
Aku Diabaikan Saat Setia
Bab 3
Kang Oded semakin menunduk. Matanya mulai berair. Dasar lembek! Baru segitu saja sudah menangis. Bukankah seharusnya aku yang menangis dan dia yang marah?
“Dik, aku maafkan perselingkuhanmu,” tuturannya terdengar tulus. Di telingaku justru terdengar konyol. Siapa juga yang minta maaf sampai harus dimaafkan. Aku sama sekali tak merasa bersalah kepadanya, meskipun perbuatanku terlihat keliru di mata masyarakat dan agama.
“Apa saja kesalahanku, aku mau memperbaiki diri, Dik,” Kang Oded mengangkat mukanya, kini menatapku lurus penuh tekad. Sorot matanya memancarkan kesungguhan hati. Namun sayang ….
Aku mencibir. Mengapa baru sekarang? Setelah semua telanjur terjadi dan aku terlampau jauh melangkah.
Aku tahu telah melewati sebuah pintu dan daun pintu itu sudah tertutup dengan bunyi berdebum yang keras di belakang punggungku. Mendengar bunyi itu, aku tahu sudah tak ada lagi jalan pulang buatku. Pintu itu pasti telah terkunci, sehingga tak mungkin lagi dapat dilewati untuk kembali.
“Sudah terlambat, Kang. Aku sudah enggak ada rasa,” tolakku dingin. Wajah ini sengaja aku palingkan dari jarak pandangnya. Aku tak ingin lagi menatapnya. Seumur hidup, baru kali inilah aku merasa luar biasa benci terhadap suami
Tangan Kang Oded meraih tanganku, tapi kutepiskan tanda tak sudi.
“Apa sepuluh tahun menikah tidak ada artinya buatmu, Dik?” Bujuknya lagi, mengingatkan akan semua hal yang pernah terjadi diantara kami.
Aku terdiam. Selama itukah aku sudah menikah dengannya? Buang-buang umur saja. Baru aku sadari bahwa selama ini aku begitu naif dan lugu mau bersamanya.
Kang Oded memintaku pada Bapak tepat setahun aku lulus SMP. Umurku 16 tahun saat itu. Setahun luntang-lantung tak bersekolah, hanya membantu Bapak dan Ibu di rumah.
Lantaran tak ada biaya, Bapak tak mampu membiayai pendidikanku ke SMU. Bapak hanya seorang perajin tas buatan tangan kecil-kecilan yang penghasilannya tak tentu. Ibuku, ibu rumah tangga yang tak berpenghasilan. Beliau menikah ketika berumur 16 tahun, sama dengan umurku saat menikah dengan Kang Oded.
Kang Oded datang dengan mahar pekerjaan di tangannya, lebih baik daripada teman-temanku lelaki yang pengangguran semua. Dengan bangga Kang Oded mengatakan ia telah memiliki penghasilan yang dapat menafkahiku setelah menikah. Mungkin karena itulah Bapak tertarik menerima lamaran Kang Oded, lelaki yang umurnya sepuluh tahun lebih tua dariku.
Aku mengangguk saja ketika ditanya maukah menikah dengannya. Tak sekolah dan tak ada pekerjaan, mau apa lagi aku? Lebih baik aku menikah, daripada menjadi beban orangtua.
“Tentu ada artinya, Kang. Artinya, aku sudah bosan hidup begini-begini terus tidak ada kemajuan,” kataku sengaja menyakitkan hati. Semoga ia sadar bahwa aku sudah tak mau dengannya lagi.
Setelah menikah, aku dibawanya ke rumah kontrakan RSSS ini. Rumah yang hanya memiliki dua kamar dan satu kamar mandi di luar. Satu kamar di depan menjadi ruang kerja Kang Oded sekaligus ruang tamu. Satu kamar yang lebih kecil menjadi kamar tidur kami. Tak ada tempat buat memasak.
Setiap hari pekerjaanku hanya menemani Kang Oded, menonton sinetron di televisi, dan sesekali ke tetangga di depan rumah. Membosankan sekali. Apalagi aku tak kunjung hamil, entah kenapa.
“Padahal aku sudah berencana mencicil rumah sendiri, Dik. Kita nggak akan tinggal di sini terus,” bujuknya lagi. Mungkin ia mengira aku bosan tinggal di rumah kecil sewaan terus. Persoalannya bukan itu saja, Kang.
Aku mengembuskan napas, lelah. Setelah sepuluh tahun menikah, Kang Oded masih saja tak peka akan keinginan-keinginanku. Sepuluh tahun kami bersama, tapi aku merasa telah serumah bersama lelaki yang bebalnya keterlaluan. Bahkan kucing saja memahami tabiat tuannya setelah beberapa waktu bersama.
“Aku bosan menanti datangnya buah hati,” tampikku dengan embusan napas lelah yang sengaja aku keraskan.
