Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel War In Life

War In Life

Kehidupan sempurna sebuah keluarga konglomerat hancur seketika setelah kecelakaan tragis merenggut nyawa Airin. Ghea, sang putri, tidak tinggal diam dan bertekad menguak fakta di balik insiden maut tersebut. Dalam pencariannya, ia dibantu oleh pria misterius yang ia temui di sebuah kamar hotel mewah. Akankah kolaborasi ini berhasil membongkar kebenaran yang terkubur? Ikuti perjalanan mereka saat benih kedekatan mulai muncul di tengah misteri.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Tuan ini jadwal yang Tuan minta," sekretaris Chandra menyodorkan iPad berwarna hitam pada Ayah Ghea, Willy Bagaskara.

"Jadi besok ada rapat dan kunjungan juga ke panti asuhan Arunika?" Willy menscroll shcedule yang telah tersusun rapi dalam iPad.

"Iya Tuan," ujar sekretaris Chandra.

Shcedule padat bagi seorang pengusaha adalah hal yang wajar. Kehidupan mereka tergantung kerja keras yang dilakukan. Meski separuh jiwa hilang pergi untuk selamanya. Tetap, pertahanan mengenai perusahaan tidak boleh kendor. Karena banyak nasib yang bergantung di sana.

Tok tok tok

Segenggam tangan mengetuk pintu.

"Siapa?"

"Bibi Yu Tuan " sahut Bibi Yunita dari luar ruangan kerja Willy.

"Masuk," titahnya.

Bibi Yunita masuk ke ruangan kerja Ayah Ghea setelah diperkenankan, dia melangkah maju ke depan menghampiri majikannya yang sedang berada di meja kerja.

"Ada apa?"

"Semuanya sudah siap, pengajian sebentar lagi tinggal dimulai."

"Baiklah saya akan ke sana."

"Kalau begitu saya permisi Tuan," bibi Yunita hendak berbalik badan dan kembali ke ruang tamu untuk persiapan pengajian.

"Sebentar Bi," Ayah Ghea spontan berdiri dari kursinya.

"Iya ada apa Tuan?"

"Ghea di mana?"

"Nona masih di kamarnya, dia tidak ingin diganggu dan melarang siapapun masuk."

"Ghea perlu waktu untuk semua ini," gumam Willy, raut wajah sedih terlihat jelas diwajahnya.

"Ya sudah silakan keluar," responnya lain.

"Baik Tuan."

Pemilik BK Holdings itu berniat turun ke lantai bawah untuk menggelar pengajian dan doa bersama untuk mendiang almarhumah istrinya, Airin. Dia telah mengenakan busana muslim terbaik berwarna putih dengan sedikit corak abu-abu di bagian atas baju.

Doa. Hanya itu yang kini dibutuhkan untuk Bunda Airin. Harta melimpah ruah, kedudukan yang tinggi, keluarga bahagia, kini itu semua tak dibutuhkan lagi. Hanya panjatan doa yang meminta ampun untuk keselamatan dirinya, itulah yang menjadi prioritas utama Bunda Airin.

"Rubahlah jadwal saya sesuai yang tadi di instruksikan sesegera mungkin," Willy tampak menyisir rambutnya sambil berkaca dicermin besar di ruangan itu.

"Baik Tuan," sahut Sekretaris Chandra yang berdiri di belakangnya.

"Turun lebih dahulu ke bawah, saya akan menyusul nanti."

"Siap Tuan."

***

Tok tok tok

Segenggam tangan mengetuk pintu kamar Ghea.

"Aku bilang jangan menggangguku, enyahlah!" teriak Ghea dari dalam kamar.

Mendengar itu Willy langsung membuka pintu kamar lalu masuk, bukannya malah pergi.

"Ayah harap Ayah adalah pengecualian dari mereka yang dilarang masuk."

Ghea hanya diam tak merespon perkataan Ayahnya. Sekujur tubuh gadis itu ditutupi dengan selimut, hingga tak nampak secercah bagian pun yang terlihat. Melihat anaknya yang bersikap demikian, Willy menghampiri. Pria paruh baya itu langsung duduk di kasur tepat di samping si bungsu.

"Ini bukannya jepit rambut yang dibelikan Bunda dari Singapura?" Willy mengambil sebuah jepit rambut panjang dari meja kecil samping kasur. Jepit rambut itu tampak indah dengan hiasan permata di dalamnya.

Ghea masih saja diam tak berbicara. Meski sang Ayah sudah tepat berada di sampingnya, dia tak bereaksi.

"Baik Bunda maupun Ayah tak menyukai sikap anak yang sengaja mengabaikan orang tuanya."

