
Aku Membenci Setiap Detik Bersamamu
Bab 3
Pagi itu, Alira membuka mata dengan rasa kantuk yang masih membekas. Ia merasakan perutnya mulai membesar, bayi di rahimnya sudah aktif sejak dini hari. Tendangan-tendangan kecil itu terasa seperti pengingat bahwa hidupnya bukan lagi hanya miliknya sendiri-anak kecil itu membutuhkan perlindungan, perhatian, dan cinta tanpa syarat.
Di dapur, Serena sudah menyiapkan sarapan sederhana. "Kau terlihat lelah, Alira. Tidurmu tadi malam cukup?" tanyanya sambil menuangkan secangkir kopi hangat.
Alira menggeleng. "Tidak terlalu... tapi aku baik-baik saja. Aku hanya berpikir tentang semua yang harus kulakukan hari ini. Dokumen hukum, pekerjaan, dan persiapan bayi."
Serena duduk di seberang meja, menatap sahabatnya dengan penuh perhatian. "Kau tahu, aku khawatir tentang dunia luar. Orang-orang yang tidak tahu tentang kondisimu mungkin mulai berspekulasi, dan kadang-kadang orang kaya seperti Damian punya cara untuk membuat masalah muncul, meski mereka tidak bertemu langsung."
Alira menundukkan kepala, menelan ludah. "Aku tahu... aku harus lebih berhati-hati. Tapi aku tidak bisa hidup dalam ketakutan selamanya. Aku harus tetap kuat, untuk anakku."
Setelah sarapan, mereka berangkat ke sebuah kantor pengacara untuk membahas hak asuh dan rencana pengamanan lebih lanjut. Alira merasa gugup, tapi ia tahu ini langkah penting. Marcus, pengacara muda yang beberapa minggu terakhir membimbingnya, sudah menyiapkan rencana strategi lengkap.
"Alira, kita harus mengantisipasi semua kemungkinan. Damian mungkin mencoba menggunakan jaringan bisnis dan pengaruhnya untuk menekanmu," kata Marcus sambil membuka dokumen di layar komputer.
Alira mengangguk, mencoba menyerap semua informasi itu. "Aku siap. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil kendali atas anakku atau hidupku."
Marcus tersenyum tipis. "Itu sikap yang tepat. Tapi kau juga harus bersiap untuk menghadapi tekanan emosional. Tidak mudah menghadapi seseorang yang pernah kau cintai, tapi sekarang menjadi ancaman potensial bagi keselamatanmu."
Alira menelan ludah, ingatannya kembali pada Damian-senyum yang dulu menenangkan, tatapan yang membuatnya merasa dicintai, dan kata-kata yang menghancurkan dunia yang ia bangun. "Aku tidak akan jatuh lagi," gumamnya dalam hati.
Keesokan harinya, Alira mulai menata kamar bayi di rumah Serena. Ruangan kecil itu perlahan berubah menjadi ruang hangat penuh cinta. Alira memilih warna lembut, membeli lemari pakaian kecil, menggantung boneka-boneka lucu, dan menyiapkan tempat tidur bayi dengan hati-hati. Setiap aktivitas kecil memberinya rasa kontrol yang hilang selama bertahun-tahun.
Serena menatap sahabatnya sambil tersenyum. "Lihat, Alira. Kau bisa membuat semuanya terasa hangat dan aman. Bayimu akan merasa nyaman di sini."
Alira tersenyum tipis, menepuk perutnya. "Aku ingin dia merasa dicintai, Serena. Aku ingin dia tahu bahwa dunia ini bisa menjadi tempat yang aman, meski mama pernah terluka."
Meskipun begitu, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suatu sore, saat Alira sedang berbelanja perlengkapan bayi di pusat perbelanjaan, ia merasa ada mata yang mengawasinya. Perasaan itu muncul begitu kuat hingga membuatnya berhenti sejenak. Ia menoleh, dan bayangan pria tinggi dengan jas rapi tampak di ujung lorong-namun sebelum ia bisa memastikan, pria itu menghilang di kerumunan.
Alira menelan ludah, rasa takut mulai merayapi tubuhnya. Ia tahu dunia Damian selalu penuh intrik, dan meski ia berusaha menjauh, bayangannya tetap mengikuti. Dengan cepat, ia menelepon Serena.
"Serena... ada seseorang yang mengikuti aku di pusat perbelanjaan. Aku tidak bisa melihat wajahnya jelas, tapi... aku merasa ini serius," kata Alira dengan suara tegang.
Serena menghela napas. "Tenang, aku akan segera menjemputmu. Jangan panik dan tetap di tempat ramai. Kita tidak tahu siapa itu, tapi kita akan tetap waspada."
