
Aku Simpanan Tante-Tante
Bab 3
Andra sedikit merendahkan kaki-kakinya. Sekali lesak, kewanitaan Tante Siska sudah berhasil Andra bobol. Wanita itu memekik tertahan lalu mendesah. Kali ini Andra yang menggempurnya habis-habisan dari arah belakang. Pemuda itu mengentak-entakkan rudal miliknya menembus area sensitif yang sudah basah.
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Tante Siska menegang. Dinding-dinding kewanitaannya bisa Andra rasakan berkedut dan mencengkeram.
Andra mencabut dan menggenggam rudal miliknya. Dia membalikkan tubuh Tante Siska menghadap ke arahnya. "Isap, Tante. Please ...."
Tante Siska tersenyum lalu berjongkok. Lidahnya yang nakal memainkan kepala rudal milik Andra, menari-nari, menggelitik membuat sensasi nikmat tiada tiara bagi Andra.
Tante Siska memang terbaik jika mengenai urusan ini. Dia pintar menerbangkan Andra hingga ke awang-awang.
Andra sedikit menggerakkan pinggul. Bergoyang seirama gerakan kepala wanita itu. Namun, Andra belum mau menyerah kalah. Andra menyambar bahu Tante Siska dan membuatnya kembali berdiri. Leher Tante Siska yang sekal dan wangi, Andra ciumi bertubi-tubi.
Bibir Andra turun ke bawah, dia menghisap secuil puting yang keras. Andra benamkan wajahnya di antara gunung kembar Tante Siska yang wangi dan montok.
Andra sangat menyukai aroma alami tubuh Tante Siska.
"Sekalian urutin, Tante. Disayang-sayang, dong," kata Andra saat dia merasakan tangan Tante Siska meraba-raba rudal milik Andra.
Tante Siska patuh. Jemari tangan wanita itu mengurut batangan milik Andra. Dari ujung hingga pangkal. Jika dengan Tante Siska, Andra bisa berlama-lama menikmatinya.
Andra mengambil lagi kendali, lalu dia mengangkat sebelah paha Tante Siska. Lagi-lagi Andra melesakkan rudal ke lubang di sana. Tante Siska merem melek dibuatnya. Begitu menikmati tiap gerakan pinggul Andra. Untuk kedua kalinya Tante Siska mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara.
"Kamu malah belum, Ndra. Tante bantu, ya."
Tante Siska mendorong mundur tubuh Andra, mendudukkan pemuda itu ke atas penutup toilet duduk. Sambil membelakangi, Tante Siska mengambil posisi.
"Akhh ... sungguh nikmat." Andra berkata. Dia merasakan kehangatan bokong montok wanita itu.
Tante Siska mulai bergerak. Naik turun. Andra sembari memeluk tubuh Tante Siska dari belakang sambil menciumi leher dan meremas gunung kembar Tante Siska.
"Ahkk ... sungguh nikmat, Tante."
"Aku keluar sekarang, Tante."
Seakan tak peduli, Tante Siska semakin memompa bokongnya. Di saat Andra hendak mencapai puncak, dia menahan gerakan Tante Siska. Membiarkan rudal milik Andra terbenam keseluruhan dan berkedut di dalam liang wanita itu dengan kedua telapak tangan yang masih meremas payudara dan mengecup belakang leher Tante Siska.
"Akhhh ... Tante. Hmm."
***
Mereka berdua makan malam di sisi kolam renang. Tidak ada pembantu atau pun tukang kebun. Tante Siska meminta para asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya itu untuk pergi jika Andra datang berkunjung.
Jadi hanya ada mereka berdua saja sekarang. Sambil mendengarkan beberapa keluhan Tante Siska, Andra menikmati irisan daging steak-nya perlahan-lahan.
"Tadi kenapa teleponku gak diangkat, sih, Ndra?" Tante Siska memasukkan potongan besar daging ke mulutnya. Secara sensual menjilati saus yang menempel pada bibir. Andra tak ingin melewati pemandangan itu dan tak segera menjawab tanya dari Tante Siska.
"Ndra?" Tante Siska mengulang. Heran menatap Andra.
"Bibir Tante seksi." Andra nyengir.
"Kamu pinter, ya mengalihkan pembicaraan."
Andra meraih segelas air putih lalu meneguk setengah isinya. "Tadi aku ganti ban dulu, Tante. Bocor pas di jalan tol."
"Kok, bisa?"
Andra mengedik bahu. "Ya ... mungkin pas lagi apes."
Itu hanya alasan Andra saja. Hubungannya dengan Tante Silvi terjadi di belakang Tante Siska. Tante Siska sama sekali tidak ingin berbagi tubuh Andra dengan wanita lain, sedangkan Tante Silvi sendiri tau akan hal itu. Tante Silvi memaklumi jika dirinya hanya sebagai ban serep saja.
Tante Siska menyelesaikan makannya. Wanita itu mendorong piring yang masih berisi setengah ke tengah meja. Wanita itu berdiri lalu melepaskan piyama handuk yang dia kenakan. Tubuhnya kini menggoda dengan terbalut bikini hitam. Kontras sekali dengan kulitnya yang putih mulus.
"Tante mau berenang," katanya pada Andra.
Byur!
Tante Siska melompat ke dalam air. Mata Andra tak pernah lepas dari body-nya yang bagai gitar Spanyol.
Tante Siska berenang ke ujung dengan gaya bebas. Berbalik arah dengan gaya telentang. Gunung kembarnya yang padat berisi, menyembul di balik bikini. Mengapung mengkilat tertimpa sinar lampu sisi kolam renang.
Libido Andra naik kembali. Tanpa ragu, pemuda itu melepaskan celana boxer-nya.
