Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Simpanan Tante-Tante

Aku Simpanan Tante-Tante

Andra terjebak dalam kehidupan kelam sebagai simpanan dua wanita kaya yang kesepian. Namun, pertemuannya dengan seorang gadis mandiri memicu keinginan kuat untuk bertaubat. Kini ia harus berjuang melepaskan diri dari jeratan kemewahan para tantenya demi mengejar cinta sejati. Akankah masa lalunya yang kelam bisa diterima oleh gadis pujaan hatinya, atau justru menjadi penghalang besar bagi rencana masa depan mereka yang baru saja dimulai?
Bab
Bagikan

Bab 2

Andra menarik napas panjang dan berusaha kembali tersadar setelah tak sengaja mengingat peristiwa menyedihkan itu yang pernah terjadi di dalam kehidupannya.

Lamunan pemuda itu teralih oleh sebuah panggilan telepon yang masuk ke ponselnya di dalam genggaman. Pada layarnya tertera nama Tante Silvi. Wanita royal nomor dua yang sanggup memberikan Andra apa saja.

"Ya, Tante?" Andra segera mengangkat panggilan telepon dari Tante Silvi.

"Andra ... kamu bisa ke sini, Sayang?" Suara Tante Silvi lirih dan mendesah terdengar di telinga Andra.

Andra melirik jam di tangan kirinya. "Tante di mana?"

"Di Rumah Kebun. Kamu ke sini, ya. Cepetan, Sayang." Tante Silvi mendesak sekaligus memohon pada pemuda itu.

"Oke, tunggu aku, ya. Sebentar lagi aku akan ke sana."

Panggilan mati secara sepihak dilakukan oleh Tante Silvi. Andra bergegas ke tempat parkir. Untungnya pemuda itu selalu menyelipkan kunci mobil di saku celana. Sebab situasi yang mendadak seperti barusan, pasti akan membuat Andra lelah jika harus kembali ke apartemen hanya untuk mengambil kunci mobil yang tertinggal.

Beberapa menit kemudian, Andra melajukan mobil sport putih membelah jalan tol yang cukup lenggang. Rumah Kebun yang dimaksud Tante Silvi adalah rumah peristirahatan dengan halaman luas yang terletak di pinggir Kota Bekasi.

Wanita kaya itu membeli satu hektar tanah dan membangun sebuah rumah asri di sana. Rumah yang dikelilingi tetumbuhan, pohon buah-buahan dan bunga yang terawat rapi. Jika Tante Silvi menyebutnya Rumah Kebun, Andra menyebutnya villa. Ya. Menurut Andra malah lebih mirip villa-villa di Puncak dengan udara yang menyejukkan.

Satu jam berkendara, akhirnya mobil pemuda itu berhenti di depan pagar tinggi bercat hitam. Security-nya bergegas membuka pintu pagar. Kebetulan mereka sering bertemu. Tante Silvi pun pernah memperkenalkan Andra pada pria asli daerah itu sebagai 'tamu istimewa'.

Pria itu tidak banyak bertanya lagi. Yang dia tahu Andra adalah orang istimewa bagi pemilik rumah alias majikannya sendiri. Sehingga si security tak perlu lagi banyak tanya tentang tujuan Andra datang ke sana.

Ponsel Andra kembali bergetar tak sabar dan berdering lagi. Pemuda itu mengangkatnya secara cepat.

"Ini aku udah di depan, Tante. Baru parkirin mobil."

"Kamu buruan. Langsung aja masuk ke kamar Tante, ya. Cepat!" Desah napas Tante Silvi begitu mendesak.

Mau tidak mau Andra harus turun dari mobil secara tergesa-gesa. Dia menyempatkan diri mengangguk pada Pak Udin—security—lalu melangkah cepat melewati anak-anak tangga menuju lantai dua rumah itu.

Andra mengetuk pintu bercat putih berpadu gold sebelum mendorongnya perlahan-lahan. Di atas ranjang ukir besi, Tante Silvi telentang tanpa busana. Matanya merem melek memainkan sebuah alat berbentuk 'milik pria' yang terbuat dari plastik jelly berwarna kuning.

