Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Alfaro David

Alfaro David

Dunia yang keras sanggup mengubah kebaikan menjadi kegelapan. Tanpa bimbingan keluarga, Alfaro tumbuh menjadi pemuda pemberontak yang sulit dikendalikan. Namun, di balik sikap nakalnya, ia menyembunyikan luka batin mendalam di balik topeng tak kasat mata demi melindungi diri. Saat ia menganggap sahabatnya sudah seperti saudara sendiri, sebuah ancaman besar muncul. Akankah ikatan mereka bertahan ketika pengkhianatan mulai merayap masuk ke dalam lingkaran persahabatannya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan, tapi entah ketakutan itu mulai ada seperti di kisah hidupku sebelumnya. Jangan berjanji jika bukan dari hati, berjanji biar pasti agar tidak menyakiti diantara pihak.

(***)

Matahari sudah menampakkan cahayanya hingga ke pelosok bumi, tapi tak sedikit pun dari anak lelaki itu terusik dengan sinaran matahari yang tepat terpancar di wajahnya. Tak lama, terdengarlah ketukan pintu dari kamar tersebut yang mengangetkan anak lelaki itu dan dengan cepat dirinya terbangun sambil mengucek matanya.

"Jangan dikucek gitu, nanti merah," ucap seseorang yang baru masuk di kamarnya itu.

Saat matanya terasa mulai sempurna untuk melihat sekeliling, dia dikagetkan dengan kamar dan orang yang ada di hadapannya ini. "Loh, gue di mana?" tanya Faro sambil menepuk pipinya.

"Jangan seperti itu, nanti sakit," ucap salah seorang dari mereka itu lagi.

"Kalian ini siapa? Gue di mana? Kalian culik gue ya? Tapikan gue ga punya apa-apa," tanya Faro dengan tatapan tajamnya.

"Kamu ada di rumah papa, Nak," jawab salah seorang lelaki yang bisa dibilang umuran om-om.

"What? papa? Kejedot pintu ya pak sehingga mengira saya anak anda? Gue mau pulang! Dan satu lagi, gue ga punya keluarga karna semuanya sudah mati. Mati dikenangan laluku" ketus Faro sambil berdiri dari kasur itu.

"Ngapain pulang? Di sini itu rumah kamu, rumah keluarga kandungmu saya papa kamu, dan ini—" Belum sempat selesai orang itu berucap, Faro lebih dulu memotongnya. "Anjing."

"Your language, Faro," kata salah seorang lagi dengan nada yang dingin itu mampu membuatkan keberanian Faro sedikit gentar. "Bodo amat!"

"Sekarang kamu mandi dulu, terus kita sarapan,” ucapnya.

"Lo Arlan, kan? Kenapa lo bisa di sini sama anjing-anjing ini? Lo juga sekongkol, ya, buat nyulik gue terus jual, ngaku lo!" teriak Faro marah sambil menunjuk-nunjuk wajah Arlan.

"Dih, emang siapa yang mau jual adik sendiri?" ucap Arlan terkekeh pelan.

"Bisa gila gue kalau dekat sama kalian!" ketus Faro setelah itu berdiri dan beranjak dari kamar tersebut.

"Kejar, bawa dia kemari!" perintah Arlan pada bodyguardnya. "Baik Tuan," jawap mereka patuh.

Sementara Faro. "Ini kenapa gede banget, ya? Mana gak tahu pintu keluar lagi!"

"Eh, kok gue bisa di sini, ya? Bukannya gue lagi lari dari kebakaran?" Dia memang sempat melarikan diri saat api mulai menyambar di kamarnya.

Flashback on.

"Kebakaran!" teriak seseorang yang masih bisa didengar Faro saat itu.

"Kebakaran?" pikir Faro yang masih berbaring di kasurnya.

"Hm, mungkin cuma perasaan gue aja kali, hoamm, mending tidur," ucap Faro lalu ia terlelap, namun tidak dengan otaknya yang masih berpikir keras tentang arti dari kata orang yang didengarnya tadi.

Tak berselang lama …

Brakkk!

“Faro! Keluar kamu!”

“Faro, kebakaran, keluar!”

Saat Faro melihat api yang cukup besar, langsung saja ia mengambil barang keperluannya dan melompat dari jendela kamar. Saat setelah melompat, rumah itu pun meledak akibat gas yang bocor, ditambah ada minyak yang ada di sana dan itu membuat api menyebar dengan cepat.

Setelah itu dirinya dengan cepat berlari keluar dari rumahnya dan memilih menenangkan hatinya, ia berpikir di mana lagi tempatnya harus tinggal, sedangkan rumah sudah menjadi debu akibat kebakaran. Saat sedang melamun, tidak disangka bahwa ada seseorang dari arah belakang yang menutupi hidung dan mulut Faro dengan kain.

Flashback off.

Hanya itu yang Faro pikirkan sampai dirinya tidak menyadari bahwa dia sudah sampai di tangga menuju ke bawah, alhasil ia pun terjatuh.

Brughhh! Brughhh! Brughhh!

