Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Istrimu, Bukan Pengganti Pengasuh Anakmu

Aku Istrimu, Bukan Pengganti Pengasuh Anakmu

Lima tahun menikah tanpa anak, Salma harus menelan pil pahit saat Rifky memilih berpoligami demi keturunan. Padahal, mereka telah berjuang keras menjalani pengobatan bersama hingga akhirnya Rifky dinyatakan sembuh. Ironisnya, pria itu justru menikahi wanita pilihan ibunya, bukan bertahan dengan Salma. Kini, Salma terjebak dalam dilema besar: bertahan dalam pernikahan yang terbagi atau memilih bercerai demi harga diri dan prinsip hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi menyapa Salma dengan semburat jingga di ufuk timur, namun hatinya tetap kelabu. Kepalanya terasa berat, matanya bengkak dan perih akibat semalaman menangis. Ia bangkit dari lantai, tubuhnya terasa kaku dan sendi-sendinya nyeri. Gorden kamar masih tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari yang mencoba menembus. Salma tidak ingin cahaya itu. Ia ingin kegelapan, agar bisa menyembunyikan kekacauan yang terjadi di dalam dirinya.

Ia melangkah gontai ke kamar mandi. Cermin memantulkan bayangan dirinya yang mengerikan: rambut kusut, wajah pucat, mata sembab dengan lingkaran hitam pekat. Ini bukan Salma yang dikenalnya. Salma yang dulu selalu ceria, penuh semangat, dan tak pernah ragu menghadapi masalah. Kini, ia melihat seorang wanita yang rapuh, hancur, dan kehilangan arah.

Di bawah guyuran air dingin dari shower, Salma membiarkan air mata kembali mengalir, bercampur dengan tetesan air yang membasahi tubuhnya. Ia mencengkeram kepalanya, berharap bisa menghapus semua yang terjadi semalam, seolah itu hanya mimpi buruk. Tapi kenyataan begitu kejam. Suara Hajah Fatma yang datar, tatapan bersalah Rifky, dan nama Siti Aisyah terngiang-ngiang di telinganya, menari-nari dalam pikiran.

Setelah membersihkan diri, Salma mengenakan pakaian longgar. Ia tak berniat keluar kamar. Ia tak ingin bertemu siapa pun, terutama Rifky dan ibu mertuanya. Ia hanya ingin bersembunyi. Namun, perutnya bergejolak. Ia sadar, ia belum makan sejak semalam. Sejak berita itu menghantamnya, nafsu makannya hilang entah ke mana.

Ketukan di pintu kembali terdengar. Kali ini lebih pelan, lebih ragu-ragu. "Salma? Kamu sudah bangun?" Suara Rifky. Salma tetap diam. "Salma, aku bawa sarapan. Kamu harus makan."

Salma mendesah. Ia tidak bisa menghindar selamanya. Dengan berat hati, ia membuka pintu. Rifky berdiri di depannya, membawa nampan berisi bubur ayam dan segelas teh hangat. Wajahnya terlihat lelah, matanya merah, seolah ia juga tidak tidur semalaman.

"Kenapa kamu tidak tidur?" tanya Salma dingin, tanpa menatapnya.

Rifky memasuki kamar, meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. "Aku tidak bisa tidur, Salma. Aku memikirkanmu."

"Memikirkanku? Atau memikirkan bagaimana caranya agar aku setuju dengan rencana ibumu?" sindir Salma pahit.

Rifky menoleh, menatapnya dengan tatapan terluka. "Salma, jangan bicara seperti itu. Kamu tahu aku mencintaimu."

"Mencintaiku?" Salma tertawa sumbang. "Cinta macam apa itu, Mas? Cinta yang rela berbagi? Cinta yang rela menyakiti orang yang dicintai demi kebahagiaan orang lain?"

Rifky menghela napas panjang. Ia berjalan mendekat, mencoba meraih tangan Salma. "Salma, tolong dengarkan aku. Aku tahu ini salah. Aku tahu ini menyakitimu. Tapi ini adalah satu-satunya jalan. Ibu..." Ia berhenti, seolah mencari kata yang tepat. "Ibu sangat menginginkan cucu. Dan aku... aku tidak bisa mengecewakannya."

