Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah

Trauma kekerasan seksual mengubah Berlian menjadi sosok tomboi yang nakal. Merasa dirinya kotor dan tak berharga, ia menutup hati serta menghindari hubungan dengan pria mana pun. Berlian yakin tidak akan ada lelaki yang tulus menerimanya. Namun, takdir membawanya bertemu seorang pria kaya raya yang mengubah segalanya. Akankah kehadiran sosok miliarder ini menyembuhkan luka masa lalunya yang kelam, atau justru memberikan penderitaan baru yang lebih menyakitkan?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Maaf, Pak! Saya sedang dalam keadaan darurat. Anak saya sakit keras dan kejang-kejang. Mau dibawa ke rumah sakit tapi saya tidak pegang uang. Apa Pak Darma bisa meminjamkan uang pada saya?" Seorang pria seumuran Darma bicara terburu-buru dengan napas yang tidak teratur. Raut wajahnya tegang dan dipenuhi keringat.

"Sebentar, Pak!" Darma merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet. Mengambil beberapa lembar uang kertas merah lalu memberikannya pada pria itu.

"Terima kasih banyak, Pak. Anda memang selalu baik seperti biasanya. Saya pasti akan mengganti ini saat gajian." Membungkuk hormat beberapa kali.

Darma mengangguk sambil tersenyum. "Iya, saya percaya jika Bapak akan menggantinya. Sekarang lebih baik Bapak cepat pulang dan bawa Budi ke rumah sakit!"

"Baik, Pak. Terima kasih banyak!" Pria itu pun pergi dengan raut wajah haru.

Darma menutup pintu dan menguncinya. "Ckk, mengganggu saja!"

Dia kembali masuk ke kamar putri sambungnya. Mata elangnya beredar ke seluruh penjuru kamar sempit itu. Tidak mungkin jika Lian kabur dari sana mengingat pintu itu dikunci dan kedua kunci tersebut ada di saku celananya. Tidak ada akses untuk keluar dari kamar. Adapun jendela berukuran kecil memanjang, tidak mungkin bisa disisipi tubuh manusia dewasa.

"Anak itu sepertinya bersembunyi," pikir Darma sambil terus mencari.

Di dalam lemari pakaian tidak nampak, satu-satunya tempat yang mungkin dijadikan persembunyian adalah ….

"Lian, sudah cukup main petak umpetnya. Aku sudah tidak tahan!" ucap Darma sambil menghempas kain penutup dari badannya.

Gadis yang tengah bersembunyi itu gemetaran di kolong tempat tidur. Dadanya seolah didobrak kuat dari dalam. Keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Dia berharap akan diselamatkan dari setan berwujud ayah tirinya itu.

"Aku menemukanmu, Sayang …!" Darma terkekeh menyeramkan saat kepalanya melongok ke bawah kasur.

Lian makin ketakutan. "Pergi! Ja-jangan dekat-dekat!"

"Kalau tidak mau keluar maka aku yang akan keluar dari kamar ini. Hal yang sangat remeh jika aku harus melenyapkan istri cacadku! Aku juga tidak akan segan untuk menghilangkan nyawamu terlebih dahulu!"

Mendengar itu, Lian refleks beringsut keluar dari kolong ranjang. Tidak masalah jika dia mati saat itu juga daripada harus menjadi pemuas nafsu ayah tirinya. Namun, dia memikirkan tentang sang ibu. Tidak ada orang lain yang akan menjaga Ayu Sari mengingat sudah tidak punya lagi keluarga dan sanak saudara. Semuanya telah meninggal saat musibah banjir bandang setahun yang lalu. Darma! Pria itu sudah pasti akan mencampakkan atau bahkan melenyapkan ibunya jika dia benar-benar mati.

Darma langsung menyerangnya. Menindih dan mengunci tubuhnya.

"Kamu terlalu banyak berbelit-belit!"

Gadis itu menjerit dalam hati saat bibirnya kembali dilahap rakus. Tubuhnya yang berharga kini dinikmati begitu saja oleh Darma. Tatapannya kosong meski matanya mengalirkan air kepedihan. Malam ini dia kehilangan hal paling penting yang selalu dia jaga.

Gelap dan berantakan! Itulah pandangannya ke depan tentang kehidupannya nanti.

