
Akibat Bebas Bergaul
Bab 3
Aku mempercepat genjotanku. Sambil kuukur kesensitifan kulit kontolku agar tak cepat-cepat keluar. Setelah yakin dengan itu, aku menindih tubuh padat perempuan ini. Ia membalas dengan memeluk erat tubuhku. Aku memompa dengan penuh ceria.
"Angh... sssshh... aangh... ssshhh"
"Ah ah ah ah..." begitu suara kami berdua.
Tiba-tiba setelah sekian lama, Teh Evi menekan pantatku dengan tangannya. Ia memaju mundurkan tubuhnya sendiri beradu rapat denganku. Kemudian tekanan tangannya pada pantatku begitu kuat hingga aku tak bisa apa-apa selain menekan keras memeknya. Tubuh Teh Evi berkedut dua kali. Ia terus mendesakkan badannya padaku.
"Teh... Teh jangan begini nanti Egi muncrat didalem"
Tangan Teh Evi sudah mengulai lemas. Tapi sudah kepalang. Tekanan dan dorongan itu telah menjebolkan aku. Secepat mungkin aku mencabut. Tapi di mulut memek Teh Evi kontolku telah muncrat sekali, sisanya aku keluarkan di sprei.
Crot... crot... crot...
"Waduuuh.... Aaah."
"Ah si Aa mah keluar di dalem ya?"
"Iya sedikit Teh... abisnya diteken gitu..."
Teh Evi mencari celana pendek Pamanku yang selama ini telah menjadi lap sperma kami. Ia mencoba mengelap cairan kentalku yang berada dibibir memeknya. Kelihatannya sungguh sexi. Tidak lupa pula mengelap sperma yang ada diatas sprei, tapi sulit untuk menhilangkannya.
Ia segera bangkit menuju kamar mandi. Aku segera menyusulnya, pengen kencing.
Barulah kulihat kegelisahannya di kamar mandi, berulang-ulang ia menyiram kemaluannya dengan air, seperti ada beling atau apa gitu tertinggal didalamnya. Aku melihatnya dengan prihatin, walau bagaimanapun itu spermaku. Aku jadi merasa tidak enak.
Setelah kencing aku duduk di atas kasur. Menunggu Teh Evi untuk menanyakan vaginanya.
"Apa A? sampe kayak orang kena setrum gitu pucat?" Teh Evi meledek ketika melihat wajahku. Ia menyulut rokoknya.
"Gapapa Teh itunya?" tanyaku menunjuk vaginanya. "Maksudnya takut hamil bukan Teteh?"
"Ga kenapa-kenapa, cuma memeknya kaget tadi ada anak baru udah pinter... hehihi..." Ia duduk disebelahku melendot manja pada bahuku.
"Hebat ih si Aa, Teteh bakal ketagihan ini sih... pinter di kuliah juga pinter ngentot cewek hahaha..." ia mencubit hidungku.
Akupun ikut tertawa. Aku menciumi pipinya, bahunya, rambutnya, semuanya yang bisa aku cium.
"Egi sih bukan ketagihan lagi sama Teteh, kayaknya Egi gak bakal lupa sama Teteh seumur hidup..." kataku sungguh-sungguh.
"Iyah jelas lah gak bakal lupa... soalnya perjakanya Teteh yang ngambil... hahaha"
Tak lama kamipun berbaring karena lelah. Kami berduapun tertidur nyenyak dengan bahagia.
^*^
Aku terbangun pukul setengah sepuluh pagi... rasanya gerah sekali. Tambah perutku lapar keroncongan. Bau rokok sudah mengudara di kamar kosan. Aku bangkit menuju kamar mandi. Barulah ku sadar Teh Evi juga rupanya sudah bangun, ia terduduk membelakangiku di pojok kamar, menunduk memandangi sesuatu. Tetap memakai selimut sebagai bawahannya.
"Teh? Lagi ngapain?" tanyaku padanya.
Si Teteh membalik badan, memperlihatkan hapenya. "Lagi liat hape A" Suaranya bindeng suara khas orang bangun tidur. "Ehm!... ini hapenya lowbat terus jadi harus sering dichas..."
"Ooh..."
Aku lanjut ke WC sambil melirik hapenya. Tapi yang kutangkap dalam lirikanku bukan cuma hapenya, tapi pemandangan paha mulus plus CD nya yang menggembung. Si Teteh boleh saja memakai selimut sebagai bawahan, tapi duduknya yang mengangkang memperlihatkan sesuatu yang selalu didambakan oleh para pria.
Aku memakai celana panjangku.
"Mau kemana A'?"
"Beli makanan ah... lapar. Teteh mau apa? Yang jualan ada apa aja ya?"
"Ga tau..." jawabnya sambil menggeleng. "A, beliin ini ya?" tambahnya sambil mengetuk bungkus rokok dihadapannya. Aku mengangguk sambil mengingat jenis rokoknya.
"Eh iya... Egi lupa..."
Si Teteh berkerut memperhatikanku. Aku membuka dompet, menghitung-hitung, dan mengeluarkan dua lembar uang seratusan. Aku berjongkok mendekat kearah tubuh mulus itu.