"Dan aku? Apa aku bisa kamu kecewakan begitu saja?" Salma menarik tangannya. "Apa aku ini tidak berarti apa-apa dibandingkan keinginan ibumu dan keluarga besar Rifky?"

"Tentu saja kamu berarti, Salma! Kamu adalah istriku. Kamu adalah duniaku!" Rifky meninggikan suaranya, frustrasi. "Tapi masalah anak ini... ini sudah berlarut-larut. Ibu sudah menunggu terlalu lama. Aku sudah menunggu terlalu lama."

Hati Salma tercubit mendengar kalimat terakhir Rifky. Ia memang tahu, Rifky juga menginginkan anak. Keinginannya itu tulus. Tapi apakah keinginan itu harus mengorbankan Salma?

"Mas, kita sudah berobat. Dokter bilang kamu sudah sembuh. Aku juga tidak ada masalah. Kita hanya perlu terus berusaha. Kenapa tidak kita coba lagi setahun dua tahun ini? Kalau memang belum rezeki, kita bisa pikirkan solusi lain. Adopsi, misalnya," Salma mencoba menawarkan solusi yang ia anggap paling masuk akal dan tidak menyakitkan.

Rifky menggeleng. "Salma, kamu tahu bagaimana kerasnya Ibu. Beliau tidak mau adopsi. Beliau ingin darah daging sendiri. Dan jujur saja, Salma... aku juga ingin anak kandungku sendiri."

Pengakuan Rifky itu menghantam Salma telak. Jadi, selama ini ia menahan diri, menanggung rasa sakit pengobatan, menahan kekecewaan setiap kali tes kehamilan menunjukkan hasil negatif, namun pada akhirnya, semua itu tak cukup untuk Rifky. Ia menginginkan anak kandung, dan jika Salma tak bisa memberikannya, ia akan mencarinya pada wanita lain.

"Jadi, aku tidak cukup, Mas?" tanya Salma lirih, matanya berkaca-kaca lagi. "Aku tidak cukup sebagai istrimu? Aku tidak cukup sebagai pendamping hidupmu? Hanya karena aku belum bisa memberimu anak?"

"Jangan bicara begitu, Salma! Kamu lebih dari cukup! Kamu sempurna bagiku!" Rifky mendekat, mencoba memeluknya. "Tapi ini... ini adalah hal yang berbeda. Ini tentang melanjutkan nama keluarga. Ini tentang pewaris. Aku tidak bisa membiarkan garis keturunan ini terhenti karenaku."

Salma melepaskan pelukan Rifky. "Jadi ini bukan tentang 'kita' lagi, Mas? Ini tentang 'kamu' dan 'keluargamu'? Dan aku harus menelan semua ini demi kebahagiaan mereka?"

Rifky menunduk. Keheningan menyelimuti kamar. Hening yang terasa begitu memekakkan telinga Salma.

"Lalu, bagaimana dengan perasaanku, Mas?" Salma melanjutkan, suaranya bergetar. "Apa kamu pernah berpikir, bagaimana perasaanku jika aku harus berbagi suamiku? Bagaimana aku harus melihatmu bersama wanita lain, tahu kamu menyentuhnya, tahu kamu... tahu kamu mencintainya juga?"

Rifky mengangkat kepalanya, matanya penuh kesedihan. "Aku tidak akan mencintai wanita lain, Salma. Aku hanya akan menjalankan kewajibanku. Hatiku, cintaku, semuanya hanya untukmu."

Salma tersenyum getir. "Omong kosong! Bagaimana mungkin kamu bisa mencintai satu orang, tapi menikah dengan yang lain? Jangan munafik, Mas! Poligami itu bukan hanya tentang 'kewajiban', itu juga tentang hati dan perasaan! Kamu tidak bisa membagi hati seseorang seperti membagi roti!"

"Salma, itu berbeda. Ini adalah pernikahan yang dilandasi niat baik untuk memiliki keturunan. Ini bukan tentang cinta yang baru," Rifky mencoba meyakinkan.

