Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Bukan Sampah

Aku Bukan Sampah

Trauma kekerasan seksual mengubah Berlian menjadi sosok tomboi yang nakal. Merasa dirinya kotor dan tak berharga, ia menutup hati serta menghindari hubungan dengan pria mana pun. Berlian yakin tidak akan ada lelaki yang tulus menerimanya. Namun, takdir membawanya bertemu seorang pria kaya raya yang mengubah segalanya. Akankah kehadiran sosok miliarder ini menyembuhkan luka masa lalunya yang kelam, atau justru memberikan penderitaan baru yang lebih menyakitkan?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Berlian! I-ini kamu?" Gadis bernama Erni itu memindai temannya sampai tak sempat berkedip.

"Hey, apa kamu sakit? Eits, apa jangan-jangan ini kembarannya Lian!" timpal Nia yang keningnya berkerut.

"Apa ada masalah pribadi? Tidak mungkin kamu tiba-tiba berubah drastis seperti ini," imbuh Erni lagi.

Yang ditanya terlihat santai memakai rompi dan penutup kepala berwarna kuning yang merupakan baju kerja karyawan bagian sensor. Dia duduk menatap keduanya. 

"Seseorang itu bisa berubah seiring berjalannya waktu. Entah ke arah positif atau sebaliknya. Memang kenapa kalau penampilanku begini? Kurasa bukan aku satu-satunya yang tomboi di dunia ini."

"Iya, sih … tapi perubahanmu ini sangat mendadak. Rasanya aneh dan apakah ada hubungannya dengan kabar kalau kamu itu sakit? Stress ya, gara-gara cowok?" duga Erni memicingkan mata.

"Perasaan, kamu itu jomblo. Apa mungkin kamu patah hati karena ditolak cowok yang kamu taksir? Siapa sih cowok itu? Oh … apa Ardi, mekanik line A yang baru saja pacaran sama Via Adm itu?" timpal Nia.

"Sok tahu kalian! Aku gak naksir siapa-siapa. Jangan ngada-ngada, nanti timbul hoax lagi! Yang jelas, aku sekarang lagi bosen jadi cewek. Jadi, jangan pernah bahas tentang cowok, pacar apalagi calon suami. Oke!"

Nia menempelkan telapak tangan pada kening Lian. "Kamu masih waras, kan! Gak belok selera sama yang sejenis!"

Lian mendengus sembari menghempas tangan temannya. "Aku emang stress tapi tidak segila itu! Sebentar lagi bel masuk, masih mau kepo atau siap-siap kerja? Ini lihat, manset yang belum diperiksa banyak banget!" Dia mengambil seikat manset lalu membukanya.

"Aku mau ke toilet dulu," ucap Nia yang langsung menghilang saat itu juga. 

Erni duduk di sebelah Lian, masih menatap lekat. "Kalau kamu ada masalah, ngomong saja! Aku siap menjadi tempat curhatmu."

Lian pura-pura fokus memeriksa manset. Senyum kelu muncul di bibirnya dan matanya sedikit berair. "Jangan lebay! Aku baik-baik saja!"

Entah kenapa Erni merasa jika temannya itu sedang berbohong. Dia tahu persis ekspresi itu. Wajah sendu yang bersembunyi di balik senyum tipis. Tapi jika Lian belum mau bercerita maka dia tidak ingin memaksa. Yang jelas, dia berharap agar temannya itu bisa mendapatkan solusi terbaik apapun masalahnya.

Bel masuk berbunyi. Semua karyawan yang masih ada di luar gedung berlarian. Ketiga gadis bagian sensor manset sudah bergelut dengan pekerjaan mereka. 

"Berlian Andini, kamu dipanggil pengawas besar di mejanya!" ucap seorang wanita yang merupakan pengawas kecil line A bagian manset.

Lian melepas napas berat. Dia sudah memprediksi hal ini akan terjadi. Gadis itu bangkit dan melangkah dengan santainya, malah terkesan cuek. Kedua temannya saling tatap.

