Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ada Cinta di Meja Hijau

Ada Cinta di Meja Hijau

Anita Putri merupakan pengacara andal bertubuh gempal yang menaruh hati pada Adrian Hartono, putra pemilik firma tempatnya bekerja. Meski Adrian kerap mengandalkan kecerdasan Anita demi memenangkan kasus, pria tampan itu ternyata hanya memanfaatkannya. Merasa dikhianati, Anita bangkit dan bertekad melakukan transformasi penampilan secara drastis. Langkah ini menjadi awal perjalanannya membalas dendam sekaligus menemukan harga diri yang selama ini hilang di tengah peliknya dunia hukum.
Bab
Bagikan

Bab 2

Anita merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat Adrian masih berada di lobby. "Astaga, kenapa dia belum pergi? Bukankah tadi katanya ada meeting dengan klien?" batinnya panik.

Dengan gerakan cepat, Anita mengangkat map di tangannya, berusaha menyembunyikan wajahnya. Matanya mengintip dari balik map, mengawasi pergerakan Adrian.

"Ya Tuhan, dia menuju ke sini!" Anita menahan napas, tubuhnya menegang. Namun, alih-alih menghampirinya, Adrian berhenti di depan seorang OB yang sedang mengepel lantai.

"Apa yang kau lakukan?!" suara Adrian menggelegar, membuat beberapa orang di sekitar terlonjak kaget. "Kau tidak lihat lantainya terlalu basah? Beberapa orang hampir terpeleset!"

Anita menelan ludah menyaksikan kemarahan Adrian. "Kalau dia semarah itu pada kesalahan kecil, apa yang akan dia lakukan padaku nanti?" pikirnya ngeri, mengingat insiden jas kotor dan perlawanannya tadi.

Masih mengintip dari balik map, Anita melihat Adrian kini berbicara dengan seorang pria paruh baya. "Pak Yanto," panggil Adrian, "berikan SP 3 pada OB ini. Dia sudah membahayakan keselamatan orang-orang di sini."

Setelah itu, Adrian akhirnya meninggalkan kantor. Anita menghela napas lega, tapi rasa takutnya belum sepenuhnya hilang.

Pak Yanto terlihat berbicara sejenak dengan OB yang kini tampak lemas ketakutan, sebelum menghampiri meja resepsionis. Anita melihat resepsionis menunjuk ke arahnya, dan Pak Yanto mulai berjalan mendekat.

Dengan cepat, Anita merapikan penampilannya dan meletakkan map di pangkuannya. Jantungnya berdegup kencang saat Pak Yanto tiba di hadapannya.

"Selamat pagi," sapa pria itu dengan senyum ramah. "Anda pasti Anita. Saya Yanto, manajer HRD Hartono Firm."

Anita berdiri, berusaha menenangkan diri. "Selamat pagi, Pak Yanto. Iya, saya Anita. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan saya."

Pak Yanto mengangguk. "Mari, kita bicara di ruangan saya. Ada banyak hal yang perlu kita diskusikan."

Saat mengikuti Pak Yanto menuju lift, Anita tidak bisa menahan diri untuk melirik ke arah pintu keluar, tempat Adrian menghilang beberapa saat lalu. Dia tahu, cepat atau lambat, dia harus menghadapi Adrian lagi. Tapi untuk saat ini, Anita memutuskan untuk fokus pada tujuan utamanya: mendapatkan pekerjaan di Hartono Firm.

Dengan tekad yang diperbaharui, Anita melangkah masuk ke dalam lift, siap menghadapi apapun yang menanti di depannya.

Anita menghela napas lega saat memasuki ruangan Pak Yanto. Berbeda dengan orang-orang lain yang ia temui hari ini, Pak Yanto memperlakukannya dengan baik dan penuh hormat.

"Silakan duduk, Anita," ujar Pak Yanto ramah. "Sebenarnya, Pak Hartono sudah memberitahu saya untuk langsung menerima Anda sebagai pengacara junior. Tapi, kita tetap perlu melakukan sedikit formalitas."

Anita mengangguk, merasa sedikit lebih rileks.

Setelah beberapa pertanyaan dasar, Pak Yanto terlihat penasaran. "Jika boleh tahu, ada hubungan apa Anda dengan Pak Hartono? Beliau tampaknya sangat mempercayai Anda."

"Sebenarnya, Pak," Anita tersenyum kecil, "saya baru mengenal Pak Hartono tiga hari yang lalu."