"Oh ya? Lalu, setelah dia memberimu anak, apa yang akan terjadi? Apa kamu akan mencampakkannya? Atau kamu akan tetap bersamanya, membagimu antara aku dan dia? Apakah kamu akan tidur di kamar ini suatu malam, dan di kamar yang lain di malam berikutnya? Apa itu yang kamu sebut 'tidak mencintai wanita lain'?" Salma merasa amarahnya melonjak. Ia tidak bisa lagi menahan diri. "Bagaimana dengan malam pertama kalian, Mas? Malam ketika dia menjadi istrimu secara sah? Apa kamu akan berpura-pura tidak ada apa-apa? Apa kamu akan berpura-pura tidak merasakan apa pun dengannya?"

Pertanyaan-pertanyaan Salma menusuk Rifky. Wajahnya memucat, dan ia terlihat tak bisa menjawab. Ia tahu, Salma menyentuh titik paling sensitif dari masalah ini. Ia tahu, apapun yang ia katakan, akan terdengar seperti kebohongan atau pembelaan diri yang rapuh.

"Aku... aku akan adil, Salma. Aku janji." Hanya itu yang bisa diucapkan Rifky.

"Adil? Bagaimana kamu bisa adil dalam membagi hati, Mas? Bagaimana kamu bisa adil dalam membagi waktu? Bagaimana kamu bisa adil dalam membagi perhatian?" Salma menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah meminta lebih darimu, Mas. Aku hanya meminta kesetiaanmu, cintamu yang utuh. Itu saja. Tapi sepertinya, itu terlalu banyak bagimu."

Air mata kembali mengalir di pipi Salma. Ia tidak lagi peduli dengan penampilannya. Ia hanya ingin Rifky memahami rasa sakitnya, rasa sakit yang begitu dalam hingga ia merasa seperti sekarat.

"Salma, kumohon... ini demi kita juga. Demi kebahagiaan kita di masa depan. Aku ingin punya anak. Aku ingin rumah tangga kita lengkap. Kamu juga ingin anak, kan?" Rifky mencoba merangkulnya lagi.

"Aku ingin anak bersamamu, Mas! Hasil dari cinta kita! Bukan hasil dari paksaan keluarga, bukan hasil dari mengorbankan perasaanku!" Salma menyingkirkan tangan Rifky. "Aku tidak bisa. Aku tidak sanggup. Prinsipku tidak akan pernah bisa menerima untuk dimadu. Sejak awal kita menikah, aku sudah bilang ini padamu, Mas. Kamu ingat kan? Kamu bilang, kamu tidak akan pernah melakukannya."

Rifky terdiam. Ia ingat. Ia memang pernah mengatakan itu. Di hari pernikahan mereka, ia berjanji akan selalu setia, akan selalu mencintai Salma seorang. Janji itu kini terasa seperti bumerang, menghantamnya balik.

"Dulu kamu berjanji tidak akan pernah menyakitiku, Mas. Kamu berjanji akan selalu ada untukku. Kamu berjanji akan menghadapi semuanya bersamaku," kata Salma, suaranya tercekat. "Dan sekarang? Kamu ingin aku menerima ini? Setelah semua yang kita lalui? Setelah semua pengorbanan?"

"Aku tahu, Salma. Aku tahu aku salah. Aku melanggar janjiku. Tapi tolong... ini bukan kemauanku sepenuhnya. Ini tekanan dari Ibu. Dari keluarga," Rifky mencoba mencari pembenaran.

"Tekanan? Jadi kamu lebih memilih tunduk pada tekanan itu daripada mempertahankan perasaan istrimu sendiri?" Salma tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Mana Rifky yang dulu kukenal? Rifky yang selalu kuat, yang selalu berdiri tegak melindungiku? Mana dia, Mas?"