Faro jatuh dari lantai atas sampai bawah. Kepalanya mengeluarkan darah yang bisa dibilang cukup banyak, dan sekarang dirinya merasakan sakit yang teramat pada bagian kepalanya, hal itu berterusan membuatkannya memilih untuk menutup mata sejenak guna meredakan rasa sakitnya itu, tak lama dirinya pun pingsan.

"Faro!" teriak ketiga lelaki yang berada di depannya.

"Kalian duluan ke mobil, biar papa yang gendong adik kalian! Kita ke rumah sakit sekarang!!" perintah Adam tegas yang diiyakan oleh tiga anaknya itu.

Setelah melewati perjalanan panjang, mereka menunggu dan terus menunggu sang dokter yang menangani Faro, tapi tak ada tanda-tanda dokter itu akan keluar.

"Baru aja bertemu sudah disuguhi dia sakit, kurang ajar juga tuh tangga, awas ya, tunggu gue pulang hancur lu tangga, lihat aja," ucap Rafael kesal dengan tangga yang membuat adeknya itu jatuh.

"Gak usah ngelawak deh, lo Raf," ucap Arlan menatap Rafael dengan tajam.

"Dih, gitu doang marah, cepat tua tahu rasa, gak akan ada yang mau sama lo, biar gak nikah sampai tua," ucap Rafael.

"Udah gak usah berantem, malu-maluin aja

kalian," ucap Farhan menatap mereka berdua dengan datar.

Tak lama keluarlah dokter yang sedari tadi

mereka tunggu.

"Gimana keadaan anak gue? Dia baik-baik aja kan?" tanya Adam khawatir.

"Dia baik-baik aja kok bang, lo tenang aja, by the way, anak? anak lo dimana lagi bang?" Tanya dokter itu. Adam hanya berdehem tidak mengubris pertanyaan dari adik kandungnya itu, Marten.

Setelah Faro udah dipindahin di ruang rawat inap, kalian bisa melihat kondisinya," ucap Dokter Marten itu sekaligus Om mereka.

"Yaudah deh, cepatan!" pinta Arlan menatap ke arah om-nya itu.

Setelah mereka masuk Arlan langsung bertanya pada Papanya. "Kapan sadarnya nih, Pa?"

"Lah, kok nanya papa? Kan bukan papa dokternya," balas Adam sambil terus mengusap lembut kepala anak bungsunya, Faro.

"Papa akan menjadi yang pertama membela

kamu jika ada yang menyakitimu sayang, papa janji akan

buat kamu bahagia dan gak akan merasakan apa itu

kesedihan lagi, Papa janji nak," Ujar Adam sambil menatap wajah anaknya dengan lekat.

"Namun, jika papa melakukan kesalahan maka hukumlah papa seperti apa saja yang au ingin kan, nak. Tapi papa mohon jangan sesekali ninggalin papa mu ini. Karna papa sayang sama Faro." Batin Adam lagi sambil tersenyum tipis

"Sudahlah pa, mending sekarang apa istirahat saja. Biarkan kami yang menjaga adek, kalau ada apa-apa nanti kami bakal membangunkan papa. Papa tenang saja." Kata Arlam kepada papanya itu dan diberi anggukan oleh Farhan dan Rafael.

Namun, lagi dan lagi Adam menolak. Dirinya ingin sekali menjaga anak bungsunya yang selama ini pergi darinya karna sebuah kesalahan lampau. Kesalahan yang membuatkan rumah tangganya hancur berderai seperti debu karna terbakarnya istana.

