
Aku Menikah dengan Pria yang Masih Mencintai Mantannya
Bab 3
Pagi itu terasa berbeda bagi Alika. Langit mendung menutupi sinar matahari, dan udara di sekitar rumah terasa berat. Ada sesuatu yang memberat di dadanya, seakan alam pun menahan napas, menunggu ledakan emosi yang mungkin terjadi. Alika duduk di meja makan, menatap secangkir teh yang mulai dingin. Ponselnya bergetar, namun ia menunda melihat pesan yang masuk. Ia tahu, setiap kata yang muncul di layar ponsel bisa memicu rasa sakit yang lebih dalam.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu ruang tamu. Daffa masuk, wajahnya kusut dan lelah. Alika menatapnya, mencoba menahan perasaan yang berkecamuk. "Pagi, Alik," sapanya, suaranya rendah.
"Pagi," jawab Alika singkat. Ada jarak yang nyata antara mereka, meski secara fisik berada di ruangan yang sama.
Daffa menunduk, menarik napas panjang. "Kita perlu bicara... tentang kemarin. Tentang semua orang di sekitar kita yang mulai ikut campur."
Alika menghela napas, menunduk. "Aku tahu. Aku sudah merasakannya sejak pagi tadi. Gosip, tatapan, komentar... semuanya membuatku tersiksa. Tapi aku tidak bisa mengubah orang-orang itu. Kita hanya bisa mengendalikan diri kita sendiri."
Daffa menatapnya lama. "Aku juga merasa tersiksa, Alik. Aku tidak ingin kau terluka... tapi aku juga tidak bisa menahan diri saat mendengar komentar mereka tentang kita. Rasanya seperti mereka ikut memutuskan hidup kita."
Alika menelan ludah. "Itulah masalahnya, Daffa. Dunia ini seakan menilai kita, bukan keputusan kita sendiri. Setiap tatapan, setiap bisik-bisik... menusuk hatiku."
Daffa menunduk, tangannya mengepal di pinggir meja. "Aku... aku tidak tahu bagaimana caranya tetap tenang saat semua orang menatapku dengan nada menghakimi. Aku merasa... terpojok, Alik."
Alika menghela napas panjang. "Kita harus tetap tegar, Daffa. Aku juga tersiksa... tapi kita tidak bisa membiarkan dunia menghancurkan kita. Kita harus tetap fokus pada keputusan kita sendiri."
Tiba-tiba, ponsel Alika bergetar keras. Sebuah pesan masuk dari ibunya, Sri Lestari.
"Alika, aku dengar kabar dari tetangga... kau benar-benar ingin berpisah dari Daffa? Kenapa? Apa yang terjadi pada kalian berdua? Kau harus bicara dengan ibumu dulu sebelum membuat keputusan yang salah."
Alika menatap layar, hatinya semakin berat. Ia menutup mata, menarik napas dalam-dalam. "Ini tidak mudah... tapi aku harus tegas." Ia membalas pesan singkat:
"Ibu... aku sudah memikirkan semuanya. Ini keputusan yang tepat untuk kami berdua. Aku harap ibu bisa mengerti."
Tak lama kemudian, suara ketukan terdengar lagi. Kali ini lebih keras, lebih tegas. Alika dan Daffa menatap satu sama lain sebelum Daffa berdiri dan membuka pintu. Ternyata, Hendra Ardhana, ayah Daffa, hadir lebih awal dari biasanya. Wajahnya tegang, mata tajam menatap mereka.
"Kita harus bicara sekarang!" tegas Hendra, masuk tanpa menunggu izin. "Aku tidak bisa membiarkan hal ini berlarut-larut. Alika, Daffa... kalian harus mengerti konsekuensi dari keputusan ini."
Alika menegakkan tubuhnya, menatap Hendra. "Pak Hendra... aku menghargai perhatian Bapak. Tapi keputusan ini adalah keputusan kami. Aku sudah mempertimbangkannya dengan matang."
