
Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama
Bab 2
Beberapa hari ini, Willy sepertinya sangat sibuk sampai lupa hari ulang tahunku.
Tapi, aku sudah tidak peduli lagi.
Dia sepertinya tiba-tiba teringat, demi menebus kesalahannya, dia membeli tiket pertunjukan musikal yang paling aku suka.
Pertunjukan ini sangatlah populer, sangat susah untuk mendapat tiketnya, aku sendiri saja tidak mendapati, jadi aku menerima ajakannya saat dia bilang ada tiket.
Tetapi di hari pertunjukannya, aku tidak melihat kedatangannya melainkan melihat Gina memposting tiket di sosial medianya.
Dua tiket.
[Melihat konser di saat bosan, memiliki seseorang yang bisa kamu panggil kapan saja untuk menemanimu bersenang-senang benaran sangat menyenangkan.]
Walaupun tidak kelihatan wajahnya, tetapi tangan yang ada bekas luka di dalam foto itu, jelas-jelas adalah Willy.
Bekas luka di tangannya itu karena menolongku.
Seketika aku merasa diriku seperti badut.
Saat aku berdiri di luar kehujanan karena takut dia terjadi sesuatu, dia sedang berada di kursi VIP bersama sekretarisnya melihat konser.
Air hujan yang dingin jatuh ke wajah, hatiku dan tubuh perlahan-lahan menjadi dingin.
Saat ini, mama mengirimkan pesan bilang pernikahan dijadwalkan 2 minggu lagi, kalau aku merasa terlalu mepet, bisa diundurin lagi.
Aku menggelengkan kepala: “Nggak perlu ma, ikuti yang sekarang saja.”
Hujan deras membuat lalu lintas macet total, aku sudah menunggu lama pun tidak kedapatan mobil.
Telepon Willy saat ini baru datang: “Kamu kenapa nggak di rumah?”
Aku dengan suara yang sangat datar menjawabnya, “Aku sekarang di tempat pertunjukan musikal.”
Dia sepertinya sudah teringat, lalu diam sebentar, “Maaf, tadi sore ada urusan, kamu tunggu di sana, aku pergi jemput kamu.”
Aku tidak menolaknya, karena aku tahu dia tidak akan datang.
Detik selanjutnya, Gina memposting lagi:
[Takut aku demam karena kehujanan, suami CEO membuatkan aku teh kunyit, pria yang lagi masak paling ganteng, mau langsung menikahinya!]
Fotonya adalah punggung Willy yang sedang sibuk di depan kompor.
Aku hanya sekilas melihatnya, lalu dengan tenang keluar dari halaman tersebut.
Hujan deras ini membuat aku demam.
Aku dengan alasan tidak mau nularin ke Willy, pindah ke kamar tamu.
Bisa-bisanya Willy meninggalkan kerja, hanya di rumah untuk merawatku.
Aku jadi tidak terbiasa, “Hanya flu ringan saja, lagi pula aku sudah dewasa bisa menjaga diriku sendiri, kamu pergi kerja saja.”
Dia dengan tatapan aneh melihatku sebentar.
“Bukannya dulu kamu paling berharap aku bisa nemanin kamu saat sakit? Hari ini kenapa aneh kali?
Aku menundukkan kepala untuk menyembunyikan emosiku, lalu dengan senyum paksa: “Dulu aku terlalu kekanak-kanakan, sekarang sudah enggak lagi.”
Willy dengan mata penuh kekhawatiran melihatku: “Sarah, kamu baik-baik saja kan?”
“Iya, pergilah.”
Dia masih merasa aku aneh, tapi nggak tahu mana yang aneh, lalu hanya bisa menatapku dengan penuh perhatian dan menghela nafas:
“Kalau gitu kamu istirahat dulu, kalau ada apa-apa hubungi aku.”
Sesudah dia pergi, aku menghela nafas lega, lalu berbaring dan tidur lagi.
Setelah bangun, aku melihat mama mengirimkan rencana pernikahan yang sangat rinci.
Selain itu, mengirimkan 10an jenis gaun pernikahan untuk aku pilih.
Aku menggeser fotonya, lalu perbesar dan fokus memilih, sampai Willy muncul pun nggak sadar.
Dia menarik handphoneku dan melemparnya ke samping, dengan tidak senang mengerutkan dahinya:
“Ngapain kamu lihat gaun pernikahan?”
Aku kira dia sudah tahu aku mau menikah, jadi mau sekalian jelasin semuanya saja.
Tapi kata-kata selanjutnya, membuat aku merasa betapa konyolnya pemikiranku.
“Sarah, kamu ini lagi paksa nikah kah? Aku sudah bilang aku akan menikah denganmu, jadi jangan gunakan cara-cara ini untuk kodein aku, terlihat sangat tidak pantas.”
Anda Mungkin Juga Suka





