
WEDDING TEARS
Bab 3
Tiga hari berlalu dengan cepatnya. Hari ini adalah hari pernikahan Relia dengan Reyhan. Pria yang baru ia temui pertama kali tiga hari yang lalu dan sama sekali tidak ia cintai.
Jangan kan berbicara tentang cinta, mengenalnya saja Relia tidak. Namun, Relia terlalu takut untuk menolak perjodohan ini. Selain ia harus membalas budi kepada keluarga paman nya, ia juga berharap setelah pernikahan ini kehidupan nya benar-benar berubah menjadi lebih baik.
Di hari yang seharusnya paling membahagiakan bagi seorang pengantin, justru Relia merasa bahwa hari pernikahannya adalah hari paling menyedihkan selama ia hidup di dunia.
Bagaimana tidak? Gadis itu juga ingin menikah dengan seseorang yang ia cintai, selain itu ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya di antar kan ke pelaminan oleh orang tua kandungnya sendiri.
Namun, itu semua hanyalah mimpi bagi Relia. Ia cukup sadar diri dan harus selalu merasa bersyukur karena ada orang yang mau menerima nya dengan tulus.
Ah, tidak. Ia belum tau apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Entah Reyhan akan menerimanya dengan tulus atau hanya sekedar menjadikan dirinya sebagai alat untuk balas dendam.
"Jangan membuat masalah dan tetap jaga perilaku mu," ucap Sarah pada Relia yang baru saja selesai make up.
Relia menganggukkan kepalanya menurut. "Iya, Bibi.." sahutnya.
"Bagus. Setidaknya kau cukup berguna karena bisa membuat paman mu naik jabatan,"
Relia yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas dan tersenyum kecut. Setidaknya ia sudah tau bagaimana sifat bibi nya itu sejak dulu. Jadi, ia tidak pernah terkejut mendengar hal yang seperti ini.
Keluarga Reyhan semuanya ikut hadir dalam acara pernikahan sederhana itu. Jika di lihat memang aneh karena Reyhan adalah seorang CEO terpandang dan terkenal dengan kekayaannya yang tak main-main.
Tapi, Reyhan memang sengaja tidak mengadakan pesta pernikahan karena ia tidak mau acara pesta seperti itu mempengaruhi rencananya untuk membalas dendam.
Terlihat Viona -Mama Reyhan- tersenyum melihat Relia yang baru saja keluar dari kamarnya. Meski pernikahan putranya sangat mendadak, tetapi Viona sudah banyak mengetahui bagaimana sifat dan sikap Relia sebenarnya.
Wanita cantik paruh baya itu tau bahwa Relia adalah gadis yang baik hati dan sopan pada siapapun. Hal ini lah yang membuat dirinya setuju jika Reyhan menikah dengan jarak waktu yang sangat dekat, bahkan tanpa adanya persiapan yang matang.
* * *
Acara berlangsung dengan hikmat. Kini Relia sudah resmi menyandang status sebagai istri sah Reyhan Maheswara. Relia tersenyum dan mencium tangan Reyhan dengan lembut. Begitu juga dengan Reyhan yang mencium kening Relia dengan penuh perhatian.
Hingga beberapa saat kemudian, terjadi keributan di luar rumah Paman Relia. Keributan itu di sebabkan oleh Mark yang datang ke acara pernikahan sederhana Relia.
"Sialan. Biarkan aku masuk!" teriak Mark dari luar yang terdengar hingga dalam rumah.
Mark sedang marah-marah dan di hadang oleh beberapa bodyguard Reyhan karena mencoba untuk menerobos masuk.
Dengan susah payah, Mark berhasil melewati para bodyguard itu dan masuk ke dalam rumah menyaksikan gadis yang paling ia cintai kini resmi menjadi istri orang lain.
"Apa yang kau lakukan, Mark?" tanya Relia tatkala melihat Mark yang terengah-engah menerobos masuk ke dalam rumah.
"Kenapa kau sangat tega padaku? Kenapa kau meninggalkan aku dan menikah dengan orang lain?" tukas Mark tanpa perduli dengan ramainya orang yang memandanginya.
"A-aku ..."
"Batalkan pernikahan ini!" potong Mark cepat.
"Aku tidak rela kau menjadi milik orang lain!" teriaknya lantang dan menggema di seluruh ruangan.
Melihat kekacauan itu, Johan langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Mark.
Plakk!!!
Tamparan keras itu mendarat di pipi Mark. Johan yang sudah tidak tahan melihat perilaku Mark memberanikan diri untuk menampar pemuda tampan itu.
