Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Air Mata di Antara Bunga

Air Mata di Antara Bunga

Setelah dikhianati oleh Bastian Wicaksono yang membatalkan pertunangan demi Sarah Laksmana, hidup Vanya Devara hancur total akibat kebangkrutan keluarga dan kematian ayahnya. Rangga Mahardika kemudian muncul menjadi penyelamat yang melunasi seluruh utang dan mendampinginya selama tiga tahun. Namun, tepat sebelum pernikahan mereka, Vanya tidak sengaja mendengar rahasia kelam. Rangga ternyata adalah sosok yang menghancurkan keluarganya. Vanya menyadari bahwa kebaikan sang miliarder hanyalah penebusan dosa atas konspirasi yang ia ciptakan sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 1

Dunia yang kukenal runtuh satu per satu.

Bisnis keluargaku bangkrut...

Tunanganku, Bastian Wicaksono, tanpa ragu membatalkan pertunangan kami dan memilih Sarah Laksmana sebagai penggantiku.

Saat aku jatuh ke jurang kehancuran, Rangga Mahardika datang seperti malaikat penolong.

Dia melunasi semua utang keluargaku, mengurus pemakaman ayahku, menarikku keluar dari abu kehidupan yang nyaris membakarku habis.

Tiga tahun penuh, dia selalu mendampingiku. Selalu ada.

Aku sempat percaya… mungkin inilah bentuk penyelamatan yang selama ini kutunggu.

Namun, tepat di malam sebelum pernikahan, tanpa sengaja aku mendengar percakapan Rangga dengan sahabatnya...

“Kamu serius mau nikah sama Vanya? Nggak takut, suatu hari dia tahu… kalau kematian ayahnya dan bangkrutnya bisnis Keluarga Devara itu ulahmu?”

“Sarah sudah nikah sama Bastian, aku sudah nikah sama Vanya. Nggak masalah kalau dia tahu, toh semua utangnya sudah kubayar. Pemakaman ayahnya juga sudah aku urus. Intinya… aku sudah menebus semuanya.”

Saat itu juga aku sadar…

Ternyata, Rangga pun menipuku.

Dari awal hingga akhir, semua hanyalah permainan.

Dan satu-satunya orang yang benar-benar hanyut di dalamnya… hanyalah aku sendiri.

Dunia yang kukenal runtuh satu per satu.

Bisnis keluargaku bangkrut...

Tunanganku, Bastian Wicaksono, tanpa ragu membatalkan pertunangan kami dan memilih Sarah Laksmana sebagai penggantiku.

Saat aku jatuh ke jurang kehancuran, Rangga Mahardika datang seperti malaikat penolong.

Dia melunasi semua hutang keluargaku, mengurus pemakaman ayahku, menarikku keluar dari abu kehidupan yang nyaris membakarku habis.

Tiga tahun penuh, dia selalu mendampingiku. Selalu ada.

Aku sempat percaya… mungkin inilah bentuk penyelamatan yang selama ini kutunggu.

Namun, tepat di malam sebelum pernikahan, tanpa sengaja aku mendengar percakapan Rangga dengan sahabatnya...

“Kamu serius mau nikah sama Vanya? Nggak takut, suatu hari dia tahu… kalau kematian ayahnya dan bangkrutnya bisnis Keluarga Devara itu ulahmu?”

“Sarah sudah nikah sama Bastian, aku sudah nikah sama Vanya. Nggak masalah kalau dia tahu, toh semua hutangnya sudah kubayar. Pemakaman ayahnya juga sudah aku urus. Intinya… aku sudah menebus semuanya.”

Saat itu juga aku sadar…

Ternyata, Rangga pun menipuku.

Dari awal hingga akhir, semua hanyalah permainan.

Dan satu-satunya orang yang benar-benar hanyut di dalamnya… hanyalah aku sendiri.

Aku berdiri di luar pintu, mendengarkan setiap kata percakapan antara Rangga dan Galih.

Nampan buah di tanganku bergetar hebat, tubuhku sendiri rasanya gemetar tak karuan.

“Kamu sama sekali nggak menyesal?”

Nada ragu Galih entah kenapa justru menumbuhkan secercah harapan di hatiku.

“Semua aku lakukan demi Sarah… aku nggak akan menyesal,” jawab Rangga.

Galih memijit pelipisnya, tampak frustrasi.

“Kamu sudah bantu Sarah berdiri kokoh di Keluarga Laksmana… tapi untuk apa? Pada akhirnya dia tetap memilih Bastian! Kamu tega melukai orang yang tulus mencintaimu, hanya demi seseorang yang bahkan nggak pernah mencintaimu?”

Rangga menatapnya tanpa emosi, suaranya tenang tapi tajam menusuk telinga.

