
Affair With Santa
Bab 2
“~dan mereka hidup bahagia selamanya.” Andre mengangkat kepalanya, memastikan kalau Lea sudah benar-benar tertidur. Anak itu tertidur dengan manis, meskipun dia baru berusia empat tahun, tapi sejak Andre pindah ke New York untuk mengurus salah satu cabang perusahannya di sini, anak kecil itulah yang membuat dia mengurungkan niat untuk segera bercerai.
“Apa dia telah tertidur?” Sapaan halus milik isterinya dari pintu kamar membuat Andre menarik tangannya dari bawah kepala putrinya itu dengan hati-hati kemudian menurunkan kakinya ke lantai marmer yang dingin. “Ada yang ingin ku bicarakan denganmu” kata isterinya itu membuat Andre mengerutkan dahi “tunggulah di kamar, aku ingin memastikan suhu pemanas ruangan Lea untuk lebih hangat.”
Andre mengangguk singkat sambil berjalan keluar kamar anaknya.
Beberapa menit kemudian, isterinya masuk ke dalam kamar, mendudukan tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang, seperti yang dilakukan Andre. Kepala Andre memiring, menunggu kalimat yang akan diutarakan isterinya itu.
“Aku tahu kau bersama dia tadi” ujarnya dengan getir. Andre menatap isterinya dengan datar. Wanita itu tahu kalau Andre memang menjalin hubungan dengan Santa sebelum mereka menikah, tapi tetap saja memaksakan kehendaknya.
“Sesuai rencana, kita akan bercerai saat Lea berusia lima tahun.”
Andre hanya menguncikan bahu pelan, lalu melanjutkan untuk menonton.
“Bolehkah aku bertanya, Andre?” Tanya isterinya itu sambil menarik remote di tangannya dan mematikan televisi. Andre mengangkat sebelah alisnya, menatap penuh selidik. Sebenarnya wanita ini sangat cantik, dia juga baik, jangan ditanyakan kalau soal gaya berbicara serta berpakaian, banyak teman-teman pengusahanya yang iri karena Andre memiliki isteri seperti seorang super model. Tapi bukan itu yang Andrew inginkan, hanya satu, Santa Lyona, dari dulu tetap seperti itu.
“Pernahkah kau mencintaiku? Dalam hitungan detik saja dalam dirimu selama kita bersama lima tahun ini?”
“Kau mulai aneh, Ara.”
“Jawab saja pertanyaanku.”
Andre menatap Ara, isterinya sangat lama. Mencoba kalau jantungnya berdetak khas orang jatuh cinta, seperti yang dia rasakan saat bersama Santa. Ada sedikit. Bagian dalam jantungan sedikit berkhianat saat menatap wanita itu. Secepatnya dia memalingkan wajah, menidurkan tubuhnya untuk membelakangi Ara sambil memejamkan mata.
“Terima kasih. Aku tahu jawabannya. Selamat malam Andre” ujar Ara dengan enggan, menidurkan tubuhnya juga untuk saling membelakangi. “Happy birthday to you” sambungnya dengan tersenyum miring. Sekeras apapun dia mencoba, dia tidak pernah mendapatkan hati suaminya. Dulu, Ara berpikir, jika dengan kehadiran anak, mungkin itu dapat merubah sedikit saja hati Andre, tapi ternyata tidak.
Andre memejamkan matanya sambil mengucapkan kata maaf dalam hatinya untuk Ara. Dia tidak bisa. Dia sudah memiliki komitmen yang dia buat bersama kekasihnya. Gadis sederhana yang menunggunya, gadis yang membuat mereka harus menetap di New York. Karena Andre tidak bisa jika satu hari saja tidak mengkhawatirkan gadisnya itu. Syukurlah cabang baru S&C Group yang cukup besar di sini membuat Andre memiliki alasan yang masuk akal untuk kepindahan mereka.
S&C Garment, Manhattan – New York
“Bagaimana dengan investor baru kita?” Tanya Andre sambil tetap memperhatikan berkas-berkas, membacanya dengan teliti sebelum dia membubuhkan tanda tangannya.