Hendra menepuk meja dengan keras. "Alika! Kau mungkin tidak mengerti... ini bukan hanya soal kalian. Nama keluarga, reputasi, dan masa depan Daffa-semuanya bisa rusak jika keputusan ini terus dijalankan. Kau pikir orang-orang di sekitar kita akan diam saja? Mereka akan menilai, dan tidak semua orang akan berpihak pada kalian."
Daffa menatap ayahnya, merasa tercekik oleh ketegangan yang semakin memuncak. "Ayah... aku tahu ini sulit. Tapi aku tidak bisa memaksa Alika tetap bersamaku. Aku ingin kita berpisah dengan baik."
Hendra menutup mata, menghela napas panjang, lalu menatap tajam Alika. "Alika... apakah kau benar-benar memahami apa artinya ini? Kau akan menjadi pusat perhatian, gosip, bahkan beberapa orang akan berusaha mencelakakanmu secara halus. Kau yakin bisa menghadapi itu?"
Alika menunduk, menahan air mata. "Aku siap, Pak Hendra. Aku hanya ingin hidup dengan tenang... tanpa terus merasa tersiksa. Aku percaya ini yang terbaik."
Suasana menjadi tegang. Daffa duduk kembali, wajahnya menahan amarah dan kesedihan sekaligus. "Ayah... aku tidak ingin kau marah. Aku hanya ingin kita bisa menerima kenyataan ini."
Hendra menepuk meja lagi, keras. "Aku tidak marah... aku hanya ingin kalian sadar akan risiko yang kalian ambil. Dunia ini tidak mudah, dan kalian berdua akan merasakan semua konsekuensinya."
Alika menghela napas panjang. "Aku sadar, Pak. Tapi aku tidak bisa terus hidup dalam perasaan yang menyiksa ini. Aku harus tegas."
Hari itu, ketegangan semakin memuncak. Tetangga mulai melirik saat mereka keluar rumah, komentar sinis terdengar samar dari beberapa orang, dan gosip mulai beredar lebih cepat daripada yang mereka duga. Alika merasakan setiap tatapan menusuk hatinya, sementara Daffa berjuang menahan diri agar tidak kehilangan kontrol.
Malam harinya, pertengkaran yang lama tertahan akhirnya meledak di ruang tamu. Daffa merasa tekanan dari luar semakin berat, sementara Alika merasa tersudut oleh dunia yang menilai keputusan mereka.
"Kau tidak mengerti, Alik!" teriak Daffa, suaranya meninggi untuk pertama kalinya sejak minggu-minggu terakhir. "Setiap orang menatap kita, setiap orang menghakimi... aku merasa seperti terjebak dalam penjara!"
Alika menatapnya, air matanya menetes. "Aku juga merasa tersiksa, Daffa! Aku harus menghadapi tatapan, komentar, dan bisik-bisik orang-orang... tapi kau tidak mengerti bagaimana rasanya! Kau bahkan tidak peduli dengan rasa sakitku!"
Daffa menunduk, menahan amarah yang hampir meledak. "Aku peduli... tapi aku juga manusia, Alik! Aku bukan robot yang bisa menahan semua tekanan tanpa merasa sakit!"
Suasana menjadi hening sejenak. Hanya terdengar napas mereka yang tersengal dan detak jam dinding yang begitu nyata. Mereka tahu, pertengkaran ini bukan hanya soal kata-kata, tapi soal tekanan dari dunia luar yang memaksa mereka saling menuding dan menyalahkan.
Alika menunduk, menatap tangan mereka yang hampir bersentuhan tapi tak berani digenggam. "Aku... aku hanya ingin kita tetap tegar, Daffa. Meski semua orang menentang, aku ingin kita bisa menghargai satu sama lain."
Daffa menghela napas panjang, menatap Alika. "Aku juga ingin... tapi rasanya begitu sulit. Dunia ini menekan kita terlalu keras, dan aku takut aku akan kehilangan diriku sendiri jika terus menahan semuanya."
Mereka duduk diam bersama, menahan air mata dan amarah. Keduanya tahu, pertarungan emosional ini baru permulaan. Dunia luar, gosip, keluarga, dan tekanan sosial akan terus menguji keteguhan mereka.
