
Aku Dan CEO Nakal
Bab 3
Mendengar lagu yang melantun dan juga bagaimana cara wanita itu bergoyang dan menyentuh dirinya sendiri membuat Alceo merasa terprovokasi hingga gairahnya timbul tanpa ia sadari.
Pikiran nakalnya berlarian membayangkan wanita itu berada di bawahnya malam ini.
"Il have her tonight on my bed," gumam Alceo seraya menegak minumannya dan berdiri hendak mendekati panggung.
Gary menyekal tangan Alceo sebelum laki-laki itu pergi. "Apa yang terjadi dengan 'aku tidak menyukai wanita berambut pirang?" tanya Gary seraya mengernyit.
"Rambutnya tidak ikal," kilah Alceo sambil menunjuk kearah panggung, dimana wanita itu sudah hampir selesai bernyanyi.
"Tapi rambutnya pirang." Gary mengingatkan.
Alceo menoleh kearah Gary dan tersenyum. Ia lalu menepuk pundaknya.
"Jangan terlalu old fashion, Gary. Itu hanya rambut. Yang kau nikmati itu adalah tubuhnya, bukan rambutnya."
Gary mengerjap kebingungan. Kenapa jadi ia yang terkesan buruk mendengar kalimat Alceo barusan? Yang ia lakukan hanya mengingatkan Alceo akan ketidak sukaannya, bukan?
"Watch and learn, Buddy." Alceo menepuk bahu Gary sebelum berlalu lagi kearah panggung.
Wanita itu sudah selesai bernyanyi dan mendapatkan tepuk tangan meriah dari orang-orang yang menikmatinya. Termasuk Alceo.
Laki-laki itu menunggu di samping panggung dengan senyum lebarnya. Begitu Wanita itu menuruni panggung.
Tanpa peringatan, aba-aba dan izin. Alceo langsung melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu dan melumat bibirnya yang secara mengejutkan, terasa manis untuknya.
Wanita itu terkejut, matanya terbelalak hingga ia kira kalau matanya akan melompat keluar dari tempatnya.
Dengan segala kesadaran dan kekuatan yang masih tersisa, wanita itu mendorong tubuh Alceo, menatap laki-laki itu tidak percaya.
Ketika Alceo ingin kembali menciumnya, wanita itu dengan cepat meraih lengan Alceo, memutarnya lalu mengunci tangan kekar Alceo di belakang tubuhnya.
"Arghhh! Apa yang kau lakukan?!" pekik Alceo terkejut mendapatkan perlakuan yang berbeda dari yang ia bayangkan.
"HIDUNG BELANG!" pekik wanita itu sambil menendang bokong Alceo hingga laki-laki itu terjungkal ke depan.
***
Megan memijat pelipisnya. Kepalanya masih terasa pening akibat pengaruh alkohol, juga kejadian tidak menyenangkan yang menimpanya kemarin malam. Tidak pernah seumur hidupya ia dilecehkan serendah itu oleh seseorang.
Oh well, mungkin laki-laki yang melecehkannya tampan. Amat tampan, kalau Megan bisa menambahkan. Tetapi perilaku laki-laki itu nol besar. Apa laki-laki itu mengira Megan adalah wanita murahan yang bisa dicium dan di ajak tidur semudah itu?
Laki-laki itu sudah gila kalau benar-benar mengira Megan serendah itu.
Bukan sampai sana saja kesialannya. Ternyata laki-laki yang melecehkannya, dan juga laki-laki yang ia tendang bokongnya adalah tamu penting. Kalau mendengar dari penuturan bartender yang tiba-tiba menengahi keributan mereka semalam.
Kalau bukan karena hari itu adalah hari berbahagia kedua sahabatnya, David dan Tania, Megan tidak akan meminta maaf dan memilih melupakan pelecehan itu.
Laki-laki hidung belang sepertinya harus diberantas. Karena menurutnya, laki-laki hidung belang itu seperti virus. Sangat mudah menyebar dan sangat mengganggu kesejahteraan hidup umat manusia.
Megan bersumpah ia tidak akan kembali ke kelab malam itu, apapun yang terjadi.
Bungkusan roti isi yang tiba-tiba melayang ke mejanya membuyarkan lamunan Megan.
Megan menoleh lalu mendapati Claire sudah duduk di kursi sebelahnya sambil melahap roti yang sama seperti yang tadi di lemparkan ke atas meja.
"Aku sudah dengar dari Tania," ujar Claire.
"Katanya laki-laki itu tampan, ya? Aku jadi menyesal tidak ikut dan melewatkan pertunjukan kemarin."
Megan berdesis menanggapi ejekan Claire. Ia meraih roti di atas meja dan membukanya dengan gerakan kesal.
"Jangan bahas masalah kemarin lagi. Aku benar-benar ingin memandikan laki-laki itu dengan 1 tangki alkohol agar virusnya tidak menyebar kesiapapun."
Claire terbahak hingga nyaris tersedak mendengar gerutuan Megan.
"Laki-laki memang seperti itu, Meg. Kau hanya terlalu sering bergaul dengan David yang hidupnya lurus. Bahkan mungkin saja dibalik itu semua, David juga memiliki sifat hidung belang itu, tidak ada yang tahu."