“Sedang dalam perjalanan ke sini, tuan.” Jawab sekertaris Andre sambil meletakan satu map biru di meja kerjanya. “Itu data dirinya. Hanya beberapa karena dia menyembunyikan itu dengan sangat baik” tambah pria di depannya denga sedikit takut. Andre adalah pria yang hangat dan baik hati jika bersama dengan Santa atau Lea, anaknya. Tapi dia sangat teliti dan pemarah jika di kantor, makanya semua pegawai selalu menghormatinya. Jika ingin mereka bertahan di sana, mereka harus menyelesaikan setiap tugas bagian mereka dengan cermat, apik dan tidak boleh ada celah sama sekali.
Mengerutkan kening, Andre meletakan ballpoint-nya karena tertarik dengan investor mereka yang terkesan misterius itu. Matanya membaca tiap kata dengan tajam, seolah dapat melubangi kertas itu. Sekertarisnya mengigit bibir, takut kalau Andre akan marah padanya karena tidak mendapat informasi lebih rinci.
Andre membalikan berkas itu bersamaan dengan bunyi ketukan di pintu kerjanya. Karena sekertarisnya yang memiliki meja di depan sana berada dengannya, pasti tamu mereka terpaksa harus mengetuk pintu. Kalau biasanya, Andre tinggal menerima pemberitahuan dari telepon kantor.
Sekertarisnya segera berjalan ke arah pintu, meraih handle dan membukanya. Detik berikutnya, seorang pria dengan setelan kerja berwarna abu-abu yang sangat pas dibadannya seolah itu dirancang kusus untuk dirinya, masuk ke dalam dengan angkuh.
“Selamat datang, tuan Marcel” sapa sekertarisnya itu sambil membungkuk memberi hormat.
Mendengar nama Marcel, Andre berdiri untuk memastikan pria misterius, investor yang baru saja dia baca data pribadinya kini telah berdiri, menatapnya dengan dingin. Andre mengulas senyum, berjalan memutari meja. “Silahkan duduk” ucapnya sambil menampilkan cekungan pada bagian pipinya. Menggiring tamu-nya untuk duduk di sudut ruang kerja, dimana satu set sofa diletakan di sana – khusus untuk klien bisnisnya.
Marcel adalah pribadi yang dingin, tidak suka berbasa basi, dan sama seperti Andre, dia juga termasuk orang yang teliti, tapi sangat arogan. “Kita langsung saja untuk maksud tujuanku mengucurkan dana besar pada proyekmu” ujar Marcel sambil menatap Andre penuh intimidasi.
***
Pria itu mengambil tempat duduk di salah satu sudut cafe bagian kanan. Dia sangat tidak suka keramaian, dan untungnya saja ini bukan jam makan siang, sehingga pengunjung di sini rata-rata anak remaja yang datang untuk berdiskusi tugas, itu yang dia tangkap pada indera pendengarannya saat melewati beberapa meja untuk ke sudut cafe – tempat favoritnya.
Marcel, duduk sambil melipat kaki kananya untuk diletakan di atas pangkuan kaki kirinya. Seperti biasa, dia datang ke sana bukan untuk memesan. Semua pelayan di sana tahu akan hal itu. Karena pria itu merupakan pemilik cafe ini, dan Marcel tidak akan segan-segan untuk memecat pelayan yang akan menawarkan dia minuman.
“Kau terlambat lagi?” Suara tanya gadis yang duduk di sudut kiri cafe membuat Marcel terusik. “Oh, bukan masalah. Aku masih di depan rumah, tenang saja. Aku membutuhkan waktu satu jam untuk tiba di cafe. Kau ada rapat penting? Tidak apa-apa. Aku akan menunggumu” kata gadis itu sambil menaruh ponselnya dengan tidak bersemangat di atas meja.
Marcel mencibir. “Di depan rumah? Satu jam untuk tiba di cafe?” Ulangnya dengan nada mengejek membuat gadis itu terhenyak kaget dan menatap Marcel dengan tajam. Marcel mengangkat kedua bahunya dengan acuh, lalu menatap dua gelas plastik bekas vanilla latte di depan gadis itu yang sudah kosong. Marcel menebak kalau gadis itu telah menunggu kekasihnya dari satu jam yang lalu.
