Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Adegan Panas Malam Pertama

Adegan Panas Malam Pertama

Malam pertama yang seharusnya menjadi momen istimewa bersama suami justru berubah menjadi kejutan tak terduga. Aku melewati malam penuh gairah dan kepuasan intens dengan sosok pria perkasa yang identitasnya bukan pasanganku. Saat fajar menyingsing, drama kehidupan yang rumit pun dimulai. Pengalaman intim yang memabukkan itu seketika membalikkan duniaku, membawa konsekuensi besar yang mengubah seluruh alur takdir masa depanku selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Tamu undangan yang tadinya sangat ramai, dan riuh memeriahkan pesta resepsi pernikahan Arthur, dan Maya. Kini telah berangsur sepi. Malam pun semakin larut. Satu per satu di antara mereka yang telah hadir, pamit undur diri kepada Arthur, dan Maya. Mereka beranjak pergi meninggalkan rumah Arthur yang dijadikan tempat acara itu berlangsung.

Kaki Maya terasa kebas, karena keseringan berdiri dari tadi memakai high heels. "Yaank …!" rengek Maya dengan Manja, di dekat suaminya, sambil memegang kakinya yang sudah mulai kram.

"Hmm, ada apa, Sayang? kamu kenapa? tanya Arthur menoleh ke samping, melihat ke arah istrinya yang merengek.

"Kakiku …." Maya terus memegangi kakinya yang terasa semakin kebas.

"Kakimu kenapa, Yang?" Arthur yang merasa cemas, ikut memegang kaki istrinya. Di raba, dan dia cek untuk memastikan ada apa dengan kaki istrinya.

"Kakiku pegal, dan kebas, Yang," rengek Maya semakin manja. "Mungkin, karena aku keseringan berdiri dari tadi."

"Sini, aku pijitin." Arthur meletakkan kaki Maya di atas kakinya, memijatnya dengan serius, berusaha untuk meredakan rasa nyeri, dan kebas di kaki istrinya.

Mereka berdua terlihat begitu romantis, dan so sweet. Tidak ada rasanya yang lebih bahagia, ketika kita bisa mencintai, dan juga dicintai. Itulah yang kini sedang mereka rasakan, dan jalani bersama.

"Gimana pijatanku?" tanya Arthur yang terus memijat kaki istrinya dengan lembut.

"Enak," jawab Maya tersenyum.

"Enakan mana dengan ciumanku?" Arthur melirik Maya dengan kerlingan mata genitnya, dan menghentikan gerakan tangannya sesaat.

"Tau, ah," jawab Maya memalingkan wajahnya dari sang suami.

"Kenapa gak tau? mau coba bandingin?" Arthur menarik tubuh Maya ke dalam dekapannya dengan agresif.

"Itu kan ma-," ucapan Maya terhenti karena Arthur membungkam mulut Maya dengan bibirnya.

Maya berusaha melepaskan ciuman mereka. Tapi, Arthur semakin memperdalam ciumannya. Arthur memegangi kepala belakang Maya dengan tangan kanannya. Sedangkan, tangan kiri Arthur memeluk erat pinggang ramping sang istri.

Maya terus berusaha melepaskan diri dari suaminya. Karena tempat mereka berciuman bukanlah tempat yang layak untuk melakukan itu. Tapi, hati, dan perasaan Maya seakan berkata lain. Dia menikmati setiap kegiatan Arthur. Sekarang, Maya merasa menjadi orang yang paling munafik. Jiwa, dan raganya kali ini tidak se jalan. Raganya mau melepaskan diri dari Arthur, dan menyudahi kegiatan mereka. Namun, jiwanya, meminta lebih, dari belaian Arthur. Beberapa tamu undangan yang masih berada di sana dapat melihat dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan.

Sebagian tamu undangan yang mau pamit pulang kepada mereka berdua, mengurungkan niat mereka untuk menemui Arthur, dan Maya. Mereka tidak mau mengganggu aktifitas dua sejoli yang sedang saling bertautan bibir itu. Mereka langsung pulang ke rumah masing-masing tanpa berpamitan kepada kedua mempelai terlebih dahulu.

Kondisi tempat resepsi sudah sepi. Tamu undangan tidak ada lagi yang terlihat di sana. Tapi, kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu tidak menyadarinya. Mereka masih setia untuk saling pagut, dan salin memainkan lidah untuk berdansa di dalam rongganya. Arthur mengusap lembut punggung istrinya dengan bibir yang tetap menyatu dengan Maya. Sedangkan Maya telah mengalungkan tangannya ke leher sang suami dengan sangat manja. Tangan Arthur menjalar, menjelajah tiap lekuk tubuh wanita pujaan hatinya, yang kini telah halal untuk dia raba. Tangan itu terus Menjelajah kemana-mana. Hingga, dia menemukan bukit kembar yang begitu empuk untuk di mainkan. Arthur meremas, mencengkeram pelan bukit bulat di dada istrinya dengan lembut.

