
Aku Kembali Bukan Untuk Cinta
Bab 2
Keputusan telah diambil. Ayla menutup ponselnya, menghela napas panjang, lalu menatap Langit yang masih memegang tangannya erat. Matanya penuh pertanyaan, seolah merasakan kegelisahan yang melanda ibunya. Bagaimana menjelaskan kepada balita ini bahwa kehidupan tenang mereka akan segera terenggut, digantikan oleh badai yang entah kapan akan mereda?
"Langit," Ayla berjongkok, menyamakan tingginya dengan putranya. "Kita akan melakukan perjalanan jauh. Sangat jauh."
Mata Langit berbinar. "Pesawat, Maman?"
Ayla tersenyum kecut. Langit selalu bersemangat jika bicara tentang pesawat. Ia tak tahu, perjalanan kali ini akan lebih dari sekadar petualangan liburan. "Ya, Sayang. Kita akan naik pesawat. Tapi... ini bukan liburan. Kita akan membantu seseorang."
"Siapa?" tanya Langit polos.
Ayla terdiam. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa orang yang akan mereka bantu adalah ayah kandungnya sendiri, yang tidak pernah dikenalnya? Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa keputusannya ini berisiko membuka kembali luka lama, dan mungkin menciptakan luka baru?
"Nanti Maman ceritakan ya," Ayla akhirnya berkata, memeluk putranya erat. "Yang penting, Langit harus selalu di samping Maman, ya?"
Langit mengangguk patuh, membalas pelukan ibunya. Kehangatan tubuh mungil itu memberikan Ayla sedikit keberanian. Ia harus kuat. Demi Langit. Demi menuntaskan apa yang dulu ia mulai.
Dua hari berikutnya di Paris adalah pusaran kesibukan. Ayla menghubungi agen properti untuk mengurus sewa apartemennya, mengurus surat-surat kepindahan Langit dari sekolahnya, dan membereskan segala keperluannya. Ia menjual beberapa perabot yang tidak akan ia bawa, memilih untuk membawa barang-barang esensial dan kenangan-kenangan berharga. Di antara semua itu, ia tak lupa mengemas mainan kesayangan Langit dan buku-buku dongeng favoritnya.
"Apakah kita akan kembali ke sini, Maman?" tanya Langit saat melihat barang-barang mereka dikemas dalam koper-koper besar.
Ayla mengelus rambut putranya. "Kita tidak tahu, Sayang. Tapi yang jelas, Maman akan selalu memastikan Langit aman dan bahagia, di mana pun kita berada."
Ia juga menghubungi beberapa kenalan lama yang masih ia percaya di Indonesia, meminta bantuan untuk menyiapkan tempat tinggal sementara yang aman dan tersembunyi. Ayla tahu, kembali ke Jakarta berarti ia harus ekstra hati-hati. Keberadaannya akan menarik perhatian, terutama dari pihak-pihak yang mungkin tidak ingin Bara diselamatkan.
Malam sebelum keberangkatan, Ayla berdiri di balkon apartemennya. Gemerlap lampu kota Paris, keindahan Menara Eiffel yang menyala, semua itu akan ia tinggalkan. Dulu, Paris adalah pelariannya. Kota ini menyembuhkannya, memberinya kekuatan untuk bangkit. Kini, ia harus kembali ke tempat di mana lukanya pertama kali menganga.
Ia memejamkan mata, membiarkan ingatan tentang Bara menyeruak. Wajahnya yang marah saat ia melarikan diri, tatapan matanya yang penuh pengkhianatan. Ayla tahu, Bara pasti membencinya. Kebencian yang mungkin setara dengan rasa jijik yang dulu ia rasakan terhadap pria itu. Sebuah perjodohan paksa, sebuah ikatan yang tidak ia inginkan. Ia telah memperlakukan Bara dengan kejam, menjebaknya demi kebebasannya sendiri. Dan sekarang, ironisnya, ia harus kembali untuk menyelamatkan Bara.
Sebuah senyum pahit tersungging di bibirnya. Ini bukan tentang Bara lagi, atau dendam masa lalu. Ini tentang keadilan. Tentang membalas budi pada Arini, yang tak pernah meninggalkannya meskipun ia telah menghilang begitu saja. Dan yang terpenting, ini tentang Langit. Ayla ingin Langit tumbuh besar dengan bangga pada ayahnya, apa pun yang terjadi. Jika Bara adalah korban, maka ia harus membantunya.
Perjalanan udara memakan waktu belasan jam. Langit tertidur lelap di pangkuan Ayla, kelelahan setelah seharian penuh dengan pertanyaan dan kebingungan kecilnya. Ayla menatap wajah damai putranya. Ia harus melindungi anak ini dari segala intrik dan bahaya yang mungkin menanti mereka di Jakarta.
