
Ah! Mantap Mas Ramli
Bab 3
Matikan lampunya
Ramli segera berlari ke arah Rangga dan Vina. Malam ini, pria itu terlihat sangat kharismatik, berwibawa dan pastinya lebih macho dan seksi dari penampilannya yang sehari-hari.
Benar kata pelayan salon, Ramli terlihat seperti bos besar ala-ala mafia. Wajahnya yang tegas dengan tatapan matanya yang tajam, semakin membuat penampilan Ramli lebih memukau dari Rangga.
"Ramli? Kenapa mukanya jadi beda?" gumam Vina terkejut dan pangling.
Wanita itu yang semula tidak terlalu memperhatikan wajah sang pelayan, hari ini entah kenapa wajah Ramli tidak bosan untuk dipandang.
Tapi tetap saja, Vina tak ingin menjatuhkan dirinya. Ia masih menganggap Ramli adalah pria desa yang menjadi pelayannya. Dan baginya hanya Rangga pria paling tampan dan tidak ada yang menandinginya.
Rangga melihat kedatangan Ramli.
Lalu setelah Ramli sampai di depan mereka. Pria itu mengajak Ramli untuk masuk ke dalam hotel.
"Maaf, Pak Rangga, Bu Vina. Tadi saya tidak melihat kalau Bapak sama ibu sudah datang," ucap Ramli sambil menundukkan kepalanya layaknya seorang pelayan.
"Tidak apa-apa, lagipula aku dan istriku baru saja datang. Ayo kita masuk, aku akan daftar dan cek in!" jawab Rangga sambil menggandeng istrinya masuk ke dalam hotel.
Ramli mengangguk dan berjalan di belakang mereka.
Sementara itu, Vina yang berjalan di samping sang suami, sejenak ia menoleh ke belakang di mana Ramli sedang berjalan mengikuti mereka.
Ramli tersenyum sambil mengangguk saat Vina menoleh padanya. Vina langsung memalingkan wajahnya dan menatap ke arah depan.
"Issh, kenapa aku noleh sih. Dasar bodoh!" gerutu Vina yang saat itu sedang memakai gaun berwarna hitam dengan siluet A line dengan belahan sampai ke paha, menunjukkan bentuk tubuhnya yang ramping bak gitar spanyol. Rambutnya yang panjang disanggul ke atas, memamerkan leher jenjangnya yang seksi dan menggoda.
Ramli melihat penampilan sang majikan yang sangat menggoda. Sebagai pria normal apalagi seorang duda, tentu saja Ramli dibuat menelan ludah melihat kecantikan dan keanggunan istri majikannya.
"Wanita secantik ini, bagaimana bisa Pak Rangga tega menyerahkann pada pelayan miskin seperti aku! Kasihan sekali, harusnya dia disayang suaminya, tapi suaminya malah membayar pria lain untuk menghamilinya. Aku sendiri tidak bisa nolak, kebutuhan anak-anakku paling utama. Maafkan bapak anak-anakku, ini semua bapak lakukan demi kalian. Pekerjaan yang sangat mudah, bikin adek untuk kalian. Tapi, nanti adek kalian akan dibawa sama mereka!" gumam Ramli dalam hatinya.
Sesampainya di meja resepsionis, Rangga segera mendaftar untuk cek in menggunakan identitasnya sendiri. Ia memesan kamar VVIP untuk istri dan pelayanannya.
Setelah ia memesan kamar, Rangga membawa Ramli dan istrinya untuk pergi ke kamar.
Di lantai atas nomor 201 adalah kamar VVIP yang akan dibuat sebagai tempat untuk mentransfer benih Ramli ke rahim Vina.
Rangga membuka kunci pintu dengan menggesek kartu khusus untuk pembuka pintu kamar tersebut.
Pintu pun terbuka, Rangga membawa masuk istri dan pelayan pria itu.
Kamar yang luas dan dipenuhi oleh fasilitas mewah. Ramli tercengang saat melihat kemewahan kamar kelas atas itu.
Sesuai permintaan Vina, Rangga ingin istrinya merasa nyaman saat berhubungan intim dengan pelayannya.
Entahlah, seolah rasa cemburu itu sudah tidak ada lagi dalam kamus hidup Rangga. Pria itu justru memberikan fasilitas yang mewah saat istri dan pelayan rumahnya akan melakukan aktivitas gila yang biasa dilakukan oleh suami istri.
"Waduh, Pak. Kamarnya besar sekali. Kamar ini lebih luas dibandingkan rumah saya di desa!" kata Ramli yang baru pertama kali masuk ke dalam kamar hotel mewah.
"Ya, jika tugasmu berhasil, kamu bisa membangun rumah yang lebih besar dari kamar hotel ini. Pasti anak-anakmu sangat senang, ayahnya sukses dan bisa membangun rumah baru di desa!" kata Rangga.
Sesekali pria itu melihat ke arah jam tangan. Hari itu ia juga sedang ada janji dengan kliennya untuk makan malam di hotel itu.
Vina sendiri masih menggandeng tangan suaminya seolah ia tidak mau ditinggal pergi oleh sang suami. Rasanya sangat tidak nyaman berada di dalam satu ruangan dengan pria lain.
Sungguh, sebenarnya Vina merasa sangat takut.
"Baiklah, aku tinggal sekarang. Klien kita sudah menunggu di lantai bawah. Baiklah sayang, aku tinggal sebentar ya, setelah aku dan Mr. Edward selesai makan malam, kita akan segera pulang. Dan tentunya kamu juga sudah selesai dengan Ramli!" kata Rangga sebelum pria itu pergi.
"Tapi, Mas! Aku takut!" jawab Vina yang terlihat gugup.
"Jangan takut! Anggap saja kamu sedang bercinta denganku, bayangkan wajahku saja, bila perlu matikan lampunya, oke!" ucap Rangga meyakinkan sang istri.
Ramli sendiri masih terpesona dengan desain kamar hotel mewah itu. Sebagai orang desa, tentunya desain mewah itu tidak pernah ia jumpai di sekitar tempat tinggalnya.
Akhirnya setelah berhasil merayu istrinya, Rangga keluar dari kamar. Meninggalkan sang istri berdua saja dengan sang pelayan.
"Daaah, aku pergi dulu. Ingat kata-kataku! Bayangkan wajahku dan matikan lampunya!" Kalimat terakhir sebelum Rangga menutup pintu.
BERSAMBUNG
Anda Mungkin Juga Suka