Kini badan Andra bugil. Sekali lompat, Andra menyusul Tante Siska ke dalam kolam renang. Andra telah berada di sebelah Tante Siska.
"Hei, kamu tumben mau ikutan?" Tante Siska terperangah.
"Aku gak tahan dengan ini." Sekali rengkuh, Andra menarik tubuh Tante Siska. Pemuda itu memepetkan tubuh Tante Siska ke tepian kolam. Satu kali tarikan tali, bikini Tante Siska terlepas. Sepasang gunung sintal, mengapung bebas. Sekali lahap, Andra menyambar dengan mulutnya. Meremas dan menggigit pelan puting dengan bibir.
Wanita itu melenguh. Menikmati setiap sentuhan bibir Andra. Pemuda itu memang menggila jika bersama dengan Tante Siska. Tak ayal waktu yang dihabiskannya, hanya bercinta saja dengan wanita itu.
"Masukin sekarang, Ndra, ayo masukin!" Tante Siska terpekik-pekik tidak sabaran.
Andra terkekeh dibuatnya. Jemari Andra turun ke bawah, menyibak tali bikini yang dipakai Tante Siska.
Tante Siska telah mengambil posisi, melebarkan kedua pahanya.
Slup!
Rudal milik Andra kembali membobol kewanitaan Tante Siska.
"Ahhh ...." Tante Siska mendesah.
Kecipuk-kecipuk air terdengar menampar-nampar tepian dinding kolam renang saat pasangan berbeda usia itu saling beradu raga.
***
Waktu menunjukkan pukul 23.00 malam. Andra pamit pulang meski Tante Siska mati-matian menahan kepergiannya. Percuma saja Andra menginap. Andra tidak akan bisa tidur nyenyak di sebelah wanita seksi itu.
Mobil yang Andra kendarai tetap melaju perlahan, meski di simpang empat lampu merah tak ada kendaraan sama sekali.
Menoleh ke arah kanan, Andra menatap seorang ibu dan dua orang anaknya saling peluk dalam dinginnya suhu udara malam. Andra mengedarkan mata ke sekitar. Tak ada lagi warung makan atau toko yang buka.
Andra selalu merasa kasihan jika melihat kondisi seseorang yang terlunta-lunta di jalanan. Rasa dingin yang menusuk kulit, rasa lapar yang menyiksa serta sakit karena cemoohan orang, dulu pernah Andra rasakan waktu dulu ketika pemuda itu memutuskan untuk pergi dari rumah orang tua asuhnya.
Untungnya ada beberapa pengemis yang menawari Andra makanan. Meski hanya nasi putih dan tempe sepotong, perlakuan mereka terus melekat dalam ingatan Andra.
Itu sebabnya, Andra tidak pernah perhitungan pada kaum papa di jalanan. Seringkali Andra memberi uang atau langsung mengajak mereka makan di warung.
Namun, kali ini Andra tidak bisa berbuat banyak. Andra mengetuk-ngetuk setir mobil sambil mencari akal. Ah ... tiba-tiba saja Andra teringat rumah makan cepat saji yang buka selama 24 jam di depan apartemen tempat tinggalnya. Jaraknya dari lampu merah ini tidak begitu jauh lagi.
Andra injak gas setelah lampu hijau menyala. Dia melajukan mobil secara cepat. Memasuki jalur drive thru, Andra memesan empat paket porsi besar ayam goreng beserta nasi, kentang dan juga minuman soda.
Tak menunggu lama, bingkisan berisi makanan tersebut sudah berada di jok sebelah Andra. Andra kendarai lagi mobil ke arah tadi. Lalu sengaja menghentikan lajunya di depan ketiga orang berbaju lusuh yang tidur beralaskan kardus bekas.
Suara mesin mobil Andra, ternyata membangunkan sang ibu. Sehabis mengucek mata dia bangkit duduk. Andra berjongkok di depannya, dengan tangan terjulur menyodorkan tiga bingkisan tadi.
"Makan bareng aku, yok, Bu? Bangunkan anak-anak Ibu. Lebih seru kalo kita makan rame-rame."
Wanita berkulit kecokelatan itu tersenyum senang lantas mengangguk. Dia segera membangunkan kedua bocah dengan menggoyang-goyangkan tubuh mereka.
Anaknya yang lebih besar bangun terlebih dulu. Matanya berbinar menatap gambar di kantong plastik yang tergeletak di depannya. Dia juga ikut membantu ibunya membangunkan sang adik.
Respons bocah yang kedua sama, semringah. Seperti baru pertama kali melihat makanan yang mahal.
Lima menit kemudian Andra dan ketiga anak-beranak itu makan dengan lahap. Andra sendiri duduk dengan beralaskan kardus yang dipinjamkan si ibu, duduk tanpa canggung menyantap makanan bersama-sama dengan mereka.
Bagi Andra, rasanya seperti mengulang masa lalu. Duduk di trotoar tepi jalan, makan bersama-sama dengan para pengemis. Tak peduli pada tatapan heran atau bergidik jijik dari orang-orang yang berlalu lalang. Bagi Andra saat itu, yang penting hari ini dia dapat makan kenyang dan tidur dengan perut terisi.
Urusan besok, ya, besok saja. Besok mereka bisa bekerja kembali dan mengulang rutinitas yang sama. Karena tidak seperti orang kaya, mereka tidak pernah memikirkan masa depan. Memikirkan ingin jadi apa atau seperti apa nantinya. Tidak menjadi beban orang lain saja mereka sudah bersyukur.
Bagi mereka, impian hanya beban yang membuat diri menjadi malas bekerja keras untuk mencari sesuap nasi.
***
Anda Mungkin Juga Suka