Rifky menundukkan kepala. Ia terlihat begitu kecil di mata Salma saat itu. Pria yang dulu ia kagumi kekuatannya, kini terlihat begitu tak berdaya di hadapan ibunya dan tuntutan keluarga. Rasa kecewa Salma memuncak. Bukan hanya karena Rifky akan menikah lagi, tapi juga karena Rifky yang ia kenal, seolah telah mati.

"Salma..." Rifky mencoba lagi, suaranya lebih lembut, lebih memohon. "Bagaimana kalau kita coba dulu? Kamu tidak perlu bertemu Aisyah dulu kalau kamu tidak mau. Kita bisa... kita bisa atur semuanya agar kamu tidak merasa terlalu sakit. Aku akan tetap memberimu prioritas."

"Prioritas?" Salma mendesah sinis. "Prioritas seperti apa, Mas? Prioritas seorang istri yang kesepian di rumah, sementara suaminya sedang bersama istri lain? Itu bukan prioritas, Mas. Itu adalah penghinaan."

Salma menatap Rifky dengan mata berkaca-kaca. "Apakah kamu pernah membayangkan bagaimana perasaanku nanti saat hari raya? Saat acara keluarga? Apakah aku harus berpura-pura baik-baik saja di depan orang banyak, padahal hatiku hancur? Apakah aku harus berbagi senyummu, perhatianmu, dengan wanita lain di depan umum?"

Rifky hanya terdiam. Ia tidak punya jawaban. Ia hanya bisa menatap Salma dengan tatapan memohon, tatapan yang penuh rasa bersalah, dan mungkin, sedikit ketakutan.

"Aku tidak tahu, Mas. Aku benar-benar tidak tahu," bisik Salma, suaranya nyaris tak terdengar. Ia merasa sangat lelah. Lelah dengan perdebatan ini, lelah dengan semua rasa sakit ini.

"Pikirkan baik-baik, Salma," kata Rifky pelan, mengambil nampan bubur yang tak tersentuh. "Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu."

Salma hanya menatap punggung Rifky saat ia keluar dari kamar. Kata-kata "aku tidak akan pernah melepaskanmu" terdengar seperti ancaman daripada sebuah janji. Seolah-olah, Salma tidak punya pilihan lain selain menerima takdir ini.

Beberapa hari berikutnya, rumah itu terasa seperti kuburan. Salma mengurung diri di kamar. Ia hanya keluar jika benar-benar perlu, dan menghindari bertemu Rifky atau Hajah Fatma. Makanan yang Rifky antarkan selalu ia biarkan dingin, hanya ia sentuh sedikit untuk mempertahankan diri. Tubuhnya semakin kurus, wajahnya semakin pucat.

Rifky mencoba berbicara dengannya beberapa kali, namun Salma selalu menolaknya. Ia tak ingin mendengar alasan apa pun lagi. Tak ingin mendengar janji kosong apa pun lagi. Ia hanya ingin waktu untuk dirinya sendiri, untuk menenangkan badai dalam hatinya.

Hajah Fatma tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali mengetuk pintu kamar Salma, menanyakan apakah Salma ingin makan. Sikapnya dingin, seolah-olah Salma adalah anak bandel yang sedang merajuk. Itu membuat Salma semakin merasa terpojok dan sendirian.

Sahabat terbaik Salma, Aisha, mencoba menghubunginya beberapa kali. Salma tidak mengangkat teleponnya. Ia belum siap menceritakan semua ini. Aisha pasti akan terkejut, marah, dan mungkin menyuruhnya untuk segera bercerai. Salma tahu itu, dan ia belum siap menghadapi nasihat semacam itu. Ia masih terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menakutkan.

Setiap malam, Salma menangis dalam diam. Ia mengingat kembali masa-masa awal pernikahannya dengan Rifky. Mereka bertemu di bangku kuliah. Rifky adalah seniornya, seorang mahasiswa teknik yang cerdas dan humoris. Salma, yang saat itu masih lugu, langsung jatuh hati pada Rifky yang selalu perhatian dan melindunginya. Mereka pacaran selama tiga tahun, penuh tawa, canda, dan impian masa depan. Rifky berjanji akan membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia, penuh cinta, dan saling mendukung.