“Anak itu pemberian Tuhan, Dik. Bukan kita yang menentukan kapan akan diberi anugerah,” Kang Oded menyampaikan alasan yang itu lagi itu lagi.
Sampai bosan aku mendengar dalihnya tentang anak. Bersabar dan terus bersabar, sementara tak ada usaha memeriksakan diri kami ke ahli kandungan. Bukankah itu sama saja mengharap makan buah rambutan tapi tak ada usaha mengambilnya dengan galah? Sampai kapanpun, buah rambutan tak akan jatuh sendiri dari pohonnya, kecuali buah itu sudah busuk.
“Sudahlah, Kang! Aku itu sudah malas meneruskan pernikahan kita,” kataku seraya mengibaskan tangan di depan wajah. Raut wajahku bertambah masam.
Kang Oded terpana.
Tak ada niatku berkata kasar kepadanya, tapi Kang Oded tipe lelaki yang tak akan kunjung paham perkataan halus apabila tidak diterangkan secara blak-blakan. Jika aku tak berkata lugas, maka ia akan memahami lain maksud hatiku.
“Jadi maksudmu?” Kang Oded menatap wajahku dengan sorot mata tajam dan lurus. Kulit wajah di seputar kedua sudut bibirnya yang kering tampak tegang, menyiratkan keseriusan ucapannya. Mungkin, seberkas pemahaman akan tekad hatiku telah menyeruak di dalam benaknya.
Baguslah jika memang demikian. Ucapanku berikutnya tidak akan membuatnya ambruk ke lantai saking kagetnya. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kekuatan dari tarikan udara yang tipis oksigen di dalam kamar kecil ini. Begitu udara yang kuhirup mengembangkan rongga paru-paruku, aku meluncurkan kalimat dengan sepenuh hati dan tekad baja.
“Aku mau cerai saja!” semburku tegas. Aku tatap matanya terang-terangan untuk membuktikan bahwa aku serius. Bahwa tak ada tangis dan duka dalam keputusanku. Aku mantap.
“Ce, cerai, Dik?!” Sepasang mata Kang Oded yang sayu kini melotot, menampakkan kedua bola hitam di tengah-tengah yang seolah ingin melompat keluar. Sepasang tangannya bergetar dan menggapai-gapai mencari pegangan. Tubuhnya yang kurus akibat banyak merokok dan jarang makan itu goyah, lalu akhirnya tangannya berhasil meraih televisi sebagai sandaran.
Dasar lemah! Baru mendengar satu kata itu saja sudah sempoyongan. Lelaki macam apa yang sudah menikahiku selama sepuluh tahun ini? Memalukan bukan kata yang tepat. Kata sifat yang lebih pas mungkin adalah; menyedihkan.
“Iya, Kang. Kita sudahi saja semua ini.” Tanpa menunggu tanggapan Kang Oded, aku bergerak kembali ke tujuanku semula.
Aku menguap lelah dan rasa kantuk mulai menyerang pelupuk mata. Setelah melemparkan pernyataan cerai selugas barusan, aku mendadak kehabisan energi untuk melanjutkan obrolan. Topik tentang masa depan pernikahan ini sudah tamat buatku.
Rasa-rasanya tenagaku sudah terkuras habis. Tak ada lagi minatku untuk berbantah-bantahan dengan Kang Oded. Lagipula, memang sudah tak ada lagi hal yang perlu dibahas. Setelah sekian tahun berlalu dengan memendam rasa dongkol dan makan hati, aku memerlukan istirahat. Jiwa dan raga.
Aku tata bantal di kasur, lalu mulai bersiap tidur. Tak aku hiraukan Kang Oded yang masih berdiri terpaku, terguncang dengan keputusanku. Untuk sesaat tak ada kata-kata yang keluar dari bibir hitamnya yang setiap waktu mengisap rokok. Harapanku memang ia tak lagi mencoba membuka ruang perbincangan diantara kami, agar tak ada lagi adu mulut yang tak berguna. Bungkam lebih baik bagi kami.
Kepala aku letakkan di atas bantal. Nyaman betul rasanya. Aku berbaring memunggungi Kang Oded. Entah apa yang akan dilakukannya untuk melewati malam ini. Terserah dia saja. Aku sudah tak ambil pusing dengan segala kelakuan dan kegiatannya.
Gemerisik kain seprai akibat kasur yang dinaiki terdengar di belakang punggungku. Selama sesaat aku tercekam dan membeku dalam posisi berbaring. Jadi Kang Oded memutuskan mendekatiku. Gerakan badan Kang Oded yang kian tak berjarak membuat kasur bergoyang-goyang di belakang punggungku. Napasku tertahan, sementara jantung ini semakin cepat berpacu.
Anda Mungkin Juga Suka