Walau sadar akan kehadiran Andra, Tante Silvi tetap tak mau menghentikan kegiatannya itu. Tangannya yang lain malah terjulur pada pemuda itu. "Andra, bantuin Tante. Tante on berat."

"Tante abis minum apa, sih?" Andra menggoda. Namun, tetap melangkah ke ranjang mendekati wanita yang tanpa busana itu.

"Jangan nakal. Ayo, bantuin." Tante Silvi merengek lagi.

Tangan Tante Silvi meraih tangan Andra untuk diarahkan ke area pribadi milik wanita itu. "Kamu yang mainin. Cepetan. Ayo."

Andra menurut saja. Dia tak mau membikin Tante Silvi berubah menjadi bad mood. Jempol Andra membelai tonjolan kecil daging yang mencuat di tengah-tengah area sensitif Tante Silvi.

Tante Silvi mendesah. "Cium, Ndra. Please ... mainin lidahmu di situ."

Andra mendekatkan bibir. Aroma khas menguar di seputaran hidungnya. Dengan ujung lidah, Andra mainkan tonjolan itu. Sesekali mengulumnya, mengecapnya. Telunjuk Andra juga bergerak nakal, menusuk-nusuk ke lubang Tante Silvi yang sudah basah oleh cairan bening agak lengket.

Tante Silvi tiba-tiba bergerak dan meracau tak karuan. Tangannya berusaha memasukkan kembali mainan tadi agar melesak lebih ke dalam.

Andra menepis tangan Tante Silvi yang tidak sabaran. Andra sambar benda itu. Dilesakkan keluar masuk dan bergoyang cepat dengan lidahnya masih bergerak nakal.

Tante Silvi semakin menggila. Di satu kesempatan, dia melenguh panjang sambil meremas rambutnya sendiri. Tubuhnya menegang lalu berhenti bergerak, lemas lunglai.

"Udah?" Andra tersenyum.

"Gila, yak. Kalo gak kamu bantuin, Tante gak sampe-sampe dari tadi." Bibir tebal hasil operasi yang dijalani Tante Silvi setahun lalu, tersungging senyum.

"Berarti aku gak dibutuhin lagi, nih? Aku pulang, ya?" Andra sungguh suka menggoda wanita itu.

"Eits ... jangan dulu. Kamu, kan, tau sebelum lima ronde, Tante gak bisa tidur nyenyak." Wanita hiperseks itu menarik dan mendorong tubuh Andra hingga telentang di atas ranjang.

Jemari Tante Silvi yang berhias kutek berwarna hitam, mengendurkan tali pinggang Andra. Membuka resleting lalu membelai milik pemuda itu yang hanya terlapisi celana dalam saja.

Seperti biasa, bersama Tante Silvi, Andra tidak perlu menguras habis tenaga. Bak bayi Andra diperlakukan oleh Tante Silvi. Andra hanya baring telentang dan pasrah pada semua aksi wanita itu.

"Hari ini kamu gak ketemu Siska, Ndra?"

Andra menggeleng. "Belum, Tante."

"Berarti hari ini kamu punyaku, ya?"

Andra terkekeh. Namun matanya langsung berubah meredup saat Tante Silvi memasukkan milik Andra ke dalam mulutnya. Lidah wanita itu menjilat ujung kepala rudal Andra dan dua bolanya yang bergelantung. Jemari Tante Silvi pun menggenggam erat batangan Andra yang keras seperti otot-otot Samson, pelan-pelan diurutnya. Naik-turun.

Akan tetapi tetap saja Andra harus pandai mengontrol diri. Andra tidak boleh keluar sebelum mendapat izin dari wanita itu.

"Akhhh ...." Andra meraih kepala Tante Silvi. Andra sibak rambutnya yang bergelombang. Andra tekan sedikit kepala Tante Silvi lebih mendekat agar milik Andra bisa sepenuhnya berada dalam kuluman wanita itu. Tante Silvy hendak menyudahi, tapi Andra masih menahannya sebentar. "Tahan dulu, Tante. Akhhh ...."

Berkat tak tahan, Andra kelepasan. Andra mengeluarkan cairan dalam mulut wanita itu. Tante Silvi tak marah. Malah meneguk dan menjilati cairan Andra tanpa sisa.

