Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel About Alana's life

About Alana's life

Alana Septiani Putri, gadis 18 tahun, tumbuh di tengah keluarga yang membencinya. Sebagai anak kedua, ia selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya yang dipuja karena prestasi akademik. Meski sebenarnya lebih cerdas, kemampuan Alana sengaja diredam oleh saudaranya sendiri. Di balik penderitaannya, Alana hanya mendambakan satu hal yang tak pernah ia rasakan: kasih sayang tulus. Akankah ia mendapatkan kehangatan keluarga itu sebelum dunianya benar-benar terhenti?
Bab
Bagikan

Bab 3

Alana yang mendengar, bergegas menuju pintu. Dibukanya pintu tersebut, ternyata bi Lia sudah berdiri di hadapannya.

“Ada yang bisa Alana bantu, Bi?” tanyanya.

Bi Lia menggeleng. “Tidak Non. Bibi mau ngasih tau Non Alana, kalo Tuan, Nyonya, dan Non Alena sudah berangkat lebih awal.” jelas sang bibi.

“Udah duluan?” tanya Alana menyakinkan.

Bi Lia mengangguk cepat. “Iya Non.” jawabnya.

“Oh, yaudah gapapa kok Bi. Bibi kan tau, Alana sudah terbiasa.” ucapnya.

“Bibi tau, Non. Tapi, tadi kata tuan Non Alana harus sudah sampai jam 8 tepat disana. Lalu, Non Alana juga harus pesan taxi secepatnya, Non. Bibi juga kaget, sekarang udah jam setengah 8 lewat. Tapi, Non saja masih disini. Gimana, Non?” jelas bibi

Alana tersenyum menanggapi sang bibi. “Udah, Bibi ngga usah khawatir. Abis ini, Alana langsung siap-siap kok. Terus berangkat, semoga Alana sampe tepat waktu ya, Bi.” ucapnya yakin, lalu memegang kedua bahu sang bibi dan mengusapnya.

Bi Lia membalas senyuman Alana. “Yaudah, ayo Non siap-siap!” perintahnya.

Alana mengangguk kemudian melepaskan tangannya. “Yaudah, Alana siap-siap ya Bi.” Ucap Alana.

Bi Lia mengangguk, kemudian berujar, “Yaudah, kalo gitu Bibi pulang duluan ya Non. Non, hati-hati di jalan. Semoga sampe tujuan dengan selamat, yah.” jelasnya.

Alana mengangguk. “Iya, Bi.” jawabnya.

Bi Lia pamit dan meninggalkan Alana di tempatnya. Setelah melihat bi Lia hilang dari pandangannya, Alana langsung masuk kembali ke kamarnya dan bersiap-siap.

Alana mengganti bajunya dengan gaun yang sudah ia pilih. Tidak lupa, polesan make up natural di wajahnya. Dan juga, rambutnya yang ia cepol satu, dengan meninggalkan beberapa helai anak rambut di sampingnya membuat ia terlihat lebih cantik.

Hanya 10 menit, Alana menghabiskan waktunya untuk bersiap-siap. Setelah merasa dirinya sudah siap, Alana mengambil tas kecilnya, diisinya dengan dompet dan juga hpnya. Kemudian, mengambil sepatu jelasnya yang tak terlalu tinggi di rak, ia pakai untuk malam ini.

Saat melihat jam yang terpampang jelas di kamarnya, kini sudah menunjukkan pukul 19:48. Alana langsung bergegas, dan meninggalkan kamarnya yang lupa untuk ia tutup.

Setelah sampai di pekarangan, ia dapat melihat taxi yang tadi ia pesan sewaktu bersiap-siap telah tiba di depan rumahnya.

Langsung saja, Alana memasuki taxi tersebut dan menyuruh Supirnya untuk cepat. Jangan tanyakan alamatnya. Karena, tadi saat siap-siap ada pesan masuk dari Alena yang menunjukkan di mana tempat pertemuan papanya tersebut.

