Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel AIR MATA PERNIKAHAN

AIR MATA PERNIKAHAN

Bella terperangkap dalam duka saat Bara, suaminya, berselingkuh dengan Arum. Meski ingin bercerai, kondisi mertuanya yang sakit keras memaksa Bella bertahan demi pengabdian tulus. Di tengah penderitaan batin, ia didiagnosis mengidap kanker mematikan saat sedang mengandung buah hatinya. Kini, Bella harus berjuang melawan penyakit dan pengkhianatan suaminya yang kian terang-terangan. Akankah ia terus bertahan dalam pernikahan penuh air mata demi anak dan mertuanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Aku malas menjelaskan semua sama kamu. Karena kamu pasti nggak akan percaya sama aku. kamu selalu berpikiran negatif tentang aku. Iya kan bener kan?" kata Bara seolah menembak perasaan istrinya dengan sakit.

Bella menghembuskan nafas kesal.

"Ya udah kalau kamu nggak mau jelasin sama aku. Aku udah tau betapa buruknya kamu sekarang Mas," kalimat itu membuat sepasang suami istri ini berhenti berkata-kata lagi.

Itu adalah kalimat terakhir untuk malam ini. Bella berdiri dengan cepat dan berjalan keluar lalu menutup pintu dengan kasar.

Bara sudah lelah dengan semua yang terjadi di dalam harinya. Ia tidur di kamar dengan lelap.

Sementara Bella duduk di sofa ruang tengah. Ia memandangi bingkai foto yang indah. Sepasang pengantin yang sangat serasi.

Hati Bella tidak bisa menahan rasa kesal yang bercampur rasa sedih. Kedua matanya kini di banjiri oleh air mata hangat. Pundaknya naik turun di iringi suara hidung yang tersumbat akibat tangisan.

"Mbak Bella . . ." panggil suara ragu-ragu itu dari belakang.

Bella tidak menengok karena ia tidak mau Marni tahu kalau dirinya sedang menangis. Bella mencoba menahan suara agar tidak serak.

"Aku lagi pengin tidur disini Mir. tolong jangan ganggu ya Mirna," ucap Bella dengan tegas.

Mirna hanya bisa melihat dengan kasihan punggung majikannya itu.

Subuh tiba namun Mirna tidak membangunkan majikannya. Ia merasa kasihan karena saat itu Bella benar benar tidur dengan lelap sekali.

Pukul tujuh Bella membuka matanya. Ia menghirup bau masakan di dapur. Kepalanya sedikit pening. Ia mencoba untuk duduk dan melihat dari cahaya yang masuk ke ruang tamu.

"Udah siang banget Ya Allah! aku belum solat shubuh," ucapnya lalu segera menuju ke toilet yang ada di belakang.

Ternyata hari ini dirinya datang bulan. Langsung saja ia gunakan pembalut malam. Karena hari pertama selalu deras untuk seorang perempuan.

"Mbak Mirna masakin nasi goreng. Pasti enak banget rasanya," kata Mirna dengan wajah berseri.

Bella tidak berkata apapun. Ia langsung saja menyendok nasi goreng yang sudah di sediakan di piring berwarna putih.

Bella mengunyah dengan penuh khidmat. Sejak malam perutnya memang lapar namun ia enggan beranjak ke dapur. Saat ini benar benar seperti surga. Bangun langsung ada makanan di depan mata. Makanan kesukannya lagi.

"Mbak, semalem kenapa? nangis ya?" tanya Mirna setelah melihat Bella selesai dengan sarapannya. Mata Bella yang begitu sembab membuat Mirna kasihan.

Bella tidak menjawab. Ia membersihkan sisa makanan di sekeliling bibir dengan tisu. Sungguh ia tidak ingin membahas apa yang terjadi saat malam itu.

"Semalem Mirna bangun gara gara sempat mendengar suara keras dari Mbak Bella. Keras banget sih! Mbak suaranya. Baru kali ini loh! Mirna mendengar suara Mbak sekeras itu," kata Mirna perempuan banyak omong itu.

"Nggak papa kok, Mir. Aku lagi datang bulan lagi nggak pengin cerita banyak. Aku bangunin Mas Bara dulu ya. kamu udah beresin dapur belum? sana beresin dapur dulu," ucap Bella lalu pergi menuju ke kamarnya.

