Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Wedding Chaos

Wedding Chaos

Alan dan Salsabila terjebak dalam pernikahan terburu-buru yang sejak awal terasa hambar. Tanpa visi yang jelas, hubungan mereka hanya didasari oleh rasa balas budi dan berakhirnya masa kebebasan sebagai anak. Meski tinggal satu atap, keduanya hidup tanpa ikatan emosional yang kuat. Kini mereka berada di persimpangan jalan yang sulit. Haruskah komitmen ini diperjuangkan, atau dibiarkan hancur perlahan karena ketiadaan cinta di antara mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah berhasil mem-blow rambut panjangnya yang sudah melewat bahu tanpa telat ke kantor, Salsabila keluar dari kamarnya. Make-up sudah rapi, walaupun ketika dia sudah sampai di kantor ia akan kembali memeriksanya. Blus sewarna avocado dan rok A-line hitam menjadi pilihannya hari ini untuk semakin menyempurnakan penampilannya.

Satu tangannya menjinjing tas, sementara tangan yang lain menenteng sepatu. Ia melirik ke arah pintu di sebelah kamarnya yang juga baru saja terbuka, menampakkan sesosok pria yang melangkah keluar dari sana, sudah rapi dengan kemeja putih serta jas dan tas kerja yang dijinjing di tangan kanan, lengkap dengan sepatunya yang hitam mengilat.

Alan, pria itu memang punya jadwal kegiatan pagi yang lebih teratur dibandingkan dengan Salsabila.

Keduanya sempat bertukar tatap sebelum Alan yang lebih dahulu mengalihkan pandangan lalu menuruni anak tangga, berlalu begitu saja, meninggalkan Salsabila yang kini tengah duduk di sofa ruang televisi sembari mengenakan sepatunya.

“Selamat pagi, Pak. Bapak mau sarapan apa pagi ini?”

Sayup-sayup Salsabila bisa mendengar suara keibuan yang berasal dari Bude Yun, pembantu rumah tangganya sedang menyapa Alan.

“Iya, selamat pagi,” balas Alan ramah. “Yang ada saja, Bude Yun,” lanjut Alan kembali.

“Pagi ini Bude membuat nasi goreng, Bapak mau?”

Suara Bude Yun kembali terdengar, dan sepertinya Alan sedang melakukan sarapan bisa didengar dari Bude Yun yang sedang sibuk mempersiapkan sesuatu untuk bisa Alan nikmati.

Merasa telah selesai dengan kegiatan mengenakan sepatunya, Salsabila menyusul kemudian mendatangi ruang makan. Di sana Alan tengah sibuk menikmati nasi goreng buatan dari Bude Yun.

“Selamat pagi,” sapa Salsabila berusaha seceria mungkin.

“Pagi, Ibu,” balas Bude Yun. “Mau sekalian ikut sarapan, Ibu?”

Salsabila mengangguk. Sekilas tatapannya terarah kepada Alan yang sama sekali tidak memedulikan keberadaannya, bahkan membalas sapaan selamat paginya pun tidak dipedulikan oleh pria itu. Ya, hubungan pernikahan mereka memang sedingin ini.

Tidak mau ambil pusing, Salsabila mengambil tempat tepat di samping Alan. Tatapannya sesekali terarah ke arah Alan yang kini sudah selesai dengan sarapannya dan telah beralih menatap serius layar i-Pad di tangan, dengan rambut belah samping yang rapi. Rahang tegasnya sesekali bergerak, dengan alis tebal yang agak mengerut, ia mendekatkan layar i-Pad-nya saat menemukan—mungkin—sesuatu yang serius menyangkut pekerjaannya.

Tidak lama kemudian pria itu menyimpan i-Pad-nya ke dalam tas kerja, lalu bangkit dari kursi, meminum segelas air putih yang disediakan oleh Bude Yun untuknya. Berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun.

Alan pergi.

Tanpa pamit pada Salsabila? Tentu saja. Seperti biasa.

Memangnya, sikap apa yang diharapkan dari sepasang suami istri yang sejak awal pernikahan sudah pisah kamar? Mencium kening di pagi hari sebelum pamit berangkat ke kantor? Menggelikan sekali. Mungkin itu hanya akan terjadi di alam mimpi saja, sangat mustahil terjadi di alam nyata.

