
Adikku Seorang Pelakor
Bab 2
Semua tamu telah hadir. Kami memang tak mengundang banyak tamu. Hanya beberapa kerabat dekat dan tetangga sekitar. Sebagaimana dalam Islam, sebuah acara pernikahan haruslah ada saksi dan disunahkan menggelar walimah meski hanya kecil-kecilan. Untuk itulah kami tetap mengundang kerabat dekat dan tetangga sekitar, meski jumlahnya tak lebih dari tiga puluh orang. Itu sudah termasuk keluarga dari mempelai laki-laki.
Acara akad nikah akan segera dimulai. Calon pengantin telah duduk di tempatnya. Begitu juga dengan saksi dan penghulu. Aku memandang adikku, Nindi. Dirinya tampak cantik dengan balutan kebaya berwarna putih. Sejenak pandanganku beralih ke perutnya. Seketika dadaku terasa sesak. Dalam perut adikku, sudah ada janin yang mulai tumbuh. Usia janin itu hampir dua bulan.
Pandanganku semakin nanar ketika mataku melihat ayah dari janin tersebut. Tentu saja itu adalah sang mempelai laki-laki yang duduk di sebelah pamanku sebagai wali nikah. Dulu, tujuh tahun yang lalu hal seperti ini telah terjadi. Laki-laki itu juga duduk di samping paman. Namun, di samping satunya lagi, bukan adikku yang duduk di sana. Aku yang berada di posisi itu. Tujuh tahun yang lalu, akulah yang menikah dengan Mas Rangga, orang yang kini akan menikahi adikku.
Lamat-lamat, ingatanku pun terlontar pada kenangan tujuh tahun silam. Beberapa bulan setelah bapak meninggal, Mas Rangga melamarku. Dia adalah putra dari kenalan paman. Katanya dia adalah pemuda yang baik. Aku pun menurut untuk menikah denganya. Beberapa kali pertemuan kami sebelum menikah, dia selalu bersikap sopan. Selain itu, dia juga terlihat sebagai pemuda yang sabar dan penyayang. Mas Rangga juga menunjukkan kepribadian yang dewasa. Usianya lima tahun di atasku.
Awal pernikahanku berjalan dengan mulus. Perlahan kami saling jatuh cinta. Hari demi hari yang kami lalui bersama terasa indah. Mas Rangga juga terlihat sangat menyayangi adikku. Aku merasa tenang dengan hal itu. Setelah duka karena kehilangan sosok ayah, kami menemukan laki-laki yang bisa menjaga kami. Apalagi setelah dua tahun penantian pasca pernikahan kami. Aku melahirkan seorang putra. Rio Pratama, begitu nama yang kami sematkan untuk putra kami.
Usai memiliki anak, Mas Rangga juga semakin sayang padaku. Dia bekerja keras demi memenuhi kebutuhan kami. Termasuk untuk mencukupi biaya sekolah Nindi tentunya. Setelah menikah, kami memang membuka sebuah warung makan. Tak begitu besar memang, tapi cukup ramai. Hasilnya bisa untuk membiayai kebutuhan keluarga dan sedikit menabung.
Aku dan Mas Rangga mengelola sendiri warung makan tersebut. Namun sejak aku hamil, Mas Rangga melarangku bekerja. Kami pun akhirnya mencari orang untuk membantu di warung makan. Kalau pun aku ke sana, paling hanya duduk di belakang meja kasir. Mungkin kata orang-orang memang benar. Tiap anak yang lahir itu membawa rijekinya sendiri. Buktinya, setelah kelahiran Rio, warung makan kami semakin ramai. Kami juga menambah dua orang pekerja dan menyewa satu ruko lagi di samping warung yang kebetulan habis kontrak. Pengontrak lama tidak memperpanjangnya lagi.
Tahun silih berganti. Putra kami tumbuh dengan baik. Nindi juga telah lulus SMA. Namun dia belum mau melanjutkan kuliah. Dia juga tidak ingin bekerja di warung makan milikku dan Mas Rangga. Nindi memilih mengambil kursus. Biar bisa cepat kerja katanya. Kursus jahit, itu yang dipilihnya. Nindi memang tidak hobi dengan dunia memasak dari dulu. Dia lebih suka menggambar sejak kecil. Sangat berbeda denganku yang suka berkutat di dapur dan membuat aneka makanan.
Aku pun meminta Mas Rangga mencarikan Nindi tempat kursus. Mas Rangga tidak menolak. Diantarnya adikku untuk mendaftar. Sejak saat itu, suami dan adikku memang terlihat lebih dekat. Aku tak pernah curiga dengan kedekatan mereka. Setahuku, Mas Rangga menyayangi Nindi layaknya adik sendiri. Wajar jika mereka sering bercanda dan terlihat akrab.
Namun ternyata kepercayaanku pada mereka hancur luluh. Tak pernah terlintas dalam benakku jika adik dan suamiku menjalin hubungan. Mereka berselingkuh. Aku baru tahu setelah hubungan mereka berjalan hampir dua tahun. Entah bagaimana mereka melakukannya. Sebulan yang lalu, aku tahu bahwa Nindi telah mengandung anak dari Mas Rangga.
“Mbak Wulan, maafkan aku,” rengek Nindi sambil bersimpuh di kakiku. Tangis adikku tak kalah menganak sungai dari tangisku.
