
Aku Kembali Bukan Untuk Cinta
Bab 3
Pagi itu, Jakarta menyambut Ayla dengan kemacetan yang pekat dan terik matahari yang menyengat. Sejak fajar menyingsing, ia sudah gelisah. Hari ini adalah hari-H. Hari di mana ia akan kembali menghadapi Bara, pria yang ia tinggalkan dan sakiti. Perasaannya campur aduk: gugup, takut, dan sedikit rasa bersalah yang tak bisa ia sangkal. Langit, dengan keceriaan khas anak-anak, sudah asyik bermain di ruang tengah apartemen bersama Bu Lastri, tetangga pensiunan guru yang ramah dan telaten.
"Jangan khawatir, Nak Ayla," kata Bu Lastri, senyumnya menenangkan. "Langit aman bersama saya. Fokus saja dengan urusanmu."
Ayla memaksakan senyum, hatinya sedikit lebih tenang mengetahui putranya berada di tangan yang baik. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Ia memilih pakaian yang sederhana namun elegan: blus putih longgar dan celana panjang hitam, tanpa riasan berlebihan. Ia ingin tampil profesional, bukan menarik perhatian dengan cara yang salah. Bagaimanapun, ini adalah misi, bukan ajang reuni romantis.
Arini sudah menunggu di bawah, di dalam mobil. Suasana di dalam mobil terasa tegang, meskipun Arini berusaha menghidupkan suasana dengan obrolan ringan. Namun, Ayla tak bisa fokus. Pikirannya melayang pada Bara. Bagaimana penampilannya sekarang? Apakah ia kurus? Penuh amarah? Atau justru apatis?
"Kita akan langsung ke kantornya," kata Arini, menyadari kegelisahan Ayla. "Aku sudah bilang pada sekretarisnya kalau ada 'tamu penting' yang ingin bertemu Bara terkait kasus perusahaannya. Aku tidak menyebut namamu, tentu saja."
Ayla mengangguk, jantungnya berdebar kencang. Strategi Arini adalah yang terbaik. Jika ia datang sebagai "istri yang kembali", Bara mungkin akan menolak bertemu atau langsung meluapkan amarah. Tapi sebagai "tamu penting terkait kasus", setidaknya ada peluang Bara mau mendengarkan.
Perjalanan terasa sangat panjang, setiap detik terasa seperti jarum jam yang berputar lambat. Gedung-gedung tinggi Paramarta Group kini terlihat menjulang di kejauhan. Sebuah monumen bisnis yang megah, namun kini terancam runtuh.
Sesampainya di lobi utama, Ayla merasakan tatapan-tatapan penasaran dari beberapa karyawan. Tentu saja, wajahnya mungkin tidak asing bagi mereka yang bekerja di sana bertahun-tahun lalu. Ia mencoba bersikap setenang mungkin, berjalan mengikuti Arini menuju lift.
Di lantai direksi, suasana terasa lebih hening, namun ketegangan terasa begitu nyata. Beberapa karyawan terlihat panik, telepon berdering tanpa henti. Ini adalah efek dari skandal yang melanda Paramarta Group.
"Selamat pagi, Bu Arini," sapa seorang wanita muda, sekretaris Bara, dengan wajah tegang. "Bapak Bara ada di dalam. Tapi... dia tidak mau diganggu."
"Kami sudah ada janji, Lia," kata Arini tegas, tanpa memberikan kesempatan untuk menolak. "Ini sangat penting."
Sekretaris Lia terlihat ragu, namun akhirnya mengangguk dan mengantar mereka ke depan pintu ruang direktur utama. Jantung Ayla serasa ingin meloncat keluar dari dadanya. Ini dia. Momen yang ia tunggu-tunggu, sekaligus ia takuti.
Arini mengetuk pintu, lalu membukanya perlahan. "Bara, ada tamu penting."
Ruangan Bara terasa dingin, suram. Gorden jendela tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari. Meja kerjanya penuh tumpukan berkas yang berantakan, asbak penuh puntung rokok, dan cangkir kopi yang sudah kosong. Aroma kopi pahit dan asap rokok menusuk hidung.
Bara duduk di kursi kebesarannya, membelakangi pintu, menatap ke arah jendela yang tertutup. Bahunya merosot, rambutnya sedikit acak-acakan. Posturnya yang dulu gagah, kini terlihat lelah dan rapuh.