Setelah Alan berlalu pergi, Salsabila menyusul kemudian. Bersiap untuk berangkat bekerja. Ya, seperti inilah rutinitas keseharian dari Salsabila dan Alan. Pernikahan hanyalah label, karena yang sebenarnya terjadi, dia sama-sama memiliki kesibukan, pagi bekerja dan malamnya mereka pulang untuk beristirahat. Tidak ada yang namanya perbincangan antar suami istri atau apa pun itu. Karena mereka tidak punya waktu untuk hal semenggelikan itu.

****

Salsabila tidak akan menyangka akan mendapat ucapan sebanyak ini. Rangkaian bunga berjejer mendekati pintu masuk. Di lobby kantor pun masih banyak yang berjejer, bunga-bunga dengan pot atau handbouquet juga menghiasi ruang kerjanya. Bau harum berbagai bunga masuk ke hidung membuat Salsabila sedikit pengar.

SELAMAT ULANG TAHUN PERNIKAHAN YANG KETIGA BAPAK ALAN PUTRA DIRGANTARA & IBU AYLA SALSABILA DIRGANTARA

HAPPY ANNYVERSARY 3th BAPAK ALAN & IBU SALSABILA

Itu hanya sebagian yang sempat Salsabila baca, karena semua tulisan papan rangkaian bunga maupun kartu ucapan itu isinya nyaris sama, sebuah ucapan selamat ulang tahun pernikahan antara dirinya dan Alan.

Tiga tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Siapa sangka Salsabila mampu bertahan dalam gelanggang pernikahan ini. Bahkan, Salsabila pun seakan tidak mempercayai dirinya sendiri bisa bertahan selama itu.

Menikah dengan salah seorang keturunan Dirgantara memang sulit untuk tidak mendapat atensi semacam ini. Seluruh rekanan dan media tahu kapan ulang tahun pernikahan antara seorang Alan dan Salsabila, dan mereka juga mengingat tanggal-tanggal lainnya. Alih-alih merasa terganggu, Salsabila sudah membiasakan diri menerima perhatian itu. Berat? Tentu saja. Rasa tidak pantas ia mendapat perhatian seperti itu dan sedikit ada perasaan bersalah. Alan bahkan tidak mengingatnya sama sekali, tetapi kenapa orang lain harus lebih mengetahui tanggal penting itu. Terbukti dengan kejadian tadi pagi, pria itu sama sekali tidak mengungkit itu menandakan kalau pria itu memang tidak mengingat kalau umur pernikahan mereka sudah bertambah lagi.

“Bu, selamat, ya,” ujar seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan.

Salsabila yang sedang menilik bunga-bunga di atas nakas samping ruangan berbalik dan tersenyum kepada asisten pribadinya itu.

“Terima kasih. Hari ini kita meeting jam berapa?”

Lebih mudah menanyakan jadwal pekerjaan yang mengantri ketimbang menjawab ucapan selamat itu. Salsabila berjalan ke balik meja kerjanya dan mulai menyalakan laptop. Nina, sekretaris pribadinya itu mulai menyebutkan beberapa meeting yang perlu Salsabila hadiri selaku direktur di perusahaan industri sepatu ini. Salsabila menduduki posisi itu semenjak dua tahun lalu setelah satu tahun sebelumnya menjadi manajer divisi busdev.

Di awal pernikahan, Salsabila masih bisa bekerja menjadi staff biasa di perusahaan ini. Namun, semenjak menikahi seorang Alan Putra Dirgantara, menjadi orang biasa saja adalah pantangan. Bunda Rena sejak saat itu meminta Salsabila untuk menduduki posisi sebagai manajer divisi busdev. Lalu lambat laung, naik pangkat menjadi seorang direktur. Mungkin mereka merasa malu karena anak pemilik kerajaan bisnis memiliki seorang istri yang hanya bekerja menjadi bawahan. Dan dengan berat hati, Salsabila menurut saja.

Meeting berjalan dengan baik. Laporan neraca keuangan perusahaan ini sehat dan kami sedang mempersiapkan linebrand baru. Semenjak duduk di posisi direktur, Salsabila sudah pernah mengalami dua kali kegagalan rencana. Untung saja kerugiannya masih bisa ditutupi dengan pendapatan lainnya. Kali ini linebrand baru yang sedang ia rencanakan tidak boleh gagal. Meskipun Salsabila tahu, gagal pun tidak ada yang berani menegurnya. Tetapi bukankah ada kata, harus tahu diri? Itu yang selama ini Salsabila ingat, sehingga ia tidak mau banyak bertingkah.

