
Affair With Santa
Bab 3
“Ly. Buka pintunya, aku sudah minta maaf karena terlambat.”
Santa menggelengkan kepalanya, padahal dia sudah menutup kepalanya dengan bantal, kenapa suara Andre masih bisa ia dengar juga?
“Buka, atau aku akan merusak ini” ancam Andre dengan tegas. Dia juga tidak tahu apa yang membuat Santa aneh seperti ini, meskipun harus dia akui kalau ini kali pertama dia terlambat dalam janji mereka, tapi bukankah Santa yang mengatakan sendiri kalau itu bukan masalah?
“LYONA! BUKA ATAU~”
Perkataan Andre terhenti saat pintu rumah itu terbuka, dia tidak peduli kalau tetangga di samping rumah gadis itu terganggu saat dia harus berteriak malam-malam supaya gadis-nya ini membuka pintu.
“Kau kenapa?” Tanya Andre dengan bingung, Santa tidak mau menatapnya, malah berjalan menuju kamar. “Kau lelah menungguku? Maaf kalau begitu..” ujar Andre memelan, dia berusaha agar kakinya tidak memasuki tempat terlarang yang ia buat demi gadis-nya itu.
“Aku hanya ingin istirahat. Aku lelah tapi bukan karena menunggumu. Lupakan saja. Kau mengganggu tidurku Andre” ucap Santa dengan ketus membuat Andre yakin kalau gadis itu dalam keadaan marah di dalam sana.
Langkah kaki Andre terdengar di lantai kayu, pintu kamar gadis itu tidak tertutup, sehingga Andre menyandarkan tubuhnya di kusen pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Maafkan aku” ulangnya lagi.
“Aku sudah memaafkanmu Andre. Berhentilah meminta maaf.” Seandainya Andre tahu akar kekesalannya saat ini, itu lebih mudah baginya. Santa sangat sakit kepala memikirkan perkataan pria tidak dikenalnya itu sejak beberapa jam yang lalu.
“Aku belum makan” kata Andre sedikit keras, mencoba menarik perhatian gadis-nya, seperti tebakannya, Santa sedang marah sekarang, karena biasanya gadis itu akan menceramahi dia karena terlambat makan malam. Seperti tidak kehabisan ide, Andre mendesah frustasi “Ly, aku demam. Kau membiarkan aku di depan rumah selama satu jam.”
Santa berdecak “Ini bukan musim dingin Andre, berhentilah mencari topik pembicaraan. Aku benar-benar butuh istirahat.”
“Tapi di luar sangat dingin kau tahu” protes Andre lagi.
Andre tersenyum, dia memiliki satu kalimat lagi untuk membuat gadis itu berbalik menatapnya. “Aku akan tidur di sini malam ini. Terima saja tanpa bantahan.” Benar juga, setelah mengatakan itu, Santa keluar dari dalam selimut berjalan sambil berkacak pinggang ke arahnya. Gadisnya ini memiliki prinsip yang teguh, tidak ada acara menginap sampai mereka terikat janji suci, Andre juga tidak bersungguh-sungguh, dia hanya ingin Santa melakukan percakapan dengannya, karena jujur dia sangat merindukan gadisnya ini.
“Apa kau lupa dengan peraturannya?”
Andre menggeleng, menarik salah satu tangan gadis itu, menuntun untuk duduk di sofa yang berjarak beberapa meter dari mereka. “Jangan mengabaikan ku lagi Ly. Aku tidak suka diabaikan olehmu” bisiknya sebelum menjatuhkan tubuhnya di samping gadis itu untuk menyandarkan kepala di bagian atas sofa dan memejamkan mata.
Santa tersenyum, lalu dia memilih untuk mengabaikan perkataan pria yang tidak ia kenal itu. “Aku minta maaf” desisnya dengan halus sambil menyandarkan kepalanya di lengan Andre untuk ikut memejamkan mata.
“Sudahlah.”
****
Meregangkan tangannya, Santa kemudian memberikan senyum sambil mengisi novel dan beberapa buku ensiklopedia yang di beli gadis di depannya ke dalam paper bag berlabel toko buku tempat kerjanya.
