
Aku Tak Lain Hanyalah Tamu
Bab 4
Kabar yang beredar bilang, penyebab pertengkaran Jason dan Sylvia adalah... aku.
Aku hanya tertawa kecil setelah mendengarnya.
Aku sudah bukan Emma yang dulu, bukan lagi si "pejuang cinta suci" yang tiap hari meng-update media sosial puluhan kali, hanya untuk mencari sedikit tanda, sedikit petunjuk tentang hubungan Jason dan Sylvia dari teman-teman mereka.
Dulu aku selalu berharap bisa tahu kapan hubungan mereka mulai retak, supaya aku bisa langsung muncul di depan Jason dan berkata, "Orang yang paling mencintaimu itu aku."
Tapi pada akhirnya, pasangan yang sedang kasmaran itu, paling cuma bertengkar sebentar saja, lalu berbaikan lagi.
Dan aku? Aku hanya bagian dari permainan mereka, bukan?
Tetapi sejak itu, Jason malah semakin sering meneleponku. Hari demi hari, jumlah panggilannya terus bertambah.
Sayangnya, setiap kali dia menelepon aku, aku selalu langsung menutup panggilan atau mencari alasan untuk menolak bertemu dengannya.
Sampai malam sebelum aku berangkat ke luar negeri, dia menelepon lagi.
"Emma, aku udah beli tiket konsernya. Malam ini ketemu di sana, ya?
"Jangan bilang kamu nolak lagi. Hari ini kan hari jadi pernikahan kita."
Jason tidak pernah berbicara padaku dengan nada serendah itu.
Biasanya dia cuma melontarkan satu kalimat seadanya, lalu aku, demi menyenangkannya, selalu berlari mendekat dengan antusias.
Dan pada akhirnya, dia yang menjauh sendiri... demi Sylvia.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Karena sebenarnya, hari ini bukan hari jadi pernikahan kami, melainkan hari keempat kali kami menikah lagi.
Berulang kali menikah dan bercerai, hanya aku yang masih ingat dengan jelas setiap tanggal, setiap detail, setiap perjanjian.
Tapi aku tetap mengiyakan.
Karena aku memang ingin menonton konser Ethan malam itu.
Namun, aku menunggu lama di depan venue, tapi Jason tak juga datang.
Ketika kubuka pesan suaranya, suaranya terdengar penuh rasa bersalah, diiringi bisingnya suara konser di latar belakang, dan tawa lembut Sylvia di sela-selanya.
"Maaf, Emma. Sylvia tiba-tiba nggak enak badan, aku antar dia ke rumah sakit dulu."
"Hari jadi pernikahan kita kan masih banyak ke depannya. Besok waktu Sylvia pulang, kamu mau ke mana aja, aku bakal nemenin kamu, ya?"
Konser akhirnya dimulai. Lagu Ethan bergema pelan dari dalam panggung.
"Terima kasih sudah mengundangku jadi saksi cinta kalian. Aku terus mengingatkan diriku untuk tidak lari lagi..."
Aku menutup pesan suaranya, lalu setelah sebulan penuh, akhirnya membuka media sosial lagi.
Dan di situ, postingan terbaru Sylvia langsung menyambutku. Sebuah selfie manis bersama Jason di konser Ethan.
"Aku lepaskan semua kenangan demi restui cintamu. Tapi tetap tak ingin percaya... kalau ini takdir."
Lagu itu terus bergema seakan mengejek diriku sendiri. Karena bahkan saat datang ke konser tadi, aku masih menyimpan sedikit harapan untuk Jason.
Namun kini, bahkan sisa harapan itu pun benar-benar musnah.
Perceraian ketujuh kalinya.
Harusnya aku sudah paham sejak lama, bukan?
Untungnya, kali ini benar-benar yang terakhir.
Tanpa rasa sesal sedikit pun, aku pergi ke bandara malam itu, dan duduk di sana.
Pukul tujuh pagi, aku selesai check-in.
Jason mengirim pesan menanyakan kapan kami akan menikah lagi. Aku tidak menjawab, aku hanya menghapus kontaknya.
Pukul delapan pagi, aku antri untuk naik pesawat.
Telepon Jason masuk lagi. Aku tidak mengangkat. Langsung aku blokir nomornya.
Pukul sembilan pagi, aku sudah duduk di dalam pesawat.
Saat pramugari meminta semua penumpang mengaktifkan mode pesawat, ponselku tiba-tiba bergetar, panggilan dari Wanessa.
Tapi saat kuangkat, yang kudengar bukan suara sahabatku, melainkan suara Jason, panik dan terburu-buru.
"Emma, kamu di mana?"
Anda Mungkin Juga Suka