Alis Pak Yanto terangkat. "Oh? Ceritakan pada saya bagaimana Anda bisa bertemu dengannya."

Anita mulai bercerita tentang pertemuannya yang tidak terduga dengan Pak Hartono. Dia menggambarkan bagaimana dia duduk lelah di emperan toko setelah motornya mogok dan lamarannya ditolak di firma hukum lain.

"Tiba-tiba, saya melihat Pak Hartono turun dari mobilnya dengan tas berisi dokumen penting. Seorang penjambret datang dan merebut tasnya," Anita menjelaskan dengan antusias.

Dia melanjutkan ceritanya, menggambarkan bagaimana dia berhasil menghentikan penjambret dengan menghadangnya dan menduduki si pelaku dengan tubuh besarnya.

"Saya langsung memukul kepala penjambret itu dengan tas yang saya bawa," Anita tertawa kecil mengingat momen itu. "Orang-orang sekitar kemudian membantu membawa penjambret ke pos polisi terdekat."

Pak Yanto mendengarkan dengan seksama, terlihat terkesan.

"Pak Hartono sangat berterima kasih karena saya menyelamatkan dokumen pentingnya. Ketika dia tahu saya baru saja ditolak di firma hukum lain karena penampilan saya, dia langsung menyuruh saya datang ke sini dan menemui Anda," Anita mengakhiri ceritanya.

Pak Yanto mengangguk mengerti. "Cerita yang luar biasa, Anita. Saya bisa melihat mengapa Pak Hartono sangat terkesan dengan Anda."

"Jadi," lanjut Pak Yanto, "kapan Anda siap mulai bekerja di firma ini?"

Anita tersenyum lebar. "Saya bisa mulai besok, Pak."

"Bagus sekali," Pak Yanto mengangguk puas. "Datanglah besok jam 9 pagi. Temui saya di lobby, dan saya akan memperkenalkan Anda kepada tim pengacara yang lain."

Anita mengangguk antusias, merasa gembira dan bersyukur atas kesempatan ini. Namun, di sudut pikirannya, bayangan Adrian masih menghantuinya. Bagaimana dia akan menghadapi putra pemilik firma ini besok?

Sementara itu Adrian mendengus kesal, matanya masih terpaku pada noda kopi di jasnya. "Sial! Jas kesayanganku rusak gara-gara wanita gendut itu," gerutunya untuk kesekian kalinya.

Reza, sang asisten, hanya bisa menghela napas pelan. Dia sudah terbiasa dengan temperamen Adrian yang meledak-ledak. Karena Reza merupakan teman Adrian semenjak kuliah, Adrian sendiri yang meminta Reza untuk menjadi asisten pribadinya, bahkan dia melarang Reza untuk memanggil dia dengan sebutan Bapak.

"Aku akan ingat wajahnya," Adrian melanjutkan, giginya bergemeletuk menahan amarah. "Lihat saja nanti kalau ketemu lagi. Akan kubuat dia menyesal!"

Reza akhirnya memberanikan diri berbicara, "Sebenarnya, Adrian... aku sudah menyiapkan jas cadangan di bagasi."

Adrian menoleh cepat, matanya melebar. "Apa? Kenapa baru bilang sekarang?"

"Maaf," Reza tersenyum canggung. "Tapi kita akan sampai sebentar lagi. Masih ada waktu untuk ganti."

Adrian menggerutu, tapi jelas terlihat lega. Mereka berhenti di tempat parkir, dan Reza bergegas mengambil jas dari bagasi.

Saat Adrian selesai mengganti jasnya, ponselnya berdering. Nama ayahnya, Pak Hartono, muncul di layar.

"Ya, Ayah?" jawab Adrian.

Raut wajah Adrian berubah seketika saat mendengar kata-kata ayahnya. Matanya melebar, dan wajahnya memucat.

"Apa?!" serunya. "Ayah serius? Tapi bagaimana bisa—"

Adrian terdiam, mendengarkan penjelasan ayahnya. Reza memperhatikan dengan cemas, bertanya-tanya apa yang terjadi.

Setelah menutup telepon, Adrian berbalik ke arah Reza, wajahnya campuran antara shock dan amarah.

"Kau tak akan percaya ini," ujar Adrian, suaranya bergetar. "Ayah baru saja bilang... dia merekrut seorang pengacara baru. Dan kau tahu siapa?"