Nafas keduanya terus berburu, detak jantung mereka pun bekerja lebih dari biasanya. Darah di sekujur tubuh kedua sejoli itu berdesir seakan terkena sengatan listrik, membuat mereka semakin enggan untuk melepaskan satu sama lainnya. Mereka berdua benar-benar sudah mabuk, dan lupa diri. Mereka tidak lagi memikirkan tempat dimana mereka pada saat ini.

Arthur terus meremas, dan mencengkram lembut gunung kembar nan empuk bak squishy itu dengan nakal. Seakan mendapatkan permainan baru, Arthur tidak bisa move on dari sana. Dia merasa ketagihan untuk bermain di gunung sintal milik istrinya. Maya yang mendapat pijatan di area aset berharganya, meremang, dan memejamkan matanya, menikmati pijatan lembut yang membawa dia terbang ke angkasa luar.

"Mmphhh …." Arthur dan Maya melepaskan ciuman mereka. Karena, merasa sesak napas, dan kebas di bagian bibirnya karena kelamaan berciuman.

Mereka sama-sama terdiam sejenak, sebelum saling lempar senyuman yang penuh arti, dan mengandung sejuta kebahagian di dalamnya.

"Sayang, terima kasih." Arthur menarik Maya ke dalam pelukannya dengan perasaan haru, dan cinta.

"Terima kasih, telah menjadi wanita untuk ku miliki, dan ku jadikan permaisuri," ucap Arthur di dekat telinga Maya.

"Iya, Sayang. Terima kasih, juga. Telah mau menerima aku, dan menjadikan aku sebagai seorang istri mu." Maya membalas pelukan suaminya dengan perasaan cinta, dan sayang yang tidak kalah besarnya dari cinta Arthur untuk dirinya.

Mereka mengurai pelukan dengan senyuman bahagia yang terus mengambang di bibir kedua insan itu. Arthur kembali ingin melancarkan aksinya untuk mencium bibir ranum sang istri. Tapi, aksi Arthur langsung di gagal kan oleh Maya. Maya menepis wajah Arthur dengan tangannya, dan berusaha memalingkan wajahnya. Agar Arthur tidak lagi melakukan hal yang sama dengan yang baru saja mereka lakukan di tempat terbuka.

Di depan masih terlihat beberapa orang teman Arthur yang sedang asyik bergurau, dan bermain sebuah permainan kartu yang biasanya dimainkan oleh sekelompok orang. Maya tidak mau di pergoki lagi oleh teman-teman Arthur seperti tadi, saat mereka baru datang.

"Kenapa bisa khilaf begini?" gumam Maya pelan, yang masih bisa didengar oleh Arthur.

"Kenapa, Yang? Khilaf gimana?" tanya Arthur kepo.

"Kenapa bisa aku meladeni kamu berciuman. Sedangkan di depan sana masih ada teman-teman kamu yang sedang bermain kartu," jawab Maya.

"Kamu menyesal membalas ciuman aku?" ucap Arthur salah sangka.

"Bukan begitu, Yang. Aku hanya takut mereka memergoki kita sedang berciuman seperti tadi. Mereka akan meledek kita lagi. Aku 'kan jadi malu, Yang," terang Maya.

"Kirain aku, kamu menyesal berciuman sama aku," jawab Arthur merasa lega dengan penuturan istrinya.

"Gak, lah, Yank. Mana mungkin aku menyesalinya," ucap Maya merona.

"Aku Capek, Yang. Mau istirahat, sudah malam." rengek Maya, bergelayut di tangan sang suami.

Mendengar keluhan dari istrinya, Arthur langsung menggendong tubuh Maya ala bridal style menuju kamar Arthur yang kini telah menjadi kamar mereka berdua.

Mendapat perlakuan yang sangat romantis dari suaminya, Maya tidak tinggal diam. Dia mengalungkan tangannya ke leher Arthur, dan memainkan jemari lentiknya di sekitaran leher belakang sampai daun telinga Arthur, serta sesekali mengecup pipi dan bibir suaminya sekilas.

Menerima sentuhan demi sentuhan dari jemari lembut istrinya, membuat bulu roma Arthur kembali meremang, dan juga mengundang si tombak pusaka untuk berdiri menantang di balik celananya. Tombak pusaka yang sudah berada dalam mode on itu, terasa sesak, dan ingin secepatnya dibebaskan dari dalam sana untuk dipijat oleh gua di antara belahan bukit telaga.