“Ibu tidak mau bookingdinner romantis sama bapak?” tanya Nina saat keduanya sudah kembali ke ruangan.

“Tidak usah, Ni. Saya mau di rumah saja. Lagi pula mas Alan juga lebih suka di rumah.”

Perayaan anniversary seperti bayangan Nina atau khayalak umum, tidaklah pernah terjadi di pernikahan mereka. Hari jadi itu sama seperti hari-hari biasa lainnya. Pergi ke kantor, pulang ke rumah dan tenggelam dalam dunia masing-masing. Apa yang mereka pikirkan soal Alan dan Salsabila? Lovey-dovey? Ck. Jauh! Kalau ditanya sejak kapan hal itu berlangsung. Jawabannya adalah semenjak hari pertama keduanya sah sebagai suami istri. Sejak hari pertama mereka disahkan oleh agama dan negara sebagai suami istri, semenjak itu pulalah Alan membentangkan jarak di antara dirinya dan Salsabila.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 10 Miliar Menjadi Pelakor
8.3
Demi membiayai operasi ginjal ayahnya, Calla nekat masuk ke klub malam hingga bertemu Lucian Donovan. Lucian menawarkan 10 miliar rupiah jika Calla mampu menghancurkan rumah tangga Caspian Hawthorne. Calla terkejut karena Caspian adalah pria culun yang dulu ia abaikan saat SMP. Kini, Caspian telah berubah menjadi sosok miliarder yang dingin dan berkuasa. Terjepit kemiskinan, Calla harus memilih antara martabat atau menjadi pelakor demi bertahan hidup.
Sampul Novel ANAKKU TIDAK SEPERTI ANAKKU
9.1
Hati seorang ibu hancur saat menyaksikan perubahan drastis putra sulungnya pasca menikah. Sosok yang dulu ia kandung dan besarkan dengan penuh perjuangan kini seolah menjadi orang asing. Sang putra kini mencurahkan seluruh perhatian serta kasih sayangnya hanya untuk sang istri, hingga mengabaikan ibunya sendiri. Konflik batin pun memuncak ketika sang ibu merasa kasih tulusnya selama ini terhapus oleh kehadiran wanita baru di hidup anaknya.
Sampul Novel Cinta yang Hilang
7.9
Seorang orang tua tunggal yang masih menyimpan luka masa lalu secara tak terduga menemukan cinta baru melalui sebuah pertemuan singkat. Namun, saat kebahagiaan mulai menyapa, segalanya hancur seketika akibat kekhilafan yang ia lakukan sendiri. Kasih sayang yang sempat mekar kini sirna, meninggalkannya dalam kepedihan mendalam dan bayang-bayang kenangan yang sulit ia lupakan. Ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cintanya telah pergi menjauh.
Sampul Novel GAIRAH LIAR ISTRI BOSKU
9.7
Theresa menjalin hubungan gelap dengan pengawal pribadinya, Aaron Parker, demi membalas pengkhianatan suaminya, Charles Bosley. Namun, pesona Theresa juga memikat Sean Dalbert, politikus Italia yang ambisius. Setelah Charles tersingkir, persaingan sengit pecah antara Aaron dari Organisasi EXO dan Sean yang mengincar kursi walikota New York. Di tengah intrik politik dan perebutan kekuasaan, Theresa terjebak dalam pilihan sulit antara sang bodyguard atau sang politikus.
Sampul Novel ISTRI YANG KUCAMPAKAN TERNYATA WANITA SUKSES
9.6
Dira harus menelan kenyataan pahit saat mendapati suaminya berselingkuh. Namun, pengkhianatan itu terasa jauh lebih menyakitkan karena sang suami menjalin hubungan gelap dengan adik kandungnya sendiri. Di tengah hancurnya kepercayaan dan mahligai rumah tangga, mampukah Dira bangkit untuk bertahan? Simaklah perjuangan Dira dalam menghadapi babak baru kehidupannya yang penuh tantangan demi meraih kesuksesan setelah dicampakkan begitu saja.