“Aku nggak peduli siapa yang Sarah pilih, itu hak dia. Aku cuma ingin membantu. Soal Vanya… dia begitu mencintaku. Jadi, kalau aku nggak menikah sama dia, justru akan lebih menyakitinya. Selama dia nggak tahu kebenarannya, dia nggak akan terluka. Aku cuma… melindunginya.”

Galih terdiam. Kata-kata itu membuatnya bungkam, tak sanggup lagi membantah.

Sementara aku… hanya bisa tersenyum getir. Menertawakan diriku sendiri yang begitu buta, begitu bodoh.

Tiga tahun hidupku… ternyata hanya terbuang sia-sia.

Tiga tahun terakhir, aku selalu menganggap Rangga sebagai penolongku. Sosok penyelamat yang menopangku di saat seluruh Praya menertawakanku.

Bukan hanya melunasi semua utangku, dia juga mengurus pemakaman ayahku.

Karena dia, aku yang terpuruk masih bisa menemukan tempat berteduh.

Karena dia juga, aku tak pernah menyimpan dendam atas pengkhianatan Bastian.

Namun sekarang… percakapan itu menghancurkan semuanya.

Semua keyakinanku selama ini, ternyata hanya ilusi.

Dan yang lebih menyakitkan… aku hampir saja menikahi pria yang menjadi dalang kehancuran keluargaku sendiri.

Suara langkah kaki dari dalam membuatku panik.

Tanpa pikir panjang, aku buru-buru kembali ke kamar.

Begitu Galih pergi, Rangga masuk. Dia berdiri tepat di depanku, menggenggam tanganku erat.

“Tanganmu dingin… kamu sakit?”

Ucapannya lirih, lalu telapak tangannya menempel ke dahiku.

“Nggak panas. Bagian mana yang sakit, Vanya?”

Wajahnya dipenuhi kekhawatiran, tapi justru itulah yang membuatku takut.

Dia jelas tak mencintaiku, tapi entah bagaimana selalu bisa membuatku merasa seakan-akan cintanya menusuk hingga ke tulang.

Aku hanya menggeleng, memaksakan senyum tipis.

“Mungkin karena jendelanya terbuka, jadi kena angin.”

Rangga melangkah ke jendela, lalu menutupnya.

“Tubuhmu lemah, jangan sering kena angin. Kalau sampai sakit, aku akan sedih,” ucapnya lembut.

Dulu, kata-kata itu selalu membuatku tersenyum cerah, bahkan manja memeluknya.

Kini, aku hanya terdiam, tak sepatah kata pun terucap.

Melihatku murung, Rangga berjongkok, menatapku dengan tatapan cemas.

“Vanya… besok ‘kan hari pernikahan kita. Kamu nggak bahagia nikah sama aku?”

Sejak mendengar percakapan Rangga dengan Galih, hatiku berkecamuk.

Namun, justru kata-katanya barusan menyadarkanku…

Aku tak boleh menikah dengannya. Aku harus pergi.

Tak ingin kegugupanku terbaca, aku buru-buru tersenyum.

“Mungkin ini cuma stres pra-pernikahan saja. Jangan khawatir, aku baik-baik saja.”

Rangga tersenyum lembut.

“Vanya… jangan cemas. Aku akan selalu ada di sisimu.”

Tiga tahun lalu, dia juga berkata seperti itu.

Dan selama tiga tahun, memang selalu menepati.

Namun kini aku sadar, yang dulu kuanggap cinta… ternyata hanyalah penebusan dosa, sekaligus rantai untuk mengikatku.

“Oh ya, gimana kalau kita ke rumah baru, dekorasi kamar pengantin kita?” Rangga memotong lamunanku.

Aku hanya bisa mengangguk.

Rumah itu berada di barat kota, sebuah vila mewah yang dulu membuatku terpesona.

Rangga bilang rumah ini dipilih sesuai seleraku.

Namun berbeda dengan kunjungan pertama yang penuh tawa, kali ini hawa dingin menusuk saat aku melangkah masuk.

Di depanku berdiri sosok yang kucinta sekaligus musuhku.

Pria yang menghancurkan keluargaku.

Bagaimana mungkin aku merasa nyaman di sini?

Saat aku berusaha menenangkan diri, ponsel Rangga berdering. Nada dering itu khusus milik Sarah.

Aku langsung teringat perselisihan kami dulu karena nada dering itu. Namun Rangga selalu meyakinkanku, Sarah hanyalah rekan kerja.

Matanya serius, seolah memaksaku percaya.

Akhirnya meski hatiku menolak, aku diam. Aku tak ingin dianggap merepotkan.

