Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel WANITA UNTUK MANUSIA BUAS Kisah Anindira

WANITA UNTUK MANUSIA BUAS Kisah Anindira

Terlempar ke dunia lain, Anindira harus menghadapi trauma akibat pemerkosaan hingga akhirnya mengandung. Di tengah penderitaan, ayah dari bayinya diam-diam menjaga dan menanti penebusan dosa. Kisah poliandri ini mengikuti perjalanan Anindira dengan empat pasangan berbeda, mulai dari kecelakaan hingga motif politik. Akankah pria yang tulus mencintainya mendapat kesempatan kedua? Ikuti perjuangan cinta rumit ini saat dua pria lain ikut menentukan nasibnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

003 Pertemuan pertama

''Apa hanya perasaanku?'' gumam Anindira bertanya-tanya ketika sedang memikirkan akan terus maju atau berbalik, ''Kenapa rasa-rasanya semakin sunyi?!''

Antara sadar dan tidak, Anindira merasakan keanehan suasana di sekitarnya saat ini. Meski berjalan perlahan karena masih merasa ragu tapi perlahan-lahan Anindira tetap maju melangkahkan kakinya.

''Haruskah aku berbalik... aku merasakan sesuatu yang aneh di depan sana...'' keluh Anindira yang merasakan kengerian di dalam dirinya terasa semakin pekat.

Anindira terdiam sejenak mengumpulkan keberaniannya. Menghirup nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mantap dengan keputusannya.

''Masa bodoh! Aku sudah tidak tahu lagi... apa pun yang aku lakukan sekarang sama sekali tidak terlihat secercah petunjuk akan seperti apa konsekuensinya. Melangkah maju atau pun berbalik. Tidak jelas... saat ini hanya ada pikiran positif kalau ada harapan akan adanya sungai di depan sana. Itu lebih baik dari pada tidak ada harapan sama sekali... diam saja di sini sama saja dengan terjebak. Kalau pun terjadi sesuatu, setidaknya aku sudah berusaha.''

Pada akhirnya, Anindira melawan rasa takutnya. Meski hanya sedikit keberanian yang dimiliki Anindira. Tapi hal itu cukup untuk membuat kakinya kembali mendapatkan pijakan.

Musim panas yang terik tidak menghalangi suhu dingin yang terbawa angin berhembus menghampiri Anindira. Tubuh Anindira gemetaran merasakan angin yang terus berhembus melewati pakaian tipis Anindira.

''Uwah!'' pekik Anindira sambil menggosok-gosok tangannya karena merasa kedinginan, ''Makin terasa suram di depan sana. Aku jadi semakin ragu dengan keputusanku untuk terus maju...''

''Ayolah, jangan terus menerus terganggu oleh hal yang tidak jelas. Aku hanya akan terus menakuti diriku sendiri jika terus seperti ini...''

Anindira terus bergumam pen uh harap tapi juga sekaligus terus berkutat dengan kecemasan di dalam hatinya.

''Aku benar-benar ingin menangis sekarang, tapi aku bahkan terlalu takut untuk mengeluarkan air mata. Apa boleh buat, aku tersesat sendirian di hutan antah berantah. Saat ini aku benar-benar merindukan Gavin. Ayah, Mom, apa aku bisa bertemu kalian lagi?''

Perasaan horor yang membuat bulu kuduknya berdiri, terus menyelimuti pikiran Anindira. Saat ini di dalam otaknya tengah terjadi perdebatan seru, saraf takutnya dengan tegas mengatakan ...

''Jangan pergi ke sana!''

''Itu menakutkan...''

''Itu suram dan gelap kau tidak tahu apa yang sedang menantimu di sana?!''

Tapi, salah satu sifat petualangnya menentang keras hal itu.

Anindira bingung memikirkan antara naluri di hatinya dan logika di otaknya. Keduanya beradu argumen di dalam kepalanya, tapi jiwa petualangnya akhirnya memenangkan perdebatan keras di dalam pikirannya.

''Tahu apa, kalau bahkan tidak dicoba?!'' Anindira memekik pada dirinya sendiri di dalam hati, ''Jangan jadi penakut, pengalaman adalah guru terbaik untuk mengajarimu!''

Anindira masih berusaha menyemangati hatinya agar tidak putus harapan.

''Sudah berapa lama waktu berlalu?'' tanya Anindira, ''Sepertinya, hari sudah semakin gelap. Dengan kesunyian hutan akan semakin mencekam ketika malam tiba. Kegelapan akan menjadikanku target mudah untuk pemangsa nokturnal. Aku harus segera menemukan tempat untuk bermalam!''