"Teh... maaf ya Teh... ini Egi punyanya segini dulu... maaf nanti kalo udah punya lagi, Egi tambahin..." Si Teteh makin mengkerut keningnya, tapi dari pandangannya ke uang yang aku pegang, kelihatan dia senang. Basa-basi aja deh dia, pura-pura ga butuh, hehe... khas orang Sunda.
"Makasih ya A'..." diambilnya uang itu malu-malu. Wajahnya bergerak hendak menciumku, aku mendekat pula bereaksi hendak menyedot bibirnya, tapi lagi-lagi dia hanya memberikan pipinya. Aku ciumi pipi mulus itu terus menyusur ke kuping, hendak menuju ke leher... sampai...
"A? hayu ih... Teteh lapar ini... ih" Aku terkejut dibuatnya, malu, meminta maaf dan buru-buru berjalan keluar mencari makanan. Didalam kamar kudengar si Teteh meringis tertawa.
"Adanya nasi uduk Teh... bubur ayam udah ga ada, udah kesiangan katanya..." Kataku ketika sudah kembali ke kamar. Teh Evi sedang berjongkok membuka-buka tas milik pamanku, ia tak lagi memakai selimut. Hanya pakai CD saja yang sejak kemarin selalu kupandangi.
Ia mengambil satu kaos milik pamanku. Dilihatnya, lalu ia berdiri membuka u can see yang sedang dia pakai sekarang. Bergoyanglah sedikit dua payudara putih miliknya.
"Gerah A'... pinjem dulu punya si Mamang ah..." katanya polos. Aku terpana memandang tubuh menggiurkan itu.
"Aw...!" jeritku tertahan ketika kontolku menegang cepat dan terjepit diantara ketatnya jeansku. Aku membetulkan sedikit letaknya. "Hihihih..." terdengar Teh Evi menertawaiku.
Aku memandanginya. "Kegedean itu sih bajunya... carinya yang bagus atuh Teh..."
Tak disangka, ia langsung membuka lagi baju itu, dan mulai mencari-cari lagi kedalam tas pamanku. Topless. Tak dipedulikannya pandangan nafsu merana dariku.
Ada perempuan dewasa, cantik, mulus, ramping, berjongkok dihadapanku hanya memakai celana dalam saja. Di pikir-pikir, memang masih bodoh aku pada waktu itu, kalau sekarang ini, sudah aku tarik paksa, kulumati, kumandikan dia dengan jilatanku dan kuhunjamkan keras kontolku pada memeknya.
Akhirnya ketemu kaus biru muda bagus yang agak kecil. Pas memang sama dia yang berbadan kecil. Dia bergerak membuka bungkusanku yang dari warung. Menata bungkusan nasi uduk dihadapanku dan dirinya. Mengangkat bungkusan rokok dan berkata "Makasih ya Aa ganteng... Kemudian berdiri mengambil sendok dan botol kemasan minum untuk aku dan dia.
Dia bersila dihadapanku mengangkat suap pertamanya. Dari tadi aku hanya terdiam memandangi lekuk tubuh bawahnya yang hanya dibalut celana dalam.
"Hayu A', makan...? mau disuapin...?" candanya.
Aku pun mengangkat sendok yang sudah kuisi nasi, dan menyodorkan sendok itu ke selangkangannya.
"Nih Egi suapin..."
"Ahahaha...." Ia menutupi CD nya yang bagian tembus pandang warna hitam itu. Aku menepiskan tangan yang menutupinya itu. "Jangan ditutup..."
Aku membuka celana jeansku yang membuat sesak si Otongku ini.
"Iiiih mau ngapain...?" si Teteh terkejut.
"Mau makan..." kataku. "Emang mau ngapain...?', tanyaku balik.
"Ooooooh kirain... hehehe, abisnya itunya kejepit terus ya? hahaha" Si Teteh bergerak menunjuk, kemudian menekan tititku yang sudah keras itu dengan telunjuknya.
"Aah!" kataku kaget dan keenakan.
"Hahahaha..."
Aku membalas dengan merabai paha mulusnya yang bagian dalam. Jempolku kugesekan pada bagian itilnya yang menggembung hitam.
"Eiyh...!', Teh Evi tersentak pantatnya, ia tertawa. Kemudian ia malah mundur menjauhiku sambil membawa piring nasinya. Ia makan dari jauh sambil senyum-senyum. Aku bingung.
"Kenapa)?" tanyaku.
"Iih hihih bahaya tangannya udah pinter... hehaha..."
Aku cemberut.
"Tega amat sih Teteh... ngasih liat yang kayak gitu, terus akunya diacuhkan...?"
"Ah hahaha... kan udah kemaren..."
"Yah kalo dikasih liat lagi ya jadi minta lagi dianya... ehehe..."
Tanganku menunjuk tititku. Teh Evi pura-pura melotot.
"Makan sana...! huuuu..." Ia meneruskan makannya sambil berhenti tertawa.
