
Yang Belum Terucap
Bab 3
Mora melempar ponselnya kasar masuk kedalam tas. Kesal. Yang membuatnya kesal bukan karna kalah judi, lagi ga ada modal soalnya, tapi kali ini Iqbal yang jadi beiang keroknya.
Mantan pacar Mora yang sudah sejak tiga bulan yang lalu memutuskan hubungan mereka secara sepihak. eh, Ya... bisa dibilang gitu.! dari kemarin malam selalu mencoba menghubunginya dan meminta bertemu. Mora yang baru saja merasa bisa Move-on, kesal dong, jadinya!
Tentu saja Mona yang sedang menyetir otomatis melihat ke Arah Mora, heran!
" Kenapa lagi sih, lo? "
" Si brengsek ngajakin ketemu. Mau ngapain, coba? " jawab Mora
" Block!! Ribet amat " kata Mona santai.
" Udah..!! nih dia pake nomer baru lagi, rese banget kan jadi orang! "
" Nyesel itu pasti, hahaha.. "
" Nyesel kenapa? " Mora heran.
" Ya gitu deh, tu kunyuk pasti pengen balikan lagi kayak biasa, Gak Usah Mau.. !!" perintah Mona.
" Gue juga ga mau, Ngapain? "
Mona melihat pada Mora sebentar dan kembali melihat kedepan sambil menggeleng kan kepala tidak percaya.
" Lo ngemeng begini karna gak ada orangnya, eh pas ada pasti langsung gagu!" Ejek mona
" Nggak!!, kali ini gue udah ga mau balik lagi. Terakhir udah sakit banget hati gue, ish... Anjing!! "
" Alah, Gak caya gue!! "
Mora memandang jauh kedepan dengan tatapan kosong, fikirannya melayang pada kejadian tiga bulan yang lalu. Saat itu dia merasa dicampakkan oleh pacar nya sendiri.
" Gak mungkin gue mau balik lagi sama si brengsek ga tau diri itu, lo juga liat kan, waktu itu dia sama Emily? "
" Hmm.. Makanya lo Move On dong!. Banyak yang ngantri ini, tinggal pilih satu atau dua, tiga juga gapapa!!" Goda Mona.
Mora mengernyit keheranan melihat sahabatnya.
" Emangnya lo??!! Kayak mau beli kancut aja tinggal pilih " Jawab Mora kesal.
" Hahahaha.. Lagian lo make kancut itu mulu, ganti dong ganteeii..!! "
" kok lo jadi ngeselin banget sih?, Babi..!"
" hahahaha..!! "
****
Mereka baru saja tiba di kafe KoKam, tempat favorit mereka untuk menghabiskan waktu sejak Nickolas membuka kafe ini. Saking seringnya kesini, ada meja yang memang dikhususkan untuk mereka, gak gitu juga sih, tapi hampir tiap kesini mereka selalu duduk disana.
Mora langsung menuju area kekuasaannya, tapi tidak dengan Mona, Gadis itu langsung mendekati Bar tempat nickolas sedang menyeduh kopi.
" Nick yang biasa yaa!! " pinta Mona pada adiknya.
" Oke,!! "
Mona bergabung dengan Mora di meja mereka, sebelum duduk matanya melihat sekilas sosok laki-laki sedang duduk sendiri menatapnya dan tersenyum.
" Nyet, kancut lo disini..!! "
" Maksud lo? "
" Iqbal disini, arah pukul enam!! " jelas Mona sambil menunjuk pake dagu, seperti kebiasaanya dan langsung duduk setelah itu.
Mora tidak melihat tapi Mendengar itu, perasaan Mora langsung tidak enak, gadis ini benar-benar tidak ingin lagi bertemu dengan laki-laki itu. Terus pukul enam?!, Apa maksudnya?
Mora menoleh pada jam dinding. Waktu saat itu menunjukkan pukul tiga lewat tujuh belas menit, jam enam?, oh... mungkin dibawah. dia melihat orang yang duduk di meja tepat dibawah jam, Om-om??, Mora mengernyit segera berbalik pada Mona.
" becanda lo ga lucu, Anjing!! " kata Mora kesal.
Mona menggeleng saat melihat Mora dengan putus asa, Anak Babi ini memang tidak tertolong, fikirnya. Mora mendesah.
" eh tolol, arah pukul enam itu maksudnya di belakang Elooooo, begooo..!!! "
Mora kesal dengan cara Mona memberitahu Arah.
" Emang lo pikir kita lagi perang?!" protes Mora.
Mora kemudian membalikkan badannya. Padangan langsung bertemu dengan tatapan mata Iqbal yang seolah memang menunggu untuk melihat ke arahnya.
" Yaudah sono!, jangan bikin ribut disini, ntar pelanggan disini pada kabur!! " ingat Mona pada Mora.
Mora meluruskan kembali badannya dan menatap Mona penuh harap.
" Mon... Gue lagi ga mau ketemu. Bisa gak lo usir aja tuh orang? " pinta Mora memelas.