"Sorry, Tante. Aku udah gak tahan. Abis Tante menggairahkan, sih." Andra senyum malu.

"Nakal kamu, ya." Tante Silvi menepuk pelan pipi Andra. "Tapi kamu masih sanggup, kan, beberapa ronde lagi?"

"Tentu dong. Tuh, lihat. Si Otong udah bangun lagi." Andra menunjuk ke arah miliknya yang sudah kembali perkasa.

Tante Silvi duduk di atas perut Andra. Sekali lesakan, rudal pemuda itu sudah menusuk lubang sensitif wanita itu.

Andra merem melek setelah merasakan rapet ,legit, dan menjepit. Selain operasi hidung dan bibir, Tante Silvi juga mengoperasi milik pribadinya.

"Akhhh ...." Sensani nikmat sekali lagi Andra rasakan saat Tante Silvi mulai bergerak naik turun di atas pemuda itu yang masih dengan posisi telentang. Semakin lama semakin cepat tempo yang Tante Silvi buat memompa keperkasaan Andra.

Di detik berikutnya, Tante Silvi mengejang dan berhenti. Andra bisa merasakan cairan hangat menyelubungi benda miliknya.

Tante Silvi bukanlah wanita egois. Tau bahwa Andra belum selesai dia kembali bergerak. Kedua tangan Andra menangkap gunung kembar Tante Silvi yang kenyal. Desahan dan erangan wanita itu berhasil memancing libido Andra. "Aku mau keluar, Tante."

"Di dalam aja. Gak apa-apa, kok." Tante Silvi menjawab di sela napas yang memburu.

Tubuh Andra menegang. Dua sama. Setelah itu Tante Silvi memberikan waktu istirahat hanya sepuluh menit kepada Andra. Hingga adu raga mereka terjadi lagi hingga lima ronde.

***

Hari sudah gelap. Andra merebahkan diri dengan Tante Silvi masih berbaring manja di sebelahnya dalam balutan selimut berwarna kelabu.

Ponsel Andra tiba-tiba berdering. Tanpa melihat pun dia sudah tau bahwa itu panggilan dari Tante Siska.

"Pergilah, Ndra. Temui Siska. Habis ini Tante mau kumpul dengan teman-teman Tante yang lain." Tante Silvi meraih ponselnya. Berkutat sebentar dengan benda itu, lalu dia perlihatkan layarnya pada Andra. "Tante sudah transfer kamu 20 juta, ya."

Andra mengecup pucuk kepala Tante Silvi. "Makasih, Tante." Bergegas pemuda itu bangkit berdiri. Dia meraih baju dan celana yang bertebaran di atas lantai. Andra memakainya kembali secara terburu-buru.

"Tante yang makasih. Kamu mau ke sini jauh-jauh dari Jakarta." Tante Silvi menopang dagu dengan kedua telapak tangannya sembari terus memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan Andra.

Tanpa banyak bicara lagi Andra melambai pada Tante Silvi lalu menuju pintu. Hari sudah gelap tentu saja.

Andra mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Dia tak ingin membuat Tante Siska menunggunya terlalu lama.

Di jalanan yang sepi, Andra meraih tutup dasbord lalu membukanya. Andra mengambil sebotol minuman penambah stamina dan menegaknya sampai habis tak bersisa.

Andra sangat membutuhkan minuman ini untuk menghadapi kedua wanita haus kasih sayang dan belaian laki-laki itu.

Di depan sebuah rumah besar bernuansa putih, Andra menghentikan laju kendaraan roda empat miliknya. Rumah itu tanpa penjaga. Namun, semua fasilitas yang terpasang sangat canggih. Pagar yang terbuka sendiri dan juga pintu yang kuncinya hanya membutuhkan sandi-sandi serta sidik jari.

Seperti biasa Andra bebas melenggangkan kaki masuk ke dalam kamar besar di sisi kolam renang. Tak ada sesiapa pun di situ. Namun, telinga Andra mampu menangkap gemericik air dari arah kamar mandi.

Secara mengikuti naluri, Andra melepas semua pakaian tanpa banyak bicara lalu melangkah saja ke sana. Dia mendapati sebentuk badan sintal sedang membelakangi. Andra peluk saja dari belakang, lantas ikut bergabung di bawah curahan air yang berasal dari keran shower.