Tak lama kemudian, Serena tiba. Mereka kembali ke rumah dengan mobil Serena, dan Alira merasakan ketegangan perlahan mereda. Tapi hatinya tetap waspada. Ia tahu ini baru permulaan, dan langkah-langkahnya untuk melindungi anaknya harus lebih sistematis.
Keesokan harinya, Marcus menyarankan untuk memasang sistem keamanan tambahan di rumah Serena: kamera tersembunyi, alarm, dan protokol darurat. Alira setuju. Ia menyadari bahwa menjaga anak dan dirinya sendiri bukan sekadar soal cinta dan niat baik, tapi juga strategi dan perlindungan nyata.
Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang semakin padat. Alira bekerja dari rumah, mengurus kesehatan dan kebutuhan bayi, serta menyiapkan dokumen legal untuk pertemuan berikutnya dengan Damian dan pengacaranya. Ia juga mulai menulis jurnal harian, mencatat setiap detail pengalaman dan emosinya. Jurnal itu menjadi semacam terapi, membantu Alira menyalurkan rasa takut, kemarahan, dan cinta yang campur aduk.
Suatu malam, ketika Alira sedang menulis di jurnalnya, Serena duduk di samping sambil membawa secangkir teh hangat. "Aku tahu kau kuat, Alira. Tapi jangan lupa untuk memberi dirimu waktu untuk istirahat. Tekanan ini bisa melelahkan, dan kau harus menjaga kesehatan bayi juga."
Alira tersenyum tipis. "Aku tahu, Serena. Tapi rasanya sulit untuk berhenti berpikir tentang semua kemungkinan. Aku ingin memastikan bahwa anakku aman, dan aku tidak mau lengah sedikit pun."
Serena menggenggam tangannya. "Kau tidak sendirian. Aku akan selalu ada di sisimu, dan kita akan menghadapi semuanya bersama."
Malam itu, Alira menatap bintang melalui jendela kamar, merasakan ketenangan yang jarang ia rasakan sejak meninggalkan Damian. Ia tahu dunia Damian selalu penuh ancaman, tapi di sini, bersama sahabatnya, ia merasa sedikit aman. Ia berbisik kepada dirinya sendiri, "Aku akan bertahan. Aku dan anakku akan baik-baik saja. Tidak ada yang bisa mengambil itu dariku."
Beberapa minggu kemudian, Damian mengirim pesan singkat, mengatur pertemuan di sebuah kantor hukum untuk membahas hak kunjungan anak mereka lebih lanjut. Alira menyiapkan diri dengan hati-hati, mencatat semua hal yang perlu dibicarakan, dan memastikan pengacaranya hadir sebagai saksi.
Pertemuan itu berlangsung tegang. Damian masih menunjukkan pesonanya yang menenangkan, tapi ada aura dominasi yang sulit diabaikan. "Alira... aku hanya ingin anak kita mendapat yang terbaik. Aku tidak ingin merusak apa pun," katanya, mencoba terdengar lembut.
Alira menatapnya tegas. "Aku setuju. Tapi kita harus membuat aturan yang jelas. Anak kita membutuhkan stabilitas dan keamanan. Aku tidak akan membiarkan keputusan emosional mempengaruhi hidupnya."
Damian mengangguk perlahan. "Aku mengerti. Kita akan melakukannya secara profesional."
Saat meninggalkan kantor hukum, Alira merasa lega, tapi juga sadar bahwa ini bukan akhir. Dunia Damian tetap menjadi bayangan yang menunggu untuk mengganggu. Ia harus terus waspada, terus merencanakan langkah-langkahnya, dan memastikan keselamatan anak yang sedang tumbuh di rahimnya.
Di rumah, Serena menunggu dengan ekspresi campur aduk: lega dan cemas. "Kau baik-baik saja?" tanyanya.
Alira mengangguk. "Aku baik. Tapi aku tahu ini baru permulaan. Damian mungkin akan mencoba berbagai cara, tapi aku tidak akan mundur. Aku akan melindungi anakku, dan aku akan melakukannya dengan kepala tegak."
Malam itu, Alira duduk di tepi jendela, menatap langit malam, merasakan tendangan kecil bayi di dalam perutnya. Ia tersenyum, air mata mengalir pelan. "Kita akan baik-baik saja, sayang. Mama akan selalu ada untukmu. Tidak ada yang bisa mengambilmu dariku."
Dan di sanalah, di tengah malam yang hening, Alira mulai merencanakan babak baru dalam hidupnya-hidup yang penuh keberanian, keteguhan, dan cinta tanpa syarat. Babak yang akan mengajarinya bahwa meski dunia penuh ancaman, seorang ibu selalu menemukan cara untuk melindungi anaknya, menghadapi musuh, dan bertahan melawan segala kemungkinan.
