
Aku Bukan Perawan
Bab 3
Melihat sikap Shinta tadi, yang kelihatan begitu menderita dan menyimpan banyak prsoalan, Predi sadar kalau dirinya secara tidak langsung telah menyakiti danbiat penderitaan gadis itu semakin mendalam. Padahal dulu, ia amat mencintai dan mengasihi Shinta. Untuk mendapatkan Shinta pun, ternyata bukan hal yang mudah, karena ia harus bersaing mengalahkan pemuda-pemuda lainnya.namun setelah ia berhasil menjadikan gadis itu sebagai keksihnya, bahkan pernah berencan untuk menukuhkan tali cinta merek di gerbang pernikahan,
Beragam pertanyaan memenuhi kepala Predi. Pertanyaan demi pertanyaan yang tak bisa di jawabnya denan tuntas. Pertanyaan demimi pertanyaan yang menunjukn dirinya bukanlah seorang lelaki yang gentelmen dan adil. Pertanyaan demi pertanyaan yang menunjukan betapa culas, lemah dan tak berarti dirinya.
Predi merasa dirinya tak berdaya. Sama tak berdayanya saat ia tak kuasa menolak kedatangan Putri kembali, yang pernah di ketahuinya menyimpan sejuta hasrat yang mendalam terhadap dirinya.
Dan Predi tak berdaya untuk menolak kemesraan cinta yang pernah ditawarkan gadis itu padanya. Bahkan ia juga tidak kuasa untuk menolak ketika suatu malam Putri datang padanya dan memberikan kehangatan cinta,
Lain dengan Shinta, kali ini Putri datang dengan godaan- godaan. Sehingga Predi pun tergoda dengan rayuan Putri.
Yah, malam yang semakin di sertai hujan rintik-rintik yang turun sejak tad,i semakin membuat keduanya terlena oleh suasana yang menghanyutkan. Baik putri maupun predi. Sama-sama mereka puas dengan apa yang telah mereka lakukan itu.
Apa yang mereka lakukan itu bukan hanya sekali terjadi. Hampir setiap bertemu, sepertinya Predi merasa tidak puas kalau belum bermesraan. Apalagi Putri pun tidak pernah menolak keinginan itu, sebaliknya ia merasa senang dan bangga krena telah berhasil membuat orang yang dicintai dan didambakannya merasa puas dan semakin dalam masuk dalam pelukannya.
Begitulah yang terus terjadi.Predi semakin terseret jauh dalam pusaran permainan cinta Putri, dan tidak memperdulikan Shinta lagi. Lelaki yang sudah dimabuk kemesraan itu sepertinya lupa, kalau dalam sisa-sisa kehidupnnya dulu pernah hadir seorang gadis yang mat dicintai dan dikasihinya.
Kini tinggalah Shinta yang terus meratapi nasibnya yang malang. Lelaki yang di harapkannya dapat menghibur hatinya. Malah kabur bersama perempuan lain. Sunghuh, nalangsanya Shinta saat ini. Dihianati oleh kekasih yang amat dicintinya itu.
Kamu telah mempertimbangkan keputusan ini, Shin. Dina memandang perhatian . Ada kesedihan yang membayangi paras wajahnya. Sementara Shinta masih asik merapihkan pakaian-pakaiannya dan memasukannya kedalam koper. Keputusannya bulat sudah. Ia harus meninggalkan kota kelahirannya yang banyak meninggalkan kenangan pahit dan manis untuk merantau mencari pengalaman di kota lain.
" Aku terpakasa meninggalkan kota ini, Din. Penyebabnya, pasti kamu sudah tahu kn?" Shinta menghentikan pekerjaannya sebentar dan balas menatap wajah sahbat baiknya.
Mendengar jawaban itu, Dina cuma bisa menghela napas. Ia memahami apa yang dirasakn Shinta saat ini menjadi Shinta pun, tentu ia mempunya keinginan yang sama dengn gadis itu. Cepat- cept meninggalkan kampung halaman yang hanya akan membuat jiwanya semkin lara dan nalangsa.
" Aku sedih karena harus kehilanganmu, Shin. Bagaimanapun, kamu adalah sahabatku yang terbaik. Di jaman sekarang, susah mencari sahabat sebaik kamu, ucap dina lirih.
Jangan memujiku terlalu berlebihan ah," Shinta hanya tersenyum kecil dan meneruskan kembali pekerjaannya.
" Bener,Shin. Aku sedih karena tidak bisa berkain bersama-sama denganmu lagi. Bahkan, mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi ya? Kalau sudah berhasil di perantauan nanti, mungkin kamu tidak akan pulang kekampung ini lagi," nada suara itu terdengar begitu penuh keluhan. Sekali lagi Shinta mengulas senyum tipis untuk menenangkan perasaan sahbatny itu.
Jangn ngomong begitu ah Din. Kamun pikir, aku bakl mati apa, sehingg kita tidak pernah bertemu lagi? Enggak, Din. Pada saatnya nanti, aku akan kembalinlaginke kota ini. Kan masih ada ibuku di sini? Selama aku belum mapan. Biar ibuku tinggal di sini dulu.nanti kalau aku sudah punya rumah dan kehidupan cukup di perantauan, baru akunakan mengajak ibuku," katanya kemudian.
"Jadi! Kamu akan pergi sendiri?" Dina terkesiap.
Shinta mengangguk mantap.
Dengn siapa kamu akan tinggl disana nanti?
