
Alfaro David
Bab 2
Setelah mendekat dan membawa kebahagian, jangan lagi pergi dan membawa kehancuran. Memang kata cinta membawa bait duka dibelakangnya, tetapi ini soal keluarga bukan pasangan. Maka untuk apa saling menindas sedangkan kita juga keluar dirahim yang sama?
(***)
Malam ini, Faro yang baru saja pulang dari balapan langsung beranjak untuk bebersih dan kini dirinya duduk di kasurnya sambil memikir sesuatu, entah mengapa dirinya merasa seperti ada yang mengawasinya walaupun itu mungkin dari jarak jauh. Tidak ingin memikirkan hal itu terlalu jauh, Faro memilih untuk keluar sebentar untuk mengambil angin malam.
"Dingin banget malam ini, bintang sama bulan kok malam ini malu ya buat menampakin sinarnya. Uh, capek buat akting bahagia. Kapan gue bisa ketemu keluarga kandung gue?" gumam Faro sambil meminum kopi panas yang di bawanya keluar tadi.
Tak lama dirinya melihat lagi sosok yang sama seperti di arena sedang menatapnya intens di balik pohon yang berada di depan rumahnya itu, walaupun terlihat jauh tapi itu masih dapat dilihat olehnya.
"Eh, keluar aja lu! Gak usah sembunyi-sembunyi!" teriak Faro ke sosok yang dilihatnya itu dan benar saja, beberapa orang yang memakai pakaian sama datang bermunculan dari setiap arah.
"Apa yang kalian mau! Hah!" teriak Faro sambil membawa ganggang sapu.
"Oh, gue tahu, kalian pengin qosidahan ya, di rumah gue? Haha, bilang dong, gak usah pakai pakaian kek gitu juga kali, haha aneh lu semua," tawa Faro tak sama dengan hatinya yang gusar. Otaknya yang cepat memicu untuk berpikir bagaimana dirinya untuk bisa lari
dari orang-orang itu.
Saat dirinya melihat salah seorang dari mereka yang lagi tersenyum miring menatapnya membuatkan dirinya gugup habis.
"Kalian mau apa sih! Gak usah dekat-dekat sama gue!! Jijik!!" ucap Faro dengan nada tinggi.
"Apa benar kamu Alfaro?" tanya salah seorang itu dengan lembut.
"Kalau iya, kenapa?" Bukan menjawab Faro justru balik bertanya dengan nada sinis.
"Nak Alfaro gak usah takut, kita cuma pengin ketemu kamu doang, apa kamu ada waktu?" tanya salah seorangnya lagi.
"Bilang dong dari tadi, dan asal lu tahu, gue tuh gak takut sama kalian. Sama kalian aja mah mudah banget bikin k.o," ucap Faro menatap tajam ke mereka
"Mau ngapain kalian ketemu gue?" tanyanya lagi
"Kita sahabat Paman kamu, Paman Alex. Apa Pamanmu ada di dalam? Boleh panggilkan dia?" tanya salah satu dari mereka yang jelas-jelas mereka sudah tau tentang hal itu. Mereka cuma ingin mendekati lelaki itu atas suruhan bos mereka.
"Paman Alex udah gak ada, Om, udah meninggal. Itu aja, kan? Yaudah gih sana pulang, saya juga pengin tidur, gak mau buang waktu ngomong sama kalian yang gak jelas," ucap Faro padahal hatinya sedikit sakit saat mengingat kenangan-kenangan yang sudah tercipta antara dirinya dan juga pamannya.15
"Apa?! Udah gak ada?! Kenapa gak ada yang bilang sama kita? Kapan Alex meninggal?" tanyanya lagi.
"Gak usah banyak nanya, deh!!" ketus Faro.
Tanpa aba-aba salah seorang dari orang-orang itu malah memeluk Faro dengan sangat erat. Tak lupa rambutnya juga terasa tertarik. "Aw, sakit!" ringis Faro dengan suara pelan tapi tak diendahkan oleh orang itu.
Orang itu justru mengeratkan lagi pelukannya pada Faro dan bergumam tak jelas dan tidak dimengertikan oleh Faro.