Namun di balik semua luka itu, ada satu benang harapan yang samar: bahwa mereka akan menemukan cara untuk tetap kuat, belajar menerima kenyataan, dan menjaga rasa hormat satu sama lain meski harus berjalan di jalan yang berbeda.
Malam itu, Alika menatap langit dari balkon. Hujan mulai turun, rintiknya menempel di kaca jendela. Ia merasakan dingin menembus tulangnya, tapi juga ada ketenangan yang mulai tumbuh. "Aku harus tegar... untuk diriku sendiri," bisiknya.
Daffa, di ruang tamu, menatap foto pernikahan mereka yang kini tampak seperti kenangan dari dunia lain. Senyum mereka di foto itu terasa jauh, tapi ia tahu, cinta yang pernah ada tidak akan hilang begitu saja. Ia menutup mata, menenangkan hati, dan berbisik, "Aku harus kuat... meski dunia menentangku."
Pagi itu, kota seolah membisikkan ketegangan. Matahari terhalang awan tebal, dan hujan rintik-rintik membuat jalanan basah licin. Alika berdiri di jendela, menatap jalan di bawah rumahnya, menyadari bahwa setiap tetes hujan seakan menandai tekanan yang ia rasakan sejak beberapa hari terakhir.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Rina:
"Alik, aku dengar kabar dari kantor Daffa… gosip tentang kalian sudah sampai ke beberapa orang penting. Mereka mulai membicarakan kalian, bahkan menebak alasan perpisahan kalian. Kau harus hati-hati."
Alika menghela napas panjang. "Aku tahu… dan aku sudah menyiapkan diri. Tapi rasanya… dunia ini terlalu kejam."
Tidak ada waktu untuk bersantai. Hari itu, Alika harus menghadiri rapat kantor yang mendesak. Setiap langkah di luar rumah seakan diiringi tatapan penasaran, komentar samar, dan bisik-bisik tetangga. Ia menunduk, menahan rasa malu dan sakit hati. Bahkan beberapa teman lama yang biasanya akrab, kini bersikap canggung, menatapnya dengan nada ingin tahu yang menusuk.
Di sisi lain kota, Daffa juga merasakan tekanan yang sama. Gosip yang beredar membuatnya harus menghadapi pertanyaan dari rekan kerja dan atasan. Beberapa komentar yang terdengar santai namun penuh sindiran membuatnya merasa tersudut. Ia tahu, nama baik keluarga dan reputasinya dipertaruhkan.
Ketegangan ini semakin meningkat ketika Hendra Ardhana menelpon Daffa. “Daffa… kita harus bicara. Aku dengar beberapa orang mulai mempertanyakan keputusan kalian. Kau harus menjaga citramu, dan jangan sampai gosip ini merusak reputasimu di mata publik.”
Daffa menutup telepon, menatap foto pernikahannya dengan Alika. Senyum mereka di foto itu tampak jauh, seakan milik dunia lain. Ia merasakan rasa sakit yang begitu dalam—kehilangan, kebingungan, dan tanggung jawab yang menekan dadanya.
Sore harinya, Alika kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ia merasa lega karena berhasil melewati tatapan orang-orang, tapi lelah karena tekanan yang terus menghantui. Begitu sampai, ia menemukan tetangga berkumpul di depan rumah, menatap dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Salah satu tetangga, Ibu Rika, mendekat dengan senyum yang dipaksakan. “Alik… aku dengar kabar… apakah benar kau dan Daffa akan berpisah? Apa yang terjadi?”
Alika menelan ludah, mencoba tetap tegar. “Iya… kami sudah memutuskan ini. Semoga semuanya bisa berjalan baik.”
Tetangga itu mengangguk pelan, tapi Alika tahu, komentar seperti ini akan terus berdatangan. Dunia luar seolah menjadi labirin tekanan yang tidak akan pernah ia hindari.
Malam harinya, pertengkaran yang telah lama tertahan kembali muncul. Daffa duduk di ruang tamu, wajahnya terlihat tegang dan lelah. “Alik… kita harus bicara. Aku tidak bisa lagi menahan semua tekanan ini. Gosip, tatapan, komentar… aku merasa seperti dunia menentang kita!”