Pertahanannya masih kokoh, tetap tak bereaksi. Tubuh gadis itu masih ditutupi selimut tebal berwarna ungu muda, warna favoritnya. Dia hanya membuka bagian atas selimutnya sedikit sehingga oksigen bisa tetap masuk. Bagaimanapun Ghea masih ingin hidup.

"Kalau Ayah ikut Bunda kira-kira Ghea Alexandra Anandyta bakal gini terus enggak yah?" katanya lain lagi.

"Ayaaahhhhh…" Ghea spontan bangun membuka selimut kemudian duduk. Suaranya tampak kesal setelah mendengar ucapan sadis terlontar dari mulut Ayahnya.

"Apa Ayah ingin membunuhku tanpa menyentuh? Kenapa semuanya terlihat begitu kejam kepadaku?"

"Aish apa yang kamu bicarakan begitu mengerikan sayang. Maksudnya apa membunuh tanpa menyentuh?"

"Aku akan begitu tersiksa di dunia ini. Menghabiskan sisa hidupku dengan air mata dan rasa sakit."

"Sudah, jangan berbicara aneh-aneh lagi, kita turun ke bawah untuk mendoakan Bunda."

"Aku akan tetap di sini," katanya pelan.

Ghea sedikit tertunduk, dia kembali lagi dalam balutan kesedihan. Meski rasa sakit yang begitu ia derita belum usai, bukan berarti dia menghindar dengan tak ikut hadir mendoakan Bunda bersama yang lain. Ini bukan hanya perihal doa, tapi bagaimana cara dia menghormati orang lain yang sengaja datang untuk menguatkan dan menghiburnya.

"Ayah akan menunggu di bawah, datanglah dengan pakaian yang pantas untuk mendoakan Bunda," Willy berdiri, dia hendak pergi dan turun ke bawah.

"Aku enggak bisa Yah, aku masih enggak rela," tutur gadis itu, dia bahkan mengeluarkan buliran bening tanpa dipinta.

Langkah Willy akhirnya terhenti. Dia sepertinya mencoba mencerna suasana.

"Lantas dengan bersikap seperti ini Bunda akan kembali? Jika tidak mau melakukannya karena Bunda, lakukan dengan rasa bersalah karena tak bisa menjadi anak berbakti," Ayahnya kemudian melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti sesaat.

Ghea hanya membisu mendengar kalimat yang diucapkan Ayahnya, dia seketika teringat menangis pilu di hadapan makam sang Bunda meminta maaf karena semasa hidup Bunda belum bisa dikatakan sebagai anak yang berbakti. Terkikis, perasaan dia langsung dilumuri rasa bersalah yang menjalar dalam tubuhnya.

***

"Apa Ghea tidak mau turun Yah?" Galang menyelinap berbisik ke telinga Ayahnya yang tengah duduk di atas permadani bersiap untuk ikut pengajian.

"Dia akan turun, tunggu saja," pungkas Willy.

Benar, ternyata si bungsu hadir. Semua mata tertuju padanya ketika gadis itu melangkah menuruni anak tangga rumahnya. Dengan memakai dress berwarna hitam dia tampak lebih tenang daripada sebelumnya.

Ghea berusaha membuat selengkung senyum, meski senyumannya menyembunyikan serpihan hatinya yang tercecer akibat kepergian sang Bunda. Berjalan perlahan dengan sedikit menunduk kemudian didatangi para kerabatnya yang berniat menyapa serta menguatkannya. Mereka bak kerumunan lebah yang menyerbu sari bunga segar.

"Ghea sayang yang kuat ya," peluk erat Tante Melly.

"Kamu kalau ada apa-apa ke Bude aja ya cantik," sahut yang lain.

"Bunda pasti tenang di alam sana."

Berbagai kalimat penenang gadis itu dengar, dia hanya membalasnya dengan segurat senyuman. Bukan hanya karena dia risih dengan yang lain hingga tak menanggapi lebih, tapi mereka juga pasti paham bagaimana begitu rapuhnya Ghea saat ini.

"Ghea ke sini sayang," panggil Ayahnya dari seberang tempat dirinya berdiri saat ini.

"Aku permisi dulu ya Tante, Bude, juga semuanya," ucap gadis itu meninggalkan karib kerabatnya lalu pergi menuju panggilan Ayahnya.

"Duduklah, jangan bertengkar dulu untuk saat ini."

Ghea dan Galang dipasangkan duduk bersebelahan oleh sang Ayah. Ingin rasanya Ghea menolak, tapi suasana memaksa dia mau tak mau harus menerimanya.

Galang melirik ke arah sang adik, tangan Galang sebenarnya ingin berlabuh dipundak adiknya sekali saja untuk menguatkan seperti yang lain. Atau setidaknya berkata sepatah kata untuk memberikan semangat.

