
Warisan Sang Monster
Bab 2
Dinginnya surat tuntutan hak asuh itu menjalar dari kertas tipisnya hingga menusuk tepat ke tulang Elara.
Dia duduk di meja dapur yang reyot, membiarkan Lily tidur di kamar sebelah. Cahaya pagi yang masuk dari jendela kecil tidak mampu menghangatkan ruangan, apalagi hatinya. Surat itu adalah pukulan telak yang membuat lututnya lemas. Mereka-Keluarga Hartono yang kaya raya dan kejam-tidak hanya ingin mengambil Lily; mereka ingin merobek alasan satu-satunya Elara untuk bernapas.
"Tidak mampu memberikan perawatan medis yang stabil dan lingkungan yang memadai."
Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya, seperti mantra jahat yang membenarkan kekejaman mereka. Dan yang paling menyakitkan, mereka benar. Elara tidak mampu. Tagihan rumah sakit untuk Lily, yang dia buka di ponselnya, sudah menjadi angka astronomi yang mustahil dijangkau oleh upah pelayan restoran. Angka itu menertawakan perjuangannya. Operasi itu harus dilakukan. Jika tidak, waktu Lily akan habis.
"Aku harus berbuat sesuatu," bisik Elara, suaranya parau.
Dia mencoba berpikir. Menjual apa lagi? Perabotan? Hanya ada kasur usang dan beberapa perabot bekas. Ginjal? Bahkan dia tidak yakin siapa yang mau membeli ginjal pelayan restoran yang kurang gizi.
Dia memaksakan diri untuk mandi, membersihkan sisa aroma minyak goreng yang menempel di rambutnya. Dia harus bersiap untuk kerja shift malam. Mungkin dia bisa meminta jam kerja tambahan lagi. Mungkin dia bisa meminta pinjaman dari rekan kerja, meskipun dia tahu jawabannya pasti tidak.
Saat dia menyisir rambutnya yang basah, ponsel reotnya berdering. Nomor tak dikenal. Biasanya dia abaikan, tapi hari ini, dia merasa perlu menjawab. Siapa tahu itu telepon dari rumah sakit atau dari pengacara murahan yang dia temukan di internet.
"Halo?" Suaranya serak.
Suara di seberang sana sangat dingin, datar, dan berwibawa-suara yang terdengar seperti seseorang yang jarang harus mengulang perkataannya.
"Saya mencari Nona Elara Senja. Saya asisten Tuan Volkov."
Jantung Elara mencelos. Tuan Volkov? Siapa? Apakah dia berurusan dengan kolektor utang baru?
"Saya Elara. Tuan Volkov... siapa? Saya tidak kenal."
"Dia mengenalmu," kata suara itu, tanpa emosi. "Dia tahu semua tentang putrimu, Lily. Dia tahu tentang tuntutan hak asuh dari Keluarga Hartono. Dia tahu persis berapa yang kau butuhkan untuk operasi."
Dunia Elara berhenti berputar. Udara terasa keluar dari paru-parunya. Bagaimana? Bagaimana orang asing yang bahkan tidak dia kenal bisa mengetahui detail paling intim dan menakutkan dari kehidupannya? Apakah ini jebakan?
"Kau... kau siapa? Kau mau apa?" desak Elara, mencoba terdengar kuat, meskipun lututnya sudah gemetar.
"Dia ingin menemuimu. Sekarang. Sepuluh menit. Di Montage Lounge di Fifth Avenue. Lantai teratas. Jangan sampai terlambat. Jika kau ingin menyelamatkan putrimu, kau harus datang. Dan Nona Senja, jangan pernah berpikir untuk menolak panggilan ini. Pria yang menunggumu adalah satu-satunya kesempatanmu."
Panggilan itu terputus. Elara menatap ponselnya, tangannya gemetar hebat. Montage Lounge? Itu adalah tempat yang hanya muncul di film atau majalah mewah. Tempat di mana satu koktail harganya setara dengan upah kerjanya selama dua hari.
Alexander Volkov. Nama itu berputar di kepalanya. Dia merasa mual. Itu terasa seperti sihir hitam, seperti jebakan dari iblis yang menawarkan bantuan dengan janji kepemilikan abadi.
Tapi suara dingin di telepon itu benar: dia adalah satu-satunya kesempatanmu.