"Aku akan menyemprot David dengan pestisida kalau sampai ia melecehkan Tania," gerutu Megan dan mengabaikan candaan Claire.
"Kau kira sahabatmu itu sayuran berhama?" tanya Claire lalu kembali terbahak.
Megan memajukan bibirnya sesaat sebelum ia ikut tertawa bersama Claire.
Tawa mereka berhenti ketika karyawan di kantin mendadak ribut dan berlari ke satu arah pintu masuk beserta jendela yang mengarah ke Lobby utama kantor mereka.
"Ada apa? Apa ada artis lewat?" tanya Claire bingung.
Megan menggidikkan bahunya. "Palingan model untuk produk bulan depan," ujar Megan tidak tertarik.
"Boleh aku bergabung?" suara Edward, atau yang sering mereka panggil Ed, terdengar bersamaan dengan bunyi nampan yang diletakkan di atas meja mereka.
Megan tersenyum lebar sambil mengangguk. "Silahkan saja."
"Ed, artis mana yang datang? Kenapa heboh sekali?" tanya Claire yang sepertinya masih penasaran dengan kumpulan fans dadakan itu.
"Artis?" Ed terkekeh lalu menggeleng.
"Itu bukan Artis. Tetapi CEO perusahaan ini."
"CEO? Kenapa mereka heboh seperti itu?" Claire mengernyit.
Dalam bayangan Claire dan Megan, CEO perusahaan sebesar ini pastilah sudah berumur dan bertubuh gempal.
Jadi kalau reaksi yang terlihat seakan menyambut dewa Yunani begitu, tentu saja membuat Claire juga Megan bertanya-tanya.
Ed terkekeh dan menggidikkan bahu. "Sepertinya kau harus melihatnya sendiri, karena kalian pasti akan menertawakan jawabanku," ujarnya.
Setelah mengatakan itu, Ed mulai melahap makan siangnya tanpa meladeni Megan dan juga Claire.
Megan dan Claire saling bertatapan. Mereka seakan berbicara secara telepati untuk melihat sendiri kehebohan itu.
Namun belum sampai kata sepakat, kerumunan itu sudah membubarkan diri dengan helaan nafas kecewa yang ketara.
Alceo bersumpah ia tidak akan kembali lagi ke kelab malam miliknya yang satu itu.
Seumur hidupnya, ia tidak pernah dipermalukan seperti itu oleh seorang wanita kecuali adik kembarnya. Tidak ada satu wanita pun yang berani menginjakkan kaki di atas harga dirinya. Tidak seorang pun.
"Apa kau merasa tidak berlebihan, Marvel?" suara bass Gary menyadarkan Alceo dari lamunannya.
"Kalau kau tidak mau kesana lagi. Kenapa juga kau harus memindah tugaskan aku ke klab ini?"
"Aku butuh teman bicara," sahut Alceo ketus.
"Yakin? Setelah mendapat mangsa. Kau juga akan meninggalkanku. Lebih baik aku kembali ke klab yang dulu saja. Disana lebih banyak pelayan seksi."
Gary bersungut-sungut sambil mengelap meja barnya. Klab ini memang tidak sebesar klab yang kemarin menjadi saksi harga diri Alceo terinjak.
Namun persamaannya adalah kedua klab itu sama-sama milik keluarga besar Tyler.
Jadi Alceo bisa berbuat seenaknya atas pegawai-pegawai bar tersebut. Termasuk memindah tugaskan Gary tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Mulutmu cerewet sekali seperti ibu-ibu rumpi," sindir Alceo.
Alceo meneguk minumannya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling klab yang sebagian besar diisi oleh pejabat-pejabat berumur dan juga pekerja-pekerja kantor yang nampaknya menjadikan klab malam ini sebagai alternatif tempat meeting.
Berbeda dengan klabnya yang kemarin, yang kebanyakan diisi oleh anak-anak muda.
Maka itu, Alceo hampir tersedak ketika ekor matanya tidak sengaja atau memang hari sialnya belum berakhir melihat bayangan wanita berambut pirang yang sama baru saja masuk ke klab itu.
Alceo meletakkan sedikit kasar gelas di tangannya ke atas meja bar. "Kenapa dia ada disini?!"
Gary mengernyit dan mengikuti arah pandangan Alceo. "Dia siapa?"
"Wanita kemarin!" pekik Alceo tidak percaya.
"Aku tidak melihatnya. Mungkin kau berhalusinasi. Klab ini private dan hanya yang memiliki reservasi atau jabatan tinggi saja yang boleh masuk."
"Aku benar-benar melihatnya!" Alceo menatap Gary dengan mata melotot. Tidak terima diragukan.
"Aku akan menghampirinya dan menanyakan maksudnya mengikutiku kemari!" putus Alceo langsung bangkit dari tempatnya, meninggalkan Gary dan menghampiri lokasi wanita itu.
Gary tidak sempat mencegah atasannya itu karena Alceo bergerak dengan sangat cepat. Ditambah, suaranya teredam oleh musik beat yang memekakkan telinga.
Anda Mungkin Juga Suka