Pagi itu, udara terasa lebih segar setelah hujan semalam. Alira membuka mata perlahan, merasakan perutnya yang semakin membesar. Bayi yang sedang tumbuh di dalam rahimnya bergerak-gerak dengan lembut, seolah menyadari perubahan yang akan segera terjadi dalam hidup mereka. Ia menepuk perutnya dengan lembut. “Tenang, sayang… Mama di sini. Mama akan selalu melindungimu.”
Serena sudah menyiapkan sarapan di dapur ketika Alira masuk. “Pagi, Alira. Tidurmu cukup?” tanyanya sambil tersenyum hangat.
Alira menatap sahabatnya, masih terasa kantuk di matanya. “Cukup, tapi aku masih memikirkan semua persiapan yang harus kulakukan hari ini. Dokumen hukum, pekerjaan, dan perlengkapan bayi.”
Serena duduk di seberang meja, menatap sahabatnya dengan serius. “Alira… aku pikir kita harus mulai memikirkan keamanan lebih serius. Aku merasa ada orang yang memantau kita. Aku tidak tahu apakah itu terkait Damian atau pihak lain dari dunia bisnisnya, tapi kita tidak boleh lengah.”
Alira menelan ludah, rasa cemas menyelimuti tubuhnya. Ia tahu dunia Damian selalu berisiko, dan meski ia berusaha menjauh, bayangan pria itu tetap mengikuti setiap langkahnya. “Aku mengerti… tapi aku harus tetap fokus pada anakku dan hidup baru ini. Aku tidak bisa hidup dalam ketakutan selamanya,” katanya sambil menegakkan punggung.
Setelah sarapan, mereka berangkat ke kantor konsultan hukum untuk membahas strategi keamanan terbaru. Marcus, pengacara yang beberapa minggu terakhir membimbing Alira, sudah menyiapkan dokumen dan rencana perlindungan yang lebih rinci.
“Alira, kita perlu mempertimbangkan kemungkinan intervensi dari pihak luar. Damian mungkin tidak secara langsung, tapi orang-orang di sekitarnya bisa saja mencoba mengganggu,” kata Marcus sambil membuka dokumen di layar komputer.
Alira mengangguk. “Aku siap. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengancam anakku atau hidupku. Aku harus memastikan semuanya terlindungi.”
Marcus tersenyum tipis. “Itu sikap yang tepat. Tapi kau juga harus siap menghadapi tekanan emosional. Menghadapi seseorang yang pernah kau cintai, tapi kini menjadi potensi ancaman, tidak mudah.”
Alira menelan ludah, mengingat Damian—senyum yang dulu menenangkan, tatapan yang membuatnya merasa dicintai, dan kata-kata yang menghancurkan dunia yang ia bangun. “Aku tidak akan jatuh lagi,” gumamnya dalam hati.
Hari itu, Alira juga mulai menata kamar bayi lebih detail. Ia membeli lemari pakaian kecil, menggantung boneka-boneka lucu, dan menyiapkan tempat tidur bayi dengan hati-hati. Setiap aktivitas memberinya rasa kontrol yang hilang selama bertahun-tahun.
Serena menatap sahabatnya sambil tersenyum. “Lihat, Alira. Kau bisa membuat semuanya hangat dan aman. Bayimu akan merasa nyaman di sini.”
Alira tersenyum tipis, menepuk perutnya. “Aku ingin dia merasa dicintai. Aku ingin dia tahu bahwa dunia ini bisa menjadi tempat yang aman, meski Mama pernah terluka.”
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Suatu sore, saat Alira sedang berbelanja perlengkapan bayi di pusat perbelanjaan, ia merasa ada mata yang mengawasinya. Rasa itu begitu kuat hingga membuatnya berhenti sejenak. Ia menoleh, dan bayangan seorang pria tinggi dengan jas rapi tampak di ujung lorong—namun sebelum ia bisa memastikan, pria itu menghilang di kerumunan.
Alira menelan ludah, rasa takut mulai merayapi tubuhnya. Ia tahu dunia Damian selalu penuh intrik, dan meski ia berusaha menjauh, bayangannya tetap mengikuti. Dengan cepat, ia menelepon Serena.
“Serena… ada seseorang yang mengikuti aku di pusat perbelanjaan. Aku tidak bisa melihat wajahnya jelas, tapi… aku merasa ini serius,” kata Alira dengan suara tegang.
Serena menghela napas. “Tenang, aku akan segera menjemputmu. Jangan panik dan tetap di tempat ramai. Kita tidak tahu siapa itu, tapi kita akan tetap waspada.”