Malam itu, dia membagikan rotinya kepada Alex si gelandangan. Sekarang, iblis yang berkuasa di kota ini memanggilnya karena kebaikan itu, atau mungkin, karena kelemahannya.
Demi Lily. Dia akan datang.
Elara tiba di Fifth Avenue dengan bus, mengenakan pakaian kerjanya yang masih sedikit berbau kopi. Ia merasa seperti debu kotor yang terseret ke dalam museum yang berkilauan. Pintu lobi yang terbuat dari kaca setinggi langit-langit terasa begitu mengintimidasi hingga ia harus menarik napas tiga kali hanya untuk mendorongnya.
Lobi itu sunyi, dihiasi marmer putih dan seni kontemporer yang harganya mungkin bisa membeli seluruh tempat dia bekerja.
"Saya mencari Tuan Volkov," katanya kepada resepsionis yang dingin dan sempurna, seorang wanita yang mengenakan setelan jas yang harganya mungkin bisa membeli apartemennya.
Resepsionis itu hanya melirik sekilas, dan Elara merasa seluruh kotoran di pakaiannya tampak terlihat jelas. "Ikuti saya."
Dia diantar ke lift pribadi yang sunyi, di mana musik klasik diputar pelan. Lift itu bergerak begitu cepat hingga perutnya terasa berputar.
Lantai teratas. Sebuah ruangan yang didominasi oleh kaca, mirip dengan tempat Alexander berdiri di Bab 1, tetapi ini tampak lebih personal. Tidak ada meja konferensi, hanya sofa kulit mewah dan pemandangan kota yang menakjubkan.
Ruangan itu kosong, tapi ada secangkir teh panas yang diletakkan di meja, seolah-olah dia sudah ditunggu sejak lama.
Elara duduk di sofa, merasa seperti penipu. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya dengan keras. Apa yang harus dia katakan? Menjual dirinya? Menjual putrinya?
Tepat pukul 10:00, pintu kayu gelap di belakangnya terbuka.
Alexander Volkov melangkah masuk.
Elara menahan napas.
Ini bukan Alex.
Alex yang dia kenal adalah pria kotor, kelelahan, dan tersembunyi. Pria yang masuk sekarang adalah penguasa mutlak.
Jasnya berwarna abu-abu gelap, dipotong sempurna, membuat bahunya terlihat lebar dan pinggangnya ramping. Rambutnya disisir rapi, dan aroma cologne mahal menguasai ruangan, menenggelamkan bau kopi yang masih tersisa di pakaian Elara. Dia tampak seperti patung yang diukir dari es dan kesempurnaan.
Dan matanya... mata yang sama yang menatap burung gereja di taman, kini menatapnya dengan intensitas yang lebih dingin, lebih tajam, seperti pemangsa yang mengunci mangsanya.
"Elara Senja," katanya, suaranya dalam dan berwibawa. Dia tidak tersenyum.
Elara berdiri dengan cepat. "Anda... Anda Tuan Volkov?"
Alexander berjalan mendekat, gerakannya anggun dan lambat. "Duduklah. Jangan takut. Tehmu akan dingin."
"Bagaimana... bagaimana Anda tahu nama saya? Dan... dan tentang Lily?" Elara langsung ke intinya, mengabaikan teh mahal itu.
Alexander duduk di kursi di hadapannya, menyilangkan kaki. Dia tampak seperti dewa di singgasananya.
"Dunia ini kecil, Elara," katanya, menyandarkan punggung ke kursi. "Terutama jika kau punya sumber daya tak terbatas. Nama Hartono itu kecil. Masalah pengadilan hak asuhmu hanyalah masalah jam bagi orang-orangku."
Dia mengambil sebuah tablet di meja dan menggeser layar. "Lily Senja, tujuh tahun. Penyakit jantung bawaan. Prognosis: membutuhkan operasi mitral valve replacement dalam waktu delapan minggu. Biaya total, termasuk perawatan pasca-operasi, sekitar 1,3 juta dolar. Tepat?"
Elara merasakan air mata menggenang. Alexander tidak sedang berspekulasi. Dia tahu setiap detail menyakitkan dalam hidupnya. Dia telah telanjang di depan pria ini.