Reza menggeleng, mulai merasa cemas.

"Wanita gendut yang menumpahkan kopi di jasku tadi!" Adrian nyaris berteriak. "Dia akan mulai bekerja besok!"

Reza terkesiap, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Sementara itu, Adrian tampak seperti akan meledak kapan saja.

"Bagaimana kamu bisa yakin kalau yang dimaksud oleh ayahmu itu adalah wanita yang menabrakmu tadi?" gumam Reza.

"Karena ayahku mengatakan ciri ciri orang itu tadi di telepon dan mengatakan kalau wanita itu akan datang pagi ini sekitar jam 10 pagi bertepatan dengan aku bertabrakan dengan wanita itu,jadi tidak mungkin orang lain. Aku yakin itu wanita yang sama , yang dimaksud oleh ayahku."Kata Adria panjang lebar.

"Tapi , bagaimana mungking ayahmu menerima orang dengan berpenampilan seperti itu, bahkan menjadi pengacara di Hartono Firm." Ucap Reza dengan bingung.

"Entahlah," Adrian menggeleng frustasi. "Tapi satu hal yang pasti, besok akan jadi hari yang sangat menarik di kantor."

Dengan itu, Adrian melangkah keluar mobil, meninggalkan Reza yang masih tercengang. Satu hal yang pasti, besok akan menjadi hari yang penuh drama di Hartono Firm.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkit Dari Luka: Istri Yang Terbuang
8.1
Tiga tahun mencintai Elton hancur seketika saat ia mencampakkan Jilly ke laut demi menyelamatkan Rachel. Di tengah pengkhianatan itu, Jilly menyembunyikan kehamilannya dan merancang pelarian dari pernikahan beracun mereka. Saat Elton akhirnya menemukan persembunyian Jilly dalam kondisi hancur, ia memohon pengampunan demi sang buah hati. Namun, bagi Jilly, sosok ayah dari bayinya telah mati sejak hari suaminya lebih memilih wanita lain daripada nyawanya sendiri.
Sampul Novel Black Paradise
9.5
Farel Charly Van Houten berniat menikahi putri keluarga Romanov, namun ia justru dipermalukan saat mempelai wanita menolaknya di malam pernikahan. Dipicu amarah dan dendam lama yang membara, Farel akhirnya memilih Anabelle Felisha Romanov, putri kedua yang dikucilkan keluarganya sendiri, untuk menjadi istri pengganti. Akankah Anabelle hidup bahagia, atau justru menjadi pelampiasan dendam Farel yang ingin menghancurkan seluruh keluarga Romanov?
Sampul Novel Cintai Aku, Suamiku
9.2
Kehidupan pernikahan Suci dan Ricko didera ketegangan hebat saat Ricko menuduh istrinya telah berubah. Namun, Suci justru merasa sikap Ricko-lah yang mendingin sejak mereka menikah. Ricko tak membantah dan mengisyaratkan alasan di balik sikapnya tersebut. Suci menyadari bahwa sosok Lona kembali menjadi pemicu keretakan hubungan mereka. Di tengah tetesan air mata yang tak terbendung, Suci harus menghadapi kenyataan pahit bahwa bayang-bayang masa lalu suaminya belum juga sirna.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Kejatuhan si Primadona Kampus
9.6
Sebagai primadona kampus dengan citra murni, aku menyembunyikan rahasia besar sejak masa puber bahwa tubuhku berbeda. Aku mengidap penyakit aneh yang membuat hasratku terus tumbuh tak terkendali setiap hari. Tidak ada yang tahu rahasia ini sampai sahabatku sendiri memergoki kondisi fisikku yang dipenuhi nafsu. Kejadian mengejutkan tersebut akhirnya mendorong sahabatku untuk membawaku pergi ke sebuah tempat misterius.
Sampul Novel Permainan gila suami dan adikku
9.0
Hati Wulan hancur saat mengetahui pengkhianatan terbesar dalam hidupnya: suaminya sendiri berselingkuh dengan adik tirinya. Rasa sakit itu berubah menjadi tekad membara untuk menuntut keadilan. Tanpa ragu, Wulan menyusun rencana balas dendam yang sistematis demi menghancurkan mereka. Ia memastikan sang suami dan saudaranya merasakan konsekuensi pahit atas perbuatan keji tersebut. Kini, Wulan siap melihat keduanya hancur dalam jeratan mereka sendiri.