**

Lian terduduk lesu pada tembok. Matanya bengkak akibat menangis tak henti setelah kejadian buruk yang menimpanya. Kedua tangannya menggosok kuat-kuat seluruh tubuhnya yang menjijikan. Berharap kotoran dari sentuhan lancang Darma bisa hilang.

Lian sudah dipastikan tidak akan punya masa depan. Tidak akan ada pria yang mau menerimanya kelak. Dia sudah kotor, ternoda!

"Lian …! Kamu masih tidur, Nak?" panggil Ayu setelah mengetuk pintu.

Ingin rasanya Berlian menghambur ke pelukan ibunya dan menceritakan semua kejadian buruk itu. Namun, dia tidak mau membuat wanita itu terbebani dan ikut terluka.

"Bu, Lian mungkin sedang sakit karena sejak kemarin bilang gak enak badan," kilah Darma yang baru saja muncul.

Gadis di dalam kamar menutup telinganya rapat-rapat. Dia jijik mendengar suara pria itu yang mengingatkan akan kejadian semalam. Lian benci mendengar suara desahan Darma yang memuakkan.

"Ibu lebih baik sarapan biar nanti aku belikan obat ke apotek untuk Lian," bujuk si Monster pada istrinya.

"Terima kasih, Mas." Kekaguman dan ketenangan Ayu berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.

**

Darma membeli obat ke apotek. Bukan sembarang obat untuk menyembuhkan orang sakit melainkan pil penunda kehamilan.

"Makanlah dan minum obatnya! Aku tidak mau kamu hamil," lirihnya dengan tatapan tajam.

Lian sama sekali tidak menggubris. Tatapannya kosong tertunduk pada lantai yang menjadi saksi bisu kenahasan hidupnya.

"Turuti semua perintahku jika mau ibumu selamat!" Perkataan penutup yang menyeramkan.

Darma menutup kembali pintu kamar itu. Dia menemui istrinya yang ada di kamar lain.

"Bagaimana, Mas? Lian mau minum obatnya?" tanya Ayu yang hendak memutar roda dari kursi yang dia duduki.

"Tentu saja, harus! Kalau tidak minum obat kan bahaya," ucapnya disisipi seringai.

"Mas, kita tidak perlu pergi ke rumah sakit. Aku mencemaskan keadaan Lian." Wajahnya terlihat tegang dan gelisah.

"Lian hanya demam biasa. Cuma perlu istirahat. Tidak usah cemas berlebihan. Dia tadi juga bilang supaya kamu mau menjalani terapi biar cepat pulih." Lagi-lagi mengeluarkan alibi.

Akhirnya Ayu mau pergi setelah dibujuk suaminya. Dia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang menyayangi dan menginginkannya untuk sembuh.

**

Lian membuang obat pemberian ayah tirinya. Dia juga membanting semua barang yang ada di dalam kamar sambil berteriak-teriak.

"Aku benci hidupku! Aku benci …!"

Tangisnya berlomba dengan teriakan hingga menarik perhatian tetangga terdekat. Beberapa orang mendatangi rumahnya.

"Astaga, Lian keserupan! Cepat panggil pak ustadz!" seru salah seorang wanita.

Satu orang pria menuruti perkataan tersebut. Tak lama berselang, ustadz yang dimaksud itu tiba bersama beberapa warga lain yang penasaran.

Gadis itu masih berteriak dan menangis meski tidak menjelaskan apa yang terjadi padanya. Beberapa orang memeganginya agar tidak berulah. Pak ustadz membacakan doa pada segelas air yang diminumkan dan dipercikan pada wajah Lian.

Gadis itu bisa tenang bukan karena jin atau makhluk halus sudah berhasil diusir. Mungkin raganya telah lelah meski air mata masih belum kering.

Lian termenung saat dipapah menuju kamarnya. Seorang wanita paruh baya dan anak gadisnya yang merupakan teman Lian, menemani di sana sampai Ayu dan Darma pulang.

Sambil menunggu mereka, kedua tetangga baik ini membantu membereskan kamar Lian yang acak-acakan.

Selang satu jam lebih yang ditunggu pun tiba. Ibu dan anak itu menceritakan tentang Lian yang kesurupan tadi. Darma yang awalnya tegang kini bisa bernapas lega karena korbannya tidak membocorkan rahasia bejadnya.