Beberapa waktu kemudian akhirnya terjawab salah satu pertanyaan Anindira.

Sayup-sayup suara aliran air yang mengalir deras mulai terdengar oleh Anindira.

''Air!'' pekik Anindira yang hampir melompat kegirangan, ''Tidak salah lagi, itu suara aliran air...'' tambah Anindira sambil mempercepat langkah kakinya.

Kabut tebal membuat Anindira tidak bisa melihat dengan jelas kalau deru aliran air yang di dengar oleh Anindira berasal dari sungai yang sangat besar. Hal baiknya adalah, mata Anindira tidak bisa menjangkau hal yang mengerikan dan berbahaya mengintai di seberang sungai.

''Ya ampun, dingin sekali...'' keluh Anindira saat dia menyadari kalau ternyata suhu di tempat itu luar biasa dingin. Berbeda dengan tempat sebelumnya, suhu dingin di sini terasa sangat menyakitkan seolah menusuk hingga ke tulang sum-sum. Gigi Anindira bergemeretak menunjukkan kalau dia menggigil kedinginan.

''Huft... hufth... hufth...'' Anindira mulai kesulitan bernafas,tangannya nmenggosok dadanya yang terasa sesak karena ternyata tubuhnya kesulitan beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang baru saja di masukinya, ''Apa ini, dadaku sesak... apa mungkin ini dataran tinggi?! Apakah oksigen di sini terlalu tipis... kalau seperti ini tidak mungkin bagiku untuk terus maju...''

"BERHENTI!''

Suara berat seorang pria mengejutkan Anindira. Suaranya terdengar datar, tapi terasa seperti memekik dengan tajam kepada Anindira.

"Kau bisa mati jika terus maju,'' ujar pria itu menambahkan peringatannya, ''Sebaiknya kau kembali ke tempat dari mana kau datang sebelumnya!"

''Suara orang!'' pekik Anindira yang terkejut sekaligus gembira ketika mendengar dengan lebih jelas kalau itu memang ada seseorang yang sedang berbicara dengannya, ''Aku tidak sedang berhalusinasi karena kekurangan oksigen bukan?!''

''Hei, kau dengar aku?!'' tanya pria itu lagi karena Anindira tidak segera meresponnya dan malah bergumam aneh menurutnya.

''Itu benar-benar suara orang!'' seru Anindira memekik di dalam hati sambil menengok ke belakang, bersiap lari hendak menghampirinya, "Tuan, tolong aku...'' panggil Anindira pada sosok pria di belakangnya, tapi tiba-tiba dia malah terperagah, ''AH! HAH?!?!"

Kaki yang sudah siap berlari kapan terpaku seketika itu juga seolah membeku oleh dinginnya suhu. Mulut Anindira menganga dengan mata yang terbelalak. Tubuh Anindira yang pendek membuat matanya hanya sedikit lebih tinggi di atas perut pria dengan tampilan sangar dari tubuhnya yang besar.

''Tidak terlihat!'' pekik Anindira di dalam hati setelah menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah pria di hadapannya, ''Hanya siluet dagunya saja. Aku tidak bisa melihat wajahnya...''

Pemuda gagah dengan tinggi hampir dua meter berdiri tegap di hadapan Anindira. Rambut hitamnya yang panjang membuat tampilannya semakin samar dengan kabut tebal yang menghalangi pandangan. Tapi, auranya tetap terasa pekat dan berat membuat Anindira terintimidasi.

''Apa-apaan ini... dia akan jadi penolongku atau malah sebaliknya?!'' pekik Anindira di dalam hatinya, ''Lihat saja, hawa dingin sampai seperti ini, tapi dia bahkan tidak pakai baju! Dia hanya memakai bawahan berupa... kain atau kulit binatang?! Sepertinya tidak di jahit?! Hanya dililit, diikat... ini pakaian atau apa? Apa dia suku pribumi? Aksesoris yang di pakai jelas menunjukkan itu bahan-bahan alami...''

''Kau hanya akan berdiri diam di situ?!'' tanya pemuda di hadapan Anindira.

Lagi-lagi Anindira merasa terkejut, dia bingung dengan apa yang di dengarnya barusan.

''Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan tapi sebaiknya kita segera pergi dari sini atau kau akan mati kedinginan sebelum mereka yang di hadapanmu mendapatkanmu...''