Tangan Andra mulai bergerak nakal. Jemarinya mendekap sepasang gunung kembar Tante Siska dan meremasnya penuh perasaan. Wanita itu melentingkan tubuhnya ke belakang. Menungging, memasang, bersiap menerima milik Andra yang sudah menegang.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Andai Aku Boleh Memilih
7.9
Kenanga Wulan, mahasiswi berprestasi, menderita akibat tekanan ibu tirinya, Mirna, hingga akhirnya diusir dari rumah. Mirna sengaja menyembunyikan kekayaan kiriman ibu kandung Kenanga demi memisahkan Bastian dari kenangan mantan istrinya. Di sisi lain, Firda mendesak putranya, Ghaffarel, untuk menikahi Kenanga demi menyelamatkannya dari hubungan tak wajar dengan Raiya. Meski Kenanga mencintai Arkatama, ia terjebak dalam skema pernikahan yang penuh rahasia dan pengkhianatan.
Sampul Novel Balas Dendam Manis Sang Ratu Miliarder
9.0
Pasca diusir, Helen menyadari bahwa ia bukan putri kandung di keluarganya. Meski dirumorkan kembali ke keluarga miskin yang eksploitatif, kenyataan justru berkata lain. Ayah kandungnya adalah miliarder yang sangat memanjakannya. Di balik itu, Helen memegang paten desain bernilai fantastis dan menjadi mentor astronomi nasional. Saat orang lain menanti kegagalannya, ia justru meraih status legendaris dan menarik perhatian pria misterius yang berkuasa.
Sampul Novel Di Mana Sayap Tumbuh
8.9
Sekuel The Maid and the Young Heir ini mengikuti Amelia, kini seorang ibu yang menjaga rahasia kelam. Saat Luciano berjuang mempertahankan keluarga, masa lalu kembali mengancam. Putra sulung mereka, Gabriel, dipenuhi tanda tanya, sementara Isabelita menghadapi bahaya di perantauan. Di tengah ancaman balas dendam musuh lama, Amelia harus memutuskan apa yang perlu dikorbankan demi keselamatan orang terkasih. Sebuah kisah tentang cinta dan keberanian untuk melepaskan.
Sampul Novel Gairah Liar Perselingkuhan
9.6
Kaindra terjebak dalam pernikahan hampa dengan Tanika, sosialita yang diduga berkhianat. Alih-alih konfrontasi, ia memilih balas dendam melalui perselingkuhan panas bersama Fiona, rekan kerjanya. Demi mengungkap rahasia sang istri, Kaindra juga mendekati Isvara, sahabat Tanika yang penuh manipulasi. Di tengah labirin kebohongan dan gairah terlarang, Kaindra harus memilih: terus mencari kebenaran yang menghancurkan atau menghentikan permainan berbahaya ini sebelum segalanya musnah.
Sampul Novel Keangkuhan dan Kesombongan
9.2
Berlatar Jawa abad ke-19, Anisa adalah gadis cerdas yang beradu prinsip dengan Raditya, pemuda kota yang angkuh. Awalnya Raditya meremehkan Anisa, sementara Anisa memandangnya sombong. Di tengah tekanan perjodohan keluarga dan perbedaan kelas sosial, benih cinta mulai tumbuh. Keduanya harus melawan ego dan tradisi demi menyatu. Kisah ini mengikuti perjuangan mereka melampaui prasangka demi menemukan cinta sejati yang tulus tanpa sekat kasta.
Sampul Novel Kubalas Selingkuh Suamiku dengan Indah
9.2
Zivanna Yahya mencintai Rio Wibisono dengan ketulusan yang tak terhingga. Namun, Rio justru memintanya untuk tidak mencintai terlalu dalam demi menghindari luka. Di tengah kerumitan tersebut, muncul Gregory Abel yang tidak memedulikan batasan moral. Baginya, mencintai milik orang lain adalah sebuah dosa paling indah, dan ia bertekad untuk memiliki Zivanna sepenuhnya. Kisah ini terjebak dalam pengkhianatan dan obsesi yang mengancam kebahagiaan mereka semua.