"Jangan-jangan Lian dipecat!" bisik Nia.

"Semoga saja cuma dikasih surat peringatan. Kasihan dia kalau sampai berhenti kerja," timpal Erni.

Mereka berbisik-bisik sambil bergerak dengan pekerjaan agar tidak terlalu mencolok.

Sementara itu, Lian sekarang tengah duduk menghadap Bu Dewi yang menatapnya tajam. Tangan si atasan bersilang di dada.

"Bagus, ya! Kamu bolos gak bilang-bilang dulu, gak minta izin dulu. Masuk kerja juga gak samperin saya dulu buat kasih penjelasan. Memang kamu pikir ini perusahaan milik orangtuamu? Di mana tanggung jawabmu sebagai karyawan? Sudah bosan kerja di sini atau kamu sudah jadi orang kaya, jadi malas kerja?"

Lian bungkam menatap pengawas besar yang sedang sibuk nyerocos.

Bu Dewi menggebrak meja tapi Lian sama sekali tidak terusik. "Kamu menantang saya? Kenapa malah diam saja? Kamu pikir saya ini radio butut? Aneh, saya merasa seperti bicara sama mayat hidup. Kamu itu sebenarnya sedang memikirkan apa? Otakmu sedang jalan-jalan di mana, hah?"

"Maaf, Bu!" Bilang maaf tapi wajahnya sama sekali tidak merasa bersalah. Jelas itu membuat Bu Dewi makin naik pitam. Akhirnya Lian diserahkan pada manager untuk disidang.

Wajah yang kini ada di hadapan Berlian adalah Pak Bram, manager line A. Pria dengan usia kepala empat itu menatap Bu Dewi tajam.

"Baik, Pak. Saya permisi," pamit pengawas besar yang sudah tahu kode tatapan atasannya. Dia pergi meninggalkan Lian bersama manager.

Setelah diinterogasi dan diomeli habis-habisan, Lian keluar dari ruangan manager dengan wajah lesu. Langkah kakinya tak secepat saat tadi menemui pengawas besar. 

Dipecat! Hal itulah yang membuat tubuhnya lemas serasa tak bertulang. Meski sebelumnya sudah bisa menduga tapi saat benar-benar terjadi, Lian hanya bisa pasrah.

Gadis itu melepas rompi dan topi kuning. Melipatnya lalu memasukkannya ke laci meja periksa. Kedua temannya menangis saat Lian berpamitan sedangkan beberapa yang lain berbisik-bisik meledek.

Lian sama sekali tidak menggubris orang-orang yang tidak menyukainya. Lebih baik fokus pada teman-teman yang selalu mendukungnya.

**

Untuk pertama kalinya, bibir pink alami itu menyesap sebatang rokok. Kepulan asap membumbung menutupi sebagian wajahnya. Meski sesekali terbatuk-batuk akibat belum terbiasa, gadis itu tidak menghentikan aktivitas barunya tersebut.

Tatapannya lurus menghadap kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya. Posisinya berjongkok dengan sebelah tangan mengapit rokok dan satu lagi memegang sebuah cup kopi instan.

Seorang tukang ojeg online pesanannya datang. Pria berjaket hijau itu memberikan helm.

Lian mematikan rokok dengan sepatunya lalu membuang cup minuman ke tempat sampah. Sambil naik motor, sambil pakai helm.

Perjalanan selama seperempat jam berakhir saat sampai di depan gang kecil. Lian turun dari ojeg lalu memberikan ongkos. Hal tidak terduga terjadi, Darma yang entah muncul dari mana kini menatap tajam pada putri sambungnya lalu beralih ke tukang ojeg yang langsung tancap gas.

"Lian, bukannya kamu sedang bekerja? Kenapa pulang dan tidak memberi tahu Ayah?" Darma berkacak pinggang. Gayanya sudah seperti seorang pria yang posesif. Sayangnya dia melakukan itu tidak pada tempatnya.