Kedua tetangga pun pergi. Ayu memeluk putrinya sambil menangis. "Nak, katakan ada apa? Apa kamu punya masalah?"

Lian bungkam, malah ayah tirinya yang menyahut. "Makanya jangan banyak bengong, jadinya kesurupan! Kasihan ibumu sampai cemas begini, kalau sampai kenapa-napa, bagaimana?"

Lian mengepalkan tangan yang ada dipangkuannya. Tatapannya meruncing meski diarahkan pada seprei kasur yang ia duduki. Dadanya naik turun memendam amarah.

"Darma, kamulah yang kesurupan setan, bukan aku!" batinnya.

Ayu tetap berusaha menenangkan dan menghibur putrinya sedangkan si Brengsek menatap tajam sebagai kode agar Lian tutup mulut.

"Lian mungkin sedang patah hati, nanti juga akan kembali ceria," kilah Darma agar istrinya berhenti mencemaskan gadis tersebut. Selalu ada alasan agar Ayu tidak menaruh curiga.

**

Malam yang sama terulang kembali. Darma memberikan obat tidur untuk istrinya agar aksinya berjalan tanpa gangguan. Dia menyerang Lian seperti waktu itu dengan cara dan ancaman yang sama.

Si gadis hanya bisa menangis meratapi nasib buruknya tanpa bisa mengungkapkan pada siapapun.

Lian mengambil gunting dan mencukur rambutnya pendek hingga tak jelas bentuk dan modelnya. Dia membakar semua rok dan baju bergaya feminim, hanya menyisakan beberapa potong jeans dan kaos polos berlengan pendek. Untuk apa berpenampilan manis karena kini dirinya sudah kotor. Tidak akan ada yang mau menerimanya jika tahu bahwa dia sudah tidak suci lagi.

Ayu melongo melihat perubahan Lian yang seperti laki-laki. "Nak, kenapa penampilan kamu semrawut begitu?"

Gadis itu menjawab seenaknya. "Aku tidak mau jadi perempuan!" Melahap sarapan dengan rakus.

"Astaga, Nak. Itu adalah dosa besar, jangan bicara seperti itu!" Kamu sebenarnya kenapa sih?" Mata Ayu berkaca-kaca.

"Bu, malah menurutku itu bagus daripada Lian berpenampilan sexy dan mengundang laki-laki brengsek untuk mengganggunya. Kalau sekarang kan pasti tidak akan ada yang mau mendekatinya." Darma terkesan mendukung apa yang dilakukan gadis itu. Tentu saja, dia tidak mau Lian disentuh pria lain selain dirinya. Dia ingin memiliki si Daun Muda sendirian.

"Sudahlah, Bu …! Nanti aku akan membetulkan rambutnya agar terlihat lebih rapi."

Lian muak mendengar suara makhluk sadis itu. Dia segera minum lalu bangkit dari duduknya. "Bu, jangan cemas! Aku masih waras, tidak akan menyukai perempuan meskipun aku benci dilahirkan menjadi seorang wanita! Masalah rambut, aku akan meminta Sofia merapikannya."

Lian menyalami ibunya kemudian pamit. Sama sekali tidak mengindahkan uluran tangan ayah tirinya.

Ayu menghela napas berat. Bagaimana bisa putri semata wayangnya berubah drastis? Bukan hanya penampilan saja tapi juga cara bicaranya yang menjadi ketus, tak ada manis-manisnya meskipun masih bersikap sopan pada sang ibu.

**

Hampir seminggu Lian bolos kerja. Tidak ada surat izin atau pemberitahuan pada pihak perusahaan. Hanya terdengar kabar jika keadaan gadis itu sedang labil, entah sakit fisik atau mental. Bahkan adapula yang menyebar hoax jika Lian itu tidak waras.

Saat gadis yang tengah jadi buah bibir itu kembali masuk kerja, semua orang nyaris tidak mengenalinya jika saja tidak melihat ID card yang menggantung di lehernya.

"Ternyata gosip yang kita dengar memang benar, Lian yang tukang sensor manset itu sekarang otaknya rada-rada …. Lihat saja penampilannya jadi seperti 'Pria kw' gitu," bisik seseorang yang baru saja dilewati Lian.