Syukurlah pintu tidak di kunci oleh sang suami. Dilihatnya seprei polos berwarna abu abu yang berantakan. Lalu ada laki laki tidur dengan terlentang berwajah pulas.

Bella duduk di sisi ranjang. Ia memperhatikan wajah suaminya dengan penuh rasa sayang. Wajah yang menemaninya sejak lima tahun ini. Wajah yang penuh kesabaran. Meski mereka berdua belum di karuniai seorang bayi mungil. Wajah manis itu sangat membuat hati Bella berucap syukur.

Tangan Bella dengan lembut membelai pipi suaminya. Pipi dengan sedikit rambut tipis di sisi keduanya membuat Bella merasa gemas.

"Maafin aku ya, Mas. Semalam mungkin aku terlalu marah berlebihan sama kamu. Aku sayang banget sama kamu Mas," ucap Bella dalam hati terdalamnya.

Kini Bella melihat meja kecil yang di atasnya terdapat ponsel milik Bara. Ponsel itu menyala. Tangannya langsung meraih benda persegi panjang tipis itu.

Sudah beberapa hari ini ia tidak melihat lihat apa yang ada di dalam ponsel suaminya.

Ia menemukan pesan WhatsApp yang masuk. Matanya membelalak melihat deretan chat yang banyak. Foto profilnya perempuan semua.

"Aku nggak trima perempuan perempuan ini ngechat suamiku. Kurang kerjaan banget sih mereka," seru Bella dengan perasaan membatu.

"Mas, bangun Mas!" beberapa kali Bella menepuk-nepuk lengan Bara.

"Masih ngantuk Bella, udah sana kamu keluar aja," jawab Bara dengan setengah sadar.

"Bangun Mas, udah siang. Udah jam delapan tuh," kata Bella dengan kesal.

Bara duduk dengan cepat. Wajahnya menampakkan geram kepada sang istri. Tubuhnya menggeliat sebentar lalu mengucek kedua matanya.

"Ini apa maksudnya?" tanya Bella dengan memperlihatkan layar ponsel tepat di depan muka pria berwajah kusut itu.

"Sini," tangan Bara merebut ponsel miliknya dengan keras.

"Kamu ngapain sih, pegang pegang hapeku?" tanya Bara dengan wajah geram tanpa melihat ke arah istrinya. Ia sedang fokus membuka pesan yang ada di layar ponselnya.

"Masa aku nggak boleh sih! lihat-lihat apa yang ada di hape kamu. Sejak kapan Mas?"

"Ya boleh, tapi izin dulu dong," jawab Bara masih menggerutu.

"Izin? memangnya aku ini siapa? orang lain? aku kan istrimu, Mas. Kamu aneh banget deh, masa pinjem hape aja harus izin," gerutu Bella.

"Kalau ada data yang tiba-tiba ke hapus gimana? kerjaan aku sebagian juga ada di hape ini," Bara membela diri dengan kedua matanya terbuka lebar menatap istrinya.

"Oke oke, aku minta maaf," kata Bella dengan pasrah. Ia menghembuskan nafasnya lalu mengeluarkan kalimat lagi.

"Aku nggak suka ada cewe yang chat kamu kaya gitu," kata Bella dengan membelakangi suaminya sambil melipat kedua tangannya.

"Apaan sih, chat apa?" tanya Bara yang kini sudah berdiri di depan Bella.

"Ya kamu baca aja tuh di hape kamu!"

"Udah, aku udah baca kok, terus apa?" tanya suaminya dengan bingung.

"Temen-temen kantor kamu itu nggak penting banget tahu nggak, mereka chat kamu kaya gitu. Gimana kabarnya? selamat beraktivitas ya, kamu lagi ngapain? sudah makan belum?" kata Bella sambil berbicara dengan kesal.

"Lah emang kenapa? mereka cuma temen aku," ucap Bara tanpa ada rasa bersalah.

"Tapi Mas, chat yang kaya gitu justru nanti akan semakin sering dan selanjutnya kamu bakal kepincut sama temen kamu. Chatingan setiap hari, ngirimin foto satu sama lain habis itu saling jatuh cinta. Iya kan?"