"Jaga sikapmu. Relia sudah resmi menikah. Kau tidak bisa seenaknya mengatur kehidupan nya," geram Johan pada Mark.
"Kenapa? Apa yang salah dengan tindakan ku? Semua orang tau kalau Relia hanya mencintai ku. Dia tidak mungkin mau menikah dengan orang lain semudah ini. Dia pasti melakukan nya karena terpaksa!" sarkas Mark dengan segala luapan emosi nya.
Reyhan hendak berdiri dan menghampiri Mark. Namun ia di tahan oleh sang Mama.
"Jangan berbuat keributan," lirih Viona pada putra bungsu nya itu.
Reyhan mengurungkan niatnya untuk ikut campur dalam masalah Mark dan Johan. Kini justru Relia yang berdiri dan berjalan menghampiri Mark. Hingga seluruh perhatian kini teralih pada Mark dan Relia yang saling bertatapan itu.
"Maafkan aku. Aku menikah bukan karena paksaan siapapun. Ini adalah keputusan ku sendiri, Mark..." ucap Relia sambil tersenyum palsu.
"Apa katamu? Keputusan mu sendiri?" tanya Mark tak percaya. Relia menganggukkan kepalanya. "Iya," sahutnya tegas.
"Kenapa kau setega ini padaku? Apa kau benar-benar tidak mengingat bagaimana aku mempertahankan dirimu?" tukas Mark tak terima.
"Aku menghargai semua kebaikan yang kau lakukan padaku. Tapi, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun. Jadi, ku harap kau juga bisa menghargai keputusan ku," tutur Relia dengan raut wajah penuh keseriusan.
Sebenarnya Relia hanya berpura-pura menjadi tegar. Sementara dalam hatinya terasa hancur berkeping-keping mengingat bahwa dirinya masih sangat mencintai Mark. Tapi, bagaimanapun juga ia tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri. Ia harus tetap pada pendiriannya untuk menjauh dari Mark demi menjaga hubungan antara Mark dengan keluarganya.
"Lebih baik kau pergi dari sini. Aku tidak ingin melihat mu lagi," pinta Relia.
Gadis cantik yang sudah menyandang status sebagai seorang istri itu kembali ke tempat duduknya di samping Reyhan. Sementara Mark diam mematung mendengar pernyataan dari Relia yang begitu mengejutkan bagi dirinya.
Tidak menunggu lama, Johan memerintahkan kepada bodyguard Reyhan untuk menyeret Mark keluar dari rumahnya dan tidak membiarkan pemuda itu membuat keributan lagi.
Setelah Mark pergi, suasana kembali tenang dan Relia semakin terpuruk dalam kesedihannya.
Perlahan tangan lembut Alina terulur memegang tangan Relia dengan penuh perhatian.
"Jangan takut. Mama akan selalu bersamamu," ucap Viona pada menantu nya itu.
Relia tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Tangannya semakin menggenggam erat tangan Viona dan enggan melepaskan nya. Sementara wanita cantik paruh baya itu tersenyum dengan tindakan menantu nya itu.
Selain mengetahui bagaimana sifat dan sikap Relia, Viona sendiri juga sudah tau bahwa Relia sebelumnya sudah memiliki kekasih. Namun, wanita cantik paruh baya itu juga tidak kalah tau bahwa hubungan Relia dengan kekasihnya tidak pernah mendapatkan restu.
Meski wanita cantik paruh baya itu juga tau bahwa pitranya itu menikahi Relia hanya untuk membalas dendam, namun Viona benar-benar menerima Relia sebagai menantu nya. Ia berjanji akan menyayangi Relia seperti ia menyayangi menantu pertama nya.
"Hari ini kau akan pulang ke rumah Reyhan. Mama tidak akan meninggalkan mu. Selama satu minggu kedepan-nya, Mama masih akan terus menemani mu. Apa kau mengerti?" tanya Viona pada Relia.
Lagi-lagi Relia menganggukkan kepalanya sopan. "I-iya... M-mama..." jawabnyaa dengan gugup dan malu-malu.
Walaupun ia masih canggung memanggil orang lain dengan sebutan Mama, namun ia sangat bahagia karena akhirnya ia mendapatkan seorang mertua yang benar-benar mau menghargai dirinya.
"Ku mohon... Berikan aku kebahagiaan setelah pernikahan ini..." ucap Relia dalam hatinya penuh harap.
* * *
Anda Mungkin Juga Suka





