
AFFAIR
Bab 2
"Tuan tolong, jangan lakukan itu padaku!" rengek Mauren.
"Sutt, jangan panggil aku Tuan! Kau harus panggil aku Aron, mengerti?"
Kedua tangan Aron mulai meraih pinggul Mauren hingga Mauren merasakan merinding disekujur tubuhnya.
"Katakan iya Aron suamiku!" perintah Aron.
"I-iya," ucap Mauren.
"Iya apa?" tanya Aron sambil menghirup aroma tubuh Mauren.
"Iya Aron suamiku!" ucap Mauren.
"Good girl,"
Aron langsung mencium leher jenjang Mauren yang membuat Mauren langsung replex mendorong dada bidang Aron.
"Jangan! Aku mohon!" rengek Mauren.
"Jangan? Aku bahkan sudah tidak sanggup lagi menahan hasrat ku untuk segera menikmati tubuh seksimu itu, ngomong-ngomong payudaramu besar sekali Mauren," ucap Aron.
Perkataan demi perkataan Aron semakin membuat Mauren melangkah mundur dan rasanya ingin kabur dari mansion mewah ini! Akan tetapi Aron langsung menangkap tubuh Mauren dan menggendong tubuh Mauren untuk dibawa ke kamarnya yang berada di lantai tujuh mansion mewah tersebut.
"Tolong! Lepaskan aku Tuan Aron! Jangan lakukan ini!" teriak Mauren.
Akan tetapi percuma saja mau Mauren berteriak sekencang apapun di mansion mewah ini tidak akan ada yang bisa menolongnya, karena semua asisten rumah tangga yang ada di mansion ini tunduk pada Aron seorang.
Tubuh Mauren dengan entengnya digendong sampai tiba di kamar pribadi milik Aron, kamar yang begitu luas dan didominasi dengan warna putih dan abu-abu tua itu menjadi saksi bagaiman Aron dengan ganasnya melempar tubuh Mauren keatas ranjang empuk miliknya.
Tubuh Mauren pun terlentang pasrah diatas ranjang mewah tersebut.
"Ampun Tuan Aron jangan!" Mauren terus menangis dan memohon agar Aron tidak melakukan sex padanya.
"Aku tidak tahan lagi ingin menembus vaginamu sayang, ayo lepaskan pakaianmu!"
"Tidak! Tolong! Tolong!" teriak Mauren.
Namun Aron justru tertawa mendengar teriakan dan jeritan Mauren ketika kedua tangan besar Aron merobek pakaian Mauren, melepaskan semua pakaian yang dipakai oleh Mauren bahkan celana dalam dan bra yang dikenakan oleh Mauren sudah berhasil dilepaskan oleh Aron.
Tubuh seksi Mauren semakin membuat penis Aron mengeras dengan sempurna, ditariknya kedua kaki Mauren sehingga kedua kaki Mauren itu dibuka selebar-lebarnya oleh Aron.
Terlihat vagina Mauren yang berwarna merah jambu dan tidak terlalu banyak memiliki bulu!
"Jangan! Aku mohon, jangan!"
"Ini akan enak sayang, kau akan ketagihan percayalah padaku!" ucap Aron dengan tatapan seperti tidak sabar ingin segera menikmati Mauren.
Aron kemudian membentangkan kedua pangkal paha Mauren menggunakan kedua tangannya, lalu wajah Aron pun didekatkan pada vagina berwarna merah muda milik Mauren tersebut, diendusnya vagina indah itu oleh Aron dan tanpa bisa menahannya lagi Aron segera menjulurkan lidahnya untuk menjilati vagina Mauren.
"Tidak Tuan jangan, ahhh jangan!" teriak Mauren.
Meskipun kedua tangan Mauren berusaha untuk menahan kepala Aron agar tidak menjilati vaginanya, akan tetapi tetap saja Aron menikmati menjilati vagina Mauren yang rasanya sangat nikmat! Mauren pun baru merasakan sentuhan diarea vaginanya apalagi ini langsung dijilati dan diciumi oleh Aron, meskipun Mauren berusaha menolaknya akan tetapi dari dalam diri Mauren sendiri tidak dapat memungkiri ternyata dijilati dan dihisap vaginanya oleh Aron rasanya luar biasa nikmat, sampai-sampai Mauren merasakan seluruh tubuhnya semakin terangsang dan bergetar hebat.
"Vaginamu sudah mulai becek Mauren, sssthhh aku akan hisap vaginamu dengan kencang!l ucap Aron.
