Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Istrimu, Bukan Pengganti Pengasuh Anakmu

Aku Istrimu, Bukan Pengganti Pengasuh Anakmu

Lima tahun menikah tanpa anak, Salma harus menelan pil pahit saat Rifky memilih berpoligami demi keturunan. Padahal, mereka telah berjuang keras menjalani pengobatan bersama hingga akhirnya Rifky dinyatakan sembuh. Ironisnya, pria itu justru menikahi wanita pilihan ibunya, bukan bertahan dengan Salma. Kini, Salma terjebak dalam dilema besar: bertahan dalam pernikahan yang terbagi atau memilih bercerai demi harga diri dan prinsip hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Langkah Salma terasa berat, namun tekadnya telah mengeras. Ia melangkah keluar dari kamarnya, jantungnya berpacu seperti genderang perang. Suara percakapan di ruang keluarga mereda begitu ia muncul. Hajah Fatma dan Rifky menoleh. Raut wajah Hajah Fatma tetap datar, namun sorot matanya sedikit terkejut melihat Salma akhirnya keluar dari 'persembunyian'. Rifky, di sisi lain, menatapnya dengan campuran lega dan kekhawatiran.

"Salma, kamu baik-baik saja?" Rifky bangkit dari sofa, mendekatinya.

Salma mengabaikan pertanyaan itu. Matanya lurus menatap Hajah Fatma. "Bisa kita bicara, Bu?" Suaranya terdengar serak, namun tegas.

Hajah Fatma mengangguk kaku. "Silakan, Nak. Ada apa?"

Salma berjalan mendekat, mengambil tempat duduk di sofa tunggal yang berhadapan dengan mereka. Ia mengambil napas dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. "Saya sudah memikirkannya," ujarnya, memulai. Ia melihat Rifky menatapnya penuh harap, sementara Hajah Fatma hanya mengamati dengan tenang, seolah menunggu vonis.

"Saya akan menerima pernikahan Mas Rifky," kata Salma, kalimat itu keluar dari mulutnya dengan rasa pahit yang tak tertahankan. Seolah setiap suku kata mengikis bagian dari jiwanya.

Rifky menghela napas lega, raut wajahnya berubah seketika. "Salma, terima kasih. Aku tahu ini berat bagimu. Terima kasih banyak, sayang." Ia mencoba meraih tangan Salma, namun Salma menepisnya perlahan.

Hajah Fatma tersenyum tipis. Sebuah senyum kemenangan yang membuat hati Salma mencelos. "Alhamdulillah, Nak. Ibu tahu kamu wanita baik-baik. Ini memang yang terbaik untuk semua."

"Tapi," lanjut Salma, suaranya mengeras, memotong kelegaan mereka. "Ada syaratnya."

Senyum Hajah Fatma memudar. Rifky mengerutkan keningnya. "Syarat apa, Salma?" tanyanya, nada suaranya berubah menjadi hati-hati.

"Saya akan menerima dimadu, dengan beberapa ketentuan yang harus dipenuhi. Jika tidak, saya akan meminta cerai," ucap Salma tegas, menatap lurus ke mata Rifky, lalu beralih ke Hajah Fatma. Kali ini, ia tidak akan mundur.

Hajah Fatma mendengus. "Salma, jangan mempersulit keadaan. Kamu harus mengerti posisi Rifky."

"Saya sudah cukup mengerti, Bu. Sekarang giliran Anda dan Mas Rifky yang mengerti posisi saya," balas Salma, tatapannya tak gentar. "Saya tidak akan menyetujui pernikahan ini jika syarat-syarat saya tidak dipenuhi. Saya punya harga diri, Bu. Dan saya juga punya batas."

Rifky menyentuh lengan ibunya, isyarat agar Hajah Fatma tetap tenang. Ia menatap Salma. "Baiklah, Salma. Katakan. Apa syaratmu?"

Salma menarik napas dalam, menata setiap poin yang telah ia renungkan semalam suntuk. "Pertama, saya tidak ingin bertemu dengan istri kedua Mas Rifky, Siti Aisyah, di rumah ini. Tidak akan ada kunjungan, tidak akan ada pertemuan. Jika Mas Rifky ingin menemuinya, silakan di luar. Rumah ini adalah rumah saya, rumah kita. Dan saya tidak ingin ada bayang-bayang dia di sini."

Rifky dan Hajah Fatma saling pandang. Hajah Fatma membuka mulutnya, mungkin ingin membantah, namun Rifky lebih dulu berkata, "Baiklah, Salma. Aku akan mengusahakannya. Aisyah akan tinggal di rumahnya sendiri."