"Itu si Berlian yang suka dikecengin cowok-cowok mekanik itu kan? Wah, heboh pasti! Tapi baguslah, sainganku berkurang satu kepala," timpal yang lain dibumbui dengan tawa.

Begitulah kebanyakan yang memandang Lian saat ini. Tebakan mereka sebenarnya tidak terlalu meleset. Dia memang tengah depresi atau stress atau apalah sejenisnya! Setiap orang memang punya cara berbeda saat mengalihkan segala beban pikiran.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 30 Days With Mr. Vague
8.1
Rose terkejut saat tahu penculiknya adalah Louton Vague, pewaris kaya yang selama ini terlihat berwibawa. Di balik paras tampannya, Louton ternyata pria kejam dan misterius. Namun, interaksi intens selama penyekapan membuat Rose menyadari ada luka batin yang menyiksa Louton. Meski tersakiti, Rose justru merasa iba dan ingin memperbaiki sisi gelap pria itu. Kini ia terjebak dilema antara melaporkan kejahatan Louton atau mengikuti hatinya untuk terus membantu sang miliarder.
Sampul Novel Hidupku yang Kaya Mendadak
8.5
Terlahir miskin, aku banting tulang demi membiayai kuliah dan membelikan iPhone untuk kekasih impianku. Namun, pengorbananku dibalas pengkhianatan saat aku memergokinya bermesraan dengan pria lain. Tak hanya dihina karena kemiskinanku, aku pun dipukuli hingga terpuruk dalam keputusasaan. Di titik terendah itu, sebuah telepon dari ayah mengubah segalanya. Rahasia besar terungkap bahwa aku sebenarnya adalah putra seorang miliarder yang sangat kaya raya.
Sampul Novel Jangan Cintai Bosmu!
9.5
Naura, staf pemasaran di Jakarta, terlibat masalah setelah menumpahkan iced latte ke jas Arga Narendra Wijaya. Ternyata, pria arogan itu adalah CEO barunya. Arga yang tersinggung mulai menekan Naura, bahkan memaksanya mencuci jas tersebut sebagai bentuk dominasi. Namun, Naura tidak tinggal diam. Di balik perseteruan ego ini, tersimpan rahasia masa lalu Arga yang kelam. Kini Naura terjebak antara mempertahankan harga diri atau mengungkap kebenaran di balik sosok bosnya.
Sampul Novel Kakakku Mencuri Tunanganku, Kini Aku Menggoda Bosnya
9.8
Dikhianati oleh Devan dan Siska, aku bertekad membalas dendam dengan mendekati Raditya, atasan Devan yang kaya. Menggunakan identitas Anya, aku menyamar jadi pengasuh putri kecilnya, Kirana. Rencanaku berjalan lancar hingga kehangatan keluarga ini mulai meluluhkan hatiku. Sosok Raditya yang penyayang dan keceriaan Kirana membuat niat jahatku goyah. Di tengah kemewahan rumah itu, kebencianku perlahan sirna dan berganti menjadi perasaan cinta yang tak terduga.
Sampul Novel Nikah Kontrak Dengan CEO Dingin
9.6
Nadine Arwen terjerat dalam nasib kelam saat ayah tirinya menjualnya kepada muncikari. Hidupnya berubah total ketika Leonardo Ethan, seorang miliarder sukses, membelinya demi memenuhi syarat pernikahan dari sang kakek. Leonardo yang hanya menginginkan istri suci ternyata menyimpan motif tersembunyi. Di balik kemewahan, Nadine justru menderita karena sikap dingin dan obsesi misterius suaminya. Akankah Nadine sanggup bertahan dalam jebakan kontrak tanpa cinta ini?
Sampul Novel Noda Darimu
8.5
Violetta Gilda terjebak dalam masalah besar setelah satu malam tak terduga bersama kekasih sahabatnya, Biantara Edzhar Martinez. Kejadian di pesta itu membuat Gilda hamil, hingga kakek Edzhar memaksanya menikah untuk menutupi aib. Carla yang murka bekerja sama dengan ibu Edzhar guna menghancurkan Gilda lewat skema pernikahan kontrak. Kini Gilda harus berjuang demi sang anak sambil memendam rasa cinta yang kian tumbuh pada Edzhar. Akankah cinta itu terbalas?