Tapi reaksi yang Galang dapat takut membuat suasana hati Ghea meradang. Hingga akhirnya hanya memilih menatap nanar wajah adiknya dari samping.

***

"Makan dulu lah sebelum pulang, ayo!" Willy sibuk dengan para tamu untuk mempersilakan mereka menyantap makanan yang telah dihidangkan.

Semua orang di rumah mewah itu sibuk dengan dirinya masing-masing usai pengajian. Mereka berjejer di depan meja panjang untuk mengantri parasmanan. Ghea merasa enggan berbaur dengan situasi semacam ini dan memilih untuk kembali ke kamar.

"Ghea makan dulu sayang, mau kemana?" Bude Ajeng menahan tangan Ghea yang berupaya meninggalkan ruang tamu.

"Euuu i-ni Bude, aku kebelet banget," dengan sedikit gelagap gadis itu memilih berbohong.

"Ya sudah cepat, nanti ke sini lagi ya," tangan Bude menjurung keponakannya untuk bersegera pergi.

Ghea kemudian melangkah pergi, membelah kerumunan orang-orang yang memadati rumahnya. Melangkahkan kaki menuju kamarnya di lantai dua.

Tring...

Suara pesan masuk.

Handphone yang dari tadi Ghea genggam tak berbunyi apapun, sekarang tiba-tiba muncul notifikasi pesan masuk. Kakinya yang baru menginjak lima anak tangga untuk menuju ke kamar berhenti sejenak. Dia sontak memeriksa benda pipih tersebut, ternyata ada pesan masuk dari nomor yang tak dia kenali. Gadis itu langsung membuka pesan tersebut..

"Jangan percaya siapapun, ibumu tidak meninggal begitu saja."

Tercengang. Ghea seketika mematung setelah membaca pesan anonim itu. Segudang pertanyaan bermunculan dipikirannya.

"Apa maksudnya ini?" Ghea tergesa-gesa menelpon pemilik nomor.

"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif coba..." Dia matikan panggilan itu.

"Maaf nomor yang anda tuju sed..." Dia panggil lagi, tapi nomor itu tetap tidak aktif.

Ghea mengusap gusar wajahnya, berbalik badan ke arah kerumunan orang-orang yang memadati rumah. Dari atas tangga, matanya berotasi ke kanan dan ke kiri seolah-olah mencari seseorang. Tubuhnya gemetar, mengingat Bunda tidak memiliki riwayat penyakit apapun, apa itu berarti maksud dari pesan yang beberapa menit lalu dia terima, Bunda meninggal karena di bunuh? Spekulasi mengerikan tak berdasar yang diluar terkaan itu bahkan membuat Ghea hampir terjatuh dari tangga.

"Gheaaa kamu kenapa?" Galang berhasil menopang adiknya sebelum terjatuh. Melihat wajah sang adik yang begitu pucat spontan sebagai kakak khawatir.

"Kamu sakit Ghe?"

Sorot mata Ghea yang tadi sayu setengah pingsan, tiba-tiba berubah menatap Galang dengan intens, dia seperti mencari kebenaran dari mata indah itu.

“Orang yang paling tak bisa ku percaya di dunia ini adalah kamu, kak. Apa mungkin kamu yang melakukan perbuatan keji pada Bunda?”

"Kau yang melakukannya bukan?" lirih Ghea. Dirinya bahkan masih dalam topangan tangan Galang. Dan ketika menyadari hal itu, Ghea segera melepaskan tangan sang kakak dari tubuhnya, dia tak sudi disentuh sang kakak walaupun faktanya hal itu membantu dirinya agar tak terjatuh.

"Melakukan apa?" Galang bingung, apa sebenarnya tafsir kalimat itu? Dia tak memahaminya sama sekali.

“Lihatlah kamu berlagak bodoh,” gadis itu mendengus dingin setelah menatap malas pada kakaknya.

"Menyingkirlah, gue enggak butuh bantuan lo,” Ghea melepas kasar tangan kakaknya yang beberapa saat lalu mencengkeram lagi lengannya.

Galang tak heran dengan perlakuan kasar barusan, dia malah terpaku dengan pertanyaan adiknya.

Apa yang sebenarnya Ghea maksud? Dirinya melakukan apa? Lagi-lagi Galang menyaksikan punggung si bungsu berjalan menjauh. Pria itu ingin mengejar, apa yang sebenarnya membuat sang adik menatap dirinya dengan tajam. Tatapan itu membekas dalam hatinya. Dia merasa jika tatapan itu adalah tatapan paling mengerikan dari seorang Ghea untuknya.

"Apa kamu suka membuat orang kebingungan?" Tanya Galang.

Langkah gadis itu terhenti seketika.

"Kamu sadar nggak perkataan itu menggangguku?"