"Bukan hanya tinggal di rumahnya sendiri, Mas," Salma mengoreksi, tatapannya tajam. "Maksud saya, tidak ada jejaknya di sini. Tidak ada barangnya, tidak ada kehadirannya, tidak ada nama dia yang disebut-sebut di rumah ini."

"Tapi Salma, nanti kalau ada acara keluarga..." Hajah Fatma memprotes.

"Itu poin kedua saya," potong Salma, tanpa ragu. "Poin kedua, saya tidak akan menghadiri acara keluarga atau pertemuan sosial lainnya di mana istri kedua Mas Rifky juga hadir. Jika ada acara yang mengharuskan dia hadir, maka saya tidak akan datang. Begitu juga sebaliknya. Saya tidak ingin ada situasi di mana kami harus bertemu atau berinteraksi. Saya tidak akan berpura-pura baik-baik saja di depan publik."

Hajah Fatma terperangah. "Apa maksudmu? Itu tidak mungkin! Bagaimana bisa begitu? Apa kata orang nanti?"

"Apa kata orang lebih penting daripada perasaan saya, Bu?" Salma balas bertanya, nadanya menyiratkan kepedihan yang dalam. "Saya tidak ingin publik melihat saya sebagai wanita yang lemah dan pasrah. Dan saya juga tidak ingin menyaksikan suami saya berbagi dengan wanita lain di depan mata saya. Itu terlalu menyakitkan."

Rifky mengusap wajahnya. "Salma, ini akan sulit. Terutama di acara-acara penting."

"Kalau begitu, Mas Rifky harus memilih. Apakah Mas Rifky ingin saya hadir, atau istri kedua Mas Rifky yang hadir," tegas Salma. "Saya tidak akan berbagi ruang dengan dia. Ini harga diri saya, Mas. Dan ini adalah batas saya."

Keheningan menyelimuti ruangan. Hajah Fatma terlihat berpikir keras, wajahnya menunjukkan ketidaksenangan. Tapi ia juga tahu, Salma tidak sedang main-main.

"Baiklah," kata Rifky akhirnya, suaranya berat. "Aku akan mencoba mengatur itu."

"Mengatur saja tidak cukup, Mas. Ini harus menjadi kesepakatan mutlak. Jika salah satu dilanggar, maka saya akan meminta cerai saat itu juga. Tidak ada kompromi," Salma menambahkan, memastikan tidak ada celah.

Hajah Fatma berdeham. "Baiklah, apa lagi?"

"Poin ketiga," Salma melanjutkan, "Mas Rifky tidak boleh mengurangi hak dan kewajiban saya sebagai istri pertama. Nafkah saya, waktu Mas Rifky untuk saya, dan perhatian Mas Rifky kepada saya harus tetap sama, tidak boleh berkurang sedikit pun. Bahkan, saya berharap Mas Rifky bisa lebih memperhatikan saya. Saya ingin Mas Rifky tetap menghabiskan malam di rumah ini lebih sering daripada di rumah yang lain. Jika Mas Rifky berniat membagi waktu secara adil, maka saya tidak akan menerima itu."

Hajah Fatma langsung protes. "Ini namanya tidak adil bagi istri kedua, Salma! Dalam Islam, suami harus adil!"

"Adil?" Salma tertawa sinis. "Sejak kapan poligami itu adil, Bu? Kalau Mas Rifky mau adil, kenapa tidak sejak awal tidak menikah lagi? Kalau Mas Rifky bisa adil, kenapa Mas Rifky tidak bisa memenuhi hak saya sebagai satu-satunya istri? Saya tidak meminta lebih dari yang saya miliki sekarang, Bu. Saya hanya meminta agar Mas Rifky tidak mengurangi hak yang sudah ada. Jangan samakan saya dengan istri kedua. Saya adalah istri yang Mas Rifky pilih pertama kali, Bu. Yang menemani Mas Rifky dari nol, yang berjuang bersama Mas Rifky selama lima tahun ini. Jadi, wajar jika saya menuntut hak yang lebih besar."

Rifky terlihat dilema. Ia tahu, permintaan Salma tidak sepenuhnya salah. Tapi juga tidak mudah untuk dipenuhi, mengingat tuntutan dari pihak Siti Aisyah dan ibunya kelak. "Salma, aku akan berusaha seadil mungkin. Tapi memprioritaskanmu akan sangat sulit bagi yang lain."

"Maka Mas Rifky harus memilih, Mas. Saya, atau dia. Jika Mas Rifky tidak bisa memenuhi ini, berarti Mas Rifky tidak benar-benar menginginkan saya tetap di sini," Salma menjawab tanpa ragu. "Saya tidak mau menjadi istri yang terabaikan, hanya karena Mas Rifky punya istri lain."