Lian tidak mau meladeninya. Dia bersikap seolah tidak ada siapa-siapa di sana. Melengos pergi begitu saja. Andai dia tahu jika pria gila itu tidak sedang bekerja maka dia akan memilih untuk tidak pulang ke rumah.

Darma menarik tangan Lian lalu menampar pipi kemerahan gadis itu. 

"Kenapa tiba-tiba menamparku, pria edan?" pekik Lian seraya memegang pipi. Dia tidak peduli jika suaranya mengundang penasaran warga.

"Kamu harus menuruti aku meskipun hanya ayah tirimu! Kamu tidak boleh berboncengan dengan laki-laki meskipun hanya tukang ojeg! Ayah yang akan mengantarkan kamu."

"Dasar sinting!" teriak Lian sambil melengos. Dia setengah berlari menuju rumah.

Beberapa orang menghampiri Darma dan menanyakan tentang pertengkaran tersebut.

"Saya cuma mengkhawatirkan Berlian. Dia itu anak sambung yang saya anggap sebagai anak kandung sendiri. Saya bertanggung jawab atas masa depannya," kilah Darma agar terlihat baik di mata masyarakat.

**

Malam ini Berlian meminta tidur bersama ibunya. Selain merindukan momen itu juga untuk berjaga-jaga agar ayah tirinya tidak bisa berulah lagi. Namun, dugaannya salah!

Ayu begitu terlelap akibat pengaruh obat tidur yang diberikan suaminya. Jadi, Darma bisa bisa leluasa bertindak gila seperti sebelumnya. 

"Bu …!" Lian mengguncang tubuh Ayu saat ayah tirinya mendadak muncul di kamar itu. Gemetaran karena ketakutan!

Darma tergelak sambil berkacak pinggang. "Kamu jangan mengganggu ibumu yang sedang pulas! Dia tidak akan bangun karena aku sudah memberinya obat tidur. Sekarang, mari kita bersenang-senang!"

"Sinting! Dasar tidak …." Kata-katanya menggantung karena kepalanya terasa berputar-putar. Pandangannya buram dan dalam waktu singkat, tubuhnya ambruk di sebelah ibunya.

Darma menyeringai merasa puas dan menang. Dia tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk menikmati gadis itu. 

"Kenapa tidak dari awal saja aku memberinya obat tidur, kan segalanya jadi lebih mudah. Lain kali aku akan mencekokinya dengan obat perangsang!"

Darma mengangkat tubuh Berlian dan membawanya ke kamar lain untuk menuntaskan hasrat gilanya. 

**

Pagi hari gadis itu tersentak mengetahui jika dirinya berada di kamar lain dalam keadaan polos tanpa kain, hanya ditutupi selimut. Darma berdiri menatapnya dengan seringai menjijikan.

"Sayang, terima kasih. Sekarang aku jadi lebih bersemangat untuk bekerja. Jaga ibumu baik-baik!"

Lian menepis tangan Darma yang ingin mencolek dagunya. Pria itu malah tergelak sambil melangkah meninggalkan kamar.

Si gadis memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Dia pergi ke kamar mandi yang terpisah dari kamar. Kamar mandi satu-satunya yang ada di rumah kecil itu.

Lian menangis sesenggukan di dalam sana. Dia merasa lebih jijik dengan tubuhnya yang sudah kotor. Dia sudah cape dan muak! 

"Ya, aku harus menghancurkan tubuh ini agar tidak bisa dinikmati oleh setan itu!"

Pisau tajam yang ada di dapur kini berada dalam genggaman Berlian. Dia kembali ke kamar mandi. Benda mengkilat runcing itu ditatapnya dalam-dalam. Perlahan diarahkan ke pergelangan tangannya. Satu goresan saja maka cairan pekat merah akan keluar dari lengannya. Namun, hal itu urung dilakukan setelah terdengar suara Ayu memanggil.

"A-aku … sedang mandi, Bu!" teriaknya.

Tubuhnya terduduk lesu dan tangisnya kembali deras. Tidak seharusnya dia melakukan ini! Jika dia mati maka bagaimana dengan ibunya? 

