
1001 hari tanpa mani
Bab 3
"Warna,tunggu gue" aku juga sangat membenci pria tidak tau diri ini
Dimas belari dengan tas ransel di bahu kirinya,sungguh luar biasa, bagaimana bisa manusia semirip ini dengan monyet purba
"kenapa? " ah, aku baru ingat kalau pak susilo meninggalkan bibit unggulnya sebelum liang lahat melahap sebagian jasadnya
aku benci tatapan dimas yang seolah olah aku daging panggang yang membuat nya sangat lapar
aku tau tatapan ini
"lo mau gak jadi pacar gue? " hahaha tatapan manusia yang tertelan nafsu dunia itu lagi
menjaga satu nafsu saja tidak bisa,sekarang manusia bodoh ini ingin menjaga raga manusia bernyawa? bukan kah itu komedi yang sangat geli
ah, lihat dahinya yang berkedut itu
"kenapa aku harus menerima seonggok sampah menjadi pelengkap raga yang bercorak dengan banyak warna dosa? " aku semakin membenci manusia yang satu ini, yang tidak mau berfikir dan hanya mau menerima hasil.
Aku dapat menjamin dengan pasti bahwa manusia berhati duri ini tidak berusaha menerjemahkan bahasa kataku
"ck,bisa kah kau mengatakan maksudmu yang sebenarnya tanpa harus mencampur nya dengan aksara? " benar benar sampah yang sangat busuk aromanya
aku sangat membenci manusia...
"aku menolakmu secara sadar,adimas swara" Guratan itu semakin berkedut masam
Aku pun akan berekspresi sama kala mendapat penolakkan tanpa alibi yang berusaha untuk di percaya logika seorang pria kaya
Lagi-lagi aku harus bersikap seolah tak bernyawa di kelas pecinta ilmu jiwa ini
Mata mata yang sama dosanya denganku ini, menatapku seolah-olah aku adalah dosa yang paling besar karmanya
ingin sekali ku teriakkan manusia manusia munafik sedang berdusta dengan alibi manusia bertaqwa telinga mereka hingga keluar banyak darah dari sana
mata sayu itu lagi, gadis cantik berwajah teduh di depanku itu selalu saja tersenyum saat dipuji beberapa orang.
apa ia tidak bosan dengan kemunafikan para manusia, pikirku.
"Warna mau ikut ke pengajian bareng kami gak? " Arghhh, anggap saja aku tidak ada di kelas ini
aku benci gadis cantik ini...
aku benci senyum nya...
aku benci caranya hidup...
"aku gak mau ikut ketempat dimana dosa semakin ditutupi dengan alibi pengampunan dari Tuhan "
ck,responnya membuat ku semakin dibenci seisi kelas kemunafikan ini.
"Astaghfirullah warnaaa,kamu gak boleh bilang gitu.disana kita bisa dapat banyak ilmu dan berusaha memperbaiki apa yang sudah hilang dari diri kita.Tuhan akan menunjukkan jalanNya kalau kita mau mengikuti semua yang telah ia arahkan."
wajah putih bersih itu terlihat merah padam.ntah ia sedang kesal atau malah ingin menangis
"Kalau gitu kamu aja yang pergi, jangan ajak-ajak aku.kan kamu udah di tunjukin arahnya sama Tuhan " Aku membuka buku filsafat ku dan mengabaikan keberadaan gadis yang kutau bernama Hanum itu
Sekilas ku lihat,wajah Hanum terlihat semakin memerah.gadis itu juga menggeleng geleng kan kepalanya saat melihatku
"Kamu udah dibutakan nafsu dunia na,sampai kamu lupa siapa yang memberi kesempurnaan hidup yang sedang kamu jalani saat ini.sampai kamu mengingkari semua kenikmatan yang Tuhan berikan selama ini" tanpa sadar aku menutup bukuku dan memukul meja hingga membuat seisi kelas riuh
Ah, Lagi-lagi aku menjadi tokoh antagonis yang sering mendapat sumpah kematian yang begitu tragis
Apa-apaan wajah Hanum yang terlihat kaget ini, membuat ku kesal saja
Tau apa dia tentang hidupku...
Tau apa dia tentang jalanku...
Tau apa dia tentang keimananku...
