
Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama
Bab 4
Gerakan tangan yang sedang mengoles obat jadi terhenti, aku mengangkat kepala dan melihatnya: “Aku sendiri saja? Kamu nggak ikut?”
Willy menghela nafas, dengan sedikit menyesal berkata: “Kerjaanku terlalu sibuk, tidak bisa kutinggalin, lain kali baru kutemanin ya?”
Tapi Willy, kita sudah tidak ada lain kali lagi.
Aku menundukkan kepala lanjut mengoles obat: “Kantor sana mungkin nggak gampang untuk izin.”
“Ini tidak perlu kamu hirauin, aku akan mengurusnya.”
Aku bersikeras berkata: “Tapi aku tidak mau pergi.”
Ucapannya terkesan tidak bisa ditolak: “Dengarin, aku sudah pesan tidak bisa dibatal.”
Aku tidak menjawabnya, hatiku hanya terasa dingin.
Aku teringat semalam saat aku setengah sadar mendengar Willy menelpon dengan orang lain:
“Aku tidak berniat memberitahunya, bisa berapa lama aku menutupinya ya berapa lama lah.”
“Untuk jaga-jaga, mendekat acara pernikahan, aku akan pesanin liburan untuknya.”
Orang yeng mendengarnya menghela nafas: “Lalu? Dia jadi selingkuhanmu?”
Mendengarnya, Willy lama tidak menjawabnya, menghisap rokok dalam-dalam lalu mengeluarkan asap rokok.
Seperti sudah berlalu 1 abad lamanya, dia baru perlahan-lahan berkata: “Untuk itu nanti baru lihat lagi.”
Hatiku terasa sangat sakit, aku baring di kasur, membiarkan air mata mengalir, merasa selama 7 tahun ini sangatlah konyol.
Willy, aku sepertinya tidak pernah mengenalimu.
Kalau sudah tidak suka, kenapa tidak terus terang bilang, melainkan memilih berbohong.
Apakah takut aku gangguin? Jadi gunakan cara ini supaya aku jauh dari kalian dan tidak merusak acara pernikahan kalian.
Sebenarnya tidak perlu sesusah gitu.
Willy, aku akan sesuai kemauanmu, selamanya hilang dari duniamu.
Aku menanya: “Pesawatnya kapan?”
“Dua hari lagi.”
Aku senyum, “Baik, aku pergi.”
Willy mendengarnya, kelihatan dia menjadi lega lalu mengulurkan tangan mau memegang kepalaku.
Aku dengan santai menghindarinya.
Dia terdiam sebentar lalu dengan senyum berkata: “Sebelum berangkat, kita harus makan bersama dulu.”
Aku berpikir sejenak, lalu mengangguk.
Besok, kebetulan adalah anniversary ke tujuh kami.
Berpamitanlah dengan baik, menjelaskan semuanya, membuat hubungan ini mulai dan berakhir di hari yang sama.
Esoknya, aku sudah sampai di restoran yang janjian dengan Willy, dia juga datang dengan tepat waktu, hanya saja sampingnya ada Gina.
“Kak Sarah, kebetulan aku sama Pak Willy ada urusan di sekitar sini, jadi barengan datang, tidak mengganggu kalian kan?”
Aku menggelengkan kepala, hanya merasa kecewa, sepertinya makan malam perpisahan terakhir ini tidak bisa membuat hubungan kami diakhiri dengan baik.
Willy memesan makanan yang tidak terlalu berminyak dan asin.
Gina melihatnya, tidak bisa menahan senyumnya berkata: “Pak Willy, makanan yang kamu pesan terlalu hambar, apakah cocok dengan selera Kak Sarah?”
Willy tidak memperdulikannya menjawab: “Kamu lagi mens, tidak boleh makan pedas.”
Sambil bilang, dia memanggil pelayan menyuruhnya mengangkat minuman dingin yang di depan Gina, dan bawain teh jahe dengan gula merah.
Gina mengerucutkan bibirnya dan mengeluh Willy terlalu banyak mengatur.
Willy dengan penuh kasih sayang mengetuk dahinya: “Kalau aku tidak peduli samamu, nanti perutmu sakit, kamu yang akan menangis.”
Gina menjulurkan lidah, “Mana ada separah gitu, kamu yang terlalu berlebihan.”
Mereka berdua bercanda mesra seperti tidak ada orang di samping mereka, aku hanya dengan dingin melihatnya, hatiku pun tenang sampai tidak ada goyangan lagi.
Saat lagi makan, tiba-tiba terdengar ada yang teriak kebakaran.
Seketika orang-orang jadi rusuh dan berlari ke luar.
Aku baru berdiri, langsung melihat ada orang yang dengan cepat melewatiku.
Lalu melihat Willy memeluk Gina dengan erat di dalam pelukannya, langsung membawanya jalan ke luar.
Seketika, aku seperti melihat remaja yang umur 18 tahun, di kondisi yang sama juga, saat itu, orang yang di dalam pelukannya masih aku.
Sesudah sampai di tempat yang aman, Willy baru sadar lalu membalikkan kepalanya dan melihat aku yang berdiri tidak jauh darinya, matanya penuh dengan kebingungan:
“Aku tadi terlalu buru-buru, aku bukan sengaja......”
Aku dengan senyum memotongnya, “Nggak papa, aku ngerti.”
Hari yang ditentukan Willy untuk liburanku sudah tiba, dan aku sudah menyiapkan koperku dari jauh-jauh hari.
Setelah kupastiin kamar ini tidak ada jejakku lagi.
Aku langsung membawa koperku pergi.
Aku tentu tidak pergi liburan, melainkan pulang ke rumah papa mama untuk siap-siap menikah, karena hari pernikahanku juga sudah mau tiba.
Dan Willy sibuk dengan Gina mencoba baju pengantin, jadi tidak ada waktu untuk memikirkanku.
Hari pernikahan pun sudah tiba, aku juga pertama kali melihat calon pasanganku Adam.
Pandangan papa mamaku benaran sangat bagus, orangnya lebih ganteng dari foto, baik dari segi tubuh ataupun penampilan, semuanya sangat sempurna.
Rombongan penjemputan sangatlah megah, aku duduk di dalam mobil, sepanjang jalan sangatlah ramai dan semangat.
Di saat berpapasan lewat dengan satu mobil pengantin, kedua mobil serentak berhenti untuk kedua pengantin wanita bertukar bunga pernikahan.
Jendela mobil perlahan-lahan turun, di dalam mobil seberang, Willy dan aku saling bertatapan.
Seketika dalam matanya muncul badai besar, dengan suara yang bergetar dan nggak percaya: “Sarah, kok kamu?”
Anda Mungkin Juga Suka