"Tidak, ini bukan cara yang tepat! Bukan aku yang harus mati, tapi Darma! Aku akan melenyapkan laki-laki brengsek itu!"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JAZ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JAZ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 30 Days With Mr. Vague
8.1
Rose terkejut saat tahu penculiknya adalah Louton Vague, pewaris kaya yang selama ini terlihat berwibawa. Di balik paras tampannya, Louton ternyata pria kejam dan misterius. Namun, interaksi intens selama penyekapan membuat Rose menyadari ada luka batin yang menyiksa Louton. Meski tersakiti, Rose justru merasa iba dan ingin memperbaiki sisi gelap pria itu. Kini ia terjebak dilema antara melaporkan kejahatan Louton atau mengikuti hatinya untuk terus membantu sang miliarder.
Sampul Novel Aku Menikahi Paman dari Tunanganku
8.4
Setelah menyadari bahwa Samuel Gusmawan hanya mencintai adiknya selama dua puluh tahun pernikahan mereka di kehidupan lalu, sang protagonis mengambil langkah ekstrem saat diberi pilihan pernikahan politik. Alih-alih memilih Samuel lagi, ia menyerahkan foto Jeffrey Gusmawan, paman Samuel sekaligus pemimpin tertinggi keluarga mereka. Keputusan mengejutkan ini membalikkan keadaan. Namun, saat cincin pernikahan diserahkan kepada Jeffrey di hari sakral tersebut, Samuel justru kehilangan akal sehatnya.
Sampul Novel CINTA DINGIN TUAN BESAR
8.4
Marla masuk ke kediaman Austin sebagai pelayan, namun ia tidak menyadari bahwa Margaret memiliki agenda tersembunyi untuk menjodohkannya dengan sang cucu tertua, Richard Branson Austin. Richard adalah pria kaku yang sangat pendiam, kontras dengan adiknya, Ascar, yang gemar memberontak. Terjebak di antara dua kepribadian yang bertolak belakang, Marla kini menghadapi dilema besar: bertahan dalam rencana perjodohan tersebut atau memilih untuk melarikan diri.
Sampul Novel Cute Pumpkin & The Badboy ( Indonesia )
8.9
Aryan Mada Kusumo, pewaris tampan Kusumo Grup yang gemar hidup bebas, mendadak terdesak saat orang tuanya menuntut pernikahan melalui perjodohan paksa. Di sisi lain, Nur Callia Maharani adalah chef profesional yang hanya ingin fokus pada kariernya. Tak disangka, sosok yang akan dijodohkan dengannya ternyata musuh bebuyutan masa kecil yang sangat ia benci. Akankah penyatuan antara wanita serius dan pria playboy ini berhasil di tengah konflik masa lalu mereka?
Sampul Novel HOT DUDA
9.6
Taran merupakan pengusaha sukses yang ingin mendukung karier musik adiknya, Kejora, setelah viral di YouTube. Ia pun mempekerjakan Resti sebagai manajer. Awalnya, hubungan mereka tegang karena Taran merasa Resti terlalu ikut campur. Namun, berkat Kejora, keduanya justru semakin akrab. Meski ada Ben yang mencoba menghalangi, benih cinta antara Taran dan Resti kian tumbuh kuat, terutama saat mereka menghabiskan waktu bersama selama berada di Bali.
Sampul Novel Lima Tahun Kebohongan
9.6
Damon dan Aurelia terikat pernikahan kontrak demi warisan dan stabilitas finansial. Setelah lima tahun berpisah, Damon kembali untuk bercerai, namun ia terkejut menemukan Aurelia membesarkan seorang putra yang sangat mirip dengannya. Di tengah tuntutan komitmen dari kekasihnya, Mira, Damon harus memilih antara rencana masa lalunya atau tanggung jawab sebagai ayah. Rahasia besar mulai terungkap, memaksa Damon mempertaruhkan segalanya demi keputusan yang benar.