"Maafkan, kelalaian ku, sayang. Sekarang anak kita sudah bersama ku lagi. Aku janji bakal menjaganya seperti nyawa ku sendiri. Kmau yang tenang disana ya, sayang." Batinnya lagi buat ke sekian kalinya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah Membawa Petaka
8.3
Mengandung konten 21+ Harap bijak menentukan bacaan... Jangan lupa mampir juga cerita pertama "Mertua Hiperseks" Zakia Ananta Arman, gadis remaja yang masih sangat polos dan tidak pernah mengenal apa itu jatuh cinta sebelumnya. Dia terpesona dengan ketampanan pemuda tampan yang merupakan putra dari kyai pengasuh pesantren dikingkungannya. Malam itu gadis yang cakap dipanggil Kia itu secara sengaja masuk ke dalam kamar pria yang sering di panggil Gus Beren oleh para santri. Kia memasukkan obat perangsang dan alkohol secara bersamaan pada teh yang disajikan oleh Santri dan akan di minum oleh Gus Beren. Alhasil, malam itu tanpa sadar Gus Beren menyetubuhi Kia yang bersembunyi dibalik tirai gorden kamarnya, saat Gus Beren tengah membersihkan badan di kamar mandi setelah acara pengangkatan pengasuh baru di adakan di pesantren yang di miliki abahnya. Hubungan satu malam itu berakhir duka bagi Kia. Ia tidak pernah menyangka bahwa dari hubungan itu ia akan mengandung anak dari Gus Beren, tapi sayangnya Gus Beren tidak mau bertanggung jawab atas anak itu. Karena bagaimana pun anak itu tetap akan bernasab pada ibunya, sebab ia hadir sebelum terjadinya Ijab Qobul pernikahan. Apalagi Kia baru mengetahui, jika Gus Beren sudah memilik istri yang di nikahi secara siri, karena saat ini istri Gus Beren masih melanjutkan pendidikannya di Mesir. Kia teringat akan perbuatan papanya Arman beberapa waktu yang lalu, ia membawa Cantika yang merupakan wanita selingkuhannya ke rumah dan melakukan perbuatan mesum di depan mamanya Arini. Mungkinkah yang terjadi saat ini merupakan balasan atas perbuatan Arman, yang telah menyakiti Arini. Bukan hanya itu, Arman juga sering melampiaskan amarah pada mamanya dan juga kakaknya Zoni saat mereka memberontak kelakuan Arman untuk bermain panas dengan Cantika. Kata-kata Kia terngiang begitu dalam pada ingatan Arman, yang menyiratkan kebencian dari seorang putri yang sangat ia sayangi. Arman tak pernah begitu menyesal atas perlakuannya dan perkataannya yang sering menyakiti Arini dan Zoni, tapi untuk Kia, dia benar-benar menyesal karena telah membuat putri kesayangannya itu kecewa dan berkata kasar padanya. Teringat pada masa lalu kelam tentang Rania yang harus mati akibat ulah Ayah Arman, ia takut hal itu terulang kembali pada Kia. Akankah Kia bisa mendapatkan keadilan serta tanggung jawab dari Gus Beren untuk anak yang dikandung? Sedang usianya saat ini masih belum cukup umur untuk melangsungkan pernikahan karena ia baru 9 SMP. Ataukah ia akan menjalani sisa-sisa hidup dengan karma yang telah papanya perbuat selama ini? Siapakah Rania, yang menyisakan luka begitu dalam bagi Arman?
Sampul Novel GAIRAH TENGAH MALAM
9.5
Seorang fotografer alam liar melakukan ekspedisi mendalam ke jantung hutan Amazon yang misterius. Di sana, ia bertemu dengan pemandu lokal tangguh yang memicu ketertarikan kuat sejak awal. Di balik pesona hutan hujan yang eksotis, mereka harus menghadapi berbagai rintangan berbahaya yang mengancam nyawa. Di sela ketegangan dan ancaman alam tersebut, tumbuh gairah membara yang menyatukan keduanya dalam sebuah petualangan cinta yang penuh dengan risiko dan aksi.
Sampul Novel HATRED
8.7
Difitnah melukai dua saudaranya sendiri, seorang pemuda terpaksa angkat kaki dari rumah. Ia menyimpan amarah mendalam karena keluarganya lebih memercayai bukti video rekayasa ketimbang kejujurannya. Kini, ia harus memulai hidup baru di luar sana sambil membawa luka hati akibat pengkhianatan orang terdekat. Bagaimana nasib pemuda ini setelah pergi? Akankah penyesalan menghampiri keluarga yang telah membuangnya? Simak perjuangan penuh dendam ini.
Sampul Novel Pendekar Kembara Semesta Seri 1
8.9
Suro Joyo memilih meninggalkan takhta Kerajaan Krendobumi demi menolong sesama. Dikenal sebagai Pendekar Rajah Cakra Geni, ia menjelajahi jagat raya hingga dijuluki Pendekar Kembara Semesta. Dalam perjalanannya, Suro terjebak perebutan Bunga Puspajingga, ancaman Dewi Pemikat, serta kehebatan Tombak Siung Sardula. Ia pun terseret konflik harta karun Goa Barong. Demi keadilan, Suro harus bertarung menghadapi kekuatan Putri Siluman Alas Waru.
Sampul Novel Pendekar Pedang Patah
7.9
Pancaka dikenal sebagai musuh besar bagi seluruh golongan persilatan, mulai dari sekte hitam hingga putih. Tanpa alasan jelas, ia menghancurkan organisasi tersebut dengan pedang tanpa bilah miliknya yang legendaris. Namun, kejayaan sang pendekar berakhir setelah ia menderita kekalahan telak. Secara misterius, Pancaka terlempar kembali ke masa lalu. Kini, ia harus memilih untuk memperbaiki perilakunya atau justru menjadi sosok yang jauh lebih kejam dari sebelumnya.
Sampul Novel Pengkhianatan yang Tak Pernah Kusangka
7.9
Niat tulus Lira menolong seorang pelayan justru menjerumuskannya ke dalam bahaya besar. Setelah disergap oleh kelompok misterius, ia jatuh ke kekuasaan Arion, pria dingin yang mendambakan keintiman. Setiap momen bersama Arion terasa mencekam namun memiliki daya tarik yang sulit ditolak. Kini, Lira terjebak dalam dilema antara menuruti hasrat Arion yang meluap atau mencari cara untuk kabur dari jeratan pria tersebut sebelum segalanya terlambat.