Aku melihat ke sekeliling.
"Kamana ieu si Mamang (kemana ini si paman)? Ko ga pulang-pulang? Katanya mau nganter...?" tanyaku sendiri. Si Teteh memandangiku.
"Eh iya... si Mamang gak bisa, dia pulangnya malem...." Dia berpikir sejenak dan berkata pelan dan ragu, "Nanti Teteh aja yang nganter kamu katanya..."
"Oooh gitu? Teteh tau jalannya kan?"
"Tau atuh... pake angkot"
"Jam berapa mau berangkat Teh...?"
"Terserah... tutupnya jam berapa?"
"Sore... tutupnya mah jam 3..."
"Ooooh iya atuh santai..." ia menatapku lagi. "Aa ga malu kan...?"
"Malu gimana...?" tanyaku tak mengerti, celingukan mencari yang akan membuatku malu.
Ia duduk cemas sekarang masih sambil bersila. Punggungnya tegak. Wajahnya seperti gadis di sinetron yang sedang berantem dengan pacarnya.
"Malu... Kalo Teteh yang nganter?"
Aku masih bingung, "Malu kenapa...?"
"Iyaa, sama Teteh gitu jalannya..." Ia menatapku gundah, "Sama cewek janda dari kampung...?" tanyanya bergetar.
Aku membelalak. "Hah...? aduh... aku mah malah seneng dianter Teteh... daripada sama si Mamang dianternya, ih suka bau badan dianya sih ih..." aku berkata sambil menutup hidungku.
Teh Evi tidak tertawa. Ia menunduk membereskan bekas makannya dan makanku. Kemudian membuangnya ke tempat sampah. Kembali ke tempat duduk kami pun masih menunduk, ia menyulut rokok dan membuka-buka hape.
Hatiku tersentuh.
"Teteh kok nanya gitu segala.? aku mah seneng dan bangga dianter sama Teteh... dimana-mana cowok mah bakal bangga atuh Teh jalan sama cewek cantik..." kataku jujur.
Dalam hati aku bertanya-tanya, sejak kapan aku mulai menggunakan 'aku' sebagai kata-kata, kayak orang pacaran aja nih lama-lama.
Teh Evi mengangkat kepalanya, memandangku tersenyum, kegalauan masih ada di wajahnya.
"Bener...?" tanyanya. Aku mengangguk cepat. "Iyaa laaah..."
Teh Evi mendekat memelukku, mencium pipiku, aku berpaling hendak memagut bibirnya. Dia menjauh lagi.
"Yaah asal jangan begini aja dandanannya kalo mau pergi..." Aku menunjuk selangkangannya yang hanya pakai celana dalam. "Nanti kita disangka orang gila hahhaha..."
Kali ini diapun tertawa. Wajahnya terpancar rasa senang. Dia kembali memelukku, menciumi wajahku, hidungku, kupingku, ujung bibir terus ke leher. Tangannya menembus kedalam kaosku. Berhenti di putingku, menggosok-gosoknya.
Aku membalas menciumi pipinya, matanya semua yang bisa aku ciumi. Tanganku menjamah punggungnya, meremas pantatnya yang ranum, dadanya yang sekal sebesar buah mangga, kubuka keatas kaus yang menghalangi dadanya. Bibirku bergerak lagi hendak melumat bibirnya. Dia mencengkram wajahku.
"Diem ah..." katanya, lalu kembali menciumi leherku, tangannya sudah menggosok-gosok kontolku dari luar celana pendekku.
Akupun diam menikmati, hanya tangan kiriku yang balas memeluknya. Dalam diam aku mendorong tangannya yang sedang mencekik kontolku dari luar celana.
"Hayu ah Teh... kita mandi terus berangkat..." kataku dingin.
Teh Evi terkejut, ia berhenti melakukan semuanya. Wajahnya kaget, ia mengigit bibirnya yang basah. Dadanya yang bulat mancung masih terpampang bekas aku angkat keatas tadi.
"Hah? Kenapaa? Buru-buru bukan Aa...?" Aku diam menatap bibir merahnya yang kelihatan lezat.
"Ya udah atuh..." Ia menutup kembali dadanya. Tapi kemudian ia mencoba menjilat-jilat lagi sekitar rahangku.
"Nanti keburu sore kita pulang ke kota S" kataku sambil mengelus pahanya.
Tangan si Teteh masih bermain di perutku
"Oh? Bener ga mau main lagi...? Sekali lagi? Masih banyak waktu da A', baru jam setengah sebelas..."
Suaranya agak merengek manja. Tangannya menggosok-gosok pahaku. Ia melirik kontolku yang keliahatan sudah berdiri keras dan menatapku agak bingung.
Aku membalas tatapannya. Dan kemudian secepat kilat aku menerjang tubuhnya.
"Waaaw...!" si Teteh berteriak terkejut senang.
"Bohoooong... hehehahaha... Hayu main lagi aja sampai subuh lagi... biarin lah besok juga masih bisa daftarnya... hahaha..."
^*^
Anda Mungkin Juga Suka