"Aku bilang aku tidak mau diganggu, Lia!" suara Bara serak, penuh frustrasi.
Ayla melangkah masuk, Arini mengikutinya. Pintu tertutup di belakang mereka. Ayla menelan ludah, tangannya dingin.
"Maaf mengganggu, Bara," kata Arini, suaranya lembut. "Tapi ini benar-benar penting. Tamu ini... sangat terkait dengan masalahmu."
Perlahan, Bara memutar kursinya. Dan saat itulah, mata mereka bertemu.
Mata Bara yang dulu selalu memancarkan ketegasan dan kecerdasan, kini terlihat kosong, penuh lingkaran hitam. Wajahnya kurus, pipinya cekung. Kumis tipis yang biasanya selalu rapi kini sedikit berantakan. Ia tampak seperti bayangan dari Bara yang dulu Ayla kenal.
Mata Bara membelalak. Wajahnya pucat, seolah melihat hantu. Ia bangkit dari kursinya, menunjuk Ayla dengan jari gemetar.
"K-kau?" Suaranya tercekat. "Apa... apa yang kau lakukan di sini?"
Ayla merasakan gelombang emosi yang kuat menerpanya. Kemarahan, rasa sakit, keterkejutan, dan juga kelelahan yang terpancar dari Bara, semua itu terasa menyakitkan. Ia sudah mempersiapkan diri untuk kemarahan Bara, namun melihat Bara sekacau ini, membuatnya merasa bersalah.
"Aku datang untuk membantumu, Bara," kata Ayla, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
Tawa Bara pecah, tawa yang kering dan sinis. "Membantuku? Kau? Kau yang menghancurkanku! Kau yang pergi tanpa sepatah kata pun, setelah menjebakku di malam pertama kita! Sekarang kau datang dengan dalih 'membantu'?"
Bara melangkah mendekat, matanya berkobar penuh amarah. Setiap langkahnya terasa seperti ancaman bagi Ayla.
"Apa maumu sekarang, Ayla? Harta? Bukankah kau sudah mendapatkan kebebasanmu? Aku tidak punya apa-apa lagi! Semuanya sudah habis!" Bara berteriak, suaranya bergetar.
"Aku tidak menginginkan hartamu, Bara," Ayla mencoba menjelaskan, tapi Bara seolah tuli.
"Omong kosong! Kau datang saat aku terpuruk, saat aku di ambang kehancuran! Apa ini rencanamu selanjutnya? Menghabisi sisa-sisa kehormatanku?"
Ayla merasakan air mata ingin menetes, namun ia menahannya. Ia harus kuat. Ini adalah bagian dari rencana. Ia tahu Bara akan bereaksi seperti ini.
"Dengarkan aku, Bara!" Ayla meninggikan suaranya, memotong luapan amarah Bara. "Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi ini bukan tentang dendam masa lalu. Ini tentang pamanku, Wijaya."
Mendengar nama Wijaya, Bara sedikit terdiam, amarahnya mereda sesaat, digantikan oleh kebingungan.
"Wijaya?"
"Ya. Dialah yang menjebakmu, Bara," Ayla menjelaskan, berusaha bicara secepat mungkin sebelum Bara kembali meledak. "Dia memanipulasi keuangan perusahaan, menggelapkan dana, dan sekarang mencoba mengambil alih segalanya darimu. Dia ingin semua ini hancur, agar dia bisa tampil sebagai pahlawan dan menguasai Paramarta Group."
Bara menatap Ayla dengan tatapan curiga. "Bagaimana kau tahu semua ini? Jangan-jangan kau bersekongkol dengannya?"
"Aku tahu karena Arini memberitahuku!" Ayla menunjuk Arini. "Arini yang menghubungiku, memintaku kembali, karena hanya aku yang bisa membantumu!"
Arini maju selangkah. "Bara, apa yang dikatakan Ayla itu benar. Wijaya adalah dalangnya. Kita sudah punya beberapa bukti, tapi belum cukup kuat untuk menjeratnya. Tapi jika Ayla kembali sebagai istrimu, ia punya hak untuk membekukan aset-aset yang Wijaya coba kuasai. Ini akan memberi kita waktu untuk mencari lebih banyak bukti."
