
Alpha Rexton, I'm Not Your True Luna
Bab 3
Rexton's POV.
Besok pacarku akan membawaku bertemu dengan keluarganya, tentu saja aku merasa sangat senang karena akhirnya aku bisa merasakan manisnya cinta. Apalagi pacarku yang bernama Matilda itu sangat cantik, baik dan yang utama adalah cerdas karena aku akan sangat membutuhkannya untuk membantuku dalam segala hal.
Aku yang tengah duduk di salah satu sofa dalam bar tertegun kala melihat seorang perempuan dari gerombolan tiga perempuan lain. Dress-nya berwarna merah muda yang lembut, begitu juga dengan heels yang dia kenakan. Sepertinya mereka sedang melakukan sebuah permainan.
Perempuan itu berdiri, lantas berjalan ke arahku. Semakin dia mendekat, aku mencium wangi vanilla dengan kombinasi kayu yang kuat. Ia mendekat ke arahku dan wangi itu semakin jelas.
"Mate!"
"H--hai," ujarnya, aku bisa merasakan jika dia sangat canggung. Mungkin belum terbiasa mendekati laki-laki. "Bisakah aku duduk di sini."
Aku tersenyum, sepertinya dia belum menyadari jika kita adalah mate. "Tentu," ujarku yang lantas sedikit bergeser agar ada tempat untuknya duduk dengan nyaman.
"Thank you," ujarnya yang lantas duduk dekat denganku dan aroma itu semakin jelas tercium di hidungku. "Ehm, kamu terlihat begitu tampan."
Sama sekali aku tidak menyangka sebelumnya jika dia akan memuji parasku. Aku memberikan senyuman, lantas mengusap tengkuk karena kecanggungan. Alih-alih meletakkannya lagi di depan, aku memilih untuk meluruskan tanganku pada sandaran sofa melewati belakang tubuhnya.
Wajah cantik di bawah remang cahaya lampu itu begitu menggoda. Kedua alis yang tebal, hidung mancung, sepasang mata hijau dan ... bibir berwarna pink yang glossy itu sangat menggoda. Aku tak sabar merasakan manis bibir ini.
"Kamu juga sangat cantik, Mrs. Pinky." Aku balik memujanya, wajahku semakin mendekat hingga nafasnya bisa aku rasakan menerpa wajahku.
"Uhmm, Mr. Maskulin aku mendapat tantangan untuk--."
"Aku tahu," potongku. "Bagaimana jika kita memesan kamar hotel untuk malam ini, Mrs. Pinky?"
Aku sama sekali tidak yakin jika dia akan menerima tawaranku tersebut. Teman-temannya hanya memberikan dare berupa mengajakku melakukan sex dan seharusnya sudah cukup denganku yang hanya memberikan jawaban ya atau tidak.
Sebuah hal yang sama sekali tidak aku sangka adalah dia yang menganggukkan kepala dan menyetujui saran dariku. Tanganku masuk ke dalam saku celana dan mengambil smartphone di dalamnya, aku membooking kamar hotel dan langsung membawanya pergi ke sana.
Meskipun pengaruh wine yang aku minum semakin terasa, aku mencoba untuk terus fokus berkendara. Setelah lima belas menit berlalu, aku dan dia kini sudah berada dalam sebuah ruangan dengan ranjang berukuran king size di bagian tengahnya.
"Tubuhmu sangat menggoda, Mrs. Pinky." Aku melepaskan pakaiannya satu persatu, begitu juga dengan milikku.
Ia tak memberikan jawaban apapun, mungkin sudah sangat tidak tahan dengan apa yang akan aku lakukan.
Aku memulai penyatuan, dia merintih. Rasanya sangat lembut, hampir semua sisi menyentuh bagian yang lebih lembut dari es krim namun ini terasa sangat hangat.
Milikku merasa nyaman berada di dalam sana, apalagi saat aku menggerakkannya dan terjadi pergesekan antara kita. Aku sangat menyukainya.
"Kamu cantik, sexy dan hot. Siapa kamu?" Aku merasa sangat penasaran, bagaimana bisa aku tidak tahu nama mate-ku sendiri?