Tepat pukul, 19:56. Alana tiba di depan sebuah hotel bintang lima. Tak lupa ia membayar taxi, kemudian turun.

Alana memandangi hotel tersebut. “Kok, hotel?” gumamnya.

Tak ingin berlama-lama dan membuang waktunya, Alana langsung saja memasuki hotel tersebut. Menyalakan gps dan mencocokkan dengan kepunyaan papanya. Dan benar saja, Alana mengikuti titik di mana sang papa berada.

Lift demi lift, ruangan demi ruangan, semuanya telah Alana lewati. Dan kini, titik yang ia temui adalah di sebuah ruangan yang tertutup. Pintunya terbuka lebar, sepertinya ini adalah sebuah aula. Akhirnya, Alana memasuki ruangan tersebut. Saat sampai di dalamnya, ia melihat banyak tamu undangan dimana-mana.

Alana mencari di mana keluarganya berada. Dan, ketemu.

Keluarganya sedang duduk di kursi yang tersedia di sana, dan di depan mereka ada beberapa orang yang tidak ia kenali. Mungkin saja, itu rekan papanya.

Mau tak mau, Alana melangkahkan kakinya menuju tempat tersebut. “Permisi.” ucapnya sopan.

“Eh iyaa.” jawab seorang wanita paruh baya, yang tak terlalu jauh dari usia mamanya.

“Ini, Alana?” tanyanya kembali.

Alana bingung di tempat. “Ah iya, itu Alana Bu. Dia memang suka terlambat, jadi maaf.” ujar sang papa.

Alana merasa sedikit bersalah, apa memang dia terlambat? Tetapi, ia juga sudah berusaha semaksimal mungkin. Kenapa, masih saja disalahkan?

“Ngga apa-apa. Mungkin, dia dandan yang cantik dulu baru kesini. Ya, kan Alana?” tanya wanita itu padanya.

Alana menjawabnya dengan senyumannya saja, ia tak tahu harus menjawab apa lagi. Takutnya, ketika berbicara ia akan disalahkan lagi.

“Yaudah, sini sayang duduk samping Tante.” ajak wanita itu.

Alana langsung menatap sang papa dan mamanya. Karena, tak ada jawaban dan juga ekspresi wajahnya juga tidak ingin menjawab, akhirnya Alana memutuskan untuk duduk di samping wanita itu.

“Alana udah gede aja, ya?” tanya wanita itu.

“Iya, Tante.” jawab Alana pelan.

“Kamu tau Tante, ngga?” tanya wanita itu lagi.

Alana berpikir. Tetapi, ia tidak ingat siapa wanita ini. “Alana...”

“Mama? Rifal kan udah bilang, Rifal ngga mau dateng.” potong seorang tiba-tiba dari belakang Alana.

Alana berbalik. Dan, “Rifal?” ucap Alana kaget.

Tidak kalah kagetnya, Rifal juga melototkan matanya melihat Alana. “Loh, Alana? Lo kok bisa ada disini?” bingungnya.

“Aduh, tadi dateng ngomel-ngomel kaya apa tau, pas liat Alana malah kaya orang linglung. Sini duduk!” titah Mamanya Rifal, menyuruhnya duduk tepat di sebelah Alana.

Alana yang melihat itu pun, langsung saja beralih menatap Alena yang duduk di hadapannya. Wajahnya menunjukkan kemurkaan terhadap Alana. Sepertinya, Alana akan dimarahi oleh Alena karena hal ini.

“Lo, apa kabar?” tanya Rifal.

Alana merasa tidak enak terhadap Alena, yang masih melihatnya tak suka.

“Alhamdulillah, aku baik.” jawabnya.

Rifal mengangguk-anggukan kepalanya, “Oh iya, lo kuliah dimana?” tanyanya lagi.

“Insya Allah, di Universitas Pancasila.” jawab Alana.

“Udah ih, Rifal kamu dari tadi nanya-nanya mulu. Udah ayo, kita mulai makan malamnya saja, ya?” tanya sang Mama kepada semuanya.

