
Ah! Mantap Mas Ramli
Bab 2
. Ramli versi tampan
Ramli garuk-garuk kepalanya, sebagai seorang duda, tentunya ia juga harus menjaga nama baiknya sebagai duda yang baik dan tidak nakal. Ia datang ke rumah Vina dan suaminya karena permintaan Rangga sendiri sebagai balas budinya kepada Ramli, karena telah menyelamatkan Rangga dari serangan preman-preman.
"Iya, saya tahu diri, Pak. Saya cuma pelayan di rumah ini. Pekerjaan saya cuma beres-beres dan mengamankan rumah Anda. Ya, aneh aja kalau saya disuruh melakukan itu sama Bu Vina. Apa nanti Bu Vina tidak jijik sama saya? Habis main sama Pak Rangga yang ganteng dan bening, eh tiba-tiba main sama saya, muka kek codot gini. Takutnya Bu Vina malah lari sebelum eksekusi!" kata pria itu.
Rangga tertawa lepas mendengar ucapan Ramli yang lucu. Sedangkan Vina, wanita itu tampak datar dan cenderung cemberut.
Apa yang dikatakan oleh Ramli ada benarnya, mana bisa ia menikmati sebuah percintaan jika pasangannya seperti Ramli.
"Ramli, Ramli, kamu ada-ada saja. Sudahlah, jangan berpikir seperti itu. Istriku sudah setuju dan targetku, bulan depan kamu harus sudah menghamilinya, sekarang dia sedang dalam masa subur. Jika kamu setuju, hari ini aku pesankan kamar hotel, kita pergi ke hotel sama-sama, kamu dan Vina bisa melakukannya di sana. Tapi, aku memberimu waktu tidak lebih dari dua jam, setelah itu kamu harus sudah selesai dan keluar dari kamar itu, bagaimana?" tawar Rangga yang terdengar di luar nalar.
Hanya demi sebuah karir, pria itu tega membuat istrinya disentuh oleh laki-laki lain.
"Di hotel, sekarang?" Ramli membulatkan matanya.
"Kenapa? Kamu tidak bisa?" sambung Rangga dengan menautkan kedua alisnya.
"Kenapa harus di hotel? Di rumah kan bisa, Pak?" jawab Ramli memberi pilihan lebih mudah.
"Ya bisa juga sih, masalahnya sekalian aku ketemu dengan klien, jadi aku tunggu kalian di lobi hotel, setelah dua jam, kalian harus sudah selesai, dan kita pulang seperti biasa!" jawab Rangga.
"Harus malam ini, Pak? Aduh, apa tidak terlalu cepat? Masih ada hari esok dan esoknya lagi!" Ramli bertanya lagi untuk memastikannya.
"Bukankah lebih cepat lebih baik? Mumpung istriku sedang masa subur," sambung Rangga.
"Ya, iya sih, Pak. Masalahnya apa Bu Vina setuju. Kalau saya sih terserah, nurut saja!" jawab Ramli patuh. Lalu, Rangga menoleh pada sang istri.
"Bagaimana, sayang? Apa kamu sudah siap malam ini?" tanya Rangga sambil tersenyum meyakinkan istrinya.
"Hah, entahlah, Mas. Aku bingung! Harus dengan si Ramli, ya? Nggak bisa gitu sama Lee Min Ho atau Shahrukh Khan? Biar semangat kalau main. Benihnya juga udah premium. Masa main sama pelayan, pasti nanti anaknya item dan dekil!" jawab Vina yang sudah bisa membayangkan bagaimana Ramli menyentuh dirinya.
Sengaja ia menghibur dirinya sendiri karena malam ini, Ramli, pria dari kampung itu akan menyentuhnya. Memberikannya benih yang akan tumbuh di rahimnya.
"Sudah, tidak apa-apa. Ramli juga tidak seburuk yang kamu kira. Kamu merem aja nggak usah lihat mukanya. Ingat tujuan awal kita adalah punya anak, oke!" kata Rangga yang terus merayu istrinya untuk bersedia pergi ke hotel.
"Ya udahlah, terserah kamu. Tapi aku minta, Ramli didandani dulu, biar nggak kayak orang desa. Setidaknya dia sedikit kelihatan beda lah. Masa datang ke hotel dengan baju dia yang enggak banget!" pinta Vina yang sudah hafal dengan bagaimana penampilan Ramli sehari-hari.
Setelah mendengar permintaan istrinya, Rangga melihat penampilan Ramli dari atas sampai bawah. Memang terkesan sangat sederhana bagi pria seusia dirinya.
"Oh, itu bisa diatur. Kamu tidak perlu khawatir! Sebelum kita pergi, aku akan mengubah penampilan Ramli sesuai keinginanmu, yang penting kamu nyaman!" kata Rangga.
Rangga pun menyodorkan surat perjanjian kerjasama untuk Ramli dengan tanda tangan di atas materai. Isi perjanjian kerjasama itu terdiri dari poin-poin penting.