Aku tak menjawab permintaan maaf dari Nindi. Mataku justru nyalang tertuju pada Mas Rangga. Bagimana mungkin laki-laki yang tujuh tahun bersamaku, terlihat sangat mencintaiku, ternyata tega memakan adik kandungku? Apa salah dan dosaku hingga petaka ini terjadi? Dadaku rasanya ingin meledak. Ada kemarahan yang tak dapat kugambarkan di dalamnya.
“Wulan, aku khilaf. Maafkan aku ….”
Mas Rangga mencoba meraih tangganku. Namun aku menepisnya. Tiba-tiba tanggan Mas Rangga terlihat begitu kotor di mataku.
“Tinggalkan aku sendiri!” ucapku menahan amarah.
“Wulan ….”
“Kak Wulan ….”
Mas Rangga dan Nindi memanggilku hampir bersamaan. Sepertinya mereka ingin membujukku. Namun aku yang terbakar amarah tidak ingin mendengar perkataan mereka.
“Baiklah, kalu kalian tidak mau pergi, aku yang pergi!”
Aku menyeret langkahku. Berusaha meninggalkan Mas Rangga dan Nindi. Tentu saja mereka berusaha mencegahku. Akan tetapi aku tidak peduli. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku berlari meningglakan mereka. Aku pergi menuju rumah Budhe Lastri.
Mas Rangga mengejarku hingga ke rumah Budhe Lastri. Namun aku menutup pintu rumahnya. Tak membiarkan Mas Rangga masuk.
“Wulan, buka pintunya! Biarkan aku masuk, kita harus bicara!” teriak Mas Rangga sambil menggedor pintu.
“Pergi kau dari sini! Aku tidak ingin melihat wajahmu!” sungutku dengan suara parau karena bercampur tangis.
“Wulan … Wulan!” suara Mas Rangga masih terdengar dari balik pintu.
“Biar Budhe yang menemui Rangga, Nduk. Kau masuklah dulu,” ucap Budhe Lastri.
“Aku tidak mau bertemu dengannya, Budhe …” jelasku.
“Budhe mengerti. Masuklah dulu, percayalah sama Budhe!” Budhe Lastri meyakinkanku.
Akhirnya aku pun menurut. Dengan langkah cepat, aku berjalan menuju kamar Budhe Lastri. Laili yang dari tadi memperhatikanku di belakang Budhe Lastri pun mengikutiku masuk. Samar-samar aku masih mendengar suara Mas Rangga yang bicara dengan Budhe Lastri. Suamiku itu bersikeras ingin bertemu denganku. Namun Budhe Lastri mencegahnya.
“Nak Rangga pulang dulu. Untuk sementara, biar Wulan di sini. Biar dia tenang. Budhe akan bicara dengannya.”
“Tapi, Budhe ….”
“Lihatlah keadaan Rio dan Nindi dulu di rumah. Setelah Nak Wulan tenang, dia pasti mau bertemu dan bicara denganmu.”
Begitulah kurang lebih percakapan Mas Rangga dan Budhe Lastri yang sempat kudengar dari kamar. Tak lama setelah itu, aku tak mendengar apa-apa lagi. Sepertinya Mas Rangga menurut untuk pulang. Budhe Lastri pun segera menemuiku yang menangis ditemani Laili.
“Sabar Mbak Wulan … istighfar, Mbak,” kalimat yang dari tadi diulang Laili kepadaku, namun aku tak menggubrisnya.
“Nduk Wulan ….” Suara lirih Budhe Lastri memasuki pendengaranku. Aku pun segera memeluk wanita yang sudah aku anggap sebagai ibu tersebut.
“Budhe, Wulan ingin mati saja. Rasanya Wulan tidak kuat, Budhe … mengapa harus Nindi? Dia itu adikku, Budhe. Mengapa Mas Rangga setega ini padaku?” Tangisku semakin menjadi-jadi. Sementara Budhe Lastri memelukku dengan erat dan penuh kasih sayang.
“Sabar, Nduk,” ucap Budhe Lastri. “Laili, buatkan teh hangat buat Mbak Wulan,” lanjutnya.
“Baik, Bu.” Laili yang penurut segera bangkit dan menuju dapur.
“Menangislah sepuasmu, Nak Wulan. Akan tetapi jangan sekali-kali berpikiran pendek. Ingatlah, kau masih memiliki Rio. Dia masih kecil. Masih membutuhkan kasih sayang ibunya. Nyebut, Nduk … ingat sama Gusti Allah. Jangan gegabah!” nasihat Budhe Lastri belum mampu menghentikan tangisku. Tak juga mampu menghapus rasa kecewa dan amarah yang membuncah di dadaku.
Semua ini terasa tidak adil. Allah terlalu kejam padaku. Sulit untuk merima kenyataan adikku sendiri yang merusak rumah tanggaku. Bagaimana dia bisa setega itu terhadapku? Ini rasanya benar-benar seperti mimpi buruk. Aku ingin terbangun dari mimpi dan menemukan bahwa itu hanya bunga tidur. Sayangnya, semua adalah kenyataan. Bahkan saat ini, adikku telah bersiap menjalani akad nikah dengan orang yang tadinya adalah suamiku, Mas Rangga.
Anda Mungkin Juga Suka