Anindira masih kebingungan sama seperti sebelumnya. Dia tidak tahu harus bagaimana merespon pemuda di hadapannya.

''Huft,'' dengus pemuda itu menghela nafas melihat betapa takut Anindira padanya, ''Aku tahu kalau aku cukup menakutkan tapi setidaknya aku tidak akan mencelakaimu,'' tambah pemuda itu sambil mengulurkan tangannya untuk menuntun Anindira, ''Aku ingin menolongmu, mengeluarkanmu dari sini.''

Anindira masih diam terpaku dengan wajah bingung penuh tanya menatap pemuda yang dia tidak bisa melihat wajahnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kiss for Prince Kouza
9.3
Terjatuh ke jurang saat acara mendaki gunung bersama rekan kantor, Myan justru terbangun di padang rumput misterius. Di tengah kebingungan, seorang pria asing berpakaian unik turun dari kuda putihnya dan berlutut dengan penuh hormat. Pria itu menyebut Myan sebagai Sang Pembebas yang telah dinantikan. Siapakah sosok bangsawan tersebut dan di manakah sebenarnya Myan berada? Petualangan Myan di dunia asing yang penuh teka-teki pun dimulai.
Sampul Novel Kitab sihir kristal biru
8.9
Fatima menjaga rahasia Perpustakaan Empat Kunci di Murra Kish hingga kedatangan Alfonso mengubah segalanya. Pria misterius itu mencari sebuah grimoire kuno, memicu benih cinta sekaligus kecurigaan di hati Fatima. Ternyata, Alfonso menyimpan rahasia besar kerajaan, sementara Fatima sendiri adalah pewaris permata legendaris yang diincar banyak pihak. Di tengah pengkhianatan dan ambisi gelap, ia harus memilih antara rasa cintanya atau bertahan dari kebohongan yang mengancam.
Sampul Novel Misteri Hutan Gondoriyo: Perjalanan Malam yang Mencekam
8.5
Seorang pria terjebak dalam kengerian Hutan Gondoriyo setelah tersesat saat menjelajah. Di tengah fenomena ghaib kendaraan yang raib, ia bertemu pasangan lansia misterius di sebuah pondok terpencil yang memberinya peringatan. Meski berhasil pulang, rasa penasaran membawanya kembali, namun hutan itu seolah lenyap. Hubungan gelap antara kecelakaan bus di jurang dan misteri hutan ini mulai terkuak, memaksanya mempertaruhkan nyawa demi mengungkap kebenaran yang menghantui.
Sampul Novel Putra Rahasia Jodoh Alfaku, Penolakan Terakhirku
8.9
Sebagai pewaris Serigala Putih, aku dikhianati oleh Alpha Kaelan yang memiliki keluarga rahasia. Orang tuaku bahkan tega mencuri dana kawanan demi membiayai selingkuhannya. Aku hanya dianggap alat penghasil keturunan sebelum akhirnya dibuang. Saat mereka berencana membiusku di hari ulang tahun ke-18, aku berpura-pura pingsan lalu melarikan diri. Namun, sebelum menghilang, aku mengirimkan kado berisi bukti kejahatan mereka untuk menghancurkan segalanya.
Sampul Novel Rahasia Gelap di Balik Senyuman
8.2
Di bawah rembulan, bayangan gelap mengejar rahasia kelam yang tersembunyi di balik senyuman. Dua jiwa terikat takdir di persimpangan antara kebenaran dan kegelapan, di mana salah satunya memegang kunci rahasia sementara yang lain terhubung dengan ancaman besar. Mereka harus menembus labirin intrik dan misteri yang menguji iman serta keberanian. Melalui serangkaian petunjuk tak terduga, mereka dipaksa memilih jalan demi mengungkap kebenaran mengejutkan yang lama terpendam.
Sampul Novel Rahasia Pria Tanpa Nama
8.5
Amanda menolak keras perjodohan dengan pria seumuran ayahnya. Di tengah pelariannya ke pantai untuk mencari ketenangan, ia justru menemukan seorang pria misterius yang terapung dalam kondisi penuh luka. Saat Amanda mencoba menolong, pria tak dikenal itu mendadak sadar dan membisikkan sesuatu yang krusial ke telinganya. Akankah Amanda memilih menyelamatkan sosok asing ini di tengah kemelut hidupnya? Ikuti kisah penuh aksi dan romansa yang mendebarkan ini.