"Bukankah lebih baik kita tidak mengetahui siapa nama masing-masing, Mr. Maskulin."
"Why?" Nafasku mulai terengah, aku menyukai nama panggilan darinya untukku. "Bukankah lebih baik jika tahu?"
Dia menggelengkan kepala. "Lebih baik tidak."
Aku tak melanjutkan obrolan ini, sekarang tubuhku terfokus pada rasa yang tidak aku dapatkan pada perempuan lain termasuk Matilda.
Bukannya aku ingin berselingkuh darinya, namun perempuan yang di depanku adalah mate-ku yang sebenarnya. Bagaimana aku mengatakannya?
Aku tidak tahu itu, meskipun ada perasaan bersalah dalam diriku, namun aku tak bisa menghentikan apa yang tengah terjadi.
"Kamu sangat hebat, Mrs. Pinky. Aku menyukai permainanmu."
"Ini karena efek beer yang aku minum terlalu banyak tadi. Maafkan aku sudah membuatmu terlibat dalam permainan teman-temanku." Aku dengar dia masih saja mengelak.
"Tidak, tapi kamu memang hebat. Kamu cukup berani untuk melakukan sex pertama kali dengan laki-laki yang bahkan tidak pernah kamu kenali." Entah benat atau tidak, tapi itulah yang aku rasakan. Ia cukup hebat untuk bisa melakukan sex pertama kali, apalagi dia melakukannya dengan orang asing yang baru dia temui malam ini di bar.
Tubuhnya berbalik membelakangiku sekarang. Bahunya yang putih mulus terlihat basah setelah permainan panas yang baru berakhir beberapa menit yang lalu.
Bibirku tersungging menciptakan senyuman. Namun tak bertahan lama, senyuman itu menghilang setelah aku teringat dengan pacarku.
"Matilda, apa yang harus aku katakan kepadamu? Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
***
Tujuh tahun menunggu, kini baru ketemukan mate-ku saat aku sudah berpacaran dengan perempuan lain. Lalu apakah aku harus memutuskan hubunganku dengan Matilda?
Tidak, dia sudah sangat baik dan hubungan kita berdua sudah terjalin selama dua tahun lamanya. Apalagi kita berdua juga sudah sama-sama serius, dia bahkan hendak mempertemukan aku dengan ibunya. Tidak mungkin jika aku memutuskan hubungan ini begitu saja.
Rumah yang nyaman meskipun tidak terlalu besar ini ditinggali oleh Matilda, ibunya dan adik angkat yang belum aku lihat keberadaannya.
"Maaf, Alpha Rexton, rumah kami tidak besar dan berantakan."
Aku terkekeh. "Tidak masalah, Mama," ucapku merasa senang menggunakan panggilan itu.
Pandangan mataku memperhatikan sekitar. Sebuah bingkai foto mencuri perhatianku. Di sana terdapat tiga orang perempuan, seorang yang lebih tua duduk di tengah sementara dua yang lainnya berdiri di kedua sisi.
Baru saja aku hendak melangkah mendekat, aku mendengar suara kendaraan yang berhenti di depan rumah. Meskipun samar, namun suara itu cukup jelas. Selanjutnya disusul suara langkah kaki yang cepat. Sementara aku kembali mencium aroma vanilla dan kayu yang kuat seperti semalam.
"Itu pasti dia baru pulang dari party." Matilda memutar bola matanya. "Dia selalu melakukan ini, mengacaukan semuanya. Tidak kenal waktu, ceroboh dan kekanak-kanakan."
"Siapa yang baru pulang?" tanyaku.
"Amelie, adik angkat menyebalkan yang sering aku ceritakan kepadamu itu."
Sedetik kemudian pintu rumah terbuka dan aku melihat perempuan yang sama seperti semalam. Aku bisa merasakan kedua mataku melebar begitu pula dengannya saat melihat aku berada di dalam rumah.
"Mrs. Pinky," lirihku, bibirku bergerak, namun tak terdengar sedikitpun suara yang keluar dari mulutku. Aku sama sekali tak menyangka jika adik angkat Matilda adalah mate yang dipilihkan The Mood Goddes untukku. "Di--dia adik angkatmu?"
Anda Mungkin Juga Suka