"Ya," bisik Elara, suaranya nyaris hilang. "Ya, itu benar."
"Dan Keluarga Hartono," lanjut Alexander, tatapannya menusuk. "Mereka hanya ingin menggunakan ini untuk membuatmu terlihat tidak mampu, mengambil putrimu, dan menyelamatkan nama baik mereka di mata kolega mereka. Mereka tidak mencintainya. Mereka hanya mencintai kekuasaan."
"Tolong," Elara memohon, dadanya sesak. "Apa pun yang Anda inginkan, saya akan melakukannya. Saya akan bekerja untuk Anda. Saya akan mencuci piring di restoran Anda selama sepuluh tahun, saya akan membersihkan toilet, apa pun. Tapi jangan ambil Lily dariku."
Alexander tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. Senyum predator yang baru saja mendengar pengakuan total dari mangsanya.
"Aku tidak butuh pelayan, Elara. Aku butuh sesuatu yang lebih... menarik."
Dia meletakkan tabletnya.
"Aku akan memberimu 1,5 juta dolar tunai. Sekarang juga. Uang itu akan membayar semua biaya operasi Lily, biaya perawatan pasca-operasi, dan biaya pengacara terbaik untuk menghancurkan Hartono. Hartono akan hilang dari hidupmu selamanya. Lily akan selamat, dan hak asuh akan aman di tanganmu. Aku akan memberimu kehidupan baru."
Harapan itu begitu besar, begitu cerah, hingga hampir menyilaukan Elara. Nafasnya tercekat.
"Syaratnya," kata Alexander, suaranya berubah rendah dan berbahaya, "kau tidak akan pernah bisa melunasi uang itu."
Elara mengerutkan kening. "Saya tidak mengerti."
Alexander mencondongkan tubuh sedikit, menatap Elara seolah-olah dia adalah teka-teki yang harus dipecahkan.
"Syaratnya adalah kau menjadi milikku, Elara. Kekasih bayaranku. Selama aku menginginkannya. Mulai malam ini."
Elara terpaku. Syok itu begitu besar hingga ia merasa telinganya berdenging. Kekasih bayaran?
"Tidak," Elara menggeleng, air mata mulai mengalir. "Tidak, saya tidak bisa. Saya bukan... saya tidak menjual diri saya."
"Kau sudah menjual dirimu, Elara," potong Alexander dingin. "Kau menjual sepuluh jam sehari di restoran kotor itu, menerima hinaan, dan kaki sakit hanya untuk seratus dolar sehari. Apa bedanya? Bedanya, denganku, putrimu hidup. Denganku, kau tidak lagi menjadi aib di depan Lily."
"Ini kotor! Ini menjijikkan!" teriak Elara, berdiri. Kebenciannya meluap, membanjiri rasa takutnya. "Anda pria yang keji! Anda mengambil kesempatan dari keputusasaan saya!"
Alexander tetap tenang. Dia adalah batu.
"Aku pria yang menyelamatkan putrimu. Pria keji adalah Hartono. Pria yang membiarkanmu kedinginan adalah Alex si gelandangan. Aku adalah Volkov. Aku adalah kenyataan. Dan kau, Elara, kau tidak punya pilihan."
Dia mengeluarkan selembar kertas tebal yang dilipat dua dari saku dalam jasnya. Ini bukan kontrak hukum, melainkan lembar diagnosis medis Lily yang paling mengerikan.
"Lily punya waktu delapan minggu. Aku bisa membayar besok. Hartono bergerak hari ini. Sementara kau berteriak padaku, setiap detik berlalu, mengurangi kesempatan Lily."
Pernyataan Alexander menghantam Elara seperti palu godam. Dia ambruk kembali ke sofa.
Dia mencoba mencari jalan keluar lain. "Saya akan mencari pekerjaan lain! Saya akan meminjam!"
"Dari siapa? Aku adalah Volkov. Aku punya kendali atas setiap pinjaman besar di kota ini. Setiap bank akan menolakmu. Setiap perusahaan besar akan menolakmu. Bahkan jika kau menemukan seribu dolar hari ini, itu hanya menunda kepastian bahwa Lily akan mati di tanganmu yang tidak berdaya."
Alexander berdiri. Sekarang dia tampak menjulang tinggi, menutupi Elara dengan bayangannya.