Hajah Fatma menghela napas kasar. "Baiklah. Poin selanjutnya?"

"Poin keempat, tidak akan ada pembahasan atau perbandingan apa pun mengenai istri kedua di hadapan saya. Saya tidak ingin mendengar tentang bagaimana dia, apa yang dia lakukan, atau apa pun yang berhubungan dengannya. Begitu juga sebaliknya. Jika Mas Rifky ingin membicarakannya, silakan dengan Ibu, atau dengan siapa pun, tapi jangan di depan saya."

Ini adalah poin penting bagi Salma. Ia tidak ingin hatinya terus-menerus terlukai dengan perbandingan atau cerita tentang wanita lain. Ia ingin menjaga sisa-sisa kewarasannya.

"Dan terakhir, poin kelima," Salma melanjutkan, suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha keras untuk menguasai emosinya. "Jika nantinya Mas Rifky memiliki anak dari istri kedua, saya tidak akan dimintai untuk mengurus atau merawat anak tersebut. Saya tidak akan ikut campur dalam urusan mereka. Anak itu adalah tanggung jawab Mas Rifky dan ibunya. Saya tidak akan menjadi pengasuh, atau bibi, atau figur ibu bagi anak itu. Saya tidak sanggup."

Mendengar poin terakhir ini, wajah Hajah Fatma memerah. "Salma! Itu tidak masuk akal! Cucuku juga cucumu! Bagaimana mungkin kamu tidak peduli?"

"Cucu Anda, Bu, tapi bukan anak saya," Salma membalas dingin. "Saya tahu saya belum bisa memberikan anak. Tapi saya tidak akan berpura-pura mencintai anak dari rahim wanita lain yang merebut suami saya. Itu terlalu kejam, Bu. Bagi saya. Saya tidak akan sanggup berpura-pura bahagia melihat anak itu, sementara saya sendiri hancur."

Rifky menunduk, tak berani menatap mata Salma. Permintaan ini, ia tahu, adalah yang paling berat. Permintaan yang menyentuh inti dari rasa sakit Salma.

"Kamu pikirkan baik-baik, Mas Rifky. Dan Ibu juga," kata Salma, bangkit dari duduknya. "Jika kelima poin ini disetujui dan disepakati, dengan jaminan bahwa Mas Rifky akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhinya, maka saya akan tetap di sini. Saya akan berjuang untuk pernikahan ini. Tapi jika ada satu saja yang dilanggar, atau Mas Rifky tidak sanggup memenuhi, maka saya akan langsung meminta cerai. Saya tidak akan pernah menengok ke belakang. Saya tidak akan pernah kembali."

Salma menatap mereka berdua, memberi kesempatan untuk merespons. Hajah Fatma terlihat marah, namun tak bisa membantah. Ia tahu, Salma tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan selain harga dirinya. Rifky, di sisi lain, tampak terbebani. Ia tahu betapa sulitnya memenuhi semua syarat itu, terutama di bawah pengawasan ketat ibunya.

"Pikirkan baik-baik, Mas Rifky," ulang Salma. "Ini adalah ultimatum saya. Kesepakatan kita. Jika Anda menyetujuinya, kita akan melanjutkan pernikahan ini. Jika tidak, maka kita berpisah."

Tanpa menunggu jawaban, Salma berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya. Ia menutup pintu perlahan, namun tegas. Di balik pintu, ia bersandar, napasnya tersengal. Jantungnya berdegup kencang. Ia telah mengatakan semua yang ada di hatinya. Semua amarah, semua rasa sakit, semua ketakutan yang ia rasakan. Kini, ia hanya bisa menunggu.

Waktu berlalu dengan lambat. Salma menunggu, setiap detiknya terasa seperti jarum jam yang menusuk. Ia tidak tahu berapa lama Rifky dan Hajah Fatma akan berdiskusi. Ia membayangkan perdebatan sengit di luar sana. Hajah Fatma pasti akan membantah, akan mengatakan Salma egois, tidak tahu diri. Rifky mungkin akan mencoba menengahi, atau mungkin menyerah pada ibunya.

Setiap suara yang ia dengar dari luar membuat jantungnya melonjak. Sebuah gelas pecah, suara langkah kaki yang tergesa, bahkan keheningan yang tiba-tiba. Semua itu terasa mencekam.

Beberapa jam kemudian, tepat ketika Salma mengira ia akan mati karena ketegangan, ada ketukan pelan di pintu. Kali ini, bukan ketukan biasa. Ada keraguan di dalamnya.

