
About Alana's life
Bab 3
Alana yang mendengar, bergegas menuju pintu. Dibukanya pintu tersebut, ternyata bi Lia sudah berdiri di hadapannya.
“Ada yang bisa Alana bantu, Bi?” tanyanya.
Bi Lia menggeleng. “Tidak Non. Bibi mau ngasih tau Non Alana, kalo Tuan, Nyonya, dan Non Alena sudah berangkat lebih awal.” jelas sang bibi.
“Udah duluan?” tanya Alana menyakinkan.
Bi Lia mengangguk cepat. “Iya Non.” jawabnya.
“Oh, yaudah gapapa kok Bi. Bibi kan tau, Alana sudah terbiasa.” ucapnya.
“Bibi tau, Non. Tapi, tadi kata tuan Non Alana harus sudah sampai jam 8 tepat disana. Lalu, Non Alana juga harus pesan taxi secepatnya, Non. Bibi juga kaget, sekarang udah jam setengah 8 lewat. Tapi, Non saja masih disini. Gimana, Non?” jelas bibi
Alana tersenyum menanggapi sang bibi. “Udah, Bibi ngga usah khawatir. Abis ini, Alana langsung siap-siap kok. Terus berangkat, semoga Alana sampe tepat waktu ya, Bi.” ucapnya yakin, lalu memegang kedua bahu sang bibi dan mengusapnya.
Bi Lia membalas senyuman Alana. “Yaudah, ayo Non siap-siap!” perintahnya.
Alana mengangguk kemudian melepaskan tangannya. “Yaudah, Alana siap-siap ya Bi.” Ucap Alana.
Bi Lia mengangguk, kemudian berujar, “Yaudah, kalo gitu Bibi pulang duluan ya Non. Non, hati-hati di jalan. Semoga sampe tujuan dengan selamat, yah.” jelasnya.
Alana mengangguk. “Iya, Bi.” jawabnya.
Bi Lia pamit dan meninggalkan Alana di tempatnya. Setelah melihat bi Lia hilang dari pandangannya, Alana langsung masuk kembali ke kamarnya dan bersiap-siap.
Alana mengganti bajunya dengan gaun yang sudah ia pilih. Tidak lupa, polesan make up natural di wajahnya. Dan juga, rambutnya yang ia cepol satu, dengan meninggalkan beberapa helai anak rambut di sampingnya membuat ia terlihat lebih cantik.
Hanya 10 menit, Alana menghabiskan waktunya untuk bersiap-siap. Setelah merasa dirinya sudah siap, Alana mengambil tas kecilnya, diisinya dengan dompet dan juga hpnya. Kemudian, mengambil sepatu jelasnya yang tak terlalu tinggi di rak, ia pakai untuk malam ini.
Saat melihat jam yang terpampang jelas di kamarnya, kini sudah menunjukkan pukul 19:48. Alana langsung bergegas, dan meninggalkan kamarnya yang lupa untuk ia tutup.
Setelah sampai di pekarangan, ia dapat melihat taxi yang tadi ia pesan sewaktu bersiap-siap telah tiba di depan rumahnya.
Langsung saja, Alana memasuki taxi tersebut dan menyuruh Supirnya untuk cepat. Jangan tanyakan alamatnya. Karena, tadi saat siap-siap ada pesan masuk dari Alena yang menunjukkan di mana tempat pertemuan papanya tersebut.
Tepat pukul, 19:56. Alana tiba di depan sebuah hotel bintang lima. Tak lupa ia membayar taxi, kemudian turun.
Alana memandangi hotel tersebut. “Kok, hotel?” gumamnya.
Tak ingin berlama-lama dan membuang waktunya, Alana langsung saja memasuki hotel tersebut. Menyalakan gps dan mencocokkan dengan kepunyaan papanya. Dan benar saja, Alana mengikuti titik di mana sang papa berada.