"Jangan begitu, Yang! Aku gak tahan," bisik Arthur dengan suara berat karena gelora dalam dirinya yang sudah menggebu-gebu.

"Awas, ya! Nanti sampai kamar, kamu gak bakalan aku kasih ampun. Aku akan hukum kamu sampai gak bisa berjalan," ancam Arthur yang tidak membuat Maya takut.

Mendengar ancaman dari Arthur, Maya malah seakan semakin menantang sang suami. "Benarkah? Tapi, aku kok sanksi, ya?" ledek Maya.

"Kita buktikan sebentar lagi. Kamu pasti akan berteriak untuk aku menghentikannya. Tapi, aku gak bakal menghentikannya. Kamu harus bersiap-siap untuk menerima hukuman dariku," ucap Arthur mempercepat langkah kakinya.

"Kita buktikan saja, nanti," jawab Maya yang juga sedang dilanda birahi dalam dirinya.

Sesampainya di dalam kamar, Arthur membaringkan Maya di atas ranjang dan langsung melumat bibir Maya dengan mesra. Maya kembali mengalungkan tangannya ke leher Arthur yang tadinya sempat terlepas saat Arthur menidurkannya di ranjang. Arthur beranjak naik ke atas tempat tidur tanpa melepaskan pagutannya. Tangan Arthur bergerilya kesana kesini, dan menerobos masuk kedalam gaun yang Maya kenakan. Tangan kokoh Arthur terus beraksi, menjelahi seluruh tubuh istrinya, sampai pada akhirnya tangan itu bertemu dengan bukit kembar nan sintal.

Arthur menelusup, dan memasukkan tangannya ke balik kain berbentuk kacamata yang menyangga gunung kembar di dada Maya. Jemari Arthur menemukan bulatan kecil yang masih belum begitu terbentuk di dalam sana. Dia memainkan, dan memelintir bola kecil di pucuk bukit kembar itu dengan gemas, sesekali dia membuat pijatan yg membuat jantung Maya berdetak tak karuan. Pijatan Arthur di bukit sintal miliknya, mampu membuat sekujur tubuh Maya meremang, dan panas dingin.

Maya tidak tinggal diam, dia tidak bisa menahan hasrat yang kini juga sudah mulai menuntut dirinya melakukan sesuatu hal yang lebih. Tangan Maya bermain-main di sekitaran roti sobek yang kini berada di atasnya, saat tangan Maya menyentuh bulatan daging kecil di dada Arthur, Maya tertarik untuk memainkannya seperti yang dilakukan Arthur pada dirinya saat ini.

Puas bermain-main disana, Maya beralih memainkan tombak pusaka yang sudah mengeras di balik celana Arthur. Maya meremas onggokan daging berbentuk sosis yang sudah mengeras itu dari balik kain yang menutupinya. Sedangkan Arthur kini beralih posisi, yang tadinya hanya menjelajah bukit kembar dengan jemarinya, sekarang sudah menjelajahi bukit itu dengan bibir dan lidahnya.

Arthur menyesap kedua bukit itu dengan sangat rakus, beberapa tanda kepemilikan dia bubuhkan di sana.

"Mmm ... Aah" suara lenguhan keluar begitu saja dari mulut Maya ketika Arthur semakin menggila di bukit sintalnya.

"Yaaanghh" Maya mencengkram pelan rambut Arthur, saat Arthur menghisap, dan menjilati bulatan kecil di pucuk bukit sintal miliknya.

"Hmmm," Arthur terus bermain di antara dua bukit kembar itu dengan bergantian.

Jantung mereka bekerja lebih cepat dari yang biasanya, kini mereka kembali saling memagut, dan bertukar saliva. Lidah mereka pun berdansa di dalam rongganya. Sekarang, Arthur, dan Maya benar-benar sudah di mabuk hasrat dalam diri mereka. Pemanasan yang berawal dari kelembutan, sekarang sudah penuh nafsu. Mereka saling tuntut satu sama lainnya untuk mendapatkan hal yang lebih memuaskan.

Maya mendorong tubuh Arthur sampai Arthur tidur telentang di atas ranjang. Sekarang, posisi Maya berada di atas Arthur dengan bibir yang kembali menyatu. Arthur yang berada di bawah kungkungan istrinya, dia merasa seakan lagi dapat jackpot dalam permainannya. Birahi Arthur seperti sedang disiram air telaga. Tangan Maya yang lincah, di tambah goyangan puting beliungnya di atas pusaka Arthur membuat Arthur benar-benar gila di bawah dirinya. Walaupun Maya bergoyang tanpa membuka kain penutup dirinya, dan Arthur. Tapi, Arthur bisa merasakan sensasi yang sangat luar biasa untuk dia nikmati. Si tombak pusaka semakin mengeras, dan memberontak ingin di lepaskan dari dalam celana Arthur yang menutupinya.