"Lo kalau gak mau pergi yaa tinggal bilang aja na, jangan malah nyakitin hati Hanum yang udah berniat baik sama lo" lanjutkan omongan sampah kalian, lanjutkan
"Iyaa,gak tau diri banget sih si warna"
"Gue dengar si warna emang kerja gak bener di club"
"Halahhh,warna itu udah mandi dosa jadi gak bakal bisa nerima siraman rohani kayak Hanum yang masih bersih"
Lagi-lagi salah ku, semuanya adalah salahku.mereka manusia-manusia bodoh yang mengaku taat tapi pemaksiat yang begitu laknat
Jika aku penjaga nereka,akan ku seret mereka hidup-hidup ke kobaran api jahanam. Ah, sayang sekali karna faktanya aku satu kaum dengan mereka.
"iyaa, aku kerja di club.setidaknya aku tau caranya mencari rezeki tapi tetap menjaga harga diriku.tidak seperti kalian yang menyerahkan tubuh kalian tanpa bayaran apapun dengan alasan cinta dan kasih sayang" Beberapa dari mereka hanya terdiam dan menatap ku dengan tajam
Ah, dia hana dan juga amelia mahasiswi yang terkenal dengan prestasi dalam organisasi dan juga ketua divisi keagamaan
Tidak ada gunanya menjadi langit jika tanah saja masih kau injak
"Aku memang manusia penuh dosa,dan aku tidak pernah berkata kalau aku putih bersih layaknya ahli surga. Jika kalian punya rasa malu pada Tuhan tundukan pandangan dan jaga kemaluan kalian"
Aku tau kalau aku keterlaluan, tapi bukankah menyombongi orang yang sombong adalah sedekah. Anggap saja aku bersedekah hari ini
"Cukup warna,kamu jangan menyakiti hati saudara mu sendiri sesungguhnya itu adalah perbuatan yang tercela.mereka hanya melaksanakan kewajiban mereka untuk mengajak kepada kebaikkan.jika kamu tidak mau ya tidak apa-apa aku gak akan maksa kamu lagi. Aku minta maaf kalau udah maksa kamu" aku hanya bisa menghela kan nafasku, untungnya manusia satu ini tidak sulit untuk mengerti
Ah, aku merasa semakin sesak di kelas ini.akan lebih baik kalau aku melarikan diri
"Tunggu warna" aku menatap Hanum yang mencekal lenganku dengan sinis
Mau apa lagi dia, pikirku
"kamu harus minta maaf dulu sama mereka yang udah kamu rusak nama baiknya" Tidak salah aku membenci gadis ini, sangat sangat tidak salah
"Aku gak mau,toh mereka menuduhku diluar batas jalanku" Kulihat Hanum menatap sekeliling dengan mata berair.aiss apa lagi salahku
"mereka hanya menegur kamu warna,mereka menasehati kamu supaya meninggalkan dosa itu.sadar lah warna sebelum Tuhan murka" Aku benci dia, sampai mati pun aku tetap akan membencinya
aku menepis tangan Hanum menyentil dahinya dengan keras
Kudengar pekikan hanum kesakitan dan seisi ruangan yang merasa khawatir.
"Tenang saja,aku hanya membuat nya sadar akan fakta dan membuka jalan logika pada otaknya" Hanum yang begitu cantik dan dipuji kesholehah annya menangis sambil menatapku
"Al-Fitnatu Assyaddu minal qotl', jika kalian begitu mentaati Tuhan seharusnya kalian tidak melupakan kesakralan kalimat itu wahai orang-orang yang lalai" Sekali lagi aku memukul meja dengan keras sebelum melangkah keluar
ah, aku lupa..
aku mundur dua langkah dan menatap mereka dengan mata penuh amarah
Aku benci mereka...
Aku benci jalan mereka...
Dan aku lebih benci Hanum yang terlalu berlebihan dalam memahami ilmu yang ia dapatkan
"Jalanku memang berbeda tapi bukan berarti kalian lebih mulia"
itu kata-kata terakhirku sebelum meninggalkan kelas kemunafikan itu
Aku benci mereka...
Aku benci manusia...
didepan pintu kelas, kulihat pak satria sedang menyaksikan perdebatan kami bersama beberapa mahasiswa yang selalu ingin tau gosip yang tidak berguna.
Buang-buang waktu saja.
"Kalau tidak salah namanya Teratai Sewarna"
Anda Mungkin Juga Suka