Janji itu, kini, terasa begitu pahit. Hancur berkeping-keping.

Salma tahu ia harus membuat keputusan. Ia tidak bisa terus-menerus terkurung dalam kesedihan dan kemarahan ini. Ini akan menghancurkannya. Ia harus memilih: menerima takdir poligami yang ia benci, atau bercerai dan memulai hidup baru.

Jika ia menerima, ia harus menelan pil pahit ini seumur hidup. Ia harus melihat suaminya berbagi cinta dengan wanita lain. Ia harus memaksakan dirinya untuk ikhlas, untuk menerima kenyataan pahit bahwa ia tidak cukup. Ia akan kehilangan harga dirinya, kehilangan kebahagiaan yang utuh, dan mungkin, kehilangan dirinya sendiri.

Jika ia bercerai, ia akan kehilangan Rifky. Pria yang selama lima tahun ini menjadi pusat dunianya. Ia akan kehilangan rumah ini, kehilangan statusnya sebagai istri, dan menghadapi pandangan miring dari masyarakat. Ia akan memulai semuanya dari nol, sendirian, dengan hati yang terluka. Rasa sakitnya akan sama, bahkan mungkin lebih parah di awal.

Salma merasakan sakit di dadanya. Rasanya seperti ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.

Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan ke lemari, dan membuka laci paling atas. Di sana, tersimpan rapi sebuah album foto. Album pernikahan mereka. Salma membuka halaman pertama. Foto mereka berdua, tersenyum bahagia di pelaminan. Rifky terlihat gagah dengan setelan jas hitamnya, dan Salma terlihat anggun dalam gaun pengantin putihnya. Di foto itu, Rifky mencium kening Salma dengan penuh cinta. Mata mereka berbinar, penuh janji dan harapan.

Salma menyentuh wajah Rifky di foto itu. "Kamu bilang kamu tidak akan pernah menyakitiku, Mas," bisiknya, air mata kembali mengalir. "Kenapa kamu melanggar janjimu?"

Ia membalik halaman. Foto-foto bulan madu mereka di Bali. Tawa mereka yang lepas, pelukan hangat di tepi pantai. Kenangan indah itu kini terasa seperti mimpi yang sangat jauh, tidak nyata, seperti bukan miliknya lagi.

Semakin lama Salma melihat foto-foto itu, semakin ia merasa marah. Marah pada Rifky, marah pada Hajah Fatma, marah pada takdir, dan marah pada dirinya sendiri. Marah karena ia merasa tak berdaya, terperangkap dalam situasi yang tidak ia inginkan.

Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benaknya. Sebuah ide yang mungkin gila, tapi setidaknya bisa memberinya sedikit kekuatan, sedikit kontrol atas hidupnya yang kini terasa berantakan. Ia akan berbicara dengan Rifky. Bukan untuk memohon, bukan untuk berdebat. Tapi untuk membuat persyaratan.

Jika memang ia harus menerima ini, ia tidak akan menerimanya begitu saja. Ia akan berjuang untuk harga dirinya, untuk perasaannya. Ia akan menuntut sesuatu yang bisa memberinya sedikit ketenangan, sedikit rasa adil, jika keadilan itu memang ada dalam poligami.

Salma tidak tahu apakah Rifky akan setuju. Ia tidak tahu apakah itu akan mengubah apa pun. Tapi setidaknya, ia harus mencoba. Ia tidak ingin menjadi korban yang pasrah. Ia ingin menjadi wanita yang berjuang, bahkan ketika ia merasa semua kekuatannya telah terkuras habis.

Dengan tekad yang baru, meski masih rapuh, Salma bangkit. Ia membasuh wajahnya, mencoba menghilangkan jejak air mata. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan setiap sisa kekuatan yang ia miliki. Ia tahu, pertempuran ini belum usai. Ini baru permulaan dari babak baru yang lebih menyakitkan dalam hidupnya.