Di lain tempat.
"I found you baby. Abang harap itu beneran kamu." Gumamnya sambil mengingat kembali bagaimana rasanya memeluk anak laki-laki dihadapannya itu tadi.
"Saya jugaberharap seperti itu, semoga tuan muda terakhir bisa ditemukan dengan segera dan bisa menceriakan suasana mansion megah Alziard lagi." Batin supir lelaki itu, Pak Ubaid, supir yang sudah lama bekerja dengan keluarga Alziard.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" perintahnya lalu diangguki. Mereka terdiri dari empat orang, termasuk Farhan dan tentunya Pak Ubaid.
Farhan Darril Alziard, putra tertua sekaligus cucu pertama dari keluarga Alziard yang mempunyai paras wajah yang sangat tampan dan tampak sangat berwibawa, ditambah lagi
kesan dingin, datar dan kaya membuat para wanita menggilainya.
Sekarang mereka sudah berada di rumah sakit dan tidak ingin membuang waktu, Farhan dan dua bodyguardnya langsung mengarah berjalan ke ruangan seseorang yakni dokter kepercayaan keluarga Alziard.
"Tes DNA-nya sekarang! Gak mau tahu, besok pagi harus sudah ada keputusannya dan bawa langsung ke mansion utama." seru Farhan lalu pergi dari sana.
"Huft, datang-datang ga ada salam malah ngasih ini, untung teman, kalau nggak udah gue buang di lautan pasifik, nambah-nambahin pekerjaan amat dah!" gumam dokter itu menatap kepergian Farhan sambil mengomel tidak jelas.
Berbalik ke Faro yang saat ini sudah memilih masuk ke rumah kecilnya itu,
"Paman, Faro kangen candaan paman, Faro kangen buat manja-manja sama paman. Kok Faro masih gak percaya kalau paman udah pergi, terlalu cepat paman pergi sedangkan Faro belum bisa membanggakan paman dan membalas kebaikan paman. Kenapa gak bawa
Faro aja? Paman, tadi sahabat paman datang loh, kok sifat mereka kek orang gila, ya? Faro kira punya masalah, eh, tahunya nggak, aneh sih tadi salah satunya meluk Faro nyaman banget rasanya, kek aku udah lama kenal dia, tapi Faro nggak kenal, terus wajahnya juga tertutup sama masker hitam," gumam Faro sambil menatap langit
hitam tak bercahaya itu.
"Tapi, kayaknya pernah paman bilang ke Faro, ga boleh berburuk sangka ke orang-orang. Ya mungkin mereka orang yang baik, bahkan mereka sempat kaget saat Faro bilang, jika paman udah gaada di dunia. Paman udah ninggalin Faro buat selamanya." Tambah Faro lagi
"Faro tidur dulu, ya, paman. Tuhan, temukanlah Faro sama keluarga Faro. Walau Faro pernah dibuang oleh mereka tapi Faro kangen dan ingin ketemu mereka. Selamat malam semua umat dunia, Faro yang ganteng sejagat raya ini mau bobok dulu." ucapnya lagi yang
terdengar tak jelas itu.
Tak jauh dari tempat tinggal Faro itu, lebih tepatnya pohon besar yang bersebelahan dengan jendela kamar Faro, terdapat seorang remaja seumurannya menatapnya tajam.
"Cih! Banyak bicara, ga perlu lo nemu keluarga lo karna sekarang lo yang bakal mati, Alfaro David Alziard.
"Gue sayang sama lo Far, tapi lo egois, lo serakah, sahabat satu-satunya gue, keluarga semua lo tarik perhatian mereka untuk lo seorang. Lo jahat Faro, lo ga lebih seperti binatang liar yang pantes dibunuh. Gue baik Faro, gue menghentikan semua sakit lo kematian." Katanya sambil tersenyum sinis
"Pernah gak lo rasain mati kebakaran pas tidur? Kalau belum pernah, sini gue bikin lo jadi pernah ngerasain hal itu."
Anda Mungkin Juga Suka