“Apa yang kau lihat?” Tanya gadis itu dengan nada tidak bersahabat serta mata membesar. Sungguh suasana hatinya sedang tidak bagus. Ini pertama kali kekasihnya itu terlambat. Dan pria di depannya malah tersenyum lebar untuk mengejeknya, ya ampun.. bahkan Santa sudah lupa kalau selama ini dia adalah gadis yang hangat dan penuh pengertian, saat pria di depannya menyunggingkan senyum miring ke arahnya.
Sepertinya Marcel tidak terpancing sama sekali oleh gadis itu. Dan, kemana sikap dinginnya? Astaga, Marcel tersentak kaget saat gadis itu sudah duduk di depannya, menatapnya dengan tatapan selidik. “Kau mengikutiku ya? Kau siapa? Stalker? Kau menyukaiku?”
Mata Marcel seakan mau lompat dari tempatnya saat mendapat pertanyaan tidak terduga oleh gadis yang tidak dia kenal sama sekali. Dan harga dirinya seperti jatuh tidak berharga saat gadis itu mengatakan dia penguntit. Apa dia tidak punya kerjaan lain saja, sedangkan dia sangat sakit kepala dengan uangnya yang tetap bertambah angkanya meskipun satu hari dia tidak kerja, dan gadis ini menuduhnya tanpa ampun?
“Kenapa kau tidak bisa menjawab? Ah.. kau mungkin sudah tahu kalau aku memiliki pacar?” Pandangan gadis itu seperti menelanjangi pria di depannya, bahkan Santa memiringkan kepalanya untuk menatap tubuh itu dari kaki hingga kepala – untuk menilai. “Ya, seharusnya kau sadar kalau tubuhmu tidak akan sebanding dengan pacarku” lanjut Santa membuat dia tersentak kaget karena pria itu membalasnya dengan teriakan yang histeris.
“APA? KAU BILANG APA?”
Demi apapun, Marcel sudah kehilangan wajah di depan pelayannya sekarang setelah pertanyaan yang membabi-buta dari gadis yang tidak ia kenal sama sekali. Tapi kesadaran kembali memenuhinya, menatap gadis itu sambil mencemooh “Dengar ya nona. Kau itu bukan tipe-ku sama sekali. Astaga, dalam mimpi burukku pun tidak pernah ada gadis yang..” Marcel berdiri, menggeser sedikit meja untuk memperhatikan keseluruhan tubuh gadis di depannya lalu mencibir “tidak seksi sama sekali. Berdada rata, pinggang yang tidak ramping, nyaris seperti papan penggilas yang di pakai nenek-ku di rumahnya. Jadi berhentilah mengatakan yang tidak-tidak, sebelum aku menuntutmu atas pencemaran nama baikku.”
Santa membulatkan matanya dan menghembuskan nafas setelah dia menahan itu selama pria tadi mengatakan kata-kata menyakitkan. Belum pernah ada satu orang pun yang mengatakan tubuhnya seperti itu. Memperhatikan sambil menilai sama seperti pria yang dia kira penguntit itu. Wajahnya berubah sendu. Mungkinkah itu alasan Andre selama ini untuk menunda perceraian dengan isterinya? Karena tubuhnya yang seperti papan penggilas? Memang harus dia akui kalau gaya berpacaran mereka tidak lebih dari pegang tangan dan ciuman di kening, dan fakta kalau Andre telah memiliki anak, fakta yang dia pandang dengan sebelah mata, kini sangat mengusiknya.
Dengan malu, Santa berdiri, menundukan kepala sambil bergumam “Maafkan aku” katanya sambil berjalan lesuh keluar dari cafe. Sepertinya dia akan membatalkan janji mereka saja, bagaimana mungkin dia bisa kembali ke cafe tadi dan berhadapan dengan pria itu lagi. Santa menilai kalau pria itu adalah pria paling jujur yang ia kenal. Hanya pria itu satu-satunya yang mengatakan kebenaran tanpa menambahkan sesuatu untuk membuat hatinya senang, seperti yang dilakukan Andre selama ini.
Marcel mendudukan tubuhnya sambil mendecakan lidah karena emosinya terpancing. Gadis itu menuduhnya dengan sembarangan, itu sama saja menjatuhkan martabatnya di depan pelayan yang Marcel tebak sementara berbisik di dapur atas penghinaan yang dia dapatkan.
Anda Mungkin Juga Suka