Salma keluar dari kamar. Jantungnya berdebar kencang. Ia mendengar suara Hajah Fatma di ruang keluarga, berbicara dengan Rifky. Sepertinya mereka sedang membicarakan persiapan pernikahan yang akan datang. Salma mengepalkan tangannya. Ia akan menghadapi mereka. Ia akan mengatakan apa yang ada di hatinya. Ini mungkin akan menjadi pertarungan terberat dalam hidupnya. Pertarungan antara prinsip, cinta, dan harga diri.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Kau, Dia, dan Bekas Pacarmu
8.3
Kehidupan Maya yang stabil bersama Dito mulai goyah sejak Rian menjadi tetangga barunya. Kedekatan Maya dengan Rian yang penuh kehangatan memicu kecurigaan Dito hingga menciptakan konflik hebat. Terjebak rasa bersalah dan cinta baru, Maya akhirnya meninggalkan Dito demi Rian. Namun, hubungan baru ini membawa konsekuensi berat berupa stigmatisasi sosial. Mereka harus berjuang menghadapi beban moral atas pilihan tersebut dalam drama cinta yang penuh dilema.
Sampul Novel Cinta Pertamaku, Suami Orang
8.9
Nisa terjebak dalam skandal asmara dengan Dani, suami Rika. Meski berlatar belakang pendidikan pesantren, Nisa gagal menjaga prinsipnya karena rayuan maut Dani yang meruntuhkan pertahanannya. Rika dengan tegas meminta Nisa menjauh, namun Nisa merasa Dani harus bertanggung jawab atas perasaan yang telah tumbuh. Kini, Nisa bimbang antara mengakhiri hubungan terlarang itu atau justru terus menyakiti sesama wanita demi mengejar cinta pertamanya yang salah.
Sampul Novel Di Mana Sayap Tumbuh
8.9
Sekuel The Maid and the Young Heir ini mengikuti Amelia, kini seorang ibu yang menjaga rahasia kelam. Saat Luciano berjuang mempertahankan keluarga, masa lalu kembali mengancam. Putra sulung mereka, Gabriel, dipenuhi tanda tanya, sementara Isabelita menghadapi bahaya di perantauan. Di tengah ancaman balas dendam musuh lama, Amelia harus memutuskan apa yang perlu dikorbankan demi keselamatan orang terkasih. Sebuah kisah tentang cinta dan keberanian untuk melepaskan.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka Pribadi Sang Miliarder
8.0
Aluna bekerja keras di Hotel Aurelia demi biaya pengobatan adiknya. Namun, hidupnya hancur saat akun sistemnya dituduh membocorkan video rahasia Davin Elvard Renata dari Presidential Suite. Meski dijebak oleh rekan internal, miliarder itu tak peduli dan memaksa Aluna menjadi tawanan pribadinya sebagai bentuk tanggung jawab. Terjebak dalam konspirasi besar dan ancaman Davin, Aluna harus bertahan di tengah permainan kekuasaan yang penuh rahasia dan ketakutan.
Sampul Novel Hot Mama And Could Daddy
8.6
Ditinggalkan Elena membuat Rio dan putra tirinya, Zain, harus bertahan dalam kesendirian. Meski tanpa ikatan darah, Rio belajar menjadi ayah seutuhnya bagi bocah misterius yang memiliki kemampuan meramal tersebut. Rahasia kelam Elena sebagai pelacur mulai terkuak saat Zain memperingatkan Rio tentang rencana jahat ibunya dan Sarah. Mereka berniat menjebak Rio dengan obat-obatan dan godaan malam ini. Rio kini terjebak dalam dilema antara rasa terancam dan kebahagiaan Zain.
Sampul Novel Keturunan Rahasia
8.5
Akibat jebakan licik pamannya, Rajendra Antariksa melakukan kesalahan fatal terhadap Amara Lucia Haidar di masa lalu. Setelah sepuluh tahun hidup dalam penyesalan mendalam, pewaris Antariksa Group ini terkejut saat mengetahui Amara mengalami trauma berat dan telah melahirkan putranya secara rahasia. Namun, upaya Rajendra untuk menebus dosa tidaklah mudah. Ia justru menghadapi penolakan keras dari Amara, orang tuanya, bahkan anak kandung yang baru diketahuinya itu.