Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel ALFARO | Berandal gilaku

ALFARO | Berandal gilaku

Bab
Bagikan

Bab 3

Lo--" kata Shakti menunjuk wajah Keenan. "Apa?!" Keenan menantang, menaikan dagunya sedikit. "Dia cewe gue sekarang" katanya, tak bisa dibantah.

Tengil!

"Ciihh, ambil aja" Shakti meludah, melempar bola ngasal lalu meninggalkan lapangan kembali ke kelasnya.

Tadinya si Shakti ini mau berterima kasih pada si tengil yang sudah dihadapannya ini karena kemarin kalo gak ada dia, udah pasti papinya akan terus menghantamnya bahkan sampai pingsan.

Makasihnya gak jadi karena keduluan ngebahas cewe, jadinya buat Shakti malas.

Bel tanda pulang berbunyi__

Beberapa anak dijemput orang tuanya dengan mobil mewah milik orang tuanya tentunya. Lebih ke pamer siih!.

Ini si Keenan menatap satu per satu mobil yang keluar masuk ke area sekolah. Mengotak-atik ponselnya yang layarnya retak itu, dia mencari tau berapa harga mobil yang dia lihat dari mereknya tadi.

Kepo memang, ehh lebih ke kritis sih sebenernya karena si Keenan ini keingintahuannya tinggi.

"Wooww!!" Katanya pelan, tidak ada yang mendengar. Sementara dia pulang dengan naik sepatunya yang sudah usang.

Ya! Jalan kaki. Sepatunya itupun dikasih dari si ibu warung, bekas anaknya yang sudah lulus SMA tahun lalu.

Sementara di tempat lain__

"Bawa cucu saya pulang!" Teriak nenek tua yang duduk di kursi roda. Ghaniya, usianya tahun ini genap 70 tahun. Udah gak bisa jalan, tapi masih kuat berteriak. Seperti saat ini yang dilakukannya setelah satu jam berlalu di ruangan itu. Berteriak ke asisten pribadi suaminya yang telah bekerja sejak dua puluh tahun yang lalu.

"Alina! Saya yakin kamu tidak tuli!" Teriaknya lagi dengan tatapan tajamnya.

Sedangkan Alina hanya berdiri, menundukan kepalanya menunggu perintah dari tuannya. Beberapa menit berlalu, dengan keberaniannya dia menoleh menatap sang tuan.

"Cukup pantau saja" Dominic. Seorang pemimpin perusahaan yang kini berusia 75 tahun. Kakek tua itu memberi kode kepada asistennya dengan tangan. Tentu saja sang asisten mengerti bahwa tuannya mengisyaratkannya untuk keluar dari ruangan itu.

Alina menunduk sebelum keluar ruangan kerja Dominic, berpamitan tanpa merespon apa yang istri tuannya itu pinta.

"Alfaro sendirian di luar sana! Hiikkh!!" Air mata nenek tua itu jatuh hampir setiap harinya karena yang dibahas cuma itu itu aja. Tangannya dia tangkupkan ke dada, menahan sesak.  Terlihat kalung mutiara melingkar di lehernya. Penampilannya juga kecantikannya tak pudar hanya karena keriput yang sudah memenuhi seluruh bagian kulit putihnya.

"Dia hidup mandiri. Gak usah khawatir" Dominic menatap istrinya, berjalan hingga tepat dihadapannya. Kedua tangannya dia letakan dibahu istrinya itu, mencoba menenangkan perasaan tak sabar istrinya yang terlalu khawatir terhadap cucu pertama, juga cucu lelaki satu-satunya.

"Kalo dibawa pulang, aku takut dia malah jadi manja" Jawaban yang diberikan Dominic memang masuk akal.

Tapi entahlah, Ghaniya sama sekali tak ingin mendengar jawaban yang sama dengan kalimat yang berbeda itu. Bosan rasanya mendengar jawaban yang dia anggap omong kosong. Selama sembilan tahun ini dia terpisah dengan cucunya, rasanya sungguh sesak karena terlalu berat menahan rindu. Belum lagi khawatir tentang keselamatannya, Alfaro tak boleh cacat.

Ghaniya mengusap air matanya dengan jari-jarinya yang sudah keriputan itu. Melajukan kursi rodanya sendiri keluar dari ruang kerja Dominic. "Aku yang akan bawa dia pulang sendiri. Kamu jangan pernah halangi aku!" Pungkasnya setelah membuka pintu lalu menghilang setelah pintu tertutup.