"Ahhhh Tuan! Eunghhtttt,"
Terasa sekali vaginanya dihisap begitu kencang oleh Aron sampai Mauren menjerit-jerit keenakan, setelah puas menjilati vagina Mauren! Aron kemudin langsung beralih pada kedua payudara Mauren yang berukuran super besar dan terlihat sangat sintal.
"Tuan ampun," dengan suara serak dan lemah Mauren masih berusaha menghentikan Aron.
"Aku mau menyusu padamu Mauren, susumu besar sekali ini pasti enak,"
"Ja-jangan Tuan!"
Aron langsung melahap satu persatu payudara besar Mauren sambil kedua tangannya meremas-remas kedua payudara Mauren, lagi dan lagi Mauren pun hanya bisa memohon agar Aron bisa menghentikan menghisap payudaranya karena rasanya cukup sakit bagi Mauren yang baru pertama kali merasakannya.
"Sakit Tuan! Ahhh tolong jangan dihisap lagi!" rengeknya.
Namun Aron yang sudah seperti kecanduan oleh susu milik Mauren, tidak mau berhenti menyusu dan terlihat seperti bayi yang sedang lapar sampai terus menyusu sesuk hatinya pada payudara kiri dan kanan Mauren.
Lama kelamaan tenaga Mauren untuk menolak dan melawan pun semakin melemah, Mauren kini hanya bisa parah melihat kedua payudaranya dihisap tanpa henti oleh Aron.
"Aku sudah puas menyusu padamu Mauren, payudaramu benar-benar menyegarkan!" ucap Aron.
Terlihat kedua puting Mauren yang masih basah bekas dihisap oleh Aron, Mauren pun merasakan kedua putingnya itu perih karena selain dihisap kencang putingnya itu pun digigit oleh Aron tanpa ampun.
"Sekarang puaskan aku dengan vaginamu yang masih sangat sempit itu Mauren!" ucap Aron.
"Tidak Tuan aku mohon jangan!"
Aron segera melepaskan seluruh pakaiannya, sedangkan Mauren berusaha untuk turun dari ranjang dan menuju pintu untuk kabur dari Aron! Akan tetapi begitu Aron selesai melepepaskan seluruh pakaiannya dan kini tubuh telanjang Aron yang terlihat sangat kekar itu pun langsung menghampiri Mauren yang sedang berusaha membuka pintu kamar yang sudah dikunci oleh Aron.
"Kemari sayang, layani aku sampai puas!" ujar Aron yang langsung menarik tangan Mauren.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau!" ucap Mauren yang semakin ketakutan.
Diseretnya Mauren oleh Aron hingga tubuh telanjang Mauren kembali harus dilempar keatas ranjang oleh Aron.
"Aku sungguh tidak tahan ingin segera berhubungan sex denganmu Mauren, kau sungguh membuatku menggila!" ujar Aron.
Kedua tangan Mauren memukul-mukul dada bidang Aron, sedangkan kedua tangan Aron sudah melebarkan kedua pangkal paha Mauren dan segera memperlihatkan penisnya yang berukuran cukup besar pada Mauren.
"Lihatlah dia sudah sangat menginginkan vagina sempit mu ini!"
"Tuan jangan, aku tidak mau!"
Aron yang sudah benar-benar horny langsung berusaha memasukkan penisnya pada vagina sempit milik Mauren, lubang itupun sangat sulit sekali ditembus oleh penis Aron sampai-sampai Aron harus bekerja keras menekan penisnya agar bisa segera masuk.
"Aw, sa-sakit Tuan ahhhh sakit!"
"Tenang sayang, ini hanya sakit diawal saja setelah ini kau akan keenakan dan merengek ingin terus aku masuki vaginamu!" ucap Aron.
Wajah Aron pun terlihat menengadah keatas sementara penisnya semakin menekan kuat lubang vagina Mauren hingga membuat Mauren sampai menangis meraung-raung akibat kesakitan, penis Aron perlahan-lahan akhirnya berhasil masuk kedalam vagina sempit Mauren membuat vagina Mauren mengeluarkan darah kesuciannya hingga menimbulkan noda pada sprei tersebut.
Kedua tangan Mauren pun mencengkram keras sprei dikanan dan kiriny, sementara jeritan Mauren terdengar sangat nyaring didalam kamar ini saking kesakitannya ketika penis Aron memaksa masuk kedalam vaginanya.
Anda Mungkin Juga Suka