Setibanya di bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, suasana hiruk-pikuk langsung menyergap. Udara panas dan lembap khas tropis menyambut mereka, kontras dengan udara sejuk Paris. Ayla menggenggam erat tangan Langit. Langkah pertama telah diinjak.
"Ayla! Langit!"
Sebuah suara familiar memecah keramaian. Arini, dengan senyum lebar dan mata berkaca-kaca, berjalan cepat menghampiri mereka. Ayla tak bisa menahan haru. Arini adalah satu-satunya jembatan penghubung antara dirinya dan masa lalu yang dulu ia tinggalkan.
"Arini!" Ayla memeluk sahabatnya erat, air mata menetes di pipinya. Rasa rindu yang terpendam begitu lama kini tumpah.
"Aku merindukanmu sekali!" bisik Arini, suaranya tercekat. Ia lalu menatap Langit, senyumnya semakin lebar. "Jadi, ini jagoan kecilmu? Dia sangat mirip Bara!"
Ayla segera melepaskan pelukan, menatap Arini dengan peringatan. "Arini, ingat janjimu. Jangan ada yang tahu."
Arini mengangguk cepat, wajahnya serius. "Tentu saja, Ayla. Jangan khawatir. Aku sudah siapkan tempat yang aman untuk kalian."
Mereka menuju sebuah mobil yang sudah menunggu. Ayla merasa aneh. Dulu, ia selalu dijemput oleh sopir pribadi keluarga, mobil mewah, dan pengawal. Sekarang, ia kembali sebagai sosok yang ingin menyelinap tanpa jejak.
Perjalanan dari bandara menuju tempat tinggal sementara mereka terasa seperti menembus lorong waktu. Jakarta yang semakin padat, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, kemacetan yang tak berkesudahan. Semua terasa asing, namun juga akrab.
"Aku menyewa sebuah apartemen kecil di pinggiran kota," Arini menjelaskan, menyadari tatapan Ayla yang menjelajahi pemandangan luar. "Lokasinya cukup tersembunyi, dan keamanannya ketat. Cocok untuk kalian."
Ayla mengangguk, lega. Ia tidak bisa mengambil risiko apa pun dengan Langit.
Setibanya di apartemen, Ayla segera menidurkan Langit yang kembali kelelahan. Setelah memastikan putranya tertidur pulas, ia duduk di sofa ruang tamu, menatap Arini yang kini menyajikan teh hangat.
"Jadi, ceritakan semuanya, Arini," kata Ayla, suaranya pelan. "Detailnya."
Arini menghela napas panjang, raut wajahnya berubah serius. "Situasinya jauh lebih buruk dari yang aku bayangkan, Ayla. Bara benar-benar di ambang kebangkrutan. Perusahaan keluarganya, 'Paramarta Group', sedang diguncang skandal penggelapan dana dan manipulasi laporan keuangan."
"Siapa pelakunya?"
"Pamannya, Wijaya," jawab Arini tanpa ragu. "Dia sudah lama mengincar posisi direktur utama. Bara terlalu percaya padanya. Selama ini, Wijaya adalah kepala divisi keuangan. Dia mengatur semuanya, memanipulasi angka, dan menyalurkan dana ke perusahaan fiktif atas namanya sendiri."
Ayla mendengarkan dengan seksama. Bayangan Wijaya terlintas di benaknya. Pria paruh baya yang selalu terlihat ramah dan suportif, namun tatapannya selalu menyimpan sesuatu. Ia tak pernah menyangka, bahwa di balik senyum itu, ada niat busuk yang tersembunyi.
"Tapi kenapa Bara tidak tahu? Dia direktur utama, kan?"
"Bara memang direktur utama, tapi dia lebih fokus pada pengembangan produk dan inovasi. Urusan keuangan sepenuhnya dipercayakan pada Wijaya. Ditambah lagi, Bara sedang dalam masa-masa sulit setelah... kepergianmu."
Kata-kata Arini menusuk hati Ayla. Ia tahu, kepergiannya pasti meninggalkan luka. Tapi ia tak pernah menyangka akan sejauh ini dampaknya.
"Dia sangat terpukul, Ayla," lanjut Arini, suaranya melembut. "Setelah kamu pergi, dia seperti kehilangan arah. Dia bekerja seperti robot, kurang fokus. Itulah yang dimanfaatkan Wijaya. Dia secara perlahan menggerogoti perusahaan dari dalam."