Dominic hanya menghela nafas kasarnya sebelum membuka laptopnya, melanjutkan apa yang menjadi pekerjaannya. Pekerjaan yang masih bisa dia selesaikan walau dari rumah.

Beberapa menit berlalu..

Dirasa tak begitu tenang, Dominic merogoh saku celananya. Menempelkan benda pipih itu ke telinga setelah menekan nomor yang hendak dia hubungi. "Halangi istri saya. Bagaimanapun caranya!"

Mansion Widjaya Kusuma__

"Malam ini ada yang mau dateng. Guru les kamu, dia masih SMA lho disekolah yang sama kayak kamu" mami Venna mengusap-ucap bahu Shakti yang sedang duduk makan malam. "Permisi nyonya, tamunya sudah dateng" Sontak membuat dua pasang mata yang ada di ruang makan itu menoleh, mendapati bik Innah bersama seorang anak laki-laki yang memakai  hoodie hitam juga celana pendeknya berdiri disana. Tak lupa topi hitam melekat di kepalanya.

"Si Berandal Gila. Itu sebutannya di sekolah" berbisik di telinga kirinya Shakti, mami Venna lantas berdiri menyambut tamunya.

"Selamat datang di Mansion Almahendra. Saya Venna, maminya Shakti. Ini anak saya, dia putra tunggal di keluarga ini" mami Venna dengan bangganya memperkenalkan diri juga putra kesayangannya. Sedangkan yang dikenalkan tak menggubris kedatangan Keenan, dia malas harus berurusan dengan Keenan untuk kesekian kalinya.

"Iya, tante" Keenan membungkukan badannya sedikit, lalu melirik ke anak si pemilik Mansion. "Ashhuu!!" Gumamnya, namun tak dapat didengar oleh siapapun termasuk bi Innah yang ada di sampingnya.

Mami Venna menyuruh bik Innah untuk mengantarkan Keenan ke kamar Shakti, menyuruhnya menunggu disana karena anak kesayangannya ini belum selesai makan. "Wooww, keren.." Keenan berdecak kagum saat melihat apapun yang ada di kamar itu. Detail penting yang ada disana, Keenan suka termasuk meja belajar lengkap dengan lampu khusus belajar. Tak pernah terbayangkan jika dia akan duduk disana.

Ceklekk

Pintu kamar terbuka menampilkan si pemilik kamar dengan baju tidurnya yang sudah melekat ditubuhnya.

"Malam minggu gak ngapel lo?" Keenan mulai perbincangan. Perbincangan yang menurut Shakti tidak berbobot. Cowo itu memilih nyelonong untuk menyalakan rokok di balkon. Keenan tertawa sumbang, mengikuti Shakti ke balkon. "Anjiirr, rokok mahal niih. Satu boleh lah!" Cowo yang selalu memakai topi ini melepaskan topinya menaruhnya di meja, mengambil satu batang rokok dan menyalakannya.

Huufhh..

Keenan merasa lepas, menikmati setiap hembusan rokok yang dia keluarkan dengan mata tertutup.

"Gue punya salah sama lo, hahh?" Lagi, Keenan mulai perbincangan. Namun yang diajak ngomong cuma nengok dikit, setelah itu natap lurus kedepan dengan tatapan kosongnya.

"Gue kesini dibayar sama nyokap lo buat ngajarin semua mata pelajaran di sekolah. Gue baru nyadar kalo gue sehebat itu, hahahaa" Keenan, cowo itu berucap dengan bangganya. Apalagi yang harus disombongkan selain kepintarannya, betul?

Kedua tangannya bergerak ke atas, membuka kuncirannya dan menyugar rambutnya hingga tertata, rambutnya berwarna bunga jambu jamaika. Inilah alasannya kenapa cowo tengil ini tak pernah membuka topinya disekolah. Padahal untuk anak pintar mah bebas, tapi jaim dikit lah. Diluar harus terlihat rapi, meski aslinya....

"Minum dulu lah, gue haus!" Pungkas Keenan sebelum akhirnya mematikan rokok yang tersisa dua senti itu. Dia nyelonong aja ke kamar, duduk di meja belajar.

Disusul oleh Shakti, cowo dingin itu mengambil gagang telepon menekan tombol-tombol disana lalu menempelkan benda itu ke samping telinga. "Satu gelas es jeruk, gak pake lama"  pesannya dengan datar, setelah tersambung yang pastinya ke dapur dong masa ke cs.