"Aku memberimu segalanya. Uang, perlindungan, kehancuran musuh-musuhmu. Sebagai imbalannya, aku hanya meminta waktu dan kepatuhanmu. Aku ingin tahu bagaimana rasanya memiliki sesuatu yang murni sepertimu. Sesuatu yang tidak bisa kubeli dengan uang-sampai sekarang."
Dia berjalan menuju jendela, memberikan waktu bagi Elara untuk memikirkannya. Elara menatap pemandangan kota di bawah, tetapi dia tidak melihat gedung-gedung. Dia melihat wajah Lily yang tersenyum. Dia melihat mata Lily yang memohon.
Dia ingat roti basi yang dia berikan kepada Alex si gelandangan. Pria itu kini berdiri di depannya, mengenakan topeng raja yang kejam. Dia tidak tahu bahwa kebaikan kecil Elara di taman telah memberinya target baru. Alexander tidak hanya membeli Elara. Dia membeli jawaban atas kebosanannya.
Elara memejamkan mata. Rasa pengkhianatan itu pahit, tapi rasa takut kehilangan Lily lebih pahit lagi.
"Satu malam panas dan menjadi kekasih bayaran," ulang Elara, suaranya bergetar. "Sampai kapan?"
Alexander berbalik. "Sampai aku bosan. Itu bisa enam bulan, bisa dua tahun. Tapi selama itu, kau tidak boleh menentangku, Elara. Kau tidak boleh jatuh cinta padaku. Kau tidak boleh meminta lebih. Kau adalah transaksiku. Aku memiliki waktumu, tubuhmu, dan kepatuhanmu."
"Dan Lily?"
"Lily akan memiliki perawatan medis terbaik, perlindungan penuh, dan masa depan yang terjamin. Aku akan menempatkan uang itu di akun perwalian yang hanya bisa kau akses untuknya. Aku akan menjadi bentengmu, tetapi kau harus menjadi pelayanku."
Elara menarik napas panjang, paru-parunya serasa terbakar. Dia menatap kemewahan di ruangan itu, lalu memikirkan kelemahan Lily.
Ini bukan pilihan. Ini adalah pengorbanan.
"Saya terima," kata Elara. Kata-kata itu keluar seperti desahan terakhir. "Saya terima. Tapi jangan pernah, jangan pernah membuat Lily tahu tentang ini."
Senyum kemenangan Alexander akhirnya muncul, dan itu jauh lebih berbahaya daripada tatapan dinginnya.
"Selamat datang, Elara. Keputusan yang cerdas."
Dia menjentikkan jarinya. Viktor, yang ternyata sudah menunggu di luar, masuk.
"Viktor," perintah Alexander. "Siapkan uang 1,5 juta dolar tunai dalam lima belas menit. Hubungi pengacara terbaik untuk masalah hak asuh. Tuntut Hartono hingga habis. Pastikan Elara dan putrinya dipindahkan ke apartemen baruku sore ini. Atur semuanya."
"Baik, Tuan Volkov."
Alexander kembali menatap Elara, matanya berkilauan. "Sekarang, kau adalah milikku. Kau bukan lagi pelayan restoran. Kau tidak perlu bekerja lagi. Kau hanya perlu menungguku. Kita akan memulai 'transaksi' kita malam ini. Aku akan memberitahumu semua aturannya di apartemen barumu."
Elara hanya bisa mengangguk, terlalu lemas untuk berbicara. Dia melihat Viktor menyerahkan tas kerja tebal yang berisi uang tunai kepada Elara, yang dengan enggan diterima Elara. Beratnya uang itu terasa seperti beban yang menghancurkan jiwanya.
Alexander berjalan mendekat dan mengangkat dagu Elara dengan satu jari, memaksa wanita itu untuk menatap matanya.
"Aku tidak membeli kebaikanmu, Elara," bisik Alexander. "Aku membeli keputusasaanmu. Dan aku akan memanfaatkannya dengan baik."
Elara hanya menutup mata, bersiap untuk kegelapan yang akan menelannya. Lily akan hidup. Itu saja yang penting. Harga dirinya, martabatnya, kini hanyalah barang bekas yang ditukarkan dengan nyawa putrinya.
Anda Mungkin Juga Suka