"Salma..." Suara Rifky terdengar di balik pintu, lebih rendah dan lebih serius dari sebelumnya. "Bisa kita bicara?"

Salma menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Ia membuka pintu. Rifky berdiri di sana, wajahnya terlihat letih, namun ada ketegasan yang tak biasa di matanya. Di belakangnya, Hajah Fatma berdiri dengan wajah masam, namun memilih untuk diam.

"Bagaimana?" tanya Salma, langsung ke inti.

Rifky menatapnya lurus. "Kami... kami menyetujui syarat-syaratmu, Salma."

Salma terkejut. Meskipun ia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan ini, mendengarnya secara langsung terasa begitu sureal. Ia melihat sekilas ke arah Hajah Fatma. Wanita itu mengangguk kaku, sorot matanya menunjukkan kekalahan yang enggan.

"Kami tahu ini berat, Salma," lanjut Rifky. "Dan kami tahu ini akan sulit. Tapi aku... aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak ingin perceraian."

Salma merasakan sedikit kelegaan, namun bercampur dengan rasa pahit. Kelegaan karena ia tidak harus menghadapi perceraian yang ia takuti, namun pahit karena ia harus hidup dalam perjanjian yang ia benci.

"Aku akan berusaha keras untuk memenuhi semua yang kamu minta," kata Rifky, mendekat dan mencoba meraih tangannya. Kali ini, Salma membiarkannya. Genggaman Rifky terasa dingin, namun ada ketulusan di dalamnya. "Aku bersumpah, Salma. Aku akan menjagamu. Aku akan tetap memberimu prioritas. Dan aku akan pastikan tidak ada yang melanggar kesepakatan ini."

"Dan jika ada yang melanggar?" tanya Salma, menguji.

"Maka... maka kamu berhak untuk pergi," jawab Rifky, suaranya sedikit serak. "Aku akan menerimanya. Tapi aku harap itu tidak akan pernah terjadi."

Salma menatap mata Rifky, mencari kebohongan. Tapi yang ia temukan hanyalah keputusasaan dan rasa bersalah yang mendalam. Ia tahu, ini bukan keputusan yang mudah bagi Rifky. Ini juga bukan keinginan Rifky sepenuhnya. Tapi ia juga tahu, Rifky telah memilih. Ia memilih untuk tetap memiliki anak, bahkan jika itu berarti mengorbankan sebagian kecil dari kebahagiaan Salma.

"Baiklah," kata Salma pelan, suaranya nyaris berbisik. "Aku akan pegang janji itu, Mas. Aku akan bertahan. Tapi aku akan mengawasi setiap langkahmu. Dan jika kamu melanggar, sedikit saja, maka tamatlah semua."

Hajah Fatma berdeham. "Kalau begitu, semua sudah jelas. Sekarang, kita harus memulai persiapan pernikahan."

Salma tidak merespons Hajah Fatma. Ia hanya menatap Rifky. Ia tidak merasakan kemenangan. Yang ada hanyalah rasa hampa, dan rasa lelah yang luar biasa. Ia telah berjuang, ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan dalam bentuk kesepakatan. Tapi, apakah itu cukup untuk mengisi kekosongan yang kini menganga di hatinya?

Ia melihat Rifky yang kini memeluknya erat, seolah takut kehilangannya. Salma membalas pelukan itu, namun ada jarak tak kasat mata di antara mereka. Jarak yang tercipta dari keputusan yang baru saja mereka ambil. Jarak yang tercipta dari kehadiran Siti Aisyah, wanita yang belum pernah ia lihat, namun sudah menghancurkan sebagian besar dunianya.

Salma tahu, jalan yang ia pilih ini tidak akan mudah. Ini akan menjadi pertarungan panjang yang penuh emosi, air mata, dan godaan untuk menyerah. Ia harus kuat, lebih kuat dari sebelumnya. Ia harus menjaga dirinya sendiri, hatinya sendiri, dari luka yang akan terus-menerus mengancam.

Malam itu, Salma tidur. Tidak nyenyak, tapi ia tidur. Ia bermimpi tentang rumah yang dulu utuh, kini terbelah dua. Ia bermimpi tentang tawa yang dulu renyah, kini bercampur dengan suara tangisan bayi yang asing. Ia bermimpi tentang Rifky, yang kini memiliki dua bayangan yang mengikutinya.