Lift demi lift, ruangan demi ruangan, semuanya telah Alana lewati. Dan kini, titik yang ia temui adalah di sebuah ruangan yang tertutup. Pintunya terbuka lebar, sepertinya ini adalah sebuah aula. Akhirnya, Alana memasuki ruangan tersebut. Saat sampai di dalamnya, ia melihat banyak tamu undangan dimana-mana.
Alana mencari di mana keluarganya berada. Dan, ketemu.
Keluarganya sedang duduk di kursi yang tersedia di sana, dan di depan mereka ada beberapa orang yang tidak ia kenali. Mungkin saja, itu rekan papanya.
Mau tak mau, Alana melangkahkan kakinya menuju tempat tersebut. “Permisi.” ucapnya sopan.
“Eh iyaa.” jawab seorang wanita paruh baya, yang tak terlalu jauh dari usia mamanya.
“Ini, Alana?” tanyanya kembali.
Alana bingung di tempat. “Ah iya, itu Alana Bu. Dia memang suka terlambat, jadi maaf.” ujar sang papa.
Alana merasa sedikit bersalah, apa memang dia terlambat? Tetapi, ia juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Kenapa, masih saja disalahkan?
“Ngga apa-apa. Mungkin, dia dandan yang cantik dulu baru kesini. Ya, kan Alana?” tanya wanita itu padanya.
Alana menjawabnya dengan senyumannya saja, ia tak tahu harus menjawab apa lagi. Takutnya, ketika berbicara ia akan disalahkan lagi.
“Yaudah, sini sayang duduk samping Tante.” ajak wanita itu.
Alana langsung menatap sang papa dan mamanya. Karena, tak ada jawaban dan juga ekspresi wajahnya juga tidak ingin menjawab, akhirnya Alana memutuskan untuk duduk di samping wanita itu.
“Alana udah gede aja, ya?” tanya wanita itu.
“Iya, Tante.” jawab Alana pelan.
“Kamu tau Tante, ngga?” tanya wanita itu lagi.
Alana berpikir. Tetapi, ia tidak ingat siapa wanita ini. “Alana...”
“Mama? Rifal kan udah bilang, Rifal ngga mau dateng.” potong seorang tiba-tiba dari belakang Alana.
Alana berbalik. Dan, “Rifal?” ucap Alana kaget.
Tidak kalah kagetnya, Rifal juga melototkan matanya melihat Alana. “Loh, Alana? Lo kok bisa ada disini?” bingungnya.
“Aduh, tadi dateng ngomel-ngomel kaya apa tau, pas liat Alana malah kaya orang linglung. Sini duduk!” titah Mamanya Rifal, menyuruhnya duduk tepat di sebelah Alana.
Alana yang melihat itu pun, langsung saja beralih menatap Alena yang duduk di hadapannya. Wajahnya menunjukkan kemurkaan terhadap Alana. Sepertinya, Alana akan dimarahi oleh Alena karena hal ini.
“Lo, apa kabar?” tanya Rifal.
Alana merasa tidak enak terhadap Alena, yang masih melihatnya tak suka.
“Alhamdulillah, aku baik.” jawabnya.
Rifal mengangguk-anggukan kepalanya, “Oh iya, lo kuliah dimana?” tanyanya lagi.
“Insya Allah, di Universitas Pancasila.” jawab Alana.
“Udah ih, Rifal kamu dari tadi nanya-nanya mulu. Udah ayo, kita mulai makan malamnya saja, ya?” tanya sang Mama kepada semuanya.
“Oh, iya Bu boleh.” Jawab papanya Alana.
Nino Adriansyah. Papanya Alana, dan juga Alena. Memiliki kerja sama dengan banyak perusahaan di Jakarta. Salah satunya, dengan keluarganya Rifal. Nino adalah Ayah yang tegas, dan juga menyikapi anaknya untuk mandiri. Kadang, ia baik dan juga jahat untuk keduanya. Tetapi, sekarang semuanya sudah tergantung kemampuan anaknya.