“Bukunya?” Tangannya terjulur kepada pelanggan selanjutnya. Karena dia sibuk dengan keyboard komputer di depannya seperti kebanyakan kasir lainnya, sehingga dia tidak memperdulikan orang yang menatapnya. Karena terasa sudah sangat lama, orang di depannya berdehem keras agar kasir itu segera menatapnya.
“Apa kabar Nona,” kata pria itu membuat Santa tersentak kaget, memundurkan dua langkah dan menyuruh temannya yang lain untuk menggantinya. “Nona jangan pergi. Tuan menunggu anda untuk kembali. Nona!” Teriak pria itu sambil menyusul Santa yang sudah berlari ke luar toko.
“S and C Garment, now!” Teriak Santa dengan panik pada supir taksi dengan rambut yang sedikit memutih. Ini bahaya, Ayahnya sudah mengetahui tempat kerjanya, itu berarti tinggal menunggu hitungan jam, mereka akan mengetahui rumahnya. Rumah? Benar, flat kecil tempat tinggalnya. “Putar arah. 5 East 68th street” katanya lagi sambil memijat kepalanya yang sakit mendadak akibat memikirkan pelarian dirinya.
****
“Ada undangan untuk anda, tuan” lapor sekertaris Andre sambil meletakan gulungan putih dengan gliter berwarna emas beserta pita senada di meja kerjanya.“Pranata?” Tanya Andre sedikit tidak suka dengan pengirim undangan itu – yang menaruh nama Belakang-nya ketika dengan jelas dia ada di Amerika.
“Undangan apa ini?” Sejurus kemudian matanya membelalak saat membaca nama pengirimnya, “Kelvin?” Andre bergumam pelan sambil menerawang. Itu nama adik Ara. Lalu, Kelvin ada di Amerika juga?
“Tuan?”
“Orang kita yang menyamar, mengatakan kalau Mr. David dalam penerbangan siang ini kembali ke New York. Mungkin satu jam lagi tiba di flat nona..” pria itu sedikit mendongak untuk melihat jam dinding di dekat lemari buku, “mungkin satu jam lagi.”
“Sial.” Andre melepas ballpoint hitamnya hingga membuat bunyi kecil di kaca meja dan memberikan kode melalui jari tangan hingga sekertarisnya itu mengangguk lalu keluar dalam diam. Memang dia menaruh salah satu orang bayarannya untuk bekerja dengan Ayah kekasihnya. Ini adalah kabar buruk, dengan cepat dia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, menekan speed deal nomor satu.
Perasaannya semakin tidak tenang saat kekasih tercinta nya tidak menjawab panggilan pertama. “Ini tidak pernah terjadi sebelumnya..” Andre bergumam pelan sambil meletakan ponselnya di atas meja. David bukanlah orang yang peduli pada anak perempuannya, apalagi bersusah payah ke sini untuk menemui Santa. Lalu? Pasti ada sesuau di balik ini, Andre yakin itu. Tapi apa?
Getaran di ponselnya menarik perhatian, hingga dia segera mengangkat panggilan itu, tapi detik berikutnya dia mendesah kecil.
“Ada apa?”
“Lea ingin berbicara denganmu” jawab penelepon di seberang sana, istrinya, Ara.
“Daddy!” Lea berseru memanggil ayahnya, hingga hal itu membuat Andre tersenyum kecut, “Ya, sayang..” sahutnya pelan.
“Tadi uncle menelepon, Daddy sudah mendapat undangan pesta? Aku ingin meminta baju spesial darimu. Bisakah?” Tanya Lea hati-hati sambil menunggu persetujuan Ayahnya.
Andre tersenyum lebar, sejenak dia melupakan apa yang mengusiknya tadi. Berdiri, dia segera keluar dari ruang kerjanya dengan ponsel menempel di telinga “Daddy akan tiba satu jam lagi, dengan gaun princess-mu. Tunggu Daddy!”
“Jadwalku siang sampai sore pindahkan ke lain hari” pesan Andre di meja sekertaris, dan segera berlalu menuju lift ke tempat parkir mobilnya.
Anda Mungkin Juga Suka





