Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel ALASKA

ALASKA

Bhalendra Alaska Arlic percaya bahwa perubahan sejati lahir dari kemauan diri sendiri tanpa paksaan. Meski terus dihantam luka, Alaska tetap berjuang bangkit walau hatinya remuk. Hubungannya dengan Yesaya justru meninggalkan trauma mendalam daripada kebahagiaan. Di tengah skeptisisme Azka tentang cinta yang dianggap omong kosong, Alaska terjebak dalam rasa sakit masa lalu. Mampukah kehadiran sosok baru meruntuhkan dinding hatinya dan menyembuhkan luka lama?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Jika putus cinta itu sakit, maka cinta tapi tidak dianggap jauh lebih menyakitkan"

*** 

Malam itu, Alaska memaksa untuk tetap pulang karena keadaan hatinya yang tidak lagi bisa dikondisikan akibat perihnya tidak dianggap dalam kalangan mereka.

Meskipun demikian, Alaska hanyalah manusia biasa yang memiliki rasa kecewa dan juga perih. Terlebih saat menatap sahabat Yesaya yang seakan meremehkan dirinya, juga Yesaya yang tidak menganggapnya sebagai pasangan seperti pria lain yang dibanggakan atau mungkin dihargai oleh pasangannya. Mungkin, karena rasa yang amat besar Alaska tidak ingin memperlihatkan rasa kecewanya pada Yesaya kekasihnya itu.

"Kamu itu kenapa sih maksa banget dari tadi? Perasaan gak ada yang salah loh!" bantah Yesaya terhadap ajakan Alaska yang ingin pulang.

"Aku cuma mau pulang." lirih Alaska pelan pada kekasihnya itu, tapi tetap saja Yesaya tidak mau dan bersikukuh untuk tetap berada di sana.

Hingga perdebatan mereka itu membuat seluruh pasang mata yang ada di sana serentak menatap, seakan tengah menyaksikan sinetron dalam layar lebar.

Malam itu, menjadi malam tersial bagi Yesaya. Namun, menjadi malam yang terburuk bagi Alaska. 

"Hah! Nyesel gue bawa lo!" dengus Yesaya, ia meraih tasnya yang berada di atas meja makan dengan kasar lalu berjalan ke arah mobil yang terparkir.

Melihat kejadian itu, Alaska pun juga ikut terburu mengejar Yesaya yang tampak kesal dengan tingkahnya. Terlebih seluruh pasang mata juga ikut menatapnya tajam ketika mereka berlari ke arah mobil. Sementara itu acara dinner malam ini belum usai. Padahal, bukannya Alaska ingin membuat suasana kacau, akan tetapi ia berasa dijadikan badut di antara kumpulan Yesaya. 

"Yesaya, tunggu!"

"Apaan lagi sih? Belum puas lo bikin gue malu di hadapan temen-temen gue? Kapan sih lo itu bisa berubah, hah? Bisa jemput gue pake mobil lo, pake baju branded kayak pasangan temen-temen gue, kapan hah? Oh gak usah itu deh, rubah aja tu pola pikir kampungan lo itu! Dan sekarang lo bikin gue malu di depan orang banyak!"  Teriak Yesaya pada Alaska yang sontak bungkam.

Yesa menangis karenanya, sementara Alaska? Hanya menahan rasa sesak di dada karena pengakuan yang dilontarkan Yesaya padanya, cukup membuat hati dan jantungnya tersayat.

Mengatakan kalimat putus, lalu mencelanya berulang kali. Hal inilah yang acap kali membuat Alaska mengutuk dirinya sendiri. 

"Andai aja Yesaya mengerti, betapa besar rasa itu untuknya. Bagaimana rasanya tersenyum di saat hati hancur berkeping-keping. Tapi tidak apa, jika ini takdirnya semoga sang pencipta segera membangunkannya dari sebuah kesalahan yang pernah ada." batin Alaska, ia menatap sendu pada kekasihnya itu. 

Alaska tau, bagaimana rasanya di posisi Yesaya. Memiliki pasangan yang serba kekurangan, bahkan untuk pergi ke kota ini saja, hanya membawa badan saja. Sangat sukar untuk diceritakan, dan hanya dapat dirasakan.

Begitulah sekiranya. 

"Iya udah, jangan nangis lagi ya. Aku minta maaf udah bikin sedih." tutur Alaska seraya mengusap air mata yang telah membasahi pipi gadisnya itu, akan tetapi Yesaya menolak dan menjauhkan wajahnya dari Alaska.

