Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel ALFARO | Berandal gilaku

ALFARO | Berandal gilaku

Bab
Bagikan

Bab 1

"Berat?" Tanya Keenan tepat di depan wajah Mutia saat tubuhnya menindih tubuh ramping cewenya ini. Nafasnya menguar mengeluarkan wangi mint yang khas.

Mutia menggeleng "Yang berat itu jadi pacar kamu"

Cup

Satu kecupan manis di sudut bibir mutia. Keenan beranjak duduk, tangannya meraih tubuh ramping mutia untuk duduk. Mereka duduk berhadapan dengan jarak yang sangat intim. Tangan kanan Keenan mengusap lembut pipi Mutia. Menatap detail wajah cantik Mutia.

"Gue disini. Gak usah takut"

"Kak"

"Hmm?" Jawabnya yang kini tatapan itu beralih ke manik indah kecoklatan di hadapannya.

"Aku takut hamil"

Bibir Keenan menyungging, membentuk sebuah senyuman. Tak ada jawaban.

"Kak!" Tangan kanan Mutia bergerak menggoyangkan tangan Keenan.

"Apa?"

"Kalo aku hamil gimana?" Dengan wajah cemasnya Mutia menatap Keenan. Berharap cowonya itu dapat menenangkan hatinya setelah apa yang telah mereka perbuat tadi.

"Gak bakalan" pungkasnya.

Cup

Satu kecupan lagi lolos di puncak kepala Mutia. Setelah itu Keenan beranjak, memakai bajunya kembali setelah dia lempar di sembarang arah sebelumnya. 

Sementara Mutia masih betah dengan selimut yang menutupi bagian tubuhnya.

"Kak.." rengeknya. Kali ini terlihat ada cairan bening di kelopak matanya yang siap terjun bebas.

"Hamil, lo, gue tinggalin" kalimatnya penuh dengan penekanan. Gak ada wajah bercanda disana. Keenan serius dengan apa yang dia ucapkan.

Mutia menatap tak percaya sama cowo yang udah nidurin dia ini. Cowo yang Mutia percaya ini bisa-bisanya ngomong kayak gitu. Apa yang Mutia akan lakukan jika dirinya benar-benar hamil. Keenan, cowonya ini gak akan tanggung jawab. Hancur sudah masa depannya!

"Kak!!!! Kamu gak boleh gini sama aku!" Kesalnya yang hanya dapat senyuman tengil dari cowonya yang lagi ngikat tali sepatunya di lantai.

Mutia meremas selimutnya dan memukul-mukul kasur di depan Keenan. Kali pertama Mutia marah dengan apa yang Keenan lakukan. Biasanya dia gak pernah protes apapun itu.

Keenan berdiri, selesai dengan kedua sepatunya yang udah rapi di kakinya. 

"Gue cabut. Gak usah nangis"

Gitu aja pamitnya.

Mutia menatap tak percaya sampai tubuh cowonya itu menghilang ditelan pintu kostannya.

"Hiikk!!!!" Mutia menangis sejadi-jadinya. Memukul kepalanya yang menurutnya isi kepalanya itu tak berfungsi dengan baik. Kesal kenapa bisa-bisanya dia kerayu omongannya Keenan.

"Bodoh!!"

Sementara di lain tempat...

Drap

Drap

Drap

Terdengar derap langkah kaki dengan kompaknya diatas lantai yang begitu sengaja dibuat mengkilat. Di jajaran paling depan tentunya hanya satu orang. Penampilannya begitu rapi, masih muda dan tentu saja wajahnya tampan rupawan. Cowo yang masih berusia 18 tahun ini diyakini sebagai CEO baru dari perusahaan kosmetik, namanya KEENAN ALFARO. Ini hari pertamanya menjabat di perusahaan milik opanya setelah beberapa bulan lalu lulus dari SMA.

Sementara dibelakangnya disusul oleh sekretarisnya, tepatnya sekretaris dari CEO sebelumnya, namanya Alina. Wanita seksi berusia 38 tahun, belum menikah.  Alasan utamanya karena sibuk mengabdi selama 20 tahun lamanya untuk perusahaannya ini sampai kini betah menjadi perawan tua.

Tak lupa para staff dan jajarannya mengiringi dua orang penting tadi menuju ruang rapat.

