
Wolf Queen Rising: Dikhianati sebagai Istri, Dimahkotai sebagai Ratu
Bab 3
Ketika kepala pelayan tua, Harris Johnson menemukan saya, saya telah terbaring di genangan darah selama tiga jam.
"Luna! Astaga!"
Harris yang telah melayani keluargaku selama lebih dari tiga puluh tahun dan menyaksikanku tumbuh dewasa, berlutut di sampingku dengan panik.
Meski kuat, air mata memenuhi matanya saat ia melihat kondisiku.
"Buru-buru! Hubungi dokter! Langsung!"
Dokter datang dengan cepat dan segera membawa saya ke rumah sakit swasta.
Di dalam ambulans, kesadaran saya berkedip-kedip.
Di tengah rasa sakit dan demam, saya mulai bermimpi.
Dalam mimpi itu, saya dibawa kembali ke hari-hari ketika kami pertama kali menjalin ikatan sebagai pasangan.
Saat itu, Damian bersikap lembut dan penuh perhatian. Dia akan berjalan bersamaku di bawah bulan purnama, berada di samping tempat tidurku sepanjang malam saat aku sakit, dan berbisik, "Kamu adalah seluruh duniaku."
Kenangan indah itu kini mengiris hatiku bagai ribuan bilah pisau kecil.
"Jadi itu semua bohong," isakku dalam mimpi, tenggelam dalam kesedihan.
"Ella, bangun." Suara Damian menarikku kembali ke kenyataan. Dia berdiri di samping tempat tidurku di rumah sakit, wajahnya tanpa kekhawatiran, hanya ketidaksabaran. "Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhi Selena."
"Damian." Suaraku serak saat aku bertanya, "Apakah semua ini pernah nyata?"
"Apa?" Damian menjawab.
"Selama sepuluh tahun ini, apakah pernah ada sedikit pun perasaan tulus terhadapku?" Aku menoleh ke arahnya, mataku yang dulu menyala penuh gairah terhadapnya kini mati dan tak bernyawa. "Atau apakah kau menipuku sejak awal?"
Ekspresi rumit tampak sekilas di wajah Damian, tetapi dengan cepat berubah kembali menjadi ketidakpedulian. "Ella, jangan menyanjung dirimu sendiri. Ikatan pasangan tidak lebih dari sekadar tradisi kelompok. "Aku tidak pernah mencintaimu."
Setiap kata-katanya menusuk bagai peluru perak ke dalam hatiku.
"Bagus." Aku menutup mataku. "Saya mengerti."
Jadi begitulah adanya.
Sepuluh tahun kasih sayang, sepuluh tahun pengabdian, sepuluh tahun cinta tidak berarti apa-apa baginya.
Aku bukan apa-apa baginya.
"Baiklah." Aku tertawa kecil, dibumbui keputusasaan dan rasa lega yang mendalam. "Terima kasih atas kejujuranmu."
Melihat reaksiku, Damian menjadi gelisah.
Serigala di dalam dirinya melolong dalam benaknya, naluri utama yang dipicu oleh penderitaan pasangannya.
Tetapi dia menahannya, yakin itu hanya salah satu tipuanku.
"Ella, aku harap kamu mengerti situasimu." Dia berdiri, suaranya berubah dingin sekali lagi. "Jika Anda menolak bekerja sama, bukan hanya Anda saja yang akan menderita—anak-anak Anda yang belum lahir juga akan menderita. Dan jika kau berani mengganggu Selena lagi, kau akan menerima konsekuensinya."
Dengan ancaman itu, dia berbalik dan berjalan pergi.
Ruangan itu kembali hening, hanya terdengar suara napasku yang berat.
Suara lain kembali menggema dalam pikiranku, "Kau melihatnya? Dia tidak akan pernah mencintaimu. Hanya aku yang bisa memberimu kekuatan untuk menyelamatkan anak-anak anjingmu."
Aku tak menghiraukan suara itu, sambil mengusap lembut perutku yang agak buncit.
Aku teringat apa yang pernah dikatakan mendiang ibuku, "Ella, ingatlah, apa pun yang terjadi, jangan pernah putus asa. "Hiduplah dengan berani untuk orang-orang yang kau cintai, dan untuk orang-orang yang mencintaimu."
Pandanganku semakin mantap.
Aku akan tetap hidup—demi anak-anak anjingku.
Dan untuk diriku sendiri.
Anda Mungkin Juga Suka