Alika menatapnya, air matanya menetes. “Aku juga merasakan hal yang sama, Daffa! Tapi kita tidak bisa saling menyalahkan. Dunia luar akan terus menekan kita, dan kita harus belajar menghadapi semuanya.”
Pertengkaran semakin memanas. Kata-kata yang sebelumnya tertahan kini keluar dengan deras, menimbulkan luka yang lebih dalam. “Kau tidak mengerti rasaku, Alik!” teriak Daffa. “Setiap orang menatap kita, setiap orang menilai… aku merasa tersiksa!”
Alika menunduk, menahan tangis yang hampir pecah. “Aku juga tersiksa! Tapi kau tidak peduli bagaimana rasanya menjadi pusat perhatian, menjadi bahan gosip, dan harus menghadapi tatapan penuh penilaian dari semua orang?!”
Suasana menjadi hening sejenak. Hanya terdengar dentingan hujan di jendela dan detak jam dinding yang semakin terasa. Mereka duduk diam, menahan napas, menyadari bahwa pertarungan ini bukan sekadar soal pribadi, tapi soal dunia luar yang menekan mereka tanpa ampun.
Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan konflik yang lebih kompleks. Tetangga mulai ikut campur, beberapa anggota keluarga memberi komentar yang seakan menghakimi, dan teman-teman di kantor bersikap canggung atau bahkan sinis. Alika dan Daffa mencoba menjaga ketenangan, tapi tekanan yang terus-menerus mulai menimbulkan retakan di antara mereka.
Suatu sore, saat Alika sedang menyiapkan makan malam, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Laras:
"Alik… hati-hati. Beberapa orang mulai menyebarkan cerita yang tidak benar tentangmu. Jangan biarkan mereka memengaruhi keputusanmu."
Alika menatap layar ponsel, menahan napas panjang. Ia tahu sahabatnya benar. Dunia luar tidak akan membiarkan keputusan mereka berjalan mulus. “Aku harus kuat… untuk diriku sendiri,” gumamnya.
Daffa, di ruang tamu, menatap foto pernikahan mereka. Senyum mereka di foto itu terasa jauh, tapi ia tahu, cinta yang pernah ada tidak akan hilang begitu saja. Ia menutup mata, menenangkan hati, dan berbisik, “Aku harus kuat… meski dunia menentangku.”
Krisis semakin memuncak ketika seorang kerabat jauh datang ke rumah, membawa pertanyaan yang menyudutkan. “Alik… Daffa… apakah kalian benar-benar yakin dengan keputusan ini? Kau tahu, ini akan menjadi bahan pembicaraan panjang di keluarga. Apa kalian siap menghadapi semua konsekuensinya?”
Alika menunduk, menahan air mata. “Kami siap. Ini keputusan kami, dan kami percaya ini yang terbaik.”
Kerabat itu menatap mereka lama, lalu menepuk bahu mereka dengan nada prihatin. “Aku hanya berharap kalian bisa bertahan. Dunia di luar sana tidak selalu berpihak pada keputusan seperti ini. Kalian harus tetap kuat.”
Hari demi hari berlalu, dan tekanan sosial mulai memuncak. Beberapa rekan kerja menatap Daffa dengan nada sinis, beberapa tetangga mulai menyebarkan gosip yang tidak sepenuhnya benar, dan beberapa anggota keluarga tetap mencoba memengaruhi keputusan mereka. Alika dan Daffa belajar menahan diri, menjaga emosi, dan menghadapi semuanya dengan kepala tegak, meski hati mereka remuk.
Malam itu, hujan turun lebih deras. Alika duduk di balkon, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Rintik hujan menempel di kaca jendela, membasahi sedikit rambutnya. Ia merasakan dingin menembus tulangnya, tapi juga ada rasa lega yang samar. “Aku harus tegar… meski dunia menentangku,” gumamnya.
Daffa, di ruang tamu, menatap foto pernikahan mereka. Senyum mereka di foto itu tampak seperti kenangan dari dunia lain. Ia menutup mata, menenangkan hati, dan berbisik, “Aku harus kuat… meski dunia menentangku.”
Anda Mungkin Juga Suka





