
Wife Of The Antagonist
Bab 3
"Aku tahu Alister adalah seorang kriminal, dan aku memilih tetap mencintainya meski aku tahu itu ilegal."
Itu adalah salah satu kalimat yang dilontarkan Archelia Dominic si antagonis yang sempat viral dan membuat novel "The Cruel Protagonist" naik daun. Selain karena memiliki tokoh utama dengan sifat baddas tanpa menye-menye juga didukung dengan tokoh antagonis dan tokoh pendukung yang manipulatif membuat novel ini pantas dinobatkan sebagai "The Best Dark Fantasy Novel".
Meski memiliki rating tinggi dan menempati urutan pertama best seller, tetap saja untuk hidup di dunia novel mengerikan ini bukan ide yang bagus. Tidak kecuali Archelia memutus hubungannya dengan para tokoh penting, terutama protagonis wanita dan antagonis pria.
Brak!
Suara bantingan pintu membuat Archelia tersentak kaget.
Astaga, ini masih pagi, loh!
Wanita itu sebelumnya berada di balkon, sedang duduk bersantai seraya menikmati secangkir teh hangat dan kue di pagi hari. Niat hati ingin menikmati hidup sebagai konglomerat, rupanya suasana paginya berhasil dirusak hanya dalam beberapa detik.
Suara langkah cepat dari pantofel menggema di kamar Archelia sebelum akhirnya suara itu senyap tepat setelah seorang pria berkemeja putih dan celana hitam bahannya berhenti di samping Archelia. Enggan memandang sosok itu, Archelia segera membuang muka ke arah lain.
Sikap Archelia itu membuat si pria mengeram kesal.
"Berhenti berpura-pura, wanita munafik! Kau pembohong! Apa maksud surat cerai ini? Drama apa lagi yang kaubuat, hah?!"
Berusaha bersikap tenang, Archelia memandang Alister dengan tatapan datar.
"Kau lah pembohongnya! Coba lihat mataku, apakah kau melihat ada rasa cinta yang sama seperti dulu untukmu?! Kau naif. Dulu kau menginjak-injak perasaanku, tapi lihatlah dirimu sekarang, terlalu percaya diri dan terus menjadi pria naif yang tergila-gila pada wanita yang bahkan tak pernah menganggapmu. Bukan aku yang munafik, tapi mungkin dirimu dan entah perasaan bodohmu itu!"
Archelia menegakkan tubuh, mengalihkan pandangannya lagi karena tak cukup tegar berhadapan dengan tatapan elang yang sangat menusuk. Sekali lagi, ia merasa gentar jika mengingat Alister adalah seorang bos mafia dengan seribu wajah.
Ada satu kalimat yang sangat menguras emosi pembaca tentang kisah cinta Alister dan Archelia dalam novel. Di mana dalam novel, Alister pernah marah besar pada Archelia karena tindakan wanita itu.
"Perasaan bodoh itu milikmu, Archelia! Kau sendiri yang harus bertanggungjawab jika perasaanmu diterima atau ditolak. Bukan tanggung jawab wanita yang kucintai! Alice tidak ada hubungannya dengan pernikahan kita! Sampai kapan kau akan mengerti, hah?!"
Mengingat dialog itu, hati Archelia terasa diremas-remas. Entah mengapa, sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan malah ia rasakan. Padahal, ini adalah kisah milik Archelia versi novel.
"Bukankah kau selalu menyuruhku menghapus perasaanku padamu. Lantas, mengapa tidak kau saja yang menghapus perasaanmu pada Alice. Jika kau memberiku sedikit ruang, mungkin aku tetap bertahan. Namun, sikapmu kali ini sudah jauh dari batas kesabaranku. Kau pikir aku tidak bisa muak. Aku juga sangat muak! JADI BERHENTILAH BERSIKAP SEOLAH DUNIA HANYA BERPUTAR DI SEKITARMU!"
Napas Archelia tersenggal-senggal tak karuan. Emosinya membuncah menghadapi si antagonis satu ini. Tidak tahu juga dari mana ia mendapatkan keberanian sebesar ini. Mungkin efek kegeraman sebagai pembaca yang diberikan kesempatan merasakan sendiri sebagai tokoh dalam novel gila ini.
Raut wajah terkejut pun tak bisa disembunyikan Alister setelah mendengarkan ucapan panjang lebar Archelia yang penuh dengan emosi. Sebenarnya, Archelia memang bukan orang yang bisa menahan emosi, tetapi sejauh ini wanita itu selalu bertindak lemah lembut jika di depannya meskipun Alister selalu bersikap kasar.
Hanya saja kali ini Archelia ia seolah hilang kendali atas emosinya. Sekolah wanita itu menunjukkan kepada alister inilah diriku sebenarnya. Ali Ali menuruti ucapan yang dikatakan wanita itu, Alister malah tersenyum miring melihat wajah Archelia yang memerah dengan nafas tersenggal.