Namun kali ini, mendengar dering itu lagi, rasanya seperti suara penyelamat.

Rangga menatapku canggung, lalu menjawab telepon dan berjalan menjauh.

Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan wajah panik.

“Vanya, ada urusan mendadak di kantor. Aku harus pergi. Kamu beres-beres dulu, sisanya nanti aku bantu setelah aku kembali.”

Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung melangkah pergi.

Melihatnya pergi tanpa menoleh, aku menghela napas lega. Hanya saja, hatiku tetap nyeri.

Dulu aku terlalu bodoh… atau mungkin sengaja berpura-pura tak tahu.

Rangga selalu sigap menanggapi panggilan Sarah, apa pun yang sedang dia lakukan.

Bahkan ketika kami sedang intim sekalipun, dia tetap menjawab teleponnya. Lalu berganti pakaian, pergi begitu saja, tanpa menatapku sedikit pun.

Sejak awal hingga akhir… dia tak pernah benar-benar menatapku.

Tak pernah sekalipun memberiku penjelasan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Hanyalah Ilusi Cinta Pertamanya
8.6
Pernikahan dengan Stephen terjalin bukan karena cinta, melainkan sebagai balas budi setelah aku menyelamatkannya dari tikaman pisau. Namun, hubungan ini langsung kandas saat cinta pertamanya kembali dan Stephen memilih membatalkan pernikahan kami. Kecewa dengan pengkhianatan ini, aku memutuskan untuk menggugurkan kandungan dan pergi menjauh. Keputusan ekstrem tersebut justru membuat Stephen kehilangan akal dan berbalik mengejarku dalam kegilaan yang terlambat.
Sampul Novel Darling Enemy
8.7
Vanilla Putri Mahameru sangat membenci Altan Wijaya Kesuma, putra dari mantan kekasih ibunya yang sering menghinanya tidak berotak. Altan, seorang konglomerat angkuh, menganggap Vanilla hanya mengandalkan nama besar keluarganya. Konflik memuncak saat Vanilla harus magang di kantor Altan selama empat bulan. Sejak sesi wawancara yang penuh drama dan jawaban nyeleneh, Vanilla harus berjuang menghadapi tekanan kerja di bawah pengawasan ketat pria yang ia juluki Setan Borjuis tersebut.
Sampul Novel Delapan Tahun Menjadi Istri Rahasia
8.0
Clara berharap kehamilannya mengakhiri rahasia pernikahan delapan tahunnya dengan David. Namun, penolakan keras David justru memicu konflik fisik yang fatal hingga Clara kehilangan salah satu janinnya. Sadar hanya menjadi pengganti, Clara yang semula lembut berubah dingin dan menuntut cerai. Kini, David harus menghadapi kehancuran rumah tangganya dan rasa bersalah mendalam saat melihat istrinya tak lagi peduli pada hubungan mereka yang penuh kepalsuan.
Sampul Novel Dendam Mengubur Cinta
9.0
Tujuh tahun merajut kasih tidak mencegahku meninggalkan Deon saat dia dipenjara demi berpaling pada sahabatnya. Setelah bebas, Deon memaksaku menikahinya untuk membalas dendam. Di balik pernikahan yang dikira harmonis, ia menyiksaku dengan membawa wanita lain, termasuk adikku, ke ranjang kami. Deon tidak tahu bahwa aku rela menyusup ke markas mafia dan menukar organ tubuhku demi mendapatkan bukti untuk membersihkan namanya, tepat di saat sisa hidupku kini hampir habis.
Sampul Novel Gadis Nakal Miliarder
8.4
Serafhine Ariana menjalani profesi unik di dunia daring dengan menawarkan jasa khusus bagi pria tanpa harus mengorbankan kesuciannya. Meski banyak pelanggan merasa puas dan bersedia membayar mahal, Serafhine memiliki prinsip yang sangat teguh dalam bekerja. Ia hanya melayani satu klien untuk satu malam saja. Baginya, tidak ada kesempatan kedua bagi siapa pun, karena ia secara tegas menolak pesanan berulang meskipun ditawari imbalan yang sangat tinggi.
Sampul Novel Istri Kesayangan Tuan Presdir Tampan
8.4
Kehidupan Niana Fradella berubah drastis setelah pertemuan tak terduga dengan pria yang menjadi jodoh sejatinya. Awalnya ia hanya berniat melarikan diri dari perjodohan paksa orang tuanya, namun takdir justru mempertemukannya dengan sosok yang jauh lebih sempurna. Meski kini ia menemukan cinta yang luar biasa, kebahagiaan Niana terancam sirna. Penyakit yang kian parah menggerogoti fisiknya, membuatnya ragu apakah ia mampu bertahan hidup lebih lama lagi.