"Ya nggak mungkin lah, mereka udah tahu aku punya istri," kata Bara dengan tegas.

"Aku juga udah punya istri. Jadi untuk apa aku jatuh cinta sama cewe lain?"

Bella menunduk dengan kalimat suaminya itu. Apa dirinya yang salah selama ini? ia terlalu cemburuan dengan suaminya. Bara keluar dari kamar meninggalkan Bella yang berdiri mematung di depan jendela kamar yang bercahaya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bisakah Untuk Tidak Memilih
7.9
Kehidupan sering kali melenceng dari rencana awal dan menyajikan beragam pilihan sulit bagi setiap orang. Meski sebuah jalan terlihat menjanjikan, tiap keputusan pasti membawa konsekuensi tertentu. Sebagai manusia, kita dituntut bijak dalam menilai situasi demi masa depan. Terkadang, berdiam diri dan mengikuti arus pun tetap memiliki risiko tersendiri. Renungkanlah setiap langkah dengan matang agar tidak ada penyesalan mendalam akibat salah mengambil keputusan di kemudian hari.
Sampul Novel CINTA DARI MASA LALU
9.5
Kehidupan Luwina hancur setelah ayahnya terseret korupsi. Terjebak di negeri asing tanpa harta, ia diselamatkan oleh Reyhan, pria yang mengaku sebagai kakak tirinya. Namun, kepulangannya ke tanah air justru memicu konflik baru. Luwina bertemu kembali dengan Hardin Putra Surawijaya, pria yang dulu menghancurkannya hingga hamil. Ironisnya, Hardin adalah sahabat Reyhan sekaligus suami dari Katrina, mantan kekasih kakaknya tersebut.
Sampul Novel CINTA GILA KENAN
9.7
Kenan dikenal sebagai pebisnis yang kejam dan berhati dingin. Namun, ketenangannya terusik saat bertemu kembali dengan Yezi, wanita keturunan Jepang-Indonesia yang terlibat dalam masa lalunya. Merasa diabaikan, Kenan menuntut ganti rugi tak masuk akal kepada ayah Yezi. Tak tinggal diam, Yezi membalas ancaman itu dengan rekaman rahasia dari kejadian tiga tahun silam. Di tengah persaingan bisnis dan arogansi, rahasia besar apa yang sebenarnya menyatukan mereka?
Sampul Novel Love Escape
8.4
Harapan Ghena untuk dilamar saat anniversary hancur ketika Bastian justru memutuskan hubungan 15 tahun mereka demi perjodohan orang tua. Berusaha bangkit, Ghena pindah ke Singapura untuk bekerja sebagai pemandu wisata. Namun, setahun kemudian Bastian muncul kembali bersama tunangannya dan mengaku masih mencintai Ghena. Kini Ghena terjebak dalam dilema besar: tetap tegar menolak atau menyerah pada perasaan lama dan menjadi orang ketiga.
Sampul Novel Pilihan Terakhir
7.9
Terlena oleh kemilau karier dan kekuasaan, Bella mengabaikan perannya sebagai istri meski Aris telah memberinya kebebasan penuh sejak menikah. Namun, rasa jenuh yang mendalam akhirnya menghampiri Aris akibat sikap dingin sang istri. Di tengah kekosongan hati dan rasa lelah yang memuncak, Aris pun dihadapkan pada sebuah keputusan besar. Salahkah jika ia memilih Ana untuk menggantikan posisi Bella di hidupnya? Sebuah dilema rumah tangga yang penuh luka.
Sampul Novel Rindu di Tahun 1992
9.7
Bandung 1992 menjadi saksi pertemuan Alya, siswi cerdas, dengan murid baru misterius bernama Reza. Meski awalnya canggung, benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan ini terancam oleh Lina, sahabat Alya yang juga mencintai Reza, hingga menguji loyalitas mereka. Selain konflik persahabatan, Alya tertekan oleh ekspektasi besar keluarganya. Ia kini terjebak dalam pilihan sulit antara ambisi masa depan dan perasaan tulusnya demi memperjuangkan cinta sejati.