Ia terbangun dengan perasaan cemas, namun juga sedikit lega. Setidaknya, ia telah membuat keputusan. Setidaknya, ia telah menetapkan batas. Sekarang, tinggal bagaimana ia akan menjalani ini. Tinggal bagaimana ia akan menghadapi kenyataan pahit bahwa ia adalah seorang istri yang harus berbagi suami, demi sebuah keturunan yang bukan darinya.

Salma bangkit dari tempat tidur. Ia melihat ke luar jendela. Matahari telah terbit sepenuhnya, menerangi kamarnya. Mungkin, ini adalah awal dari babak baru. Babak yang akan menguji batas kesabaran, kekuatan, dan ketahanan jiwanya. Ia akan melaluinya. Ia harus. Demi dirinya sendiri, demi harga dirinya. Dan mungkin, demi sebuah harapan kecil bahwa suatu hari nanti, kebahagiaan utuh akan kembali, meskipun ia belum tahu bagaimana caranya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Kau, Dia, dan Bekas Pacarmu
8.3
Kehidupan Maya yang stabil bersama Dito mulai goyah sejak Rian menjadi tetangga barunya. Kedekatan Maya dengan Rian yang penuh kehangatan memicu kecurigaan Dito hingga menciptakan konflik hebat. Terjebak rasa bersalah dan cinta baru, Maya akhirnya meninggalkan Dito demi Rian. Namun, hubungan baru ini membawa konsekuensi berat berupa stigmatisasi sosial. Mereka harus berjuang menghadapi beban moral atas pilihan tersebut dalam drama cinta yang penuh dilema.
Sampul Novel Cinta Pertamaku, Suami Orang
8.9
Nisa terjebak dalam skandal asmara dengan Dani, suami Rika. Meski berlatar belakang pendidikan pesantren, Nisa gagal menjaga prinsipnya karena rayuan maut Dani yang meruntuhkan pertahanannya. Rika dengan tegas meminta Nisa menjauh, namun Nisa merasa Dani harus bertanggung jawab atas perasaan yang telah tumbuh. Kini, Nisa bimbang antara mengakhiri hubungan terlarang itu atau justru terus menyakiti sesama wanita demi mengejar cinta pertamanya yang salah.
Sampul Novel Di Mana Sayap Tumbuh
8.9
Sekuel The Maid and the Young Heir ini mengikuti Amelia, kini seorang ibu yang menjaga rahasia kelam. Saat Luciano berjuang mempertahankan keluarga, masa lalu kembali mengancam. Putra sulung mereka, Gabriel, dipenuhi tanda tanya, sementara Isabelita menghadapi bahaya di perantauan. Di tengah ancaman balas dendam musuh lama, Amelia harus memutuskan apa yang perlu dikorbankan demi keselamatan orang terkasih. Sebuah kisah tentang cinta dan keberanian untuk melepaskan.
Sampul Novel Dipaksa Menjadi Boneka Pribadi Sang Miliarder
8.0
Aluna bekerja keras di Hotel Aurelia demi biaya pengobatan adiknya. Namun, hidupnya hancur saat akun sistemnya dituduh membocorkan video rahasia Davin Elvard Renata dari Presidential Suite. Meski dijebak oleh rekan internal, miliarder itu tak peduli dan memaksa Aluna menjadi tawanan pribadinya sebagai bentuk tanggung jawab. Terjebak dalam konspirasi besar dan ancaman Davin, Aluna harus bertahan di tengah permainan kekuasaan yang penuh rahasia dan ketakutan.
Sampul Novel Hot Mama And Could Daddy
8.6
Ditinggalkan Elena membuat Rio dan putra tirinya, Zain, harus bertahan dalam kesendirian. Meski tanpa ikatan darah, Rio belajar menjadi ayah seutuhnya bagi bocah misterius yang memiliki kemampuan meramal tersebut. Rahasia kelam Elena sebagai pelacur mulai terkuak saat Zain memperingatkan Rio tentang rencana jahat ibunya dan Sarah. Mereka berniat menjebak Rio dengan obat-obatan dan godaan malam ini. Rio kini terjebak dalam dilema antara rasa terancam dan kebahagiaan Zain.
Sampul Novel Keturunan Rahasia
8.5
Akibat jebakan licik pamannya, Rajendra Antariksa melakukan kesalahan fatal terhadap Amara Lucia Haidar di masa lalu. Setelah sepuluh tahun hidup dalam penyesalan mendalam, pewaris Antariksa Group ini terkejut saat mengetahui Amara mengalami trauma berat dan telah melahirkan putranya secara rahasia. Namun, upaya Rajendra untuk menebus dosa tidaklah mudah. Ia justru menghadapi penolakan keras dari Amara, orang tuanya, bahkan anak kandung yang baru diketahuinya itu.