“Oh, iya Bu boleh.” Jawab papanya Alana.

Nino Adriansyah. Papanya Alana, dan juga Alena. Memiliki kerja sama dengan banyak perusahaan di Jakarta. Salah satunya, dengan keluarganya Rifal. Nino adalah Ayah yang tegas, dan juga menyikapi anaknya untuk mandiri. Kadang, ia baik dan juga jahat untuk keduanya. Tetapi, sekarang semuanya sudah tergantung kemampuan anaknya.

Ia lebih menomor satukan Alena, daripada Alana. Karena, prestasi Alana yang meningkat dan selalu berada di urutan teratas membuatnya bisa menjadi terkenal dan selalu dikenal dimana pun.

Sedangkan, Alena selalu ia salahkan dalam hal sepele apapun itu. Karena, baginya Alana adalah anak yang tidak bisa seperti Alena. Padahal, nilai dan semua yang Alena dapatkan itu berasal dari Alana. Tetapi, tak akan ada satu pun yang percaya akan hal itu.

Alena Faeyza Kirei, saudari pertama sekaligus kakaknya Alana. Gadis yang tidak mau kalah dari adiknya. Gadis yang angkuh dan sombong. Selalu merasa paling tinggi dari adiknya. Apa pun yang Alana dapat, ia yang seharusnya mendapatkan itu. Apa yang Alana suka, itu juga termasuk kesukaan Alena. Alena menginginkan semua yang dimiliki Alana, apa pun itu.

“Al, mau jalan sama gue ngga?” tanya Rifal pada Alana.

Kini, mereka sudah menyelesaikan makan malamnya.

Alana kembali menatap Alena. “Ah, gue disini aja Fal.” Jawabnya.

“Sama gue aja yuk, Fal!” ajak Alena tiba-tiba.

Alana dan Rifal menatap Alena. Rifal menoleh menatap Alana.

Alana yang mnmenyadarinya, pura-pura membuang muka.

“Yaudah, yuk Na. Alana, beneran ngga mau ikut?” tanya Rifal lagi.

Alana tersenyum dan mengangguk. “Iya.” Jawabnya.

Akhirnya, Alena dan Rifal meninggalkan Alana dan juga kedua keluarganya di meja ini.

Alana merasa bosan, hanya duduk dan mendengar pembicaraan bisnis di antara kedua keluarga. Alana lalu berpikir, bagaimana caranya ia biar tidak bosan seperti ini. Dan, yah...

“Ah, Tante, Om, Pa, Ma, Alana pamit ke toilet ya?” pamit Alana kepada mereka.

“Oh, iya Alana boleh.” jawab Mama dan Papanya Rifal bersamaan. Kalau mau tanya, bagaimana pendapat mama dan papanya sendiri. Ya, jelas pasti tau jawabannya. Mereka, jelas sudah tidak peduli.

Alana kemudian berdiri dan meninggalkan meja itu, pergi ke belakang. Bukan untuk ke toilet, ia malah berjalan menuju kebun bunga yang berada jauh dari taman.

Alana mencari tempat yang nyaman untuk ia duduki. Menoleh sekitarnya, sepi. Hanya itu, yang ia rasakan sekarang. Akhirnya, matanya tertuju pada sebuah tempat duduk yang tersedia. Ia langsung berlari, menghampiri tempat duduk itu dan duduk di sana.

Alana menyilangkan tangannya di kedua bahunya, menikmati udara malam alami dari kebun bunga ini. “Rasanya nyaman banget.” ujarnya.

Tiba-tiba, ada tangan yang menutupi matanya. Hal tersebut sontak, membuat Alana kaget.

Alana memegang tangan tersebut, berusaha melepaskan. “Siapa, kamu?” tanyanya.

“Coba tebak, aku siapa?” tanya orang itu balik. Eh, ini seperti suara laki-laki. Tetapi, ini siapa? Kalo Rifal? Bukannya sedang bersama Alena.

Lalu?