Ia lebih menomor satukan Alena, daripada Alana. Karena, prestasi Alana yang meningkat dan selalu berada di urutan teratas membuatnya bisa menjadi terkenal dan selalu dikenal dimana pun.
Sedangkan, Alena selalu ia salahkan dalam hal sepele apapun itu. Karena, baginya Alana adalah anak yang tidak bisa seperti Alena. Padahal, nilai dan semua yang Alena dapatkan itu berasal dari Alana. Tetapi, tak akan ada satu pun yang percaya akan hal itu.
Alena Faeyza Kirei, saudari pertama sekaligus kakaknya Alana. Gadis yang tidak mau kalah dari adiknya. Gadis yang angkuh dan sombong. Selalu merasa paling tinggi dari adiknya. Apa pun yang Alana dapat, ia yang seharusnya mendapatkan itu. Apa yang Alana suka, itu juga termasuk kesukaan Alena. Alena menginginkan semua yang dimiliki Alana, apa pun itu.
“Al, mau jalan sama gue ngga?” tanya Rifal pada Alana.
Kini, mereka sudah menyelesaikan makan malamnya.
Alana kembali menatap Alena. “Ah, gue disini aja Fal.” Jawabnya.
“Sama gue aja yuk, Fal!” ajak Alena tiba-tiba.
Alana dan Rifal menatap Alena. Rifal menoleh menatap Alana.
Alana yang mnmenyadarinya, pura-pura membuang muka.
“Yaudah, yuk Na. Alana, beneran ngga mau ikut?” tanya Rifal lagi.
Alana tersenyum dan mengangguk. “Iya.” Jawabnya.
Akhirnya, Alena dan Rifal meninggalkan Alana dan juga kedua keluarganya di meja ini.
Alana merasa bosan, hanya duduk dan mendengar pembicaraan bisnis di antara kedua keluarga. Alana lalu berpikir, bagaimana caranya ia biar tidak bosan seperti ini. Dan, yah...
“Ah, Tante, Om, Pa, Ma, Alana pamit ke toilet ya?” pamit Alana kepada mereka.
“Oh, iya Alana boleh.” jawab Mama dan Papanya Rifal bersamaan. Kalau mau tanya, bagaimana pendapat mama dan papanya sendiri. Ya, jelas pasti tau jawabannya. Mereka, jelas sudah tidak peduli.
Alana kemudian berdiri dan meninggalkan meja itu, pergi ke belakang. Bukan untuk ke toilet, ia malah berjalan menuju kebun bunga yang berada jauh dari taman.
Alana mencari tempat yang nyaman untuk ia duduki. Menoleh sekitarnya, sepi. Hanya itu, yang ia rasakan sekarang. Akhirnya, matanya tertuju pada sebuah tempat duduk yang tersedia. Ia langsung berlari, menghampiri tempat duduk itu dan duduk di sana.
Alana menyilangkan tangannya di kedua bahunya, menikmati udara malam alami dari kebun bunga ini. “Rasanya nyaman banget.” ujarnya.
Tiba-tiba, ada tangan yang menutupi matanya. Hal tersebut sontak, membuat Alana kaget.
Alana memegang tangan tersebut, berusaha melepaskan. “Siapa, kamu?” tanyanya.
“Coba tebak, aku siapa?” tanya orang itu balik. Eh, ini seperti suara laki-laki. Tetapi, ini siapa? Kalo Rifal? Bukannya sedang bersama Alena.
Lalu?
“Jawab atau aku teriak? Kamu siapa?” ancam Alana.
Tawa laki-laki itu oecah di belakang Alana. “Masa ngga kenal sama aku?” tanyanya.
Perlahan tangannya di lepas, dan membuat Alana berdiri cepat dan membalikkan badannya. Ternyata?
Anda Mungkin Juga Suka