Mora heran dengan permintaan konyol sahabatnya ini, " Gimana cara ngusirnya, ini bukan rumah gue. Walaupun ini kafe Nickolas, tapi tetap aja brengsek itu pelanggan sini. Yaudah sono gih, lo aja yang usir sendiri. hushus!! "
" Ish parah lo jadi temen!! " ketus Mora.
Dengan berat hati dia berdiri dan berjalan menghampiri meja dimana Iqbal sedang menunggunya.
Mona melihatnya dengan tatapan prihatin. jika ini bukan kafe milik Nickolas, pasti Mona sudah menyerang Iqbal tanpa pikir panjang lagi, karena dari awal Mona memang tidak pernah suka dengan Iqbal. ditambah kejadian beberapa bulan yang lalu, Mona sangat bernafsu untuk menggaruk muka laki-laki brengsek itu dengan garpu.
Sampai di meja Iqbal, Mora tidak langsung duduk. Dia hanya berdiri dan tatapannya sama sekali tidak untuk Iqbal. Mora menatap jauh keluar, entah apa yang menjadi fokusnya dibalik dinding kaca kafe tersebut.
" Ngapain disini? " tanya Mora ketus.
Iqbal yang semula tersenyum, kini memasang wajah sedikit kecewa dengan pertanyaan Mora, Iqbal tidak menjawab pertanyaannya," Sayang, duduk dulu, aku pengen ngomong sama kamu" balas Iqbal lembut sambil meminta Mora duduk.
Mendengar panggilan Iqbal padanya, hati Mora langsung memanas. Dia menatap Iqbal tajam dan merapatkan gigi nya.
" Jangan pernah panggil Gue dengan sebutan itu lagi..!! " Desis nya.
Iqbal tidak menyangka Mora akan bersikap seperti itu, yah... walaupun dia tidak mengharap kan Mora tiba-tiba jadi baik dan ramah padanya. Cuma, dia kesini memang bermaksud ingin berbicara dengan Mora, dan berbaikan dengannya. Iqbal berusaha sebaik mungkin memperlakukan gadis yang masih marah ini.
" Iya maaf, aku udah salah sama kamu, makanya aku kesini pengen ketemu langsung. Ada yang ingin aku jelasin sama kamu, makanya duduk dulu. Kita bicara baik-baik." pinta Iqbal sekali lagi.
Mora mungkin sedang marah, tapi entah kenapa setiap berhadapan dengan Iqbal dia tidak pernah mampu meluapkan kemarahannya. Seperti saat sekarang ini saja. Mora malah mengikuti keinginan Iqbal dan duduk disana, Bego emang!!
Mona yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala, dia tau kejadian ini akan terjadi, lagi!. Iqbal akan meminta Mora memaafkannya, dan mereka akan kembali berpacaran. Seperti biasanya, dan Mona sangat membenci itu.
" Mora mana? "
Mona menoleh pada Nickolas adiknya yang datang membawa pesanan mereka.
" Tuh lagi sama si brengsek itu..!! " Jawab Mona ketus sambil menunjuk dengan dagunya. Kebiasaan.
Nicolas melihat sebentar ke arah Mora, tapi Mora yang duduk membelakangi mereka, tentu saja tidak melihatnya. " Oh " katanya.
" Lo juga duduk!, gue pengen ngomong..!! " titah Mona pada adiknya.
Nickolas tau apa yang akan dibicarakan oleh kakaknya. Walaupun enggan, tapi dia tetap menuruti kata-kata Mona dan duduk didepannya.
Masih menarik nafas, tapi belum sempat Mona menyampaikan maksudnya. Nickolas malah mendahului nya.
" Gue gak bakal balik kerumah!. " potong Nickolas langsung.
" Mau sampai kapan sih, Nick??" tanya Mona.
" Gue udah putusin buat mulai hidup gue sendiri, Kak!. Sekarang gue udah punya usaha, jadi gue gak butuh bantuan dari dia lagi " kata Nickolas sedikit datar.
Mona melebarkan matanya, kesal. Tidak percaya dengan kata-kata adiknya sendiri.
" Dia Papa kita !!, Gue ingetin kalo lo lupa " kata Mona sebal.
" Dulu, sekarang udah nggak lagi..!!"
Mona sangat tau karakter adiknya, sekali sudah memutuskan sesuatu Nickolas tidak akan pernah mengubahnya. Mona tau betul dari mana sifat itu Nickolas dapatkan, tentu saja dari Papa mereka. Makanya akan sangat susah sekali membuat dua orang keras kepala yang sedang berseteru ini, menjadi akur kembali.
" Nick, Oke deh lo boleh marah sama Papa, dan gue ga akan ikut campur disana, karna lo dan papa memilih bungkam. Tapi lo jangan bikin Mama sedih dong!. Tiap hari nanyain lo mulu, Inget Mama kita udah gak sesehat dulu !! " Mona mengingatkan.
Mendengar Mona membawa Mama mereka disini, hati Nickolas langsung melembut, rasa bersalah langsung tampak di wajahnya.
" Makanya, lo bantu bilang sama Mama, gue baik-baik aja " pintanya pada Mona kakaknya.