Bahwasannya, setelah Vina dinyatakan hamil, maka Ramli tidak boleh berhubungan lagi dengan Vina dengan alasan apa pun.
Kedua, anak yang dikandung Vina dari benih Ramli, akan menjadi anak biologi Rangga secara hukum.
Dan yang paling penting adalah, Ramli tidak boleh mengambil hak asuh atau mengklaim dirinya sebagai ayah biologis dari anak Vina nanti jika sudah dewasa.
Rangga akan memberikan uang muka secara langsung di hadapan Ramli dan sisanya akan dibayar setelah Vina dinyatakan positif hamil. Dan Ramli wajib menyembunyikan kerja sama itu untuk selamanya.
Setelah membaca beberapa persyaratan tersebut. Ramli pun bersedia untuk tanda tangan di atas materai. Jika salah satu syarat itu dilanggar, maka Rangga akan memprosesnya secara hukum atau memberikan pelajaran kepada Ramli dan keluarga beserta ketiga anaknya.
Sebuah tanda tangan telah dibubuhkan di atas kertas bermaterai yang berisi perjanjian tersebut.
Tanpa ada ikatan pernikahan, Rangga meminta Ramli untuk menghamili istrinya.
"Deal!"
Akhirnya, perjanjian kerjasama itu telah dibuat. Selanjutnya, sesuai permintaan Vina, Rangga membawa Ramli pergi ke sebuah salon untuk merubah penampilan pria itu.
Di sisi lain, Vina juga bersiap untuk pergi. Demi sang suami, ia rela melakukan apa saja agar rumah tangganya tetap utuh, karena ia sangat mencintai suaminya.
Vina berangkat bersama suaminya, sedangkan Ramli, pria itu akan menyambut kedatangan Rangga dan Vina di hotel. Karena ia sudah pergi terlebih dahulu ke salon dan setelah dari sana, Ramli langsung datang ke hotel yang sudah disepakati.
"Sudah selesai! Uwuuuu ini beneran kan pembantunya Pak Rangga? Duh ternyata cakep juga, yak! Macho eim!" ucap pegawai salon yang takjub melihat perubahan Ramli setelah dipermak.
Pria itu terlihat lebih keren macho dengan setelan celana panjang warna hitam dan kemeja berwarna marun. Warna kulit pria itu keluar auranya. Usianya jauh terlihat lebih muda. Ia yang biasa sibuk membersihkan rumah majikannya, hari ini Ramli terlihat seperti bos besar dengan gaya tatanan rambutnya yang stylish.
Postur tubuhnya pun sangat mendukung sekali. Lengan pendek kemeja marun itu dilipat ke atas sehingga menunjukkan otot-otot lengannya yang kekar. Belum lagi dada bidangnya yang sempurna. Wanita mana yang tidak akan melirik Ramli dalam mode tampan.
Jam setengah tujuh malam, Ramli sudah datang di hotel, ia menunggu kedatangan majikannya yang akan datang sebentar lagi di halaman hotel.
Siapa sangka, kehadiran Ramli di hotel itu menjadi pusat perhatian para wanita yang melihatnya. Tak jarang mereka menyapa dan meminta foto bersama, bak Ramli adalah seorang artis.
Tak berselang lama, Rangga dan Vina tiba di hotel yang sudah dipesan untuk malam di mana Ramli akan mentransferkan benihnya langsung ke dalam rahim Vina.
Pasangan suami-istri itu tampak terkejut saat melihat ada beberapa wanita yang berkerumun di halaman hotel.
"Ada apa ya, Mas?" tanya Vina penasaran.
"Entahlah, mungkin ada artis yang datang, biasalah!" jawab Rangga menebak.
"Si Ramli kemana coba, kok jam segini belum datang juga!" imbuh Rangga sambil menghubungi nomor Ramli.
Rupanya, panggilan itu langsung tersambung ke ponsel Ramli yang sedang dikerubuti oleh banyak wanita.
Ramli segera menerima telepon dari majikannya.
"Permisi, permisi, saya mau angkat telpon!" pamit Ramli keluar dari kerumunan wanita yang mengitarinya.
"Halo, Pak. Anda di mana?" Ramli mencari-cari keberadaan sang majikan yang belum ia ketahui keberadaannya.
"Aku ada di depan lobi hotel, kamu di mana?" balas Rangga sambil melihat ke arah luar di mana ada kerumunan wanita di sana. Memastikan keberadaan Ramli.
"Astaga, bikin bete aja. Kayak nungguin artis saja!" gerutu Vina yang sejatinya ia tidak mood untuk berangkat.
Siapa sangka, Rangga melihat ada seorang pria yang sedang melambaikan tangan kepadanya.
"Paakkk! Saya di sini!!"
Suara Ramli seketika membuat Rangga dan Vina menoleh.
"Itu Ramli??" Vina yang semula terlihat bete, tiba-tiba wanita itu membulatkan matanya saat melihat sosok pria yang mirip sekali dengan Ramli. Namun, dalam versi tampan.
BERSAMBUNG
Anda Mungkin Juga Suka