"Sampai kapan kamu akan bersikap seperti anak kecil?"

Mendengar kalimat itu, tubuh Ghea berbalik badan pada sumber suara. "Jika tidak menyukaiku pergilah dari rumah ini, mengapa harus bersusah payah?"

"Kamu selalu punya cara membuatku marah, Ghe!"

"Katakan saja lo ngebenci gue!"

"Apa yang sebenarnya kamu maksud?"

Gadis itu membuat jarak diantara mereka kian menipis. "Dengarkan baik-baik, gue nggak akan ulangi!"

"Tidak perlu memakai topeng agar terlihat baik. Itu menjijikan!"

Deg. Galang geram mendengar penuturan tersebut. Rasanya tangan kekar itu melayang jika bukan adiknya yang mengatakan. Entah setan mana lagi yang merasuki adiknya, sungguh tak ada belas kasihan rasanya. Betapa untaian kata itu bak duri yang sukses menusuk tanpa henti. Menyakitkan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alexandra Mata-mata sang CEO
9.1
Alexandra Johnson terjerat dalam kontrak rumit yang memaksa dirinya menjadi mata-mata untuk mengawasi seorang CEO ternama. Namun, sebuah insiden tidak terduga justru mengubah segalanya dan membuat nasib Alexa kini terjepit di antara dominasi dua CEO sekaligus. Terperangkap dalam situasi yang penuh risiko, ia harus menghadapi kendali dua pria berkuasa tersebut sembari menavigasi intrik dunia bisnis yang berbahaya dan penuh dengan tekanan emosional.
Sampul Novel Cinta di Jalur Cepat
7.8
Dahulu Deddy menyelamatkan Nayla, hingga saat Deddy koma, Nayla membalas budi dengan menikahinya dan menyembuhkannya. Namun, kembalinya cinta pertama Deddy memicu perceraian. Meski diremehkan, Nayla ternyata peretas jenius, pembalap, dan dokter ahli. Saat Deddy memohon untuk kembali karena menyesal, seorang CEO tampan muncul mengklaim Nayla sebagai istrinya. Nayla pun terkejut menghadapi situasi tak terduga ini di tengah pembuktian jati dirinya.
Sampul Novel Dikhianati Suami, Diremehkan Mertua
9.1
Tujuh tahun lamanya Alena bersembunyi demi melindungi putranya dari jangkauan Keluarga Whitmore. Namun, ketenangannya hancur saat ia diculik dan dibawa ke kastil tua yang terisolasi. Di sana, Dorian Whitmore sang mantan suami menuduhnya menyembunyikan anak laki-laki lain. Alena bersikeras bahwa ia hanya melahirkan Julian Ezra Callahan, sementara kembaran Julian telah tiada saat persalinan. Kini, ia harus menghadapi konfrontasi dingin Dorian di tengah misteri masa lalu.
Sampul Novel En-PD159
7.9
Song Jiayan terjebak pernikahan aliansi dengan Fu Shisheng demi menebus rasa bersalah atas kecelakaan masa lalu. Namun, ia dikhianati saat tahu suaminya hanya berpura-pura sakit dan justru berselingkuh. Setelah selamat dari serangkaian percobaan pembunuhan, Jiayan bangkit menjadi CEO sukses di luar negeri. Meski Shisheng mengejarnya dengan penyesalan mendalam, Jiayan memilih melepaskan dendam, fokus pada misi kemanusiaan, dan memulai hidup baru yang mandiri.
Sampul Novel GAIRAH LIAR IBU TIRIKU
9.7
Meghan Crafson adalah mantan model dewasa yang tetap menawan di usia kepala tiga. Meski hidup bergelimang harta setelah menikahi miliarder New York, ia merasa hampa karena suaminya yang jauh lebih tua tak mampu memuaskannya. Situasi berubah saat Hardin, putra tiri yang tampan dan atletis, datang ke rumah mereka. Terpikat pesona Hardin, Meghan mulai melancarkan godaan terlarang. Hardin pun terjebak dalam dilema antara moralitas dan gairah liar yang ditawarkan sang ibu tiri.
Sampul Novel Pengantin Boneka Demi Utang Keluarga
8.8
Demi menyelamatkan bisnis keluarga dari pailit, Anya Pramudita terpaksa menikahi Reza Wijaya, pewaris Wijaya Corp. Meski orang tua Reza memuja kecerdasan Anya, mereka sebenarnya memanfaatkan krisis finansial Pramudita Global sebagai jerat. Di sisi lain, Reza masih terikat cinta rahasia dengan Kirana. Tanpa kasih sayang, Anya yang apatis pada cinta harus menjalani sandiwara pernikahan. Akankah perasaan tulus muncul, ataukah hubungan ini hancur akibat pengkhianatan?