Di lobi, semua karyawan perusahaan berdiri menundukan sedikit kepalanya tanda hormat ketika sang CEO melewatinya.

"Selamat pagi"

Alfaro, wajahnya serius dan tidak berekspresi mengabaikan semua sapaan disana.

"Shakti"

Satu kata yang lolos dari bibir salah satu karyawan wanita disana, mematung menatap genting ke arah cowo yang diyakininya adalah bos barunya.

Cowo dengan postur tubuh tegak dengan langkah penuh percaya dirinya itu berhenti tepat di depan cewe tadi. Cewe yang betah menatap paras cowo yang beberapa bulan ini telah hilang dari dunianya.

"Lancang!" Alfaro dengan tatapan tajamnya. Satu detik kemudian tatapannya beralih, menatap dengan ujung mata sekretarisnya yang ada di belakang.

"Kasih peringatan!"

Alina mengangguk, setelah itu melangkah kembali karena sang CEO telah melangkah lebih dulu setelah mengeluarkan dua kata mematikan tersebut.

Masih beruntung gak nyuruh dipecat.

Ting!

Lift terbuka setelah dipencet oleh Alina dan menunggu beberapa detik.

Alfaro melangkah lebih dulu, masuk kemudian disusul oleh yang lainnya.

Sementara dibawah sana...

"Thalita, kenapa ngomong sembarangan tadi?" Agni, salah satu karyawan dibagian marketing, sama kayak Thalita.

"A-aku..." lidahnya terbata. Thalita bingung mau menjelaskannya dari mana. Yang dia tau kalo bos yang mereka panggil Alfaro itu sebenarnya bukan. Thalita yakin itu Shakti, cowo dingin dengan sejuta pesona. Cowo yang udah dia abaikan selama beberapa bulan lalu.  Tapi  sekarang malah terbalik, ketika Shakti pergi hati Thalita malah jadi jumpalitan gak jelas.

"Aduhh, kamu harus minta maaf gimana pun caranya, oke? Jangan sampai dipecat" sarannya, yang dapat Thalita angguki saja. Karena mau gimana lagi, nasi udah jadi bubur.

'Aku yakin kamu itu Shakti, bukan Alfaro yang mereka sebut itu' batin Thalita.

Beberapa karyawan disana memperhatikan Thalita, sangat menyayangkannya karena dianggap kurang sopan. Menurut gosip yang beredar bos mereka itu galak juga playboy. Apa jadinya jika hal buruk akan terjadi pada Thalita.

"Mirip tapi tak sama" Thalita menyunggingkan senyumannya, berucap lirih yang tak bisa di dengar siapapun. Thalita tau perbedaan si kembar ini.

"Selamat bergabung di Beauty Cosmetics. Semoga anda menjadi pemimpin yang dapat memajukan perusahaan ini seperti pemimpin sebelumnya" ucap pak Magani direktur keuangan, setelah rapat itu selesai. Bukan rapat penting, ini hanya perkenalan saja hingga waktu rapat hanya berlangsung setengah jam.

Disusul oleh yang lain, ucapan selamat juga dilontarkan oleh pak Cakra bagian perencanaan "Selamat datang di perusahaan. Semoga kita semua satu ide, satu pemikiran dan satu tujuan"

Kalimat penutup yang hanya dapat senyuman tipis saja dari sang CEO, mending sih dari pada tadi. Alfaro tak menunjukan ekspresinya.

Mahal!

Semua orang yang ada di ruang rapat itu berjumlah sepuluh orang, termasuk Alfaro dan Alina. Semua berjabat tangan sebelum meninggalkan ruang rapat, menyisakan Alfaro juga Alina saja.

"Pak, jadwal kita hari ini harus bertemu klien di restoran Pelangi jam 9.15"

Alina berdiri dengan Ipadnya membaca deretan kegiatan Alfaro hari ini.

"Panggil saya bos" ucap Alfaro yang masih betah duduk di kursinya, sedikit menengadah menatap ke samping  kanan dimana Alina berdiri.

"Iya, bos" ralatnya. "Pak Levi dari perusahaan Glow Up ingin bertemu langsung dengan bos"

Alfaro dengan tatapan lurusnya ke depan "bawa bagian marketing"

Bukan Alfaro yang membuat keputusan, tapi opanya disebrang sana. Telinga kiri Alfaro dipasangi buds pro yang terhubung dan siap dengan perintahnya. Bisa dibilang Alfaro hanya boneka hidup.

Setelah beberapa menit berlalu Alfaro kembali ke ruangannya. Memeriksa satu per satu map yang udah numpuk di mejanya. Membaca secara rinci deretan kalimatnya pelan tapi masih terdengar jelas oleh opanya. Lalu membubuhkan tanda tangannya setelah disetujui. 

Alfaro hanya nurut aja.

Selesai dengan pekerjaan awalnya, Alfaro menyandarkan punggungnya kasar, memejam dalam mengingat apa yang dia lakukan kali ini.

"Gue tebus kesalah gue di masa lalu, Keenan Alfaro"

8 bulan yang lalu...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel After a Breakup
9.0
Arya menyimpan rahasia gelap di balik kemegahan keluarganya yang memicu mimpi buruk berkepanjangan. Alisha yang merasa dikhianati memutuskan pergi untuk melupakan cinta dan luka yang diberikan pria pujaannya itu. Meski Arya tega mencampakkannya saat perasaan sedang membara, takdir justru mempertemukan mereka kembali. Jarak yang tercipta hanya sementara, memaksa keduanya menghadapi keterikatan kuat yang belum usai di antara misteri dan asa yang tersisa.
Sampul Novel Gairah Liar Dibalik Jilbab
8.7
Suasana menegang saat Arman menunjukkan hasrat terpendamnya sebelum berangkat ke Jakarta. Sang ibu terkejut ketika putranya itu mendesak dan menciumnya di atas ranjang. Meski sempat menolak dan mengingatkan tentang dosa serta hubungan darah mereka, sentuhan lembut Arman justru membangkitkan gairah yang belum pernah ia rasakan dari suaminya. Perlawanan sang ibu perlahan melemah saat ia mulai terhanyut dalam sensasi nikmat yang diberikan oleh anaknya sendiri.
Sampul Novel Jangan Mencintaiku, Paman!
9.7
Demi menghindari mertua yang kejam, Ayu mencari perlindungan di rumah pamannya, Hideki. Namun, sebuah insiden fatal di bawah selimut yang sama menghancurkan segalanya. Kini pernikahan mereka hancur, dan Ayu diusir tanpa sempat menemui suaminya. Meski merasa hina, Ayu terpaksa tinggal bersama Hideki yang kini bersikap dingin, tak lagi lembut seperti saat merawatnya sejak kecil. Rahasia apa yang Hideki sembunyikan? Akankah Ayu memilih kembali atau terjebak cinta terlarang?
Sampul Novel Jerat Cinta Tuan Mafia Salvatore
8.4
Felix Salvatore dilingkupi dendam membara terhadap Veronica Reager, putri musuh yang ia tuduh sebagai penyebab kematian ibunya. Felix memberikan pilihan kejam pada Veronica: menikah dengannya atau menghadapi maut. Namun, niat menyiksa sang istri perlahan goyah saat benih cinta mulai tumbuh di tengah konflik. Akankah Felix tersadar bahwa ada kesalahpahaman besar di balik tragedi masa lalunya sebelum dendam menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Luka Batin Istriku
9.0
Ketegangan memuncak saat seorang suami memergoki Tari memberikan minuman mencurigakan kepada bayi mereka, Adel. Meski didesak, Tari hanya membeku ketakutan dan terus menangis tanpa mampu memberi penjelasan. Amarah sang suami meledak saat menyadari persediaan susu anak mereka telah habis. Ia membanting botol susu yang masih tersisa setengah tersebut demi menuntut kejujuran istrinya. Di tengah isak tangis yang pecah, sebuah rahasia pilu mulai terungkap.
Sampul Novel Menantu Dewa Perang
8.5
Selama ini ia hanyalah menantu yang dipandang sebelah mata dan dianggap tidak berguna. Namun, di balik identitas rendahnya, ia sebenarnya adalah sosok Dewa Perang yang sangat disegani di kancah dunia. Tepat pada hari perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga, sebuah kenyataan pahit menghantamnya. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri istri yang sangat ia cintai mengkhianati komitmen mereka dan berselingkuh tepat di hadapannya.