
Aku Tak Membencimu
Bab 2
Ayyara, kamu menerimanya 'kan?" tanya Daria tak sabaran. Dia sangat berharap takkan ada penolakan dari Ayyara. Ayyara menarik nafas dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, sebelum akhirnya perempuan itu mengangguk pasrah menerima perjodohan itu. Seketika semua orang yang ada di sana tersenyum bahagia. Daria menatapnya haru. "Pa, akhirnya putra kita menikah dengan perempuan pilihan kita."
Raymond mengangguk, mengiyakan ucapan sang istri. Dia juga sangat senang, hatinya seketika lega walau anak itu menjawabnya hanya dengan sebuah anggukan.
Berbeda dengan Ayyara yang justru tertekan. Entah dia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti jika benar menikah dengan Kieran. Sepertinya Ayyara tak akan diam dan membiarkan pernikahan itu terjadi begitu saja. Dia mulai berpikir untuk menemukan cara meloloskan diri dari perjodohan itu.
***
"Pagi pak."
Seorang pria paruh baya mengernyit bingung, saat salah satu karyawannya tiba-tiba menghampirinya di depan ruang kerjanya. "Ada apa Ayyara?"
"Pak, saya dengar saat ini CEO Bimantara group sedang berkunjung di perusahaan kita. Apa itu benar?"
"Iya, pak Kieran datang ke sini untuk bertemu saya dan menanyakan perkembangan perusahaan kita saat ini."
"Boleh saya meminta waktunya sebentar untuk bertemu dengan pak Kieran. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan padanya."
"Ada urusan apa kamu dengan pak Kieran?"
Ayyara tak menjawab. Dia langsung menyelonong masuk begitu saja tanpa menunggu izin Ardi selaku manager di perusahaan itu lebih dulu. Menghampiri laki-laki yang duduk sofa ruangan itu, sedang membaca sebuah berkas di tangannya. Dia tak sadar jika yang masuk ke ruangan itu adalah Ayyara, bukan managernya.
"Pak Ardi, apa anda sudah menemukan berkasnya?" tanya Kieran tanpa mengalihkan pandangannya. Tadinya dia meminta Ardi keluar dari ruangan untuk mengambilkan beberapa berkas penting lagi.
"Pak Kieran, ini saya Ayyara."
Kieran tertegun mendengar suara perempuan itu barusan. Dia spontan menoleh, Ayyara ternyata sudah berdiri di sampingnya. "Ayyara, kenapa kamu masuk ke ruangan ini? Saya ada perlu sebentar dengan manajer kalian. Dan saya tidak mau ada satupun karyawan yang masuk ke sini!"
"Tapi ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan pak Kieran."
"Apa tentang pekerjaan?"
Ayyara menggeleng, bukan itu yang dia maksud.
"Jika bukan pekerjaan, saya rasa itu tidak penting. Jadi silakan keluar." Kieran kembali mengarahkan pandangannya pada berkas di tangannya. Sebisa mungkin dia akan terus bersikap dingin pada Ayyara, walau sebenarnya bukan itu yang dia mau.
Ayyara geram. Bisa-bisanya Kieran berbicara seakan diantara mereka sedang tak terjadi apa-apa. Tidak mungkin Kieran tak mengetahui tentang perjodohan ini. "Tolong batalkan perjodohan ini!"
Kieran kembali tertegun. Dia lalu menutup berkas yang sedang dia baca tersebut dengan cukup kasar. Lalu berdiri menghadap Ayyara, memberinya sorot tegas. "Kamu hanya karyawan di sini, dan jangan lupa siapa saya. Ini masih jam kerja, bukan? Jadi jangan bicarakan apapun pada saya selain masalah pekerjaan."
"Saya tidak peduli dengan itu, yang saya inginkan saat ini tolong minta pada orang tua anda untuk membatalkan perjodohan ini!"
"Keluar," usir Kieran masih dengan nada datar. Dia tidak marah dengan perempuan itu, tapi dia juga tidak ingin membahas perjodohan mereka saat itu juga. "Jika kamu masih ingin bekerja di sini, tolong ikuti apa yang saya perintahkan."
"Saya tidak akan keluar dari sini, sebelum anda mau berbicara masalah perjodohan ini -"
"Saya tidak bisa membatalkannya!" potong Kieran berhasil membuat Ayyara seketika terdiam. Perempuan itu menggeleng tak terima.
"Kenapa anda tidak bisa melakukan itu?"
"Saya sudah menjawabnya, jadi tolong keluar dari sini. Tujuan saya datang ke sini bukan untuk berbicara denganmu, tapi dengan pak Ardi!"
"Tolong jawab pertanyaan saya, kenapa anda tidak bisa melakukan itu?"
"Ayyara!" Dengan langkah tergesa, Ardi menghampiri karyawannya yang sedang menghadap sang CEO. Dia kemudian menatap Kieran dengan raut bersalah. "Maaf pak Kieran, tadinya -"
"Apa begini cara anda mendidik karyawan? Di mana sopan santunnya?"
Ardi menghela nafas berat. Walau dia lebih tua dibandingkan Kieran, tetap saja dia sangat takut jika membuat Kieran marah. Bagaimanapun jabatan Kieran juga lebih tinggi darinya. "Ayyara tolong keluar dari ruangan ini!"
"Tapi saya masih -"
"Ayyara!" bentak Ardi yang sudah tak bisa menahan emosinya pada Ayyara.
Ayyara tak bisa membantah lagi. Dia sadar tak boleh Melawati batasannya sebagai karyawan, jika tidak maka bisa saja dia kehilangan pekerjaannya. Ayyara memutuskan untuk pergi dari sana begitu saja.
"Ayyara," panggil Kieran menghentikan langkah Ayyara saat nyaris sampai pintu keluar. "Temui saya setelah jam kerjamu selesai."
Anda Mungkin Juga Suka