"Mulai sekarang, jangan mengurusi hidupku," pungkas Archelia hendak melewati Alister.
Namun, belum sempat ia beranjak, tiba-tiba sebuah cekalan dari tangan kekar membuat langkah Archelia terhenti. Lirikan sini terangkat, beradu pandang dengan mata elang dan senyum menyeringai pria itu.
"Kalau marah-marah seperti ini, kau pasti sedang sangat cemburu. Iya, 'kan? Kau minta jatah, hm?"
Kaki panjang Alister bergerak, mengunci jalan keluar Archelia. Ucapan Alister terdengar menggelikan, membuat Archelia bersikap was-was seraya berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Alister.
"Lepas! Jangan berpikir macam-macam! Aku memang sungguh sudah menyerah dan aku ingin kita bercerai. Aku melakukan ini demi masa depan kita dan kebaikan bersama."
Tubuh Alister malah maju, membuat Archelia spontan melangkah mundur karena jarak di antara mereka yang terlalu dekat. Hingga tanpa sadar, justru Archelia telah jatuh ke dalam perangkap Alister di mana tubuh mungilnya kini malah terkunci di antara kedua tangan kekar Alister dan pagar besi balkon.
"Hentikan!"
Kedua tangan Archelia bergerak panik mencegah pergerakan Alister di dada bidang pria itu. Sialnya, keras dan liatnya dada bidang Alister justru membuat Archelia tertegun dengan kedua mata membulat. Ini adalah kali pertama baginya menyentuh dada seorang pria. Meski masih tertutup oleh kain pakaian, tetapi cetakan itu terasa jelas di tangan Archelia hingga tanpa sadar membuat atensi Archelia terpusat di tangannya dan dada Alister.
Alister, melihat kedua pipi Archelia memerah dan memandang bagian tubuhnya membuat pria itu tersenyum penuh kemenangan.
Dapat kau! Ternyata benar, minta jatah.
Meski Alister tidak mencintai Archelia, tetapi pria itu tidak keberatan memakai tubuh Archelia. Jika diingat lagi, ini bukan kali pertama mereka melakukan hubungan suami istri. Dalam hatinya, Alister tertawa terbahak-bahak.
Pria itu terkekeh, dengan sengaja mengangkat dagu Archelia dengan jari telunjuknya sehingga membuat mereka beradu pandang.
"Jadi, kau marah-marah karena minta jatah sungguhan, hm? Aku masih tidak keberatan jika membantumu."
Wajah Alister mendekat, mendekat ke leher Archelia lalu mendaratkan kecupan lembut.
Merasa hal yang tidak diharapkan, Archelia segera mendorong tubuh Alister dengan kuat. Pria itu terdorong hingga membuatnya mundur beberapa langkah. Wajahnya mendongak, masih dengan senyum menyeringai.
"Apa yang kau lakukan?! A-aku tidak ... bukan itu yang aku inginkan. Aku sudah mengurus surat perceraian kita. Besok mungkin Damian selesai mengurusnya. Jadi, silakan keluar dari kamarku dan mari bertemu di persidangan."
Archelia merentangkan sebelah tangannya, mempersilakan Alister untuk pergi dari ruangannya. Sungguh, Archelia muak dengan Alister. Selain harta, ketampanan, dan kekuasaan, Alister hanyalah pria dengan gangguan mental.
Ya, pria gila yang sangat narsis!
"Kau mengusirku dari rumahku sendiri?" kekeh Alister memutar bola mata tak habis pikir.
"Jadi, kau ingin aku yang pergi?" Archelia balik melempar tanya. Tak perlu menunggu jawaban Alister, Archelia langsung mengangguk. "Baik, aku pergi dari rumah terkutuk ini!"
Begitu Archelia beranjak, sekali lagi Alister menarik keras tangan Archelia hingga membuat tubuh mungil itu tersentak dan ditarik hingga membentur tubuh keras Alister. Archelia tersentak, jelas wanita itu langsung memberontak. Namun, pikiran Archelia semakin kacau ketika tangan kekar Alister melingkar di pinggang rampingnya. Sementara wajah pria itu berhasil menyusup di ceruk lehernya.
Napas hangat Alister terasa begitu jelas membelai lembut tengkuknya, membuat tubuh Archelia menegang. Kedua matanya melotot horor. Diamnya Archelia dimanfaatkan Alister dengan membisikkan sesuatu dengan suara rendahnya yang membuat sekujur tubuh Archelia merinding seketika.
"Tidak ada yang bisa keluar dari kediaman Fernando tanpa seizinku kecuali sekarat atau mati."
Anda Mungkin Juga Suka