“Jawab atau aku teriak? Kamu siapa?” ancam Alana.

Tawa laki-laki itu oecah di belakang Alana. “Masa ngga kenal sama aku?” tanyanya.

Perlahan tangannya di lepas, dan membuat Alana berdiri cepat dan membalikkan badannya. Ternyata?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KVP" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KVP
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU DAN TEMAN SUAMIKU
9.7
Kehidupan Tara berubah drastis saat ia terjebak dalam posisi yang tak pernah dibayangkan: menjadi istri kedua dari sahabat mendiang suaminya sendiri. Kini, ia terperangkap di tengah dinamika rumah tangga yang penuh komplikasi dan tekanan batin. Di tengah konflik emosional yang terus menguji kesabarannya, Tara harus menentukan pilihan sulit. Akankah ia bertahan demi komitmen tersebut, atau justru memilih untuk menyerah karena beban yang terlalu berat?
Sampul Novel Dia Mendanai Wanita Lain Menggunakan Uangku
8.9
Demi menguji kesetiaan Ethan Wilson, Julissa Palmer menyamar sebagai karyawan biasa. Namun, Ethan malah mengira Noreen adalah pewaris Grup Palmer yang asli. Sambil terus menghina Julissa, Ethan diam-diam merayu Noreen demi harta. Puncaknya, di pesta mewah perusahaan, Ethan berlutut melamar Noreen di depan media. Ia yakin Noreen adalah sang putri kaya yang sedang menyamar. Ethan tidak menyadari bahwa pemilik Grup Palmer yang sesungguhnya adalah Julissa.
Sampul Novel Do Not Love Me
9.4
Hari pertama Kayla Prawijaya di sekolah baru menjadi kacau sejak bertemu Mexsi Megantara, murid pindahan asal Singapura. Hubungan mereka diawali kebencian karena Kayla tak mengerti alasan Mexsi begitu memusuhinya. Namun, fakta mengejutkan terungkap bahwa mendiang kakak Mexsi adalah cinta pertama Kayla. Rasa benci itu berubah jadi cinta saat Mexsi mengetahui Kayla mengidap kanker darah. Mampukah Mexsi tetap bertahan mendampingi Kayla di tengah ujian pilu ini?
Sampul Novel Gulai Daging Ibu
9.1
Tekanan hidup yang menghimpit memaksa Parni, seorang wanita berusia empat puluh tahun, mencari cara ekstrem demi menghidupi anak-anak serta suaminya yang lumpuh. Demi memenuhi tuntutan keluarga, ia terjerumus ke dalam lembah dosa yang mengerikan dan tanpa batas. Tindakan nekat apa yang sebenarnya dilakukan Parni hingga seluruh warga desa merasa ketakutan? Sebuah kisah kelam tentang pengorbanan yang berujung pada misteri yang mencekam seluruh kampung.
Sampul Novel Hello, My Husband
8.6
Hubungan pernikahan yang hanya berlandaskan tanggung jawab kini berada di ambang kehancuran. Saat sang istri meminta suaminya berhenti bersikap peduli agar tidak memberi harapan palsu, ketegangan justru memuncak. Pertengkaran dingin itu berujung pada keheningan yang menyesakkan. Ketika pintu tertutup tanpa jawaban pasti mengenai perpisahan mereka, sang istri hanya bisa terpaku dalam keraguan. Apakah ini akhir dari segalanya atau awal luka baru?
Sampul Novel Hingga Akhir Waktu
9.0
Seorang gadis terjebak dalam dilema besar saat dipertemukan dengan dua pria yang memiliki paras identik namun sifatnya bertolak belakang. Keadaan ini memaksanya untuk menimbang perasaan di tengah situasi yang rumit. Apakah ia akan mengikuti kata hatinya demi sebuah ketulusan sejati, atau justru terpaksa mengambil jalan kompromi demi melindungi cinta yang selama ini ia perjuangkan? Sebuah kisah romansa modern tentang pilihan sulit dan pengorbanan.