" Kamu kenal Susi kan? Itu lho, bekas temnku waktu SD dulu. Nah, dialah yang mengirimku peaan t hp ku dan mengajakaku dan mengikuti jejaknya. Kebetulan sekali ya? Di saat aku sedang frustasi dan tak tahu apa yang harus kunkerjakan, eh, dia membawa kabar baik."
" Memang Susi kerja apa di sana?"
" Katanya sih ia menjadi seorang pelayan di reustoran jepang. Kebetulan tempatnya ia bekerja itu sedang memburuhkan pegawai baru. Jadi akubd ajaknya," sahut Shinta ceria.
"Oya? Hebat dong kalau begitu. Kalau ada lowongan lagi aku juga mau ikut, Shint. Biar bisa dekat- dekat dengan kamu,"
" Tenang aja. Sesampainya di sana aku nanti menemukan lowongan kerja lago, akan ku kabarkan kamu secepatnya."
" Ya, Shin? " Pinta Dina serius.
" Ya iya dong. Aku mana pernahbboong sih?"
Aseulas senyum senang segera tersungging di bibir Dina . Kendati begitu ia merasa sedih juga karena harus kehilangan Shinta dalam waktu yang tak bisa d tentukan.
Esok paginya, ketika Shinta harus berangkat dengn keretanapi, Dina pun turut mengantar kepergian sahabatnya itu bersama ibu Shinta.
" Hati- hati d perantauan ya, Nak," wanita separuh baya itu memeluk putrinya dengan air mata berlinang. Shinta pun membalas pelukan ibunya dengan keharuan yang mendalam. Sepsang matanya yang bening nampak berkaca- kaca.
" Do ibu selalu Shinta harapkan.doakan biar Shinta cept berhasil ya, Bu," bisiknya di telinga ibunya.
" Tentu saja, Nak," sang Ibu mengangguk-angguk sambil mengerjab- ngerjabkan matanya yang basah. Saat berpelukan dengan Dina pun, Shinta tak dapat menahan keharuan dan kesedihannya.
" Selamat jalan, Shinta. Semoga kamu cepat berhasil, dan jangan lupa ajak- ajak aku kalau kamu sudah berhasil," kata Dina dengan wajah ceria. Sepasang matanya memandang Shinta penuh harap.
" Beres," Shinta mengangguk pasti.
Ketika suara pengumuman terdengar bahwa kereta siap berangkat, Shinta pun segera masuk ke dalam kereta melambaikan tangannya. Dina dan ibu Shinta membalas lambaian tangan itu dengan hati sedih dan rasa kehilangan. Dua hari yang lalu, Shinta sempat melarang ibunya untuk memberitahukan prihal keberangkatannya itu pada saudara-saudara lain. Hanya dina saja yang d beritahu Shinta tentang kepergiannya untuk merantau di kota lain. Maka itu mengapa hanya mereka berdua yang hadir dan melepas kepergian Shinta.
Ada kepedihan yang membekas di hati wanita separuh baya yang kini harus tinggal seorang diri itu.ia memaklumi mengapa Shinta tega meninggalkannyadengan mengmbil keputusan untuk pergi merantau.
Yah, kalau saja putri semata wayangku itu tidak di hianti oleh kekasihnya. Tentu Shinta tak akan pernah tega meninggalkannya. Tentu anak yang dikasihinya itu masih akan terus berada di dekatnya.
Namun, kepiluan yang di alami Shinta menentukan lain. Bukn wanita itu tak tahu , betap sedih dan terpukulnya hati Shinta. Kalau membiarkan Shinta terus berada dalam keadaan itu, ia takut putrinya itu akan putus asa dan melakukan sesuatu hal yang tak diinginkannya. Satu-satunya jalan terbaik, ia harus merelakan putri tercintanya itu meninggalkan dirinya dan mencari pengalaman di kota lain.
Semoga saja nasib Shinta bisa berubah menjadi lebih baik di sana. Begitu harapan sangbibu.
Tak terkirakan betapa girangnya hati Susi saat menerim kedatanagan Shinta. Dengan wajah berseri-seri diajaknya sahabat lamanya itu masuk kedalam rumah.
" Beginilah rumahku, Shin mungil dan tidak bagus seperti rumah-rumah lainnya.
Tapi, memang baru bisa seginilah yang bisa ku beli dari hasil jerih payahku sendiri,"
kemudian sambil membiarkan Shinta melihat-lihat keadaan rumahnya.
" Kamu harus bersyukur bisa mempunyai rumah sendiri dikota sebesar ini, Sus biarpun kecil, tapi kalau rumah sendiri, kan lebih nyaman. Justru aku suka dengan keadaan rumahmu ini, tenang, bersih dan rapih," puji Shinta tulus."Ya , itu kan karena aku tinggal sndiri disini jadi rumaku kelihatan bersih terus. Susi teraenyum kecil.
"Untung juga kamu belum berkeluarga, Sus. Kalau enggak, tentu aku merasa tidak enak hati sama suami kamu disini," canda Shinta sambil ikut tersenyum.
"Tenang aja, Shin. Yang pasti, kamu akan merasa nyaman dan tenang tinggal di sini. Kalau enggak percaya, rasain deh sendiri. Oya, ngomong-ngomong kamu mau minum apa?"
" Apa aja deh, terserah kamu. Kaya tamu aja."
Lho kamu memang tamuku kok. Tamu kan harus d hormati. Tunggu sebentar ya, akan ku buatkan air jeruk dingin untukmu," kata Susi sambil nb ergegas pergi ke dapur.
Anda Mungkin Juga Suka





