amara menggeleng pelan. "Kamu tidak mengerti, Mas. Ini bukan tentang kita lagi. Ini tentang kepercayaan yang sudah hilang. Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu lagi setelah semua ini."
Bima menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. "Aku akan melakukan apa saja, Amara. Apa saja untuk mendapatkan kepercayaanmu kembali."
Amara berdiri dari meja, merasa tidak tahan berada di ruangan yang sama dengan Bima untuk saat ini. "Aku akan keluar sebentar," katanya, menghindari tatapan Bima. "Aku butuh udara segar."
Bima hanya bisa mengangguk, membiarkan Amara pergi. Ia tahu, memaksanya tetap di sini hanya akan memperburuk keadaan.
---
Amara berjalan tanpa tujuan di sekitar taman kecil dekat rumahnya. Langit cerah di atas kepalanya, tetapi hatinya terasa gelap dan berat. Dia mencintai Bima, tidak diragukan lagi. Tetapi bagaimana mungkin dia bisa memaafkan kebohongan sebesar ini?
Setiap langkah yang diambilnya semakin menambah kekacauan dalam pikirannya. Pikirannya kembali melayang pada Raka, anak kecil yang selalu ia peluk setiap malam sebelum tidur, yang selalu ia hibur ketika menangis, dan yang selalu ia ajari dengan sabar setiap kali ada PR sekolah. Bagaimana mungkin dia bisa membiarkan semua itu lenyap begitu saja?
Amara duduk di bangku taman, membiarkan angin sore menerpa wajah. Sejenak ia menutup mata, mencoba meredakan kepedihan yang menggerogoti hatinya. Namun, suara langkah kaki mendekat membuatnya membuka mata.
"Amara?" suara yang tak asing lagi terdengar di belakang. Amara menoleh dan melihat sahabatnya, Nisa, berjalan mendekat dengan wajah khawatir.
"Nisa ..." bisik Amara, suaranya pelan.
Nisa langsung duduk di samping Amara, menatap wajah sahabatnya yang terlihat lelah. "Kamu kenapa? Kamu kelihatan kacau."
Amara hanya bisa menggeleng. Air mata yang tadi ia tahan kini mulai mengalir pelan. "Aku tidak tahu harus mulai dari mana, Nis. Semua terasa hancur bagiku."
Nisa merangkul bahu Amara, memberikan dukungan. "Apa yang terjadi? Kamu bisa cerita, aku di sini untuk kamu."
Dengan suara yang bergetar, Amara mulai menceritakan segalanya. Tentang pengakuan Bima, tentang asal usul Raka, dan tentang perasaan terkhianati yang menggerogotinya. Nisa mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menghela napas berat saat mendengar detail yang semakin menyakitkan.
"Ya Tuhan, Amara. Aku nggak nyangka Bima bisa melakukan itu padamu," ujar Nisa setelah mendengar semuanya. "Kamu pasti sangat terluka."
"Aku bahkan nggak bisa menjelaskan perasaanku," balas Amara, suaranya lemah. "Aku marah, kecewa, tapi di saat yang sama aku nggak bisa berhenti mencintai Raka. Dia seperti anakku sendiri, Nis."
Nisa mengangguk, memahami betapa sulitnya situasi ini. "Tentu saja kamu mencintainya. Kamu yang membesarkan dia. Kamu yang ada di sana setiap hari, bukan Maria."
"Itulah masalahnya." Amara menyeka air matanya dengan kasar. "Bagaimana kalau suatu hari Maria datang dan mengklaim Raka? Bagaimana kalau dia ingin mengambil anak itu dariku?"
Nisa terdiam sejenak, berpikir sebelum menjawab. "Kalau itu terjadi, kamu punya hak untuk melawan. Kamu sudah menjadi ibu bagi Raka selama ini. Maria yang meninggalkan dia, bukan kamu. Kamu nggak boleh menyerah begitu saja, Amara."
"Aku nggak tahu apakah aku kuat menghadapi semua ini," bisik Amara, air matanya kembali jatuh.
Nisa merangkul Amara lebih erat. "Kamu kuat, Amara. Kamu wanita yang luar biasa. Dan aku yakin, apapun yang terjadi, kamu pasti bisa melalui ini."
Amara menunduk, mencoba mencari kekuatan dalam diri. Namun, perasaan patah hatinya masih begitu besar. Bagaimana dia bisa melanjutkan hidupnya setelah semua yang terjadi?
---
Ketika Amara kembali ke rumah, suasana di dalam rumah terasa hening. Raka sudah tidur di kamarnya, dan Bima duduk sendirian di ruang tamu menunggu kepulangan Amara. Ketika Amara masuk, Bima berdiri dengan canggung.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya, meskipun dia tahu jawaban itu tidak akan sesuai dengan harapannya.
Amara tidak menjawab langsung. Ia melepas sepatu dan berjalan menuju sofa, duduk dengan lelah. Setelah beberapa saat hening, Amara akhirnya bicara, meskipun suaranya terdengar lemah. "Aku tidak tahu, Mas. Aku benar-benar tidak tahu."
Bima mengangguk pelan. "Aku mengerti. Aku akan memberikanmu waktu sebanyak yang kamu butuhkan."
Amara menatapnya dengan mata yang masih penuh luka. "Waktu? Waktu mungkin tidak cukup untuk menyembuhkan ini semua, Mas."
Bima tidak menjawab. Ia tahu kata-kata tidak akan bisa memperbaiki segalanya. Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu, dan berharap suatu saat Amara bisa memaafkan. Tapi di hatinya, Bima tahu, luka ini mungkin akan meninggalkan bekas yang tidak akan pernah benar-benar hilang.
Bersambung ...
Anda Mungkin Juga Suka