"Lalu, bagaimana aku bisa membantu?" tanya Ayla, matanya menatap Arini penuh harap. "Aku tidak tahu apa-apa tentang keuangan."
"Bukan itu yang dibutuhkan, Ayla," Arini menggeleng. "Yang dibutuhkan adalah kehadiranmu. Ingat perjanjian pra-nikah itu? Karena kalian belum bercerai, kamu masih memiliki hak sebagai istri sah Bara. Dan hak itu, dalam kondisi seperti ini, bisa menjadi kartu as."
"Maksudmu?"
"Wijaya sedang berusaha menguasai semua aset Paramarta Group, termasuk aset pribadi Bara, dengan dalih menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan. Dia berpura-pura menjadi pahlawan. Tapi jika kamu muncul sebagai istri sah Bara, kamu punya hak untuk menuntut pembagian harta gono-gini, atau bahkan mengambil alih sebagian aset yang sah secara hukum milik Bara, yang Wijaya coba sita."
Ayla mengerutkan kening. "Tapi, bukankah itu justru akan membuat Bara semakin terpuruk?"
"Tidak, jika kamu melakukannya dengan strategis," Arini menjelaskan, matanya berbinar. "Jika kamu menuntut hakmu, itu akan membekukan aset-aset yang Wijaya coba kuasai. Kamu bisa mengajukan gugatan pembatalan pengalihan aset, atau semacamnya. Ini akan memberikan waktu bagi Bara untuk membuktikan bahwa dia dijebak, dan bahwa Wijaya adalah pelakunya. Dengan statusmu sebagai istri sah, langkah hukummu akan memiliki bobot yang kuat. Ini akan menghentikan langkah Wijaya untuk sementara."
"Tapi... bagaimana jika Bara tidak mau bekerja sama denganku?" Ayla membayangkan reaksi Bara saat melihatnya kembali. Marah, kecewa, mungkin jijik.
"Itu risiko yang harus kita ambil," Arini mengakui. "Tapi, Ayla, ini adalah satu-satunya kesempatan. Dia sudah kehilangan segalanya. Keluarga Bara juga sudah putus asa. Ibunya sudah sakit-sakitan karena ini."
Hati Ayla mencelos mendengar kabar ibu Bara. Wanita yang dulu selalu memperlakukannya dengan ramah, meskipun perjodohan itu terasa sangat mencekik. Ibu Bara pasti menderita.
"Kamu harus mendekati Bara, Ayla. Entah bagaimana caranya, kamu harus meyakinkannya untuk percaya padamu. Atau setidaknya, bekerja sama dalam kerangka hukum ini."
"Dan bagaimana dengan Langit?" Ayla kembali pada kekhawatiran utamanya. "Aku tidak bisa membahayakan dia."
"Aku sudah memikirkannya," kata Arini. "Apartemen ini aman. Ada tetangga yang bisa dipercaya, seorang wanita paruh baya yang pensiunan guru. Dia bersedia membantu menjaga Langit selama kamu menjalankan misimu. Dia sangat baik dan penyayang."
Ayla mempertimbangkan. Ini adalah risiko besar. Menyeret Langit ke dalam intrik ini adalah hal terakhir yang ia inginkan. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan Langit tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya, apalagi jika ayahnya hancur karena intrik kejam.
"Aku juga akan membantumu sebisa mungkin, Ayla. Aku akan menjadi mata dan telingamu di luar sana." Arini menatap Ayla dengan tatapan meyakinkan. "Kita akan melewati ini bersama."
Ayla menarik napas dalam-dalam. Ini bukan lagi Paris yang damai. Ini adalah medan perang. Ia harus menjadi strategis, cerdas, dan yang terpenting, tidak boleh gentar. Misi ini tidak hanya tentang menyelamatkan Bara, tapi juga tentang menebus kesalahannya di masa lalu, dan membersihkan nama baiknya sendiri di mata orang-orang yang mungkin mencapnya sebagai wanita murahan yang kembali hanya karena uang.
"Baiklah, Arini," kata Ayla, suaranya mantap. "Apa langkah pertama yang harus kulakukan?"
Arini tersenyum tipis. "Langkah pertama adalah... bertemu Bara. Dan itu tidak akan mudah."
Ayla menatap Langit yang sedang tertidur pulas. Ia tidak tahu bagaimana Bara akan bereaksi. Ia tidak tahu apakah ia bisa meyakinkan Bara untuk bekerja sama. Namun, satu hal yang pasti: ia tidak akan mundur. Ia sudah melangkah kembali ke dalam badai ini, dan ia akan menghadapinya sampai tuntas.
Anda Mungkin Juga Suka