Maya membuka kancing kemeja Arthur satu per satu. Sehingga menampakkan roti sobek milik suaminya. Mata Maya tertuju pada bulatan coklat muda di dada sang suami. Dengan Mata berbinar, Maya memainkan dua bulatan kecil itu. Dia memelintirnya pelan, dan sedikit menariknya lembut. Tidak puas dengan memelintir, dan menariknya, Maya menghisap bulatan kecil itu sangat rakus, dengan tangan yang terus memainkan gundukan daging berbentuk sosis dari balik celana Arthur.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dari Benci Jadi Tayang Tayang
9.2
Karra Bella Atmadja terjebak dalam dilema cinta segitiga rumit dengan teman kecilnya, Darayan Noah Tedja. Masalahnya, Noah justru mencintai Kanaya, sementara Kanaya sendiri telah lama ditaksir oleh sepupu Bella yang bernama Raquello. Ketidakpastian menyelimuti hubungan mereka karena sikap Noah dan Naya yang sulit jujur. Saat Bella mulai lelah berjuang dan menyerah pada perasaannya, siapakah yang akhirnya akan saling memiliki dalam romansa dewasa muda ini?
Sampul Novel Gadis Bucin Dan Cowok Dingin
8.3
Cinta sering kali membutakan logika dan meninggalkan goresan luka yang mendalam di hati. Meski penuh dengan kegilaan serta rasa sakit, perasaan ini menyimpan kekuatan yang tidak terduga. Siapa yang akan menyangka bahwa cinta justru menjadi penawar paling ampuh untuk menyembuhkan segala duka? Inilah sebuah kisah tentang bagaimana keajaiban kasih sayang mampu menggetarkan jiwa siapa pun dan mengubah kepedihan menjadi sebuah kebahagiaan yang nyata bagi mereka.
Sampul Novel Gairah Suami Perkasa
8.0
Marvin Rock adalah sosok lelaki yang memiliki segalanya, mulai dari kekayaan melimpah hingga kekuasaan besar. Meski dikelilingi oleh banyak wanita hebat yang memuja statusnya, Marvin tetap mengutamakan ketulusan hati di atas segalanya. Kehidupannya penuh dengan gairah dan dominasi, bahkan sang istri sendiri mengakui keperkasaan suaminya dengan penuh rasa bangga. Inilah kisah tentang kekuatan, harta, dan pesona seorang pria yang tak tertandingi di dunianya.
Sampul Novel Istri ku tengil
8.8
Alexa memiliki paras menawan namun perilaku nakalnya sering memicu emosi. Meski hidup bergelimang harta, ia merasa kesepian akibat kurangnya kasih sayang dari orang tua yang gila kerja. Demi mencari perhatian, Alexa kerap berbuat onar hingga akhirnya ia dipaksa masuk ke dalam jerat perjodohan. Akankah pernikahan dengan pria misterius ini mengubah sikap iblisnya menjadi manis, atau justru ia akan semakin membuat kekacauan dalam kehidupan rumah tangga barunya?
Sampul Novel Istriku, Jaminan Bisnis Ayahku
9.1
Elias Pradana, pengusaha sukses yang merasa terjebak dalam hampa pernikahan bersama Safira, menemukan pelipur lara pada sosok Dina. Kepolosan gadis desa itu membawa warna baru saat hubungannya dengan sang istri mendingin pasca insiden pahit. Namun, keadaan berbalik ketika Safira berusaha berubah kembali menjadi wanita yang dulu dicintai Elias. Merasa menjadi beban, Dina memilih pergi menghilang. Kini Elias terjebak di persimpangan antara masa lalu dan kebahagiaan barunya.
Sampul Novel Mengandung Bayi Bos
8.8
Kehidupan normal Marimar, seorang staf hotel, hancur seketika setelah pertemuannya dengan seorang pria mabuk misterius. Insiden itu membuatnya hamil di luar nikah. Saat berusaha mencari pertanggungjawaban, Rimar justru menemukan fakta memilukan bahwa pria tersebut sudah memiliki istri. Kini ia terjebak dalam dilema besar antara mengungkap kebenaran kepada sang ayah biologis atau melenyapkan janin di rahimnya demi masa depan yang tak pasti.