"Wiiihh, pinter juga ternyata lo. Dah lah, gak usah les, abis ini gue cabut! Hahaa" Masih, Keenan cekikikan gak jelas. Hanya disuguhi es jeruk yang baru dipesanpun dia senang, apalagi kalau dikasih yang lain, kebayang gak tuh??

Sementara si cowo dingin ini merasa perkataan si tengil seperti sebuah ledekan. Dia mendekat, mencengkram hoodie milik Keenan dan...

Bughh!! Satu pukulan melayang di wajah tampan Keenan.

Kalau dibandingin yaa wajahnya tuh mirip lho sebelas dua belas, apalagi kalau di tempat yang agak remang-remang gitu.

"Bangsadd!! Nampol gue, lo?!"

Bughh!!!

Pukulan Keenan tak kalah keras, sehingga wajah yang kemaren sudah biru-biru itu kini bertambah biru ulah si cowo tengil ini.

Tok tok tok

Ceklek!

"Tuan muda, ini minum--"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FBE" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FBE
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel After a Breakup
9.0
Arya menyimpan rahasia gelap di balik kemegahan keluarganya yang memicu mimpi buruk berkepanjangan. Alisha yang merasa dikhianati memutuskan pergi untuk melupakan cinta dan luka yang diberikan pria pujaannya itu. Meski Arya tega mencampakkannya saat perasaan sedang membara, takdir justru mempertemukan mereka kembali. Jarak yang tercipta hanya sementara, memaksa keduanya menghadapi keterikatan kuat yang belum usai di antara misteri dan asa yang tersisa.
Sampul Novel Gairah Liar Dibalik Jilbab
8.7
Suasana menegang saat Arman menunjukkan hasrat terpendamnya sebelum berangkat ke Jakarta. Sang ibu terkejut ketika putranya itu mendesak dan menciumnya di atas ranjang. Meski sempat menolak dan mengingatkan tentang dosa serta hubungan darah mereka, sentuhan lembut Arman justru membangkitkan gairah yang belum pernah ia rasakan dari suaminya. Perlawanan sang ibu perlahan melemah saat ia mulai terhanyut dalam sensasi nikmat yang diberikan oleh anaknya sendiri.
Sampul Novel Jangan Mencintaiku, Paman!
9.7
Demi menghindari mertua yang kejam, Ayu mencari perlindungan di rumah pamannya, Hideki. Namun, sebuah insiden fatal di bawah selimut yang sama menghancurkan segalanya. Kini pernikahan mereka hancur, dan Ayu diusir tanpa sempat menemui suaminya. Meski merasa hina, Ayu terpaksa tinggal bersama Hideki yang kini bersikap dingin, tak lagi lembut seperti saat merawatnya sejak kecil. Rahasia apa yang Hideki sembunyikan? Akankah Ayu memilih kembali atau terjebak cinta terlarang?
Sampul Novel Jerat Cinta Tuan Mafia Salvatore
8.4
Felix Salvatore dilingkupi dendam membara terhadap Veronica Reager, putri musuh yang ia tuduh sebagai penyebab kematian ibunya. Felix memberikan pilihan kejam pada Veronica: menikah dengannya atau menghadapi maut. Namun, niat menyiksa sang istri perlahan goyah saat benih cinta mulai tumbuh di tengah konflik. Akankah Felix tersadar bahwa ada kesalahpahaman besar di balik tragedi masa lalunya sebelum dendam menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Luka Batin Istriku
9.0
Ketegangan memuncak saat seorang suami memergoki Tari memberikan minuman mencurigakan kepada bayi mereka, Adel. Meski didesak, Tari hanya membeku ketakutan dan terus menangis tanpa mampu memberi penjelasan. Amarah sang suami meledak saat menyadari persediaan susu anak mereka telah habis. Ia membanting botol susu yang masih tersisa setengah tersebut demi menuntut kejujuran istrinya. Di tengah isak tangis yang pecah, sebuah rahasia pilu mulai terungkap.
Sampul Novel Menantu Dewa Perang
8.5
Selama ini ia hanyalah menantu yang dipandang sebelah mata dan dianggap tidak berguna. Namun, di balik identitas rendahnya, ia sebenarnya adalah sosok Dewa Perang yang sangat disegani di kancah dunia. Tepat pada hari perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga, sebuah kenyataan pahit menghantamnya. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri istri yang sangat ia cintai mengkhianati komitmen mereka dan berselingkuh tepat di hadapannya.