" Lo mesti sering nelfon Mama, biar dia yakin kalo lo baik-baik aja " Nasehat Mona.
Nickolas mengangguk mengerti maksud kakaknya, dia berjanji dalam hati akan lebih sering mengabari Mama mereka.
" Oke, ntar gue telfon deh " Putusnya.
Mendengar janji Nickolas membuat Mona lega. Setidaknya, adiknya ini masih bisa berpikir jernih. " trus Satu lagi, lo tinggal dimana Sih, sebenernya? "
Nickolas langsung gugup begitu pertanyaan ini meluncur dari mulut kakak nya, dia bisa membohongi orang lain, tapi belum pernah sukses membohongi Mona sekalipun. Kakak yang sangat menyayanginya ini, sangat mengenal dirinya.
" Gue tinggal samaaa—" belum sempat Nicolas menyelesaikan, perkatakaannya tiba-tiba dipotong.
" Minggir, gue pengen duduk !! "
Mora sudah berdiri di antara mereka, mengusir Nickolas atau lebih tepatnya secara tidak langsung Mora sedang menyelamatkan Nickolas dari upaya berbohong yang berkemungkinan besar, GAGAL!.
" Eh, Gue lagi ngomong sama adek gue, gangguin aja sih lo, urus dulu noh kancut lo..!! " Mona tidak terima.
" Udah gue usiiiirrrr... tuh udah ngacir!! "kata Mora pada Mona dan berbalik menatap Nickolas lagi. Namun Nickolas malah melihat kepergian Iqbal dari kafenya. Begitupula dengan Mona.
" masih duduk aja lagi. Udah sana lo, buruan, layanin pelanggan. hus hus hus.. !!" usir Mora tidak sabaran.
Nickolas hanya tersenyum pasrah saat Mora mengusir nya, kemudian menatap Mona dengan sedikit menyesal, Nickolas berdiri dan berlalu pergi begitu saja.
Melihat Mora menggantikan posisi duduk Nickolas didepannya, Mona tidak terima. " Eh Vampir udik, kenapa lo jadi ngusir adek gue juga??!! "
Mora tidak perduli dengan protes Mona. " Ngomong apaan sih lo bedua? Ga penting juga kan? " remeh nya.
" Penting dong!!, gue mau nanyaiinn... "
Kata-kata Mona terhenti, kemudian berfikir. Hampir saja tanpa sengaja mengungkap sendiri rahasia nya pada Mora.
Mona tidak pernah mengatakan pada Mora bahwa Nickolas sudah keluar dari Rumah sejak empat bulan yang lalu.
Dia bukannya takut Mora tau Nickolas keluar rumah. Mora pasti tau sekeras apa sifat Nickolas. Tapi masalahnya Mona tidak siap menceritakan pada sahabatnya ini, apa yang membuat Nickolas sampai keluar dari rumah, karna dia juga belum yakin dengan kebenarannya. Apalagi baik Nicko maupun papa mereka memilih tidak membahas masalahnya.
Mora yang melihat omongan Mona yang menggantung, sebenarnya juga sudah tahu ada sesuatu yang dirahasiakan Mona dan Nickolas dari diri nya, dan dia mengerti itu. Mora mengabaikannya.
" Lo mau nanyain cewek nya pasti? " tanya Mora pura-pura keheranan.
" Iya, gue mau tau siapa ceweknya " jawab Mona cepat dan langsung memasang wajah lega, hampir keceplosan Njir..!!
" Ngapain lo nanya-nanya? Nicolas cakep ini, ya banyak pasti ceweknya!! " kata Mora ketus.
" Oh iya, bener juga lo, hahaha.. " tawa Mona beneran hambar, Sumpahh!!
" bego lo..!! "
" Lo yang bego, Anjing!! "
" kok, gue?? Gue B aja!! " jawab Mora cuek.
Mona mendekatkan tubuhnya pada Mora diseberang meja, dan menatapnya dengan tatapan tuduh penuh keyakinan. " Pasti lo balikan sama si Babi kan?!! "
Mendengar tuduhan Mona yang kali ini meleset, Mora tersenyum angkuh.
Mora menggeleng seperti tidak percaya." Ck. Ck. Ck. Maaf kali ini gue harus mengecewakan elo, Jamilah "
Ekspresi apa lagi ini coba? " Maksud lo? " Mona penasaran.
" Gue bilang ke Iqbal, kalo gue udah punya Cowok.!! " tegas Mora.
Mora bersandar dan melipat tangannya didepan dada, alis nya turun naik setidaknya tiga kali sambil terseyum bangga pada Mona.
Mata Mona melebar, kepalanya menggeleng sekali kekanan sekali kekiri berkali-kali dengan cepat. Seperti tidak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan Mora, hampir saja mulutnya yang kecil itu terkoyak karna ternganga. sebelum itu sempat terjadi dia langsung mengerjap.
" Eh, lo beneran punya cowok? Siapa ?!! " tanya Mona dengan tampang bodohnya.
" Bego emang Lo!!! "
Anda Mungkin Juga Suka