Tanpa berkutik apapun lagi, akhirnya Alaska mengendarai mobil Pajero itu menuju kostnya, Alaska ingin mengantarkan gadisnya pulang. Hanya saja, ia sadar, jika pemilik mobil Pajero putih itu bukanlah dirinya, akan tetapi masih terlist dalam daftar impian yang akan ia wujudkan di masa depan.

Di dalam mobil, tidak ada sepatah kata pun yang keluar, entah dari Alaska atau pun Yesaya. Hening, diam dan membisu hanya itu yang terjadi di antara keduanya. Untuk bertanya pun Alaska merasa enggan karena ia tau jika Yesaya marah dengannya. Sementara itu, Yesaya memalingkan wajahnya dari hadapan Alaska, menatap ke sebelah kiri jendela, agar ia tidak melihat wajah pria yang ada di sampingnya.

"Habis ini langsung pulang ya." lirih Alaska, karena malam ini, terjadi perang dingin. Akan tetapi, ia khawatir jika gadisnya itu akan kenapa-kenapa.Tapi nihil, tak ada jawaban dari Yesaya, hanya diam dan membisu.

Karena jarak rumah kost Alaska tidak jauh lagi, pria itu sengaja memperlambat laju mobilnya, agar banyak waktu bersama dengan kekasihnya itu, yah walaupun Yesaya kesal dengannya. Tapi Alaska adalah salah satu pria yang dikenal dengan julukan "Loyal man" dan mampu bertahan dengan semua kekurangan maupun kelebihan Yesaya.

"Jangan marah lagi ya." lirih Yesaya lagi seraya menatap wajah Yesa yang masih datar bahkan tidak memiliki raut sama sekali. Ingin rasanya memeluk Yesaya tapi rasanya mustahil.

Yesaya dan Alaska turun bersamaan untuk berganti posisi karena saat ini, Yesaya harus mengemudikan mobilnya sendiri ke rumah, sementara Alaska harus menunggunya memberi kabar.

Mobil Yesaya sudah mundur hingga hilang dari pandangan tapi Alaska tetap berada di sana, menatap lamat ke arah mobilnya, hingga ia harus tersadar ketika di kagetkan oleh Azka.

"Heh, diem bae lo? Kenapa?" Kaget Azka.

"Apaan sih Ka, nganggetin gue aja lo!" celetuk Alaska yang bergegas masuk dalam kamarnya.

"Ka, tunggu deh. Lo gak mau nikmatin kopi hangat bareng gue dulu gitu?" timpal Azka seraya memegang cangkir kopinya memeragakan pada Alaska yang masih tidak peduli dengannya.

"Apaan sih Azka? Jangan ganggu gue deh! Gue mau istirahat nih!" tukas Alaska yang berjalan cepat menuju kamar.

"Gimana dinnernya? Lancar kan?” Lagi-lagi Azka melontarkan pertanyaan yang membuat Alaska menjadi tambah bad mood. 

“Gue mau istirahat, jangan ganggu gue! Kalo lo masih belom mau tidur, sana! Di depan tv! Gue gak dianggap, puas lo!” jawab Alaska dengan suara yang lebih tinggi. Lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.

"Gak dianggap?” lirih pria itu sendiri, namun pada akhirnya memilih bungkam, karena Alaska tampak marah dengan pertanyaan yang ia lontarkan. Alaska memang dingin, namun jika marahnya yang datang, bulan pun bisa terbelah dibuatnya. 

Azka kini berada sendirian di tempat, ditemani oleh sunyi malam, ditambah juga dengan udara dingin yang mencekam membuat suasana menjadi horor. Azka masih berpikir akan peristiwa yang menimpa Alaska malam ini, bahkan ia tampak emosi dan kurang bahagia malam ini. Lelah teramat mematahkan raganya, bahkan rasanya tidak sanggup untuk menahan luka dan remuknya jiwa. Alaska menatap ke arah ponselnya, berharap jika Yesaya telah memberinya kabar jika ia sudah berada di rumah.

Dua puluh menit berlalu.

Tapi masih belum ada kabar apapun dari Yesaya, yang membuat Alaska semakin gelisah. Kemana gerangan gadisnya itu, kenapa belum juga memberinya kabar. Hingga kantuk pun tiba-tiba menyerang Alaska yang merasakan lelah di seluruh tubuhnya, tapi ia berusaha untuk melawan agar tak terlelap, karena menunggu balasan dari gadisnya itu.

Namun, akhirnya Alaska dikalahkan juga oleh kantuk yang menyerangnya, hingga ia tertidur.

Satu jam berlalu.

