
ALFARO | Berandal gilaku
Bab 2
Bughh!!
Baghh!!
Bughh!!
Di gang sempit ini seorang pria paruh baya menghantam seorang anak laki-laki secara membabi buta. Sehingga anak yang masih memakai seragam putih abu itu tersungkur beberapa kali ke trotoar. Jas hitam dengan branded terkenal itu masih melekat di tubuhnya. Dia dikenal bengis, apapun yang keluar dari mulutnya merupakan perintah yang tak bisa dibantah.
Namanya Almahendra Widjaya Kusuma, seorang pemimpin yayasan dari Rumah Sakit Widjaya Kusuma Center.
"Mau jadi apa kamu, anak bodoh!!!"
Buggh!!
Hantaman demi hantaman melayang begitu saja mengenai tubuh anak SMA itu. Tapi tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Apalagi balasan pukulan. Anak itu terlihat malas meladeninya.
"Pulang!!" Titah Almahendra pada akhirnya. Anak itu bangkit, menyusut darah di sudut bibirnya yang kemudian menunjukan satu sunggingan tipis. Senyum dengan ledekan. Huufth!!
Membuang nafasnya kasar, si anak yang katanya bodoh itu melengos begitu saja.
Shakti namanya.
"Anak sialan!! Bisanya cuma malu-maluin orang tua!!" Katanya, mendekat lalu...
Buggh!!
Bruugghh!!!
Bersamaan dengan itu Shakti tersungkur di bawah kaki anak seumurannya yang juga memakai serangam yang sama.
"Sshhh! Ashuuu!!!" Umpat anak laki-laki yang sedang duduk santai di warung pinggir jalan. Membuang puntung rokoknya ke sembarang arah, anak itu berdiri menatap Shakti yang masih enggan berdiri, lalu tatapannya beralih pada Almahendra yang mulai mendekat, hendak mencengkram baju seragam anaknya. Namun sayangnya anak laki-laki itu sudah menepis tangan Almahendra terlebih dulu, membuat pria paruh baya itu melotot.
"Jangan ikut campur kamu!!" Katanya menunjuk wajah anak laki-laki itu dengan telunjuknya. Lagi, anak yang tak kenal takut itu menghempaskan tangan Almahendra dengan kasar. "Semua yang datang ke gue, milik gue!!" Ancamnya, yang membuat Almahendra mendengus kesal.
"Gak ada atitude!" Pungkasnya yang langsung pergi begitu saja, malas meladeni anak bau kencur ini. Berjalan menjauh sampai dibelokan gang dan tak terlihat lagi penampakannya. Sementara Shakti menggeliat dibawah sana, mencoba untuk bangun.
"Wooii, bangun lo!" Anak laki-laki itu menyepak badan Shakti yang mulai mencoba berdiri dengan kaki kanannya.
"Bu, rokok sama kopi yang tumpah tadi dibayar sama anak ini yaa" ucapnya tanpa kompromi, dia meninggalkan Shakti yang akhirnya berdiri. Duduk dibangku, menatap kepergian anak yang gak kenal takut tadi.
"Jadi dibayarkan?" Tanya si ibu penjaga warung yang membuat Shakti terpaksa mengeluarkan selembar uang berwarna merah di dompetnya. "Totalnya jadi berapa bu?" "Lima belas ribu"
"Cuma segitu?"
"Iya"
Shakti menyodorkan uang itu dan diterima oleh si ibu penjaga warung. Belum sempat si ibu penjaga warung menjelaskan bahwa disana tidak ada kembalian, Shakti kembali berucap. "Kembaliannya simpen aja bu buat dia kalau kesini lagi"
"Oh, iya. Emang dia itu tiap hari kesini. Seringnya ngutang, hihiii" si ibu cekikikan, tak masalah baginya.
"Ibu kenal?" Tanya Shakti kepo. Dia duduk bersandar, tangannya merapikan bajunya yang berantakan.
"Kenal, dia itu sebatang kara. Tapi anaknya pinter, bisa sekolah karena beasiswa. Anaknya urakan, bukan kutu buku, hihiii" lagi, si ibu penjaga warung tertawa geli "untung kamu gak kena tinjunya, kalo kena bisa babak belur lebih dari ini" Jawaban panjang lebar si ibu penjaga warung membuat Shakti cengir, menggaruk ujung alisnya yang tak gatal. Setelah berbincang singkat Shakti kembali menyusuri gang kecil, keluar dari gang itu menuju jalan raya dimana motornya terparkir disana. Melaju dengan kecepatan sedang, Shakti sampai di rumahnya sendiri.
"Shakti, kenapa jam segini baru pulang sayang?" Mami Venna menyambut dengan kedua tangannya, kemudian menangkup wajah anaknya yang berantakan dengan tangan lembutnya. "Kamu berantem lagi?" Tanyanya untuk ke sekian kalinya.
Memang, maminya ini gak tahu kalau Shakti bukan berantem, melainkan dipukul oleh papinya sendiri. Shaktinya juga siih gak pernah ngomong, dia cendrung pendiam, tapi noyod. Setiap kali Shakti pulang dengan keadaan yang berantakan, mami Venna dengan sabarnya mengobati anak kesayangannya ini. Anak yang jauh dari kata pintar, tapi bukan bodoh juga yaa. Iya, karena itulah alasan satu-satunya Almahendra sang papi selalu memukul Shakti. Jengkel, malu dan frustasi punya anak bodoh seperti Shakti katanya.
SMA Mutiara__
"Cuma gara-gara babak belur gini gak mungkin lo ngelewatin balapan kan? Nanti malem kita gass!!" ucap Anggara yang duduk disebelahnya, menepuk bahu Shakti. Sedangkan Shakti hanya diam saja, seperti biasa. Kali ini lebih tertarik dengan bisikan-bisikan para cewe-cewe di kelasnya yang membuat Shakti melirik mereka dengan ujung matanya.
'Ehh ehh tau gak, nilai UTS matematika udah keluar lho, udah di pajang di mading'
'Iya, gue udah liat tadi pagi. Udah gak aneh siih si Berandal Gila itu nilainya teratas'
'Bener, gue juga udah tau. Apa gue pacarin aja ya dia, biar nilai gue juga ikut naik, hihiii'
'Eh, lu hati-hati dia matre, njirr!!'
'Gak apa-apa duit bokap gue banyak!, hahaa' Ttreettt!!
Bel istirahat berbunyi, semua anak yang ada di dalam kelas berhamburan keluar. Tujuannya kekantin dong pastinya, karena cacing di perutnya udah minta jatah semua.
Tidak dengan Shakti, anak ini pergi ke lapangan basket, mengambil bola dan memasukan bola itu beberapa kali ke ring. Ditengah permainan bola basketnya pikirannya melayang, mengingat kejadian kemarin saat dia dipukul oleh papinya. Bukan pukulannya tapi alasannya. Kali ini dia tau alasannya apa, alasan yang tak pernah dia tanyakan sebelumnya. Ternyata papinya udah tau lebih dulu nilai matematika hasil ujian tengah semester minggu lalu. Hasilnya mengecewakan. 'Apa yang diharapkan darinya? Kenapa papinya begitu terobsesi dengan nilainya?' Batinnya.
"Shaktiii!!!" Teriakan itu terdengar seantero. Semua makhluk bumi di sekolah itu menatap ke arahnya yang melambaikan tangan dengan penuh percaya diri ke lapangan dimana Shakti berdiri dengan laganya yang sok cool. Shakti berdiri di tengah lapangan dengan kemeja yang dua kancing atasnya terbuka. Wajahnya dingin, memberikan kesan jutek tapi menarik karena pahatan wajahnya nyaris sempurna. Semua orang mengakuinya. Tapi sayang, cowo dingin ini tak tersentuh.
Dengan langkah penuh percaya diri, Salsa mendekat berjalan ke lapangan. Cewe dengan rok setengah paha itu menenteng satu botol air mineral dan menyodorkannya pada Shakti. Bukannya menerima air itu, Shakti menatap aneh pada Salsa. Telapak tangan kanannya bertengger di pinggangnya sedangkan tangan kirinya menekan bola basketnya ke pinggang. "Ini, minum" kembali, Salsa menyodorkan minum itu namun Shakti mematung, tak bergerak sama sekali. Jangan lupa tatapannya. Sulit diartikan.
"Makasih cantik" tiba-tiba seorang cowo menyambar botol di tangan Salsa dan meneguk airnya. "Ahhh, seger!!" Dia menutup botol itu, mengulurkan tangan kanannya ke Salsa. "Gue Keenan. Ehmm..maksudnya si Berandal gila" ajaknya berkenalan. Sementara Salsa masih mematung. Ini cowo yang dia deketin sebulan yang lalu dingin banget, tapi malah ada cowo yang dengan senang hati mendekat.
Sekejap cewe itu bingung harus berbuat apa. "Sosial tiga" lanjutnya menunjuk ke ruangan atas, di lantai tiga yang artinya kelas 12 IPS3. Sebenarnya kalo udah disebutin si berandal gila, Salsa tau. Emang terkenal sama prestasinya tapi gak tau yang mana wajahnya. "Salsa sosial satu kan?" Tanya Keenan sengaja, membuat Salsa mengatupkan bibirnya menahan senyum. 'Kok bisa tahu?' Batinnya.
Ya iyalah, bukan Keenan namanya jika segala sesuatunya tidak dipersiapkan dengan mateng. Ya! Keenan mencari tahu dulu siapa cewe itu sebelum berkenalan. Hingga siapapun pasti merasa jika Keenan tertarik sama dia, begitupun dengan Salsa. Shakti mengalihkan tatapannya ke samping. 'Gak salah lagi dia anak yang kemarin ada di warung yang ada di gang' batinnya.
"Lo--" kata Shakti menunjuk wajah Keenan. "Apa?!"
Anda Mungkin Juga Suka