Tak lama kemudian, Serena tiba. Mereka kembali ke rumah dengan mobil Serena, dan Alira merasakan ketegangan perlahan mereda. Tapi hatinya tetap waspada. Ia tahu ini baru permulaan, dan langkah-langkahnya untuk melindungi anaknya harus lebih sistematis.
Keesokan harinya, Marcus menyarankan untuk memasang sistem keamanan tambahan di rumah Serena: kamera tersembunyi, alarm, dan protokol darurat. Alira setuju. Ia menyadari bahwa menjaga anak dan dirinya sendiri bukan sekadar soal cinta dan niat baik, tapi juga strategi dan perlindungan nyata.
Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang semakin padat. Alira bekerja dari rumah, mengurus kesehatan dan kebutuhan bayi, serta menyiapkan dokumen legal untuk pertemuan berikutnya dengan Damian dan pengacaranya. Ia juga mulai menulis jurnal harian, mencatat setiap detail pengalaman dan emosinya. Jurnal itu menjadi semacam terapi, membantu Alira menyalurkan rasa takut, kemarahan, dan cinta yang campur aduk.
Suatu malam, ketika Alira sedang menulis di jurnalnya, Serena duduk di samping sambil membawa secangkir teh hangat. “Aku tahu kau kuat, Alira. Tapi jangan lupa untuk memberi dirimu waktu untuk istirahat. Tekanan ini bisa melelahkan, dan kau harus menjaga kesehatan bayi juga.”
Alira tersenyum tipis. “Aku tahu, Serena. Tapi rasanya sulit untuk berhenti berpikir tentang semua kemungkinan. Aku ingin memastikan bahwa anakku aman, dan aku tidak mau lengah sedikit pun.”
Serena menggenggam tangannya. “Kau tidak sendirian. Aku akan selalu ada di sisimu, dan kita akan menghadapi semuanya bersama.”
Malam itu, Alira menatap bintang melalui jendela kamar, merasakan ketenangan yang jarang ia rasakan sejak meninggalkan Damian. Ia tahu dunia Damian selalu penuh ancaman, tapi di sini, bersama sahabatnya, ia merasa sedikit aman. Ia berbisik kepada dirinya sendiri, “Aku akan bertahan. Aku dan anakku akan baik-baik saja. Tidak ada yang bisa mengambil itu dariku.”
Beberapa minggu kemudian, Damian mengirim pesan singkat, mengatur pertemuan di sebuah kantor hukum untuk membahas hak kunjungan anak mereka lebih lanjut. Alira menyiapkan diri dengan hati-hati, mencatat semua hal yang perlu dibicarakan, dan memastikan pengacaranya hadir sebagai saksi.
Pertemuan itu berlangsung tegang. Damian masih menunjukkan pesonanya yang menenangkan, tapi ada aura dominasi yang sulit diabaikan. “Alira… aku hanya ingin anak kita mendapat yang terbaik. Aku tidak ingin merusak apa pun,” katanya, mencoba terdengar lembut.
Alira menatapnya tegas. “Aku setuju. Tapi kita harus membuat aturan yang jelas. Anak kita membutuhkan stabilitas dan keamanan. Aku tidak akan membiarkan keputusan emosional mempengaruhi hidupnya.”
Damian mengangguk perlahan. “Aku mengerti. Kita akan melakukannya secara profesional.”
Saat meninggalkan kantor hukum, Alira merasa lega, tapi juga sadar bahwa ini bukan akhir. Dunia Damian tetap menjadi bayangan yang menunggu untuk mengganggu. Ia harus terus waspada, terus merencanakan langkah-langkahnya, dan memastikan keselamatan anak yang sedang tumbuh di rahimnya.
Di rumah, Serena menunggu dengan ekspresi campur aduk: lega dan cemas. “Kau baik-baik saja?” tanyanya.
Alira mengangguk. “Aku baik. Tapi aku tahu ini baru permulaan. Damian mungkin akan mencoba berbagai cara, tapi aku tidak akan mundur. Aku akan melindungi anakku, dan aku akan melakukannya dengan kepala tegak.”
Malam itu, Alira duduk di tepi jendela, menatap langit malam, merasakan tendangan kecil bayi di dalam perutnya. Ia tersenyum, air mata mengalir pelan. “Kita akan baik-baik saja, sayang. Mama akan selalu ada untukmu. Tidak ada yang bisa mengambilmu dariku.”
Dan di sanalah, di tengah malam yang hening, Alira mulai merencanakan babak baru dalam hidupnya—hidup yang penuh keberanian, keteguhan, dan cinta tanpa syarat. Babak yang akan mengajarinya bahwa meski dunia penuh ancaman, seorang ibu selalu menemukan cara untuk melindungi anaknya, menghadapi musuh, dan bertahan melawan segala kemungkinan.
Anda Mungkin Juga Suka