Ia menatap ke arah jam dinding yang berputar, alangkah terkejutnya ia ketika ia menatap jam waktu udah menunjukkan pukul 00.00. Namun Yesaya masih juga belum ada kabar. Saat di liat, Azka pun juga sudah terlelap di sebelah Alaska yang tampak nyenyak. Berbanding terbalik dengan dirinya yang masih sibuk memikirkan Yesaya yang entah kemana belum memberinya kabar.

Alaska juga khawatir jika kalimat yang dilontarkan oleh kekasihnya tadi itu adalah nyata, jika Yesaya benar-benar meninggalkannya. Pikiran buruk itu semakin berkecamuk dalam diri Alaska hingga akhirnya ia kembali melacak ponselnya.

___________

Chat

Hei. Kamu di mana?|Alaska

Namun centang abu tidak bertanda dua, melainkan satu. Sementara Alaska tau, Yesaya tidak pernah mematikan ponselnya. Dan itu membuat Alaska semakin khawatir, ingin rasanya menghampiri Yesaya, tapi ini sudah terlalu larut untuk dirinya menghampiri gadis itu ke rumahnya. Namun Alaska berharap agar pagi segera datang, ia ingin menemui cintanya.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cool vs Cold
8.4
Kehadiran Jay yang tak terduga membawa perubahan besar dalam kehidupan Avril, membangkitkan kembali perasaan yang telah lama terkubur. Melalui perhatian tulus dan kasih sayang yang nyata, Jay perlahan berhasil meruntuhkan dinding es yang menyelimuti hati Avril. Kini, Avril menyadari bahwa cinta sejati memang membutuhkan keberanian besar untuk melangkah maju. Ini adalah kisah tentang bagaimana kehangatan mampu meluluhkan hati yang selama ini membeku rapat.
Sampul Novel Diceraikan Tanpa Alasan
9.0
Tiga tahun Elira mencintai Kael Virendra dalam kesunyian sebelum akhirnya diceraikan tanpa belas kasih. Saat Kael memilih kembali pada sang mantan, Elira pergi dan mengungkap identitas aslinya sebagai Seraphina Remos, pewaris takhta miliarder yang jenius dan berbakat. Ketika Kael menyadari kesalahannya dan memohon kesempatan kedua, Seraphina yang kini telah bangkit tak lagi sudi menoleh. Masa lalu telah terkubur, dan ia sudah melangkah terlalu jauh untuk kembali.
Sampul Novel Gadis Simpanan yang Melahirkan Anakku
8.1
Demi membiayai pengobatan ayahnya yang kritis, seorang gadis polos terpaksa menjadi wanita simpanan bagi CEO berkuasa di Amerika. Sang miliarder tidak hanya menginginkan kepuasan, namun juga menuntutnya melahirkan ahli waris karena istrinya mandul. Terjebak dalam kemewahan yang penuh rahasia kelam, ia kini menghadapi konflik batin yang hebat. Ia harus memilih antara mempertahankan harga diri atau mengikuti benih cinta yang mulai tumbuh di situasi yang salah.
Sampul Novel GAGAL MENIKAH KARENA ORANG KETIGA
9.2
Hidup Yumna hancur seketika saat Ilham membatalkan lamaran mereka tanpa alasan yang jelas. Keputusan sepihak itu memicu gelombang fitnah dan hinaan kejam dari para tetangga yang terus menyiksa batinnya. Namun, di balik rasa sakit itu, sebuah rahasia besar mulai terungkap. Ada fakta mengejutkan mengenai alasan Ilham yang sebenarnya, yang ternyata berkaitan erat dengan peristiwa misterius delapan tahun silam. Kini, Yumna harus menghadapi kenyataan pahit tersebut.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima terobsesi menyiksaku dengan kehadiran Sandra demi menguji cintaku. Puncaknya, saat kecelakaan terjadi, mereka membiarkan tanganku hancur demi menyelamatkan Sandra. Karier musikku pun sirna. Mereka menantikan amarahku, namun aku hanya diam membisu, bahkan saat liontin ibuku dihancurkan Sandra. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku mati. Ini bukan cinta, melainkan sangkar kejam. Kini aku bersiap melarikan diri dan membalas kehancuran ini.
Sampul Novel Ke(m)bali Mengejar Cinta Pelangi
8.3
Meski terus ditolak, sebuah insiden tak terduga justru menjalin benang merah antara Laskar dan Pelangi. Namun, Pelangi menyadari cintanya tak mungkin dipaksakan karena Laskar telah bertunangan dengan Natalia. Akankah ikatan misterius ini mampu menyatukan mereka, atau justru membuat keduanya kembali menjadi orang asing? Pelangi memahami bahwa meski mulutnya berkata rela, hatinya tetap merasa berat untuk benar-benar melepaskan sosok Laskar dari hidupnya.