Bara menatap Ayla, lalu ke Arini, matanya masih dipenuhi kecurigaan. "Istriku? Setelah semua yang terjadi? Apa kau gila, Arini?"
"Secara hukum, Bara, kalian masih suami istri," Arini menjelaskan dengan sabar. "Ayla tidak pernah mengurus perceraian. Dan perjanjian pra-nikah kalian... itu adalah kunci."
"Perjanjian pra-nikah?" Bara mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Aku bahkan tidak ingat detailnya."
"Ada klausul yang menyebutkan bahwa jika terjadi kebangkrutan atau masalah finansial besar pada salah satu pihak, pihak lain berhak menuntut pembagian aset atau mengambil alih," jelas Ayla. "Wijaya tahu ini. Dia mengira dengan kau terpuruk, tidak ada yang bisa menghentikannya. Tapi jika aku muncul dan menuntut hakku, semua aset itu akan dibekukan oleh pengadilan, dan itu akan menghentikan langkah Wijaya untuk sementara."
Bara terdiam. Ia memejamkan mata, mengusap wajahnya yang lelah. Pikiran Ayla, betapa pun sulitnya ia menerima, terdengar logis. Ini adalah satu-satunya celah yang ia lihat untuk menghentikan Wijaya.
"Tapi... kenapa kau melakukan ini, Ayla?" Bara membuka matanya, menatap Ayla dengan tatapan dingin. "Kau membenciku, kan? Kau ingin bebas dariku. Kenapa sekarang kau tiba-tiba peduli?"
Ayla menelan ludah. Ini adalah bagian tersulitnya. Ia tidak bisa mengatakan tentang Langit. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ada rasa bersalah yang menggerogotinya. Ia harus memberikan alasan yang masuk akal, tanpa mengorbankan rahasianya.
"Aku... aku tidak ingin melihat Paramarta Group hancur, Bara," Ayla berbohong, meskipun ada sedikit kebenaran di dalamnya. Ia teringat bagaimana dulu ia sering berkunjung ke kantor Bara, melihat semangat para karyawan, visi Bara yang ingin memajukan perusahaan. "Aku tahu betapa berartinya perusahaan ini bagimu, bagi keluargamu. Aku memang pergi karena aku tidak menginginkan pernikahan itu, tapi aku tidak pernah ingin melihatmu hancur seperti ini."
Sebuah keheningan menggantung di udara. Bara menatapnya lurus, mencoba membaca kebohongan di matanya. Ayla berusaha mempertahankan ekspresi datarnya, wajahnya tanpa emosi.
"Dan... dan aku tahu Wijaya adalah orang licik," Ayla melanjutkan, suaranya lebih percaya diri. "Dia selalu punya ambisi tersembunyi. Aku tidak bisa membiarkannya menang."
Bara menghela napas panjang, lalu berjalan kembali ke kursinya. Ia menjatuhkan diri di sana, menatap berkas-berkas yang berserakan di mejanya. Wajahnya masih terlihat tidak percaya, namun ada sedikit keraguan di matanya.
"Ini semua gila," gumam Bara, lebih kepada dirinya sendiri. "Kau kembali... untuk menyelamatkanku?"
"Ini bukan hanya tentang menyelamatkanmu, Bara," Ayla berkata lembut, kini mendekat ke arah meja Bara. "Ini tentang membersihkan nama baik Paramarta Group. Ini tentang menegakkan keadilan. Dan aku punya cara untuk melakukannya. Tapi aku butuh kerja samamu."
Bara mengangkat kepalanya, menatap Ayla. "Kerja sama apa?"
"Kita harus berpura-pura," kata Ayla, suaranya rendah. "Berpura-pura bahwa kita... sedang dalam masa rujuk. Dengan begitu, kemunculanku tidak akan terlalu mencurigakan. Dan aku bisa mulai mengumpulkan informasi, mendekati Wijaya, sambil mengajukan tuntutan hukum atas dasar hak istri sah. Ini akan menghentikan langkah Wijaya."
Bara menatap Ayla, seolah baru pertama kali melihatnya. "Rujuk? Kau tahu betapa mustahilnya itu, Ayla? Setelah apa yang kau lakukan?"
"Aku tahu," jawab Ayla, matanya menatap Bara tanpa gentar. "Aku tidak meminta kau memaafkanku. Aku hanya meminta kau bekerja sama demi menyelamatkan apa yang masih tersisa. Setelah semua ini selesai, kita bisa bercerai secara resmi. Tapi untuk sekarang, kita harus melakukan ini."
Arini mengangguk setuju. "Ini adalah satu-satunya cara, Bara. Aku sudah menghubungi pengacara yang bisa kita percaya. Dia akan membantumu dengan langkah hukum, dan Ayla akan menjadi mata dan telingamu di dalam. Mengingat Wijaya sangat percaya diri karena Ayla sudah menghilang, dia tidak akan curiga jika Ayla kembali dengan alasan 'kembali ke suaminya'."
Bara memijat pelipisnya. Ia berada di ujung tanduk. Pilihannya hanya dua: tenggelam dalam kehancuran yang diciptakan Wijaya, atau mengambil risiko dengan menerima bantuan dari wanita yang paling ia benci dan yang pernah meninggalkannya dalam kehampaan.
"Lalu, apa rencanamu?" Bara akhirnya bertanya, suaranya masih berat, namun ada sedikit nada pasrah.
Ayla menghela napas lega. Setidaknya, Bara mau mendengarkan.
"Pertama, kita harus membuat penampilan publik bersama," Ayla mulai menjelaskan, memutar otaknya mencari strategi terbaik. "Kita harus menunjukkan kepada semua orang bahwa kita sedang berusaha memperbaiki pernikahan kita. Ini akan menjadi alasan kuat bagi kembaliku. Kedua, aku akan mulai mendekati Wijaya. Berpura-pura simpatik, berusaha mencari tahu lebih banyak tentang rencananya, dan mencari celah."
"Dan sementara itu, pengacaramu akan menyiapkan gugatan hukum untuk membekukan aset-aset yang Wijaya coba kuasai," Arini menambahkan. "Dengan begitu, pergerakan Wijaya akan terhambat, dan kita punya waktu untuk mengumpulkan bukti-bukti yang lebih kuat untuk menjeratnya."
Bara mendengarkan dengan saksama. Wajahnya masih terlihat lelah, namun ada sedikit cahaya di matanya. Harapan. Secercah harapan yang muncul dari kehampaan.
"Bagaimana aku bisa percaya padamu, Ayla?" Bara akhirnya bertanya, tatapannya dingin. "Setelah semua yang terjadi?"
Ayla menatap Bara dalam-dalam. "Kau tidak perlu percaya padaku secara pribadi, Bara. Percayalah pada fakta bahwa kita memiliki musuh yang sama: Wijaya. Dan kita punya tujuan yang sama: menghentikannya. Setelah itu semua selesai, kita bisa kembali ke kehidupan masing-masing."
Ia tidak bisa menjanjikan apa pun tentang kepercayaan. Yang bisa ia berikan hanyalah fakta, dan sebuah misi.
Bara menatapnya lama. Ia melihat kegigihan di mata Ayla, sesuatu yang tidak ia lihat saat terakhir kali mereka bertemu. Ayla yang dulu ia kenal, rapuh dan terkekang, kini berdiri di depannya dengan aura yang berbeda. Lebih kuat, lebih mandiri, dan lebih berani.
"Baiklah," kata Bara akhirnya, suaranya pelan. "Aku akan... mencoba percaya padamu. Tapi satu kesalahan, Ayla, satu saja, dan aku tidak akan ragu untuk menghancurkanmu."
Ancaman itu, meski dingin, terasa seperti sebuah perjanjian bagi Ayla. Ia mengangguk. "Aku mengerti."
Rasa lega yang luar biasa membanjiri Ayla. Babak pertama telah berhasil ia lalui. Bara setuju untuk bekerja sama. Kini, babak selanjutnya adalah yang paling berbahaya: menghadapi Wijaya, dan berpura-pura menjadi istri yang setia, di hadapan pria yang membencinya. Misi ini baru saja dimulai, dan Ayla tahu, jalan di depannya akan penuh dengan duri dan bahaya. Namun, demi Langit, dan demi keadilan, ia akan menghadapi semua itu.
